LUKA DAN CINTA

LUKA DAN CINTA
9. Salah pegang berakhir malu


__ADS_3

Nathan bersemu. Tangannya langsung refleks beranjak dari pipi Anindya, kemudian menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


Dengan sesekali menatap Anindya malu-malu, persis seperti seorang kucing kecil yang baru saja dijinakkan oleh majikannya.


Dan, Anindya suka itu!


Nathan terlihat sangat manis dengan sikap pemalunya. Itu, membuat Anindya bersyukur. Setidaknya pemikirannya tidak salah. Keinginannya untuk menikah dengan Nathan itu adalah benar. Dan, kini ia bisa merasakan bagaimana nikmatnya.


Meskipun saat ini, mungkin, belum tumbuh cinta dihari Nathan.


Tapi, itu bisa di pupuk kan?


Anindya tersenyum. Berharap keinginannya yang ini juga terkabul, meskipun mungkin akan sangat lama prosesnya. Sementara itu, Erick yang melihat dari CCTV tanpa malu-malu mengulas senyum manisnya.


Ia kini bahagia, melihat Nathan bisa tersenyum tanpa luka seperti sebelumnya. Ia sangat kasihan dengan keadaan Nathan yang selalu saja terdiam dengan pandangan kosong. Tangan Nathan bahkan kerap beberapa kali mencelakai dirinya, hanya dengan alasan bahwa dirinya adalah orang yang membuatnya menderita.


Erick marah? tidak. Karena ia mengerti, bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kita cintai. Terlebih itu di hari yang dinanti-nanti.

__ADS_1


Kecelakaan itu telah merenggut mata sekaligus hati Nathan. Ia menjadi pendiam, dan itu bertambah setelah kegagalannya dalam pernikahan kedua. Yang mana, mempelai wanitanya kabur hanya karena tahu bahwa Nathan adalah seorang Tunanetra, yang selamanya tidak akan bisa melihatnya.


Wanita itu kabur dengan membawa ⅛ harta kekayaan mereka. Tidak rugi sebenarnya untuk Erick namun itu rugi sekali untuk Nathan yang selalu merasa bersalah semenjak kehilangan orang yang spesial untuknya.


"Semoga kau bisa bahagia terus ya anak nakal. Kakek tua ini selalu mendoakan yang terbaik untukmu," Erick melebarkan senyumnya. Berharap Tuhan akan mendengarkannya walaupun sepertinya Tuhan sangat marah padanya akibat kejadian di masa lalu kelamnya.


***


"Tuan mau mandi?"


"Oh, i-iya,"


"Sekalian dimandiin juga boleh. Soalnya biar makin simpel."


Deg.


Anindya langsung tersedak. Jantungnya berdegup sangat kencang mendengar perkataan Nathan yang berhasil menusuk ulu hatinya. Dengan keadaan penuh dengan degupan jantung, Akhirnya Anindya berhasil mengantarkan Nathan pada tempat pemandian.

__ADS_1


Membukakan satu persatu pakaian Nathan kemudian berlari keluar. Setelah sampai di luar, Anindya langsung menghirup oksigen yang terasa menipis di kamar mandi, hanya karena ia menahan dirinya untuk tidak membuat Nathan menjadi semakin cabul terhadapnya.


"Anindya tolong usap punggungku dong. Rasanya gatal sekali ini," Panggil Nathan. Yang kali ini jujur.


Anindya mengangguk, lekas masuk ke kamar mandi dan mendekati Nathan yang tengah berusaha menggaruk punggungnya, namun hanya bisa mengelusnya.


Perlahan dengan pasti, Anindya mulai menggaruk punggung Nathan mulai dari atas sampai ke bawah. Sesuai instruksi, tanpa menyadari wajah Nathan yang semakin lama semakin merona. Dengan bibir dan ******* yang ia tahan agar tidak keluar dari bibirnya.


"Ah!"


Namun, sayangnya itu tidak berlangsung lama karena akhirnya Nathan mendesah juga. Punggungnya terasa amat panas karena sentuhan Anindya, dengan pipi yang juga terasa ingin meledak dari tempatnya.


Sedangkan Anindya yang mendengar itu mulai menampilkan raut malu-malu kucing. Matanya menatap kearah Nathan yang menutup kedua matanya dengan tangan.


Telinga Nathan memerah, sampai ke bahu. Anindya tahu itu, kemudian tersentak kala melihat ke arah Bath up. Mata Anindya sontak membulat, dengan wajah yang merah sempurna.


Oke, mungkin inilah yang dinamakan malu-malu tapi mau versi Anindya yang begitu polos begitu juga dengan Nathan yang sensitif tapi sangat menggairahkan.

__ADS_1


__ADS_2