
bab 195
.
.
.
" wajah paman terlihat pucat. seharusnya paman tetap dikamar." ucap Zakia dengan terus menatap Rans. kini keduanya tengah duduk bersama, masih diloteng rumah sakit dengan Rans disisi Zakia
" mana aku bisa diam dikamar jika kau ngambek begini.." balas Rans
" aku tidak ngambek.."timpal Zakia.
"benarkah ??" Rans mendekatkan wajahnya kearah Zakia.
" paman..." protes Zakia sembari mendorong Rans. gelak tawa terdengar dari bibir Rans,
" maaf ya, aku tadi tidak bermaksud berkata seperti itu. aku hanya tidak mau pamanmu merasa bersalah." terang Rans
Zakia menggeser duduknya agar bisa menatap Rans. "kenapa paman berfikir seperti itu ?? papa darren tidak mungkin merasa bersalah."
" memang tidak, aku hanya menjaga perasaannya saja." balas Rans.
" Jujur saja, aku sedikit kecewa padamu. karna kau diam dan tidak mengenalkanku pada pamanmu malah pergi begitu saja, tapi aku harus lebih membuka lebar fikiranku, kau memang masih remaja, tidak menutup kemungkinan kau merasa bingung untuk menjelaskan semuanya.. aku tidak marah bukan berarti aku tidak tulus mencintaimu, tapi karna aku ingin menjaga hubungan kita agar tidak sampai salah faham hanya karna sebuah kebingungan saja, aku berusaha selalu berfikir positif karna aku sangat percaya padamu.." terang Rans dengan pasti dan tatapan mata mengarah pada Zakia.
Zakia bisa melihat ketulusan dalam sorot mata Rans. ia kini merasa bersalah karna terlalu egois dalam menjalani hubungan ini.
__ADS_1
" paman tidak mengira aku egois ??" tanya Zakia.
Rans menautkan alisnya."maksudmu ??"
" aku marah tanpa mendengar penjelasan paman, apa aku terlalu kekanak-kanakan ?? apa paman nanti akan bosan ?? aku merasa aku sedikit egois disini !! paman bisa selapang itu dalam berfikir tapi kenapa aku tidak !!!" jelas Zakia
Rans terkekeh dengan penjelasan Rans. Dengan penuh kelembutan Rans mengusap kepala Zakia.
" semua butuh waktu sayang.. kau memang belum waktunya ada difase ini, aku akan selalu bersabar dan selalu mengingatkanmu, tidak ada kata bosan dan lelah jika mengenaimu.." balas Rans.
" aku takut paman akan bosan dan pergi.."timpal Zakia.
Rans segera menarik zakia dalam pelukannya. "aku tidak bisa menjanjikan apapun karna semua ketetapan hanya Allah yang mengatur, aku hanya bisa berusaha meyakinkanmu saja kalau aku tidak akan bermain-main. kita jalani bersama dan lewati semua bersama, mungkin akan ada batu sandungan dalam hubungan kita, tapi percayalah aku akan selalu mengingatkanmu.."
Zakia membalas pelukan Rans. hatinya terasa tenang dengan penuturan Rans barusan. memang tidak terdengar romantis tapi bisa membuat Zakia merasakan kenyamanan.
Seketika Zakia membuka pelukannya, namun tidak dengan Rans. Rans hanya mengikuti Zakia memutar tubuhnya menghadap kebelakang dimana 3 pria yang sudah tidak muda lagi.berjalan mendekati mereka.
Zakia yang panik langsung berdiri dari duduknya. ia segera menunduk karna malu bercampur takut, takut pada kedua papanya.
Rans yang terlihat biasa saja mengusap lengan Zakia yang bisa melihat betapa Zakia begitu takut.
" kau bilang tubuhmu lemah ?? tapi kau bisa naik keloteng ini dan terlihat biasa saja ??!!" tegur Abigal dengan sebuah pertanyaan.
" Aku takut Zakia salah faham kak. makanya meski rasanya tubuhku lemah aku tetap memaksakannya.."balas Rans.
" sekarang kau mengejar-ngejar Zakia. awas saja jika nanti kau bosan padanya !!" ancam Darren.
__ADS_1
Zakia masih diam dengan meremas jemarinya.
" kakak tenang saja. aku tidak akan seperti itu." balas Rans dengan pasti.
" kenapa.putriku hanya diam saja ??"tanya Revandra yang mengarah pada Zakia.
"papa..." ucap Zakia ragu-ragu.
Darren menghampiri Zakia dan merangkul Zakia begitu saja. "kau malu atau takut ??" ejek Darren dengan menyunggingkan senyumnya.
Zakia mulai menerbitkan senyum manisnya. "tidak keduanya.." balas Zakia lirih.
" sudah, sudah.. ayo kita kembali saja. dan kau Rans kau harus dirawat dulu, zakia akan pulang bersama kedua papanya. " terang Abigal
" apa ?? pulang ??" Rans mencoba menayakan kembali.
" tentu saja. kau fikir kedua papanya kemari untuk apa !!" timpal Abigal yang memutar tubuhnya sembari menarik Rans. jujur saja Abigal memang masih kawatir pada Rans, namun ia tidak.mau menunjukkannya.
Darren dan Revandra mengikuti langkah Abigal sembari membawa putri mereka.
Zakia sebenarnya ingin mengatakan jika ia ingin menunggu Rans dirumah sakit, namun Zakia bisa tau jika kedua papanya pasti tidak akan mengijinkan, Sebabnya Zakia hanya bisa diam tanpa bicara dan hanya mengikuti saja.
.
.
.
__ADS_1