
bab 216
.
.
.
Rans dan Zakia saling bertukar cincin, dan Zakia mencium tangan Rans dengan senyum bahagia.
Semua pun merasakan kebahagiaan yang dirasakan kedua mempelai.
Rans mengajak zakia mendekati Kedua orangtua Zakia.
" kakak, mohon doa restunya.." ucap Rans sembari bersimpuh dikaki Revandra.
segera Revandra meraih pundak menantunya itu.
" anak nakal !! panggil aku papa mertua !! kau membuatku terlihat muda saja.." Balas Revandra yang langsung memeluk Rans dengan erat.
" aku serahkan zakia padamu, dia bukan lagi tanggung jawabku, bimbing dia menjadi istri yang selalu Allah ridhoi, ingatkan dia jika dia melakukan kesalahan, anggap dia teman, sahabat adik dan juga istri untukmu." bisik Revandra pada Rans.
" aku akan selalu melakukan dan mengingatnya papa mertua.." balas Rans dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
" dia memang istrimu, tapi dia tetap putriku, jika kau menyiayiakan dia aku tidak akan ragu mengambilnya kembali."tambah Revandra.
" lakukan apa saja jika memang aku bersalah.." kembali Rans membalas dengan sepenuh hati.
Revandra segera melepas Rans, yang kemudian Rans menuju Nada yang sudah berlinang air mata, bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan.
sedangkan Zakia yang menatap sang papa dengan mata berkaca-kaca seolah mengisyaratakan sesuatu.
Revandra membuka tangannya, hingga Zakia langsung berhambur dan menumpahkan air mata kebahagiaannya.
" aku sayang papa.. hiks..hiks.. maafkan Zakia yang selalu membuat papa Kesusahan, maafkan Zakia belum bisa berbakti sama papa, maafkan zakia yang belum bisa membahagiakan papa...hiks..hiks.." ucap Zakia dalam tangisannya.
Revandra berusaha tegar, ia tidak mau mengeluarkan air matanya. semua ia tahan didalam dada hingga terasa sesak. beberapa kali ia menelan ludahnya bahkan memejamkan mata.
Zakia membuka pelukannya. "papa jika ingin menagis, ya menangis saja.. jangan ditahan.. aku tau papa menahannya sejak tadi."
" siapa bilang !! papa ini pria kuat, untuk apa menangis.. sudahlah. sekarang kau sudah menikah, menjadi seorang istri, menjadi calon ibu dan akan menjadi panutan anak-anakmu, hilangkan ego, jangan mengutamakan marah dalam sebuah masalah, musyawarah lebih baik dari apapun. Rans adalah suamimu, imam dalam rumah tanggamu, apapun yang dia katakan harus kau turuti asal tidak menyimpang dari agama dan tradisi." nasehat Revandra dengan menatap lekat wajah putrinya.
Zakia seakan tidak dapat berkata lagi, ia hanya mengangguk dengan senyum yang diikuti Air mata.
Revandra perlahan.mengusap air mata dipipi Zakia. "ini hari bahagiamu, jangan menangis lagi.. setelah meminta restu mama Nada dan orangtua Rans, kau harus meminta restu paman darren dan bibi mayra juga."
" iya pa.. terima kasih.." hanya kata itu yang sanggup terucap dari mulut Zakia.
__ADS_1
Rans telah selesai berganti dengan zakia yang bersimpuh dikaki Nada. begitupun terus mereka lakukan sampai pada Zakia yang berada dihadapan mayra.
Ingin rasanya mayra segera meraih Zakia, namun mayra berusaha untuk selalu menahannya. "bibi.. restui pernikahan kami ya.." ucap zakia.
" apa bibi boleh memelukmu sayang ??" tanya Mayra.
Zakia mengangguk dengan penuh semangat.
tanpa menunggu apapun mayra menariK zakia dan memeluknya dengan erat.
" selamat sayang.. kini kau sudah menemukan kebahagiaanmu..maafkan bibi yang tidak terlalu peduli padamu.."ucap mayra dengan berlinang air mata
" bibi jangan bicara seperti itu.. Zakia sayang bibi.. bibi may dan bibi nurra adalah wanita hebat yang aku punya." balas Zakia.
Mayra mengangguk. ia melepas pelukannya dan mengusap ujung matanya yang baru mengeluarkan air mata.
Zakia berjalan kembali, mayra seakan belum.ingin melepas putrinya, namun darren segera menahan Mayra hingga membuat mayra tersadar.
Nada dan Revandra hanya saling tatap dengan mata sendu melihat betapa inginnya mayra lebih dekat dengan Zakia .
.
.
__ADS_1
.