LUKA DAN CINTA

LUKA DAN CINTA
Luka dan Cinta


__ADS_3

bab 149


.


.


.


setelah mengantar Zakia kesekolah, Rans menuju kantornya. mendapat respon positif dari zakia seolah menjadi semangat serta kebahagiaan sendiri bagi Rans. sepanjang jalan senyumnya bahkan tidak luntur sedikitpun. apa lagi jika teringat wajah zakia yang polos.


Hingga sampai dikantor Rans belum sadar jika ia telah ditunggu semua orang. karna terlalu memikirkan zakia Rans sampai terlupa jika ia dan kakaknya ada pertemuan penting pagi itu.


Rans masuk kantor dengan santainya, sampai tidak sadar keberadaan Abigal dan Revandra yang duduk dilobby.


" kemana saja kau ??!!" tegur Abigal.


Rans terperajak, dan menatap kedua orang yang melipat kedua tangan sembari menatapnya dengan tajam.


" kak Abi, Kak Vandra.. sedang disini ??" tanya Rans dengan canggung.


" sedang apa ?? kau lupa kita akan bertemu klien pagi ini ?!!" hardik Abigal.


Rans memejamkan matanya. "sial !! kenapa aku bisa lupa !!" gerutu Rans dalam hati.


" maaf, maaf kak.. aku..aku..terlupa.." ucap Rans dengan cengengesan.


Abigal mendegus kesal sembari membuang tatapannya kearah lain.


" untung saja aku mengajakmu menghampirinya, jika tidak dia pasti tidak akan datang.." timpal Revandra.


" kakak, aku benar-benar lupa.. maaf ya... baiklah, ayo kita berangkat sekarang.." ajak Rans dengan semangat.


" itu lebih baik. tapi nanti aku akan memarahimu !!" balas Abigal yang segera berdiri dan melangkah lebih dulu.


Revandra hanya menepuk pundak Rans dengan senyuman ejekannya, "bersabarlah anak muda.." lalu kemudian mengikuti langkah Abigal.

__ADS_1


Rans membuang nafas dengan kasar dan sedikit berlari mengikuti sang kakak.


.


.


.


.


Setelah beberapa hari dikurung disebuah kamar temaram tanpa celah dan tanpa cahaya, Maudy baru bisa membuka matanya. Rasa nyeri dan sakit menjalar disekujur tubuhnya, ia meneliti dimana ia kini berada, Tak ada setitikpun cahaya, hanya kegelapan disana.


"i..ini..dimana ?? a..apa..aku..sudah mati ??" tanya maudy kepada dirinya sendiri.


hening tidak ada jawaban disana. maudy mengumpulkan semua kekuatannya agar bisa berdiri.


" aaakkhhh !!" teriak maudy menahan sakit yang luar biasa dikakinya.


dengan nafas terengah-engah, maudy mulai berjalan, meski dengan kaki diseret sekuat tenaga. mencari tau dia kini ada dimana.


tangannya terus meraba setiap dinding disekitarnya,


usahanya terlihat membuahkan hasil. maudy dapat menemukan sesuatu yang diyakininya adalah sebuah jendela.


terus meraba dan meraba berusaha membuka jendela itu. tangan maudy menemukan sebuah kancing yang menjadi penghalang jendela agar tertutup. segera Maudy membukanya.


mata maudy terpejam karna terkena cahaya sinar matahari yang sudah meninggi.


senyum kebahagiaan bercampur haru terlihat jelas diwajah maudy, saat meneliti sekitar, jika kini ia benar masih hidup, entah kini dia berada baginya tidaklah penting.


" aku harus segera pergi dari tempat ini " ucap maudy lirih. ia meneliti apa yang bisa digunakan untuk mencapai jendela yang lumayan tinggi. namun nihil ia tidak menemukan apapun. kamar itu kosong tidak ada kursi ataupun seutas tali.


maudy tidak menyerah dia terus mencari meski tidak.mendapatkan apapun. hingga ia bertekad memanjat jendela. meski penuh kesusahan, dan dengan menahan luka dikakinya. maudy tetap berusaha naik, sambil meringis menahan sakit.


Kembali maudy mengatur nafasnya yang terengah-engah. kembali pula ia mencoba dan percobaan kali ini ia berhasil.

__ADS_1


ia sudah duduk dijendela. netranya melihat kebawah betapa tingginya ia kini berada.


" sebenarnya aku ini dimana ?? menara ?? atau.." gumam maudy terus menerka dengan gusar dan ketakutan


loncat bukanlah solusi yang tepat. posisi maudy saat ini begitu tinggi, disekeliling gedung tinggi itu terdapat air yang diyakini maudy adalah kolam, namun terlihat luas sebab kolamnya mengelilingi gedung.


" aku harus bagaimana ??!! apa iya aku harus loncat ??!! Tuhann.. aku mohon selamatkan aku.." pinta maudy yang sudah putus asa dengan menangis.


Pintu kamar dimana maudy berada terlihat terbuka. segera maudy mengangkat kembali wajahnya melihat siapa yang berada disana.


" apa kau akan kabur ??" tanya Yohan asisten Revandra yang ditugaskan menjaga gedung itu, ketika melihat maudy masih terduduk dijendela.


" siapa kau !!!?" teriak maudy, meski suaranya terdengar bergetar, namun maudy berusaha tetap tegar.


" Aku beritau. kau tidak akan selamat jika kau memaksa lompat. dibawah sana ada peliharaan bos kami yang tengah lapar, kau fikir itu kolam ya ?? kau salah.. itu tempat mandi buaya-buaya lapar.. jika kau tidak percaya coba saja lompat.. kau akan merasakan tubuhmu tercabik-cabik oleh banyaknya buaya. " terang Yohan dengan dramatisir.


maudy membulatkan matanya, ia tidak menyangka, kini ia berada disebuah neraka milik seorang mafia.


" lalu.kenapa kau tidak membunuhku saja !!! untuk apa aku disekap begini !!!" protes maudy dengan keras.


" niatku juga begitu. tapi aku masih menunggu perintah bosku !! duduk diam dan renungi kesalahanmu !! siapa.tau dewi fortuna masih berpihak kepadamu !!" balas yohan dengan lantang. lalu kemudian menutup kembali pintu itu.


" tunggu !!! tunggu jangan pergi !!! " maudy loncat dari jendela untuk mengejar yohan


"aakhhh!!!"


Namun semua sudah terlambat, Yohan sudah mengunci kembali pintu itu.


Maudy menangis dengan memukul-mukul pintu.


" buka pintunya !!!! bunuh aku saja !! jangan siksa aku seperti ini !!!" teriak maudy dengan tangisannya.


menyesal, hanya itu yang dirasakan maudy saat ini.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2