
bab 189
.
.
.
dengan sedikit berlari Zakia menyusuri lorong rumah sakit dimana Rans dirawat. darren dapat melihat raut kekawatiran diwajah Zakia hanya diam tanpa mencegah atau mengatakan sesuatu.
tujuan Zakia adalah kamar rawat VVIP yang disebutkan sang papa dalam pesan singkatnya.
tanpa menunggu apapun dan tanpa mengetuk Zakia langsung membuka pintu ruangan yang ia yakini sebagai ruang rawat Rans.
Zakia mematung kala melihat Rans yang disuapi makanan oleh mama wina, begitupun dengan mama wina dan rans yang begitu terkejut ketika pintu tiba-tiba saja terbuka dan ada seseorang yang masuk, keduanya menoleh kearah pintu.
" Zakia.. masuklah sayang.." ucap mama wina dengan penuh keramahaan.
tak lama darren juga ikut masuk. menunduk memberi salam kepada mama wina dengan sopan.
" maaf nyonya.. kami tidak permisi terlebih dulu.." kata darren dengan sopan.
" tidak masalah tuan.mari silahkan.." mama wina segera mempersilahkan darren untuk duduk.
Sementara Rans dan zakia sesaat saling pandang, Zakia benar-benar bisa melihat wajah Rans yang masih terlihat pucat dan lemah berbaring bersandar ditempat tidur.
__ADS_1
senyum nampak dilayangkan Rans agar Zakia tidak terlalu tegang. Sementara Zakia entah sejak kapan ia matanya sudah tergenang dengan air mata, tangannya bahkan terkepal menahan sesuatu didalam hati. entah mengapa Zakia ingin menangis melihat keadaan Rans. meski Rans sudah baik-baik saja.
mama wina dan Darren menatap kedua sejoli yang masih sama-sama terdiam.
Dengan perlahan Rans membuka tangannya dengan anggukan pelan dan senyum terus menghiasi wajah pucatnya.
Zakia yang sudah tidak tahan segera berlari dan berhambur memeluk Rans dengan erat. seketika juga tangisannya tumpah didalam dekapan Rans.
sementara Rans dengan penuh kelembutan mengusap kepala Zakia dan meresapi pelukan Zakia yang begitu erat, sangat terasa memilukan ketika isak tangis Zakia mulai terdengar.
" jangan menangis.. kau terlihat jelek jika menangis.." ucap Rans pelan.
"hiks..hiks..hiks.. maaf.. maafkan Zakia..paman.."balas Zakia masih dengan isak tangisnya.
Mama wina tersenyum penuh keharuan terbawa suasana. ia memilih keluar bersama Darren bersama, memberi sedikit ruang untuk kedua orang yang sedang melepas kerinduan.
" sudah menangisnya ??" goda Rans.
Zakia memanyunkan bibirnya dengan sesenggukan.
Rans tersenyum melihat Zakia yang baginya sangat lugu. kembali Rans menarik Zakia kedalam pelukannya, Beberapa kali ciuman lembut dilayangkan Rans dikepala dan kening Zakia, seakan menandakan betapa Rans amat merindukan dan mencintai Zakia.
" aku sangat merindukanmu anak nakal.." ucap rans
" paman fikir aku tidak !! aku juga sangat rindu !!" protes Zakia sembari melepas pelukannya.
__ADS_1
Rans terkekeh dengan kejujuran dan kepolosan Zakia.
" baiklah, jika rindu seharusnya kau bagaimana ??" tanya Rans mencoba menggoda.
Alis Zakia bertaut mendengar ucapan Rans.
"maksudnya ??"
" apa yang akan kau lakukan jika merindukan kekasihmu ??" Rans memperjelas ucapannya.
Zakia berfikir sesaat, sampai beberapa menit otaknya tidak bisa menemukan jawaban pertanyaan Rans.
Rans kembali terkekeh kala melihat Ekspresi wajah Zakia yang terus berkonsentrasi memikirkan ucapannya.
" kenapa malah tertawa ?? paman mengejekku ??!!" terka Zakia
" tentu saja tidak sayang.." Dengan segera Rans kembali membawa Zakia kedalam pelukannya.
tidak ada kata yang bisa diucapkan Rans saat ini, kebahagiaan yang sangat dalam seakan tidak bisa dijabarkan oleh apapun.
.
.
.
__ADS_1
.