LUKA DAN CINTA

LUKA DAN CINTA
Masa lalu (1)


__ADS_3

Anindya membuka matanya perlahan-lahan, kemudian menatap ke arah Nathan yang saat ini tengah menegang di bawahnya. Anindya terbatuk ringan, ketika menyadari bahwa saat ini posisinya dengan Nathan terlihat sangat ambigu.


"Eum, maaf, aku ketiduran." Anindya lekas bangkit. Mengusap-usap tangannya, kikuk kemudian membantu Nathan bangkit dari tidurnya.


Menggantikan baju Nathan, dan juga memandikannya.


***


Nathan terdiam sejak kejadian, di mana ia menemukan bahwa Anindya tidur diatasnya. Terlebih lagi, ketika tiba-tiba, ia merasa suhu di ruangannya terlalu dingin.


Tapi, ia langsung mengetahuinya, ketika tiba-tiba air menyentuh kakinya. Matanya lantas membola, namun tubuhnya tetap mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh Anindya. Bahkan tubuhnya sama sekali tidak menolak, ketika Anindya menyentuh bagian-bagian yang selama ini selalu di sembunyikannya.


"Sial, aku benar-benar gi*a!" Nathan mengacak-acak rambutnya yang tiba-tiba terasa gatal pada. Pipinya pun terasa sangat panas. Seperti, habis di sengat listrik. Terlebih lagi, perasaan yang ada di hatinya.


Benarkah, ia mulai melupakan, seseorang yang dahulu pernah di rasanya seperti bidadari dalam kehidupannya? Tapi, apa semudah itu?


Nathan termenung. Pikirannya berkelana ke masa lalu. Ketika, dahulu ia di selamatkan oleh seorang wanita muda berparas cantik. Wanita itu selalu menemaninya di saat ia suka ataupun duka. Sampai akhirnya mereka berpacaran, dan bertunangan.


Pernikahan pun di laksanakan secepat-cepatnya, dengan restu kedua belah pihak. Namun, takdir seperti memang tidak menyetujui pernikahan mereka. Dengan, membuat mobil yang mereka tumpangi, kecelakaan dan menewaskan wanita itu.


Ya, menewaskan wanita itu, dan membiarkannya hidup dalam kesepiannya. Dunianya suram. Segala cara, sudah di lakukannya agar, Ia bisa bertemu dengan wanita itu. Tapi, Erick selalu saja bisa menggagalkannya.


"Alysa, kamu apa kabar di sana?" Nathan bergumam. Menyentuh, dadanya yang masih berdetak dengan kencangnya ketika menyebutkan nama itu.


'Tidak, salah lagi. Aku memang masih mencintai, Alysa. Ya, benar, perasaan ini tidak semudah itu, pudar.' Nathan tersenyum lirih. Kala, jantungnya terus berdetak dengan cepat. Jujur, nama Alysa sudah tertanam terlalu dalam di sana. Nama, Alysa sudah seperti, darah untuknya.


"Tuan?"


Nathan menghela nafas. Sedari tadi, ia tahu bahwa Anindya terus-terusan memperhatikan setiap gerak-geriknya. Mulai dari mendesah, ataupun ketika pasrah.


"Ya?"

__ADS_1


"Tuan kenapa?"


Kenapa ya? Nathan sendiri juga tidak tahu alasannya. Hatinya terasa seperti Sanga berbeda. Mungkinkah, ia sudah menyukai wanita yang selalu menempel dengannya ini, atau sebaliknya?


Mungkinkah, perasaannya hanya sekedar rasa, terimakasih karena selalu membantunya? Ya, anggap saja begitu.


"Kau mau mendengar cerita masa laluku, Anindya?" tanya Nathan. Anindya mengangguk.


"Tentu. Tapi, jika tuan tidak keberatan. Aku tidak ingin memaksa tuan. Santai saja, anggap saja saya adalah teman tuan." ucap Anindya dengan senyuman lebar. Tangannya refleks, menggenggam tangan Nathan yang dingin.


Nathan mengangguk. Menarik tangan Nathan agar menyentuh dadanya, kemudian mulai bercerita.


Flasback*


Sebuah mobil sedan hitam, melaju dengan kecepatan di atas rata-rata di sebuah jalanan desa. Jalanan desa yang berbatu, tentu saja membuat mobil itu kadang bergerak tidak menentu, dan membuat mobil itu menabrak sebuah pohon mangga yang ada di depan jalan.


Seorang pria keluar dari dalam mobil itu, dengan penampilan kacau, yang penuh dengan darah. Tangannya menggenggam, sebuah dompet, sekaligus ponselnya. Dengan keadaan darah yang mengucur dari keduanya.


"Tolong," tukas pria itu. Tangannya lagi lagi mengetuk pintu. Namun, tidak ada sautan dari dalam. Nafasnya mulai terasa sesak, matanya juga mulai terasa mengabur. Pria itu terduduk di atas, lantai dengan tangan yang memegangi kepalanya.


"Astaga, tuan, bangun tuan!"


***


Hari demi hari berlalu. Kini sudah berganti bulan. Sudah satu bulan, pria yang di temukan pingsan di gubuk itu koma.


Seorang wanita yang selalu berada di sisi pria itu, mengusap wajahnya pelan. Bajunya terlihat sangat kotor, dengan debu yang menjadi hiasannya.


Rambutnya juga terlihat sangat kusut. Berbeda dari wanita yang lainnya.


"Tuan, ku mohon bangun. Jangan membuat saya cemas seperti ini," Wanita itu kembali menangis. Mengusap tangan pria yang di panggilnya tuan itu dengan lembut. Seolah-olah menyalurkan kekuatan dan harapannya, agar pria itu lantas segera bangun.

__ADS_1


"Berisik. Aku ingin tidur."


"Hah?"


Wanita itu mengangkat wajahnya yang tertunduk. Menatap seorang pria yang tengah menatapnya kaget, kemudian dengan cepat melepaskan tangannya.


"Kapan tuan bangun?" Wanita itu dengan cepat mundur beberapa langkah.


"Dua hari yang lalu. Tapi karena obat dari dokter, aku baru bangun sekarang."


"Dan, ekhem, perkenalkan namaku Nathan. Jika boleh tahu, namamu siapa?" Nathan mengulurkan tangannya ke arah wanita itu. Namun tidak di sambut. Nathan jengkel, benar-benar jengkel. Tangannya sangat sakit, tapi dia berusaha agar tetap berperilaku hormat kepadanya wanita itu.


"Balas," ucap Nathan yang emosi. Nada suaranya yang perlahan halus, menjadi membentak. Membuat wanita itu kaget.


"Namaku, Alysa!"


Tanpa membalas uluran tangan Nathan. Wanita itu menyebutkan namanya. Nathan jengkel, dengan kekuatan yang tersisa ia berusaha bangkit dari tidurnya. Kemudian menarik tangan wanita itu agar membalas ulurannya.


"Anda sangat tidak sopan, karena tidak mem---,"


'Kasar,' Nathan tersentak. Ketika tangan yang di pegangnya terasa sangat kasar. Nathan mengangkat tangan itu setara dengan wajahnya kemudian terbelaak. Melihat bagaimana jeleknya tangan itu, di bandingkan dengan tangannya.


Padahal dirinya seorang pria, dan wanita itu seorang wanita. Tapi, jika di lihat-lihat lagi. Wanita yang bernama Alysa ini, terlihat sangat manis, dengan ekspresi ketakutan. Ah, gila.


"Kamu, bagaimana bisa sekotor ini?" Nathan menatap Alysa dari atas sampai bawah. Kemudian menyerngit, ketika tangannya terasa gatal karena habis menyentuh Alysa.


"Ka-karena saya bekerja sebagai petani. Jadi, ta-tangan saya tidak sehalus wanita yang lainnya." Alysa menjawab dengan terbata-bata. Tangannya refleks, menangkis tangan Nathan, membuat Nathan yang tadinya tercengang, mulai tersadar.


"Petani? bukankah seharusnya, kau bekerja di dapur?" Nathan mengernyitkan keningnya. Setahunya, wanita hanya suka bekerja di dapur ataupun tentang dunia kecantikan.


Bukannya wanita sangat suka, sesuatu yang berbau kebersihan, masakan, dan kecantikan?

__ADS_1


"Saya, Bekerja sebagai petani untuk menghidupi kehidupan saya sendiri. Lagipula, bekerja se-sebagai petani tidak semenyulitkan mengatur berkas-berkas setiap hari."


__ADS_2