LUKA DAN CINTA

LUKA DAN CINTA
Luka dan Cinta


__ADS_3

bab 127


.


.


.


.


Pelayan meletakkan dua cangkir coffelatte dihadapan Samantha dan maudy,


" kesukaanmu tidak berubah ya.." ucap Maudy.


Samantha hanya menjawab dengan senyuman.


Maudy menikmati coffe kesukaannya itu, sesaat ia melihat samantha. " kenapa diam ?? apa coffe nya tidak akan kau minum?" tanya Maudy.


Samantha menatap secangkir coffelatte didepannya itu. bayang-bayang dimana dia dijebak dibar, dan semua kebenaran tentang maudy membuat Samantha mengepalkan kuat tangannya.


" masih terlalu panas, nanti saja." balas Samantha dengan lembut.


maudy mengangguk dengan senyumnya "kau terlihat berbeda sekarang, setelah menjadi nyonya Abigal, kau lebih fokus pada penampilan ya..??tadinya kufikir kau sudah tidak mau duduk santai bersama orang biasa sepertiku, ternyata aku salah, kau tetap Samantha yang penuh kelembutan dan keramahan.." ucap maudy, pelan namun penuh penekanan.


" semua berbeda maudy, ini sudah lebih dari 3 tahun dimana kita bersama duduk dibangku SMA. mungkin aku dulu hanya bisa diam tanpa berani melakukan apapun ketika seseorang menyakitiku, namun untuk saat ini mungkin sudah tidak ada lagi ampun bagi orang yang selalu mengganggu hidupku.." balas Samantha, terlihat santai namun sorot matanya lekat pada Maudy.


Senyum maudy redup dengan ucapan Samantha.


" ha..ha..ha..ha.." maudy tertawa lepas.


" kau begitu serius Samantha..oh ya, bagaimana kabar adik iparmu ?? apa dia baik-baik saja ?? kudengar dia..-"


" dia baik, dan akan selalu baik. meski selalu ada yang mengacaukan hubungan persaudaraan kami, tapi kekuatan kasih sayang sebagai sebuah keluarga akan mengalahkan segalanya." timpal samantha dengan senyum manisnya.

__ADS_1


" oh.. begitu.. aku senang mendengarnya.. jarang loh..ada adik yang rela menyerahkan kekasihnya untuk Kakaknya sendiri.. wah, seperti sinetron saja ya.." ucap Maudy dengan membalas senyum Samantha yang terlihat mengejek.


" lebih tepatnya kami memang tidak berjodoh. dan sepertinya yang kau tau, aku bukan barang yang dengan mudah diserahkan.. jadi kata diserahkan itu hanya pas untuk orang-orang yang tidak tau malu, yang masih selalu mengganggu hidup orang lain, yang pas pastinya diserahkan kepada polisi kan ??" balas Samantha yang terus menimpali ucapan ejekan Dari maudy.


segera Samantha berdiri dari duduknya. " maaf maudy, aku harus kembali. Terima kasih traktiran Coffelatte nya, semoga hidupmu lebih bahagia kedepannya." setelah berkata demikian Samantha berlalu dari hadapan Maudy.


Maudy menatap dengan penuh kebencian pada Samantha, tangannya terkepal kuat dengan gigi mengerat seakan menahan sesuatu.


"lihatlah Samantha, Apa yang akan terjadi padamu nanti.." gumam maudy dengan serius.


.


.


.


Zakia baru saja selesai berlatih dengan pengawal setia papanya. ia adalah gondrong. mama Nada membawakan jus alpukat kesukaan putri tercinta dan memberikannya kepada Zakia.


" sudah latihan hari ini nona. Tuan meminta saya untuk berlatih hanya satu jam sehari." ucap gondrong yang hendak berpamitan.


" Terima kasih nyonya, Semua adalah tugas saya.." ucap gondrong sembari mengambil.minuman yang diberikan Nada dan segera pergi dari hadapan nyonya besarnya.


" paman gondrong tidak adil !! aku kan masih ingin berlatih tembak ma.." gerutu Zakia sambil duduk.


" semua perlu proses sayang, jangan sekaligus.. kau akan kesulitan jika bersamaan." nasehat Nada.


" tapi mama bisa otodidak dalam menembak dan bela diri ?? memang papa ya yang mengajarkan ??" tanya Zakia.


Spontan Nada membulatkan matanya, ya, Zakia pernah melihat nada bertarung ketika rumah besar mereka diserang.


(ceritanya ada di novelku yang satunya ya.. yang berjudul Love me please 😁😁)


Gelagapan nada dibuatnya, jika ia mengatakan pernah diajari Revandra pasti Zakia akan merengek dan meminta diajari juga.

__ADS_1


" itu.. itu naluri seorang ibu dan istri sayang.. emm... semua pontan saja, karna kawatir dan kalut, coba saja kau ingat, apa mama pernah bertarung lagi setelah itu ?? tidak kan ??" ucap Nada.


Zakia mulai mengingat-ingat dan ia menganggukkan kepalanya. " iya sih, tapi mama terlihat hebat waktu itu.. keren.." puji Zakia.


" lebih keren wanita yang cerdas sayang. buat apa kita kuat bertarung tapi tidak bisa berfikir dengan jernih ketika dalam keadana mendesak." balas Nada.


" benar ma, papa kemarin juga bilang begitu. papa bilang mau mengajariku meretas juga..apa mama pernah diajari papa meretas ??" tanya Zakia penuh antusias.


" tidak, mama.tidak pernah dan tidak tau.. sudah ya, mama buatkan susu adikmu dulu.. nikmati jusnya sayang.." Jawab Nada yang mengalihkan pembicaraan. Usia Zakia memang dalam fase ingin tau segalanya, mencari tau apa yang ingin ia ketahui. dia akan menggali lebih dalam perjalanan mama dan papanya jika tidak disudahi. bahkan jika dia tau Mamanya bisa apapun tak menutup kemungkinan Zakia akan meminta sang mama mengajarinya.


.


.


.


" dia sudah dijalan menuju rumahnya kak.." ucao maudy dalam sambungan telfon.


" kau yakin dia hanya dengan sopir ??" tanya Kayra


" yakin kak, aku mengikutinya sampai diparkiran." jawab Maudy.


" jika sampai kita ditipu, kakak tidak akan memaafkanmu !!" ancam Kayra.


" kenapa kakak malah mengancamku ??!!" protes Maudy.


" kau yang sembrono dan tidak hati-hati !!" balas kayra dengan suara meninggi.


" aku kan mengikuti semua saran dan rencana kakak, !!" timpal Maudy.


" sudahlah. kakak jalankan dulu rencannya." Kayra mematikan panggilannya. sedangkan maudy harap-harap cemas, kegagalan rencana mereka beberapa kali sebenarnya membuat maudy takut, namun kegelapan dihatinya seolah menutup kebaikan yang terpendam.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2