LUKA DAN CINTA

LUKA DAN CINTA
Tuan itu Tampan


__ADS_3

Mirip seperti, sebuah video po*no yang diputar berulang-ulang sampai penontonnya hafal dengan caranya.


"Aku bisa, berjalan sendiri. Sudah, le-lebih baik kamu berganti pakaian di kamar mandi yang lain, supaya tidak masuk angin."


"Ta-tapi,"


Plak.


Nathan menghempaskan tangan, Anindya sekali lagi. Sedangkan, Anindya hanya bisa menghela nafas melihat Nathan yang menghempaskan Tangannya.


Namun, jika diingat ingat lagi, tadi di sekitar telinga Nathan ada rona merah yang terlihat sangat jelas. Apa Nathan demam? Ya, jika di pikir-pikir, tadi Nathan sempat, ya kalian paham lah. Dan, karena lama berganti pakaian jadi demam? Bisa saja 'kan?


Bukannya orang kaya mudah sekali sakit?


Karena ragu, Nathan akan bisa mengganti pakaiannya sendiri. Akhirnya, Anindya memilih mengikuti Anindya dari belakang dengan langkah pelan. Agar Nathan tidak curiga.


Brak.


Baru, saja akan melangkah Anindya melihat, Nathan yang tengah menabrak dinding. Nathan bangkit dan berjalan lagi, namun naasnya kini kembali menabrak pintu kamar mandi.


Anindya ingin tertawa, tapi takut Nathan akan sakit hati jika mendengarnya. Alhasil, Anindya hanya membekap mulutnya dan membiarkan hatinya saja yang tertawa.


"Sial, jika aku tahu, perjalanan ke kamar mandi, sama dengan perjalanan ke neraka, aku akan minta Anindya untuk mengantarkanku, setidaknya sampai pintunya saja." Nathan mendumel. Meraba-raba, apa yang ada di depannya, kemudian melangkah pelan-pelan. Namun, baru satu langkah maju, Nathan kembali jatuh. Karena tidak sengaja memijak Karpet yang ada di kamar mandi.


Membuat, dahinya yang tadinya hanya memerah kini sedikit berdarah. Anindya yang melihat itu, dengan sigap langsung berlari ke arah, Nathan. Menuntunnya ke kasur, dan membantu Nathan, mengobati luka yang ada di keningnya.

__ADS_1


"Aku pikir, kamu sudah pergi tadi." Nathan berucap pelan. Namun, masih di dengar oleh Anindya. Anindya hanya tersenyum, mengelus luka di kening Nathan pelan, seraya mengecupnya.


"Supaya cepat sembuh." Ucap Anindya, ketika menyadari tubuh Nathan menegang.


Nathan mengangguk dengan pipi yang merah padam. Celananya masih basah, tentu saja begitupun dengan Anindya.


Anindya melirik ke bawah Nathan, dengan pandangan Bingung. Kemudian menarik celananya pelan-pelan.


"Hei, eh, eh apa yang kamu lakukan?!" Nathan sontak berdiri, namun karena mereka berdua berdiri di saat bersamaan, bibir Nathan tanpa sengaja mengenai kepala Anindya, dan akhirnya mengecupnya.


"Hanya membantu, Tuan. Kalau, di biarkan nanti, sampai empat tahun ke depan, pun celana tuan tidak akan di ganti." Anindya menjawab dengan lugas, membuat Nathan yang tegang semakin tegang. Tangan Nathan refleks menutupi kancing celananya agar Anindya tidak bisa membukanya. Namun, Anindya yang memiliki sejuta ide, membuat Nathan terjatuh dan terbaring di kasur.


Kesempatan itu, tidak di sia-siakan oleh Anindya. Dan, akhirnya menggantikan seluruh pakaian Nathan. Dengan, Nathan sendiri yang tengah memejamkan seluruh matanya. Berhara. semuanya hanya mimpi yang, harus di lupakan olehnya.


Flasback end.


"Tuan, kenapa?" tanya Anindya, ketika menyadari bahwa Tubuh Nathan terlihat agak aneh. Reaksinya pun begitu. Kadang, sedih, kadang malu-malu, kadang marah, dan kadang senang.


Nathan terdiam, sama sekali tidak bergeming. Membuat, Anindya merasa sedikit bersalah, karena ia berpikir Nathan marah padanya karena ia, sudah lancang menyentuh tubuhnya.


Anindya berdiri. Ia mengambil, inisiatif untuk bersujud di bawah, Nathan dan meminta maaf. Namun, belum juga ia bersujud, Nathan tiba-tiba sudah memeluk pinggangnya.


Hal itu tentu membuat Anindya kaget. Begitupun dengan Nathan. Nathan yang tadinya, sedang terlarut pada mimpinya, berpikir bahwa saat ini ia tengah tertidur sembari memeluk guling kesayangannya.


Namun, sesuatu yang mengganjal di wajahnya sedikit mengganggu. Apalagi, pekikan Anindya yang juga tiba-tiba muncul di mimpinya.

__ADS_1


"Aneh, apa kali ini Anindya juga masuk ke mimpiku? sampai-sampai suaranya bahkan bergema di dalam sana." ujar Nathan pelan. Anindya terkekeh, merasa geli dengan tingkah Nathan yang mendusel-dusel Dadanya.


Di balik pintu, lagi dan lagi, Erick tengah menatap mereka. Tentunya, dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan. Terlebih lagi, ketika melihat, Anindya yang tengah terduduk di pangkuan, Nathan dengan Nathan yang sepertinya tengah bermanja-manja di pelukannya.


"Sial, dasar pengantin baru tidak tahu tempat. Padahal ini sudah pagi, dan mereka belum puas bermain-main. Astaga," Erick mengusap wajahnya yang merona dengan kasar. Tiba-tiba bayangan istrinya yang merona, ketika ia kecup Pipinya terlintas. Erick tersenyum kecut, ketika mengingat itu. Terlebih lagi, saat ini istrinya itu tidak bisa di bilang, Wafat ataupun Menghilang.


Erick sendiri tidak tahu mau menyebutnya apa. Tapi, ia yakin, saat ini wanita itu pasti tengah tersenyum sembari memikirkannya.


Menutup pintu dengan pelan. Kemudian menghilang. Itu yang Erick lakukan.


Sedangkan dua pasangan yang sedang duduk di pinggir kasur itu, saling tertawa. Nathan yang tanpa sadar, berpikir bahwa Anindya adalah guling yang bisa berbicara, membuat beberapa lawakan dan juga beberapa gerakan yang membuat Anindya tertawa. Anindya juga tidak mau kalah, Anindya juga membuat lawakan yang tentunya di berikan hadiah tawa oleh Nathan.


Anindya tersenyum, mengelus pipi Nathan dengan lembut. Matanya memandang, wajah Nathan penuh kekaguman. Ciptaan Tuhan yang satu ini, terlihat sangat sangat sempurna di matanya.


Dengan, mata yang selalu memancarkan kehangatan walaupun berwarna sedikit berbeda. Dan, sikap yang sama sekali tidak sama di novel-novel yang pernah di bacanya.


Pria ini tidak cuek, namun sangat menyenangkan.


"Tuan itu Tampan. Aku sampai, merasa bahwa di sini aku sama sekali tidak cocok dengan tuan. Ya, bagikan bumi dengan langit." Anindya bergumam lirih, mengusap alis Nathan dengan pelan. Membuat Nathan yang tadinya tersenyum, tiba-tiba merubah rautnya, menjadi sedikit emosi.


Nathan mengangkat tangannya, memeluk leher Anindya kemudian mengecup pucuk rambutnya.


"Jangan bicara dengan nada seperti itu. Itu mengganggu, kamu paham darling?" Anindya mengangguk malu-malu. Menyembunyikan wajahnya di pelukan Nathan, dan akhirnya tertidur dengan posisi duduk di atasnya.


Tanpa di sadari, kedua orang itu akrab dalam waktu satu hari satu malam. Dan, doakan saja, semoga mereka bisa terus bersama seperti itu selamanya. Tanpa, ada orang yang mengganggunya.

__ADS_1


__ADS_2