LUKA DAN CINTA

LUKA DAN CINTA
4. Nathan Malu


__ADS_3

Nathan tersentak, pertanyaan Anindya membuat dirinya sadar, akan lamunannya, terlebih ketika kalimat, "Ngompol" terdengar di telinganya. Seketika, Nathan meraba celananya dan langsung menutup wajahnya, ketika tidak sengaja membuang air di atas Anindya.


Terlebih lagi, tanpa di sadarinya.


'SIALA*, INI MALAM PERTAMA YANG MEMALUKAN, AKH!'


Di bawah Nathan, saat ini Anindya tengah menutup mulutnya sembari menahan tawa. Wajahnya merah padam, di tambah dengan tangan yang terus saja bergetar.


Nathan memang tidak melihatnya secara langsung, tapi ia merasakannya. Ia merasa, tubuh yang di dudukinya agak bergetar dan, terasa agak dingin.


Sial.


"Ekhem, maaf aku tidak sengaja'!" Nathan berdehem, segera bangkit dari posisi ambigu itu, tapi sayangnya tidak bisa karena tanpa di sadarinya ternyata lantai yang di pijaknya basah. Dan, akhirnya ia terpeleset dan jatuh menimpa tubuh Anindya.


Ceklek.


Di depan pintu, saat ini Erick tengah tersenyum mesum memikirkan bagaimana panasnya Nathan di ranjang. Namun, ada satu hal yang membuatnya kebingungan.


Kenapa tidak ada suara dari kamar mereka?


Hal itu membuat jiwa keingin tahuan Erick menggebu-gebu. Dengan semangat dan kebingungan empat lima, Erick langsung masuk. Namun, pandangan yang menyegarkan mata lah yang di dapatnya.


"Ooh, maaf, sepertinya aku mengganggu kalian ya? Baiklah kalau begitu aku pergi, TATA selamat bersenang-senang!"


Brak.


Pintu di tutup dengan kasar.


Nathan dan Anindya sama-sama mengerutkan keningnya, terlebih lagi ketika tiba-tiba ada benda keras yang seperti tengah menusuk-nusuk perutnya.

__ADS_1


Nathan tersentak, karena tiba-tiba saja ada tangan yang hampir mengenai bagian pinggangnya. Sedangkan, Anindya juga tersentak karena ada tangan yang tengah memegangi dadanya.


"Kya!"


"Kya!"


"Oh iya, aku juga mau memberitahu kalau posisi seperti itu, akan membuat sa---,"


Brak!


"Sial." Erick menampar wajahnya beberapa kali. Niat hati tadinya ingin memberi tahu Nathan, bahwa posisi ketika bertempur di tempat yang agak sempit hanya akan membuat pinggangnya sakit. Namun, belum selesai ia bicara, ia kembali di suguhkan dengan posisi yang tidak kalah ambigu.


Dengan, Anindya di atas Nathan dan Nathan tengah memeluk pinggang Anindya posesif.


Astaga!


Erick menghela nafas panjang. Wajahnya penuh dengan rona kemerahan, begitu juga dengan bibirnya yang sudah sedari tadi ia gigit. Erick memutar tubuhnya ke arah pintu, kemudian tersenyum lebar.


***


Tit, tit.


Anindya dan Nathan sama-sama saling menatap. Bunyi alarm yang terpasang mereka abaikan untuk sementara. Karena saat ini, pikiran kedua pasangan itu sedang berkelana. Menelusuri, sesuatu pembicaraan yang agaknya tepat untuk kondisi saat ini.


Namun, sayangnya tidak ada.


Anindya, melirik Nathan sebentar kemudian menunduk. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang saat ini tengah memegang handuk. Guna menyembunyikan, rona kemerah-merahan yang terlihat jelas di sana.


Sedangkan, Nathan saat ini tengah berpikir keras. Bagaimana caranya meminta maaf pada Anindya, dan berbicara selayaknya teman kepadanya. Namun, hasilnya zonk. Ia sama sekali tidak menemukan sama sekali jawaban, meskipun sudah memikirkannya lebih dari seratus kali.

__ADS_1


Nathan menghela nafas kasar. Terlebih lagi, ketika mendengar bunyi seperti sedang menahan tawa. Ia yakin, bahwa itu adalah suara tawa dari Anindya yang pasti tengah menertawakan bagaimana malam pertama yang seharusnya di lakukan pasangan lain dengan bahagia, malah di lakukan dengan cara yang terbilang wow oleh mereka.


Flasback.


Anindya bangkit dari tubuh Nathan, kemudian lantas membantu Nathan berdiri. Nathan tidak menolak karena ia tahu, posisinya saat ini sangat menyulitkan untuk berdiri.


Mereka sama-sama terdiam, karena Anindya sendiri juga sedang menahan tawa yang akan menggelegar. Sedangkan, Nathan yang sedang menahan sesuatu yang akan muncul dari bibirnya.


Umpatan. Ya, Nathan menahan umpatan yang akan keluar dari bibirnya. Terlebih lagi, di hadapan Anindya.


"Mau aku antarkan ke kamar mandi, Tuan?" meskipun malu, Anindya tetap bertanya dengan sopan. Membuat, Nathan yang tadinya gugup sedikit tenang. Tapi, itu tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba Nathan kembali gugup.


Apalagi mendengar, kata kamar mandi dari Anindya.


"Ti-tidak, aku aakan berjalan sendiri!" Nathan menolak. Mengibaskan tangan Anindya dengan pelan, takut menyakiti tangan wanita itu. Karena setahunya, wanita itu lemah. Jika di pukul ataupun di sakiti sedikit saja, pasti akan langsung kelihatan memarnya.


"Tapi, tuan, di sini tidak ada cahaya sedikitpun. Lampunya pun saya tidak tahu, bagaimana cara menghidupkannya, karena saya tidak pernah tinggal di tempat orang kaya."


Gleg.


Nathan meneguk salivanya susah payah. Yang dikatakan, oleh Anindya benar juga. Anindya selama ini di besarkan di daerah yang terbilang jarang sekali atau bahkan tidak ada orang kaya yang mau membuat rumah di sana. Jadi, itu wajar.


Tapi, mengantarkan sampai kamar mandi? dan, menjaga sampai berganti celana dengan celana baru, bukankah itu agak, em, memalukan?


Dan, lagipun Anindya adalah seorang perempuan. Dengan, Kakeknya Erick saja, ia malu, bagaimana dengan Anindya yang notabenenya adalah perempuan?


Sial, sial, sial!


Nathan menggeleng-gelengkan kepalanya, ketika tiba-tiba pikiran kotor merayap masuk, dan berputar-putar di otaknya.

__ADS_1


Mirip seperti, sebuah video po*no yang diputar berulang-ulang sampai penontonnya hafal dengan caranya.


__ADS_2