LUKA DAN CINTA

LUKA DAN CINTA
1. Keluarga


__ADS_3

"Saya, hanya tidak mau, seorang pembawa sia* sepertimu, ada di sini. Sudah sana pergilah! Carilah duniamu sendiri, karena diriku bukan pembantu, Ibumu!"


Perkataan itu, membuat langkah seorang gadis berumur 19 terhenti. Gadis itu berbalik, menatap seseorang yang selama lebih dari 2 tahun ini selalu merawatnya.


Gadis itu mengangguk, dengan senyuman samar. Kembali berbalik, dan melanjutkan langkahnya. Meninggalkan, tempat yang ia kira akan menjadi saksi terakhir kehidupannya.


Namun, nyatanya salah semua.


***


"Kamu mau, menginap di tempatku? Yang benar, saja, Nindya!" bentak seorang lelaki pada gadis yang berada di depannya.


Tangannya ia letakkan, di bahu gadis itu sembari mencengkeramnya kuat-kuat. Nafasnya memburu, seiringan dengan sebuah teriakan yang membuat telinganya berdengung.


Gadis itu -Anindya hanya mampu terdiam membisu, menatap pria di depannya, yang sayangnya adalah pacarnya.


Pria itu terlihat, bingung sekali menghadapi, kondisi yang sama sekali tidak pernah di hadapinya. Tapi, Anindya bisa apa?


Sekarang ia tidak punya, apa-apa lagi yang bisa di jadikan pegangan. Ia sama sekali tidak punya sanak saudara. Ibunya, meninggal karena melahirkannya. Dan, nenek yang selama ini merawatnya juga sudah meninggalkannya.


"Dipa, aku mohon! Kali ini saja, aku benar-benar tidak punya siapapun yang bisa menolongku saat ini. Aku hanya bisa meminta tolong, padamu! Kumohon!" Anidnya kembali memohon dengan tangan yang di satukan di dada. Dan, mata yang memelas pertolongan.


Radipa Rajendra, pacar Anindya menggeleng tegas. Mendorong, Anindya ke belakang, kemudian menutup pintu rumahnya.


Ia menatap, Anindya tajam, sambil menghela nafas. "Aku punya satu, cara supaya kamu tidak seperti ini," ujarnya pelan. Anindya yang mendengar ucapan Dipa, mengembangkan senyumnya.


Ia pikir, Dipa akan membantunya namun,


"Bagaimana jika kamu, menjual diri saja? Seperti Hanum. Yang, menjual diri untuk keperluan sekolahnya!"


ternyata khayalannya tidak sesuai realita. Anindya mengerjapkan matanya. Sama sekali tidak mengerti dengan perkataan, Dipa. Namun, setelah ia pikir beberapa kali, akhirnya ia sadar.


Bahwa saat ini Dipa tengah menggodanya agar, masuk ke dunia malam.


Plak!


Satu tamparan, melayang keras di pipi Dipa. Membuat laki-laki itu tertoleh, namun bukannya raut emosi yang terpancar dari wajahnya. Melainkan raut jijik yang sangat kentara.


"Cih, ternyata nyalimu besar juga. Kau, dan Ibumua sama saja. Kenapa harus malu? Bukankah, kau pernah berkata seperti ini, pada adikku Putri? Aku hanya membalasnya. Tapi, responmu begini sekali." Dipa terkekeh sinis. Mengusap pipinya dengan jari jempol, kemudian menatap Anindya jijik.

__ADS_1


"Mulai saat ini kita putus! Aku jijik, dengan perempuan sepertimu. Sok suci, padahal tidak!"


***


Anindya menghela nafasnya kasar, tatkala melihat seorang lelaki yang tengah mendekat ke arahnya.


Lelaki itu, memegang sebuah botol alkohol di tangan kirinya, dan seorang wanita berpakaian minim di tangan kanannya.


Tatapan pria itu, terlihat buas. Membuat Anindya yang melihatnya dari jarak jauh, merasa jijik. Namun, demi kelanjutan sekolahnya, ia harus melakukan hal ini.


Biarlah apa yang di katakan orang banyak. Karena ini hidupnya. Ini dosanya, dan hanya dia yang akan merasakannya.


Orang lain, hanya tahu, menghina saja. Tanpa melihat dari sisinya.


"Kau tidak nyaman, ya bekerja seperti ini?" tanya Hanum, orang yang membantu Anindya supaya bisa bekerja di sebuah Bar terkenal di kotanya.


Anindya mengangguk. Matanya menatap, Hanum dengan tatapan bingung. Kemudian menatap ke arah, beberapa orang yang terlihat, mengeluarkan uang dari dompetnya dengan mudah. Sedangkan, dirinya harus bekerja siang dan malam dahulu baru mendapatkannya.


Anindya iri? oh jelas. Sebagai, manusia ia pasti ingin merasakan bagaimana rasanya di peluk bermiliar-miliar uang. Tapi, sepertinya itu tidak akan pernah terjadi ya?


"Aku ingin bertanya,"


"Kenapa, kau tidak memiliki marga?"


Hanum yang sedang, menuangkan alkohol kepada salah satu pelanggannya tersenyum kecut. Sejujurnya, pertanyaan ini banyak sekali terdengar di telinganya. Namun, belum pernah sama sekali ia mau menjawabnya.


"Entahlah, lalu, kau? Kenapa tidak memiliki marga?" tanya Hanum balik. Anindya menggelengkan kepalanya. Mendongak, kemudian melepaskan senyuman paksa yang tentu saja, membuat Hanum menjadi merasa bersalah padanya.


"Aku tidak tahu. Aku bahkan, penasaran siapa yang memberikan aku nama sebagus ini, bukankah seharusnya aku tidak memiliki nama?" Anindya menundukkan kepalanya. Menatap, Hanun dengan mata yang kosong. Seolah-olah, tanpa memiliki jiwa. Dan, hak itu tentu membuat Hanum kasihan dengannya.


"Aish! sudahlah, lupakan saja! Lagipula siapa yang mau bersedih-sedih di malam minggu seperti ini? aku dan kau? oh, tentu saja tidak!"


"Lebih baik, kita melakukan pekerjaan kita dengan cepat saja. Supaya, kita cepat pulang. Karena, kakiku sudah sakit, sedari tadi berdiri melayani pelanggan yang terus saja berdatangan." Hanum tersenyum lebar. Berusaha mengalihkan pembicaraan, agar Anindya tidak terus-terusan terpuruk dalam kesedihannya.


Anindya mengangguk. Menampilkan senyuman lebar, kemudian melayani beberapa pria yang datang kepadanya, sembari meminta minuman yang ingin di minumnya.


Namun, seorang pria yang sedari tadi menatapnya membuatnya sedikit tidak nyaman. Karena, pria itu saja yang tidak berani meminum apapun yang sedari tadi di tawarkan beberapa penjaga bar kepadanya.


Anindya bisa melihat, bagaimana pria itu malah meminta hal yang tentu saja, tidak pernah tersaji di sebuah bar. Namun, sepertinya pria itu orang kaya.

__ADS_1


Karena, seorang pria yang tadi menghampirinya langsung, ketakutan. Dan, dengan segera memberikan keingannya.


Lantas siapa pria itu sebenarnya?


Kenapa ia menatap, Anindya terus-terusan seperti, seekor harimau yang sedang mengawasi kelinci yang akan menjadi santapannya?


***


Anindya menghela nafas lega. Ketika melihat, keadaan bar yang mulai terlihat sepi. Karena, mungkin para tamu yang berdatangan sudah pulang ke tempat asalnya.


Hanum yang berada di sebelah, Anindya menepuk punggung Anindya beberapa kali sembari terkekeh kecil. Mengusap-usap rambutnya, kemudian merapikan barangnya.


"Kau tahu, baru kali ini aku bisa merasakan bagaimana rasanya lembur ketika bekerja. Padahal, sedari tadi, aku berdoa agar cepat pulang. Tapi, sepertinya tuhan sangat menyayangiku yang merupakan anak baik ini ya!" ujar Hanum sembari tersenyum lebar. Namun, senyumannya berganti menjadi tatapan ketakutan saat melihat seorang pria datang dan mengebrak meja yang ada di hadapannya.


"Dia siapa? apa, dia kenalanmu?" tanya lelaki itu. Setelah di lihat-lihat, Lelaki itu adalah orang yang sedari tadi menatap Anindya dengan pandangan tajam, penuh intimidasi.


Dan, itu membuat Anindya kebingungan. Memangnya ia salah apa, pada lelaki yang ada di depannya itu? Seingatnya tidak ada


"Tidak, om. Ia teman sa-saya. Kebetulan, baru bekerja," jawab Hanum terbata-bata.


Lelaki itu mendengus, lantas mengeluarkan beberapa uang dari saku jasnya.


"Aku ingin bertanya pada kalian. Sebagai, imbalannya. Satu pertanyaan, ku beri nilai satu juta. Dan, pertanyaanku ada sepuluh. Berarti totalnya ada sepuluh juta untuk kalian. Kalian mau?" tanya lelaki itu sembari tersenyum miring.


Hanum menegak salivanya. Sementara Anindya mengangguk senang mendengarnya.


"Bertanya tentang apa?" tanya Anindya penasaran. Lelaki itu tersenyum lebar. Kemudian menjawabnya.


"Apa, kau yatim piatu? Jika iya, aku mau mengadipsimu. Dan, setelah itu, aku ingin kamu menjadi salah satu penerusku. Kamu mau?" Lelaki itu kembali menghela nafas. Berbicara dengan Anindya, seperti bertanya dengan malaikat maut menurutnya.


Karena terus saja memancing emosinya.


Terlebih lagi, wajah lugunya itu, membuat siapa saja, akan memilih menunduk di bawahnya, dari pada memarahinya.


Siala*!


"Buyut mau menjadikanku keluarga?"


Lelaki itu menggelengkan kepalanya, kala melihat, Anindya yang terus saja bertanya padanya. Bukannya ia sudah menjelaskannya secara gamblang ya?

__ADS_1


__ADS_2