LUKA DAN CINTA

LUKA DAN CINTA
2. Keluarga


__ADS_3

Lelaki itu menggelengkan kepalanya. Kala, melihat Anindya yang terus saja bertanya akan keinginannya. Bukannya ia sudah menjelaskannya secara gamblang ya?


"Aku ingin, kita menjadi keluarga. Apa kau masih tidak paham?" Lelaki itu mulai menatap Anindya jengkel. Ia merasa, bahwa gadis di depannya ini sangatlah terlalu polos dan lugu. Ia jadi, takut membawanya masuk ke dalam keluarganya yang memiliki segudang keanehan dan segudang permasalahan.


Anindya mengangguk paham. Ia tersenyum, dan membuat Lelaki itu tersenyum puas.


"Tidak."


Sial.


Lelaki itu mendengus kasar. Lantas, menarik tangan Anindya dengan kasar keluar dari bar. Kemudian menyerahkan, uang sebesar sepuluh juta kepada teman dari gadis yang tadi di tariknya.


Sementara Hanum yang di tinggalkan, mendesah pasrah akan takdir selanjutnya. Karena, walau bagaimanapun, Lelaki itu terlihat baik-baik. Dan, Firasatnya mengatakan bahwa, Anindya akan baik-baik saja dengannya.


***


"Buyut akan membawaku kemana?"


Langkah lelaki itu seketika terhenti, ketika Anindya memanggilnya buyut. Lelaki itu menoleh, menatap Anindya jengkel, kemudian melepaskan tautan tangannya.


Ia berbalik menghadap Anindya, kemudian menepuk-nepuk kepalanya yang terasa seperti ditimpa besi panas.


"Apa aku setua itu dimatamu, Nak?" tanya Lelaki itu lemas. Bahkan tatapannya terlihat sangat putus asa, dan itu membuat Anindya mengangguk mengiyakannya.


"Astaga, aku memang mengakui, kalau aku sudah tua. Tapi, tolong jangan panggil aku, Buyut. Aku tidak setua itu," Lelaki itu mengurut kepalanya yang terasa berat dengan tangan yang bergetar. Rambut berwarna putihnya tampak, rontok beberapa, membuat lelaki itu terlihat semakin mengenaskan di usia senjanya.


Anindya yang merasa kasihan, menepuk punggung lelaki itu dengan tangannya secara pelan. Namun, entah karena kelelahan atau faktor U. Lelaki itu langsung bergeser, dan hampir terjatuh jika Anindya tidak segera menangkapnya.


'Baiklah, aku mengaku aku sudah buyut.' Lelaki itu berteriak histeris dalam batinnya. Tangannya, memegang tangan Anindya erat, seolah-olah mengatakan 'Jangan pergi'.


"Buyut tidak apa-apa?"


'Sebenarnya ini mengesalkan. Aku tidak punya anak, tapi punya cucu. Aku punya cucu tapi baru sekarang punya anak. Apa ini tidak akan menyebabkan pro-kontra untuk ke depannya?'

__ADS_1


Lelaki itu menggeleng tegas. Ia kembali menguatkan kakinya, kemudian menarik Anindya ke dalam sebuah mobil berwarna Silver. Kemudian menyuruh orang yang duduk di bangku pengemudi untuk mengantarnya kembali ke rumahnya.


"Buyut?" Anindya menyenggol bahu lelaki itu pelan, kemudian berdesis.


"Apa?" Lelaki itu, langsung menjawab dengan sedikit teriak. Membuat Anindya terkekeh, karena ia berpikir bahwa lelaki itu sengaja melakukannya, agar ia bisa mendengarkannya.


Tanpa disadarinya, Lelaki itu ternyata tengah memukul kepalanya beberapa kali, sembari mengusap dadanya.


Jantungnya terasa di paksa berhenti bekerja, kala melihat sifat gadis yang tengah di bawanya ke rumahnya ini.


Gadis ini terlalu polos. Ia menjadi tidak yakin, bahwa gadis ini pernah sekolah. Karena, kepolosannya terlihat sudah mendarah daging.


***


Sesampainya di sebuah rumah bertingkat. Lelaki itu segera keluar, dan tanpa banyak bicara menyeret Anindya ke sebuah pintu bercat Silver. Kemudian mendorongnya secara paksa.


Karena dorongan dari lelaki itu, seorang pria yang tampaknya tengah tertidur terbangun. Matanya ia gosok beberapa kali, sebelum akhirnya ia membuka kedua matanya.


"Cucu bodoh, kenapa baru bangun hah?! aku sudah meneriakimu empat kali asal kau --,"


Brak!


Lelaki itu menutup pintu secara kasar, kemudian menatap Anindya dan Lelaki yang sedang terduduk di ranjang itu bergantian.


Menarik lelaki yang sedang duduk di ranjang agar berdiri di dekat Anindya, kemudian Berpose layaknya fotografer profesional yang sedang menilai pose yang sempurna untuk melakukan foto prewedding.


"Good!" ujar Lelaki itu antusias. Anindya yang sedari tadi memang kurang paham, mengerutkan keningnya. Anindya menoleh, lantas menatap Lelaki yang saat ini tengah berdiri di sampingnya.


Lelaki itu tingginya sekitar hampir 189, matanya juga terlihat sangat asing di mata Anindya. Karena di matanya, tidak terdapat adanya bayangan. Padahal, saat ini ia bisa dengan jelas melihat, Bahwa lelaki yang ia panggil buyut tengah menatap Lelaki yang berada di sampingnya lekat.


"Dia, Tunanetra. Aku berkeinginan, menikahkan kalian berdua."


Menikah?

__ADS_1


Haha, yang benar saja.


Anindya tersenyum tipis. Sebelum akhirnya tertawa renyah. Ia masih berpikir, bahwa lelaki yang dipanggilnya buyut tengah bercanda. Padahal sebenarnya tidak.


Lelaki itu bersungguh-sungguh dengan kata-katanya, dan berhasil membuat Anindya terpaku pada tempatnya.


"Menikah?" tanya Anindya ragu. Anindya ingin memastikan bahwa pendengarnya sedang bermasalah, karena tidak mungkin ada keluarga kaya yang ingin memiliki menantu seorang rakyat biasa sepertinya.


Terlebih lagi, ia bekerja di bar. Yang sudah pastinya, memiliki, komenan buruk di mata masyarakat.


"Yap, benar. Apa kau mau, gadis kecil? Oh sebelumnya, perkenalkan namaku Erick Nabastala, dan dia cucuku, Nathaniel Nabastala." Lelaki itu tersenyum lebar, sembari menggandeng lengan Lelaki bernama Nathan.


Anindya mengangguk mengiyakan, walaupun merasa bingung dengan semuanya.


"Kau keterlaluan, Kakek. Aku memang tunanetra, tapi jangan membuat seorang gadis yang tidak bersalah, jadi kena getahnya!" Nathan menghempaskan tangan, Erick dengan kuat, kemudian meraba-raba tembok yang bisa ia jadikan pegangan, supaya ia bisa kembali ke kasurnya.


Anindya yang melihat itu, segera mengulurkan tangannya dan di sambut Nathan. Awalnya tubuh Nathan menegang karena merasa, yang saat ini di pegangnya bukanlah dinding melainkan tangan seseorang yang sepertinya adalah wanita yang di bawa Kakeknya.


Namun, anehnya tubuhnya tidak bisa menolak bantuan dari wanita itu. Karena ia merasa, tubuhnya seperti di tarik oleh pesona wanita yang saat ini tengah membantunya untuk kembali ke kasurnya.


Terlebih lagi, aroma yang di keluarkan tubuh wanita ini begitu manis dan membuatnya merasa tenang. Meskipun, rasanya hatinya masih terasa tidak nyaman dekat dengan wanita yang di bawa Kakeknya.


Dan, kalau tidak salah namanya Anindya ya? ia tadi tidak sengaja mendengar, bahwa kakeknya menyebut nama wanita yang dibawanya adalah Anindya


Namanya bagus, tapi mungkin saja tidak dengan sifatnya.


Karena, Nathan yakin, wanita di depannya ini pasti sama dengan masa lalunya.


Sementara, Erick yang melihat hal itu, tersenyum bangga sembari memamerkan giginya yang hanya tinggal beberapa. Lelaki itu merasa niatnya sudah berhasil, dan pasti kali ini tidak akan salah. Karena ia sendiri yang memeriksanya secara detail dan pastinya juga secara terperinci.


"Hahaha, aku berhasil. Aku jamin mereka akan berjodoh. Jika tidak berjodoh, akan aku tonjok jodoh dari wanita itu!" Erick bergumam rendah di akhir kalimat. Karena ia sudah merasa, senang dengan Anindya. Terlebih lagi, Anindya terlihat seperti wanita yang sangat dicintainya, Istrinya.


Mereka terlihat mirip, dari segi sifat. Istrinya juga dahulu begitu polos dengan segala hal. Ia ingin tahu segalanya, tapi setelah di beritahu, pasti akan bosan.

__ADS_1


Dan, sepertinya wanita ini juga akan begitu. Yah, dilihat dari tampilannya sih.


__ADS_2