
Bukannya wanita sangat suka, sesuatu yang berbau kebersihan, masakan, dan kecantikan?
"Saya, Bekerja sebagai petani untuk menghidupi kehidupan saya sendiri. Lagipula, bekerja se-sebagai petani tidak semenyulitkan mengatur berkas-berkas setiap hari."
"Aneh." Nathan bergumam. Jelas sekali merasa janggal dengan Alysa. Ia bahkan menatap Alysa dari bawah sampai akhir, untuk meyakinkan bahwa perkataannya itu bohong.
"Aha, anggap saja saya berbeda dari wanita itu yang lainnya," Alysa berujar kaku. Nathan yang melihat itu tanpa sadar tersenyum. Entahlah, ia tiba-tiba merasa lucu dengan semua gerak-geriknya.
***
Kembali lagi ke Anindya. Saat ini, ia tengah mendengarkan cerita dari Nathan dengan hikmah. Sambil sesekali, mengusap punggung Nathan yang bergetar. Antara menahan tangis atau menahan luka yang selalu di pendamnya.
"Tuan, kalau tidak sanggup bercerita, lebih baik di lain waktu sa---,"
"Ekhem?"
Anindya dan Nathan sontak menoleh. Menatap Erick, yang saat ini tengah menatap mereka berdua jengkel.
Anindya tersenyum tipis, sedangkan Nathan hanya terdiam. Mungkin karena sedang berpikir, bagaimana caranya agar Erick tidak terus-terusan mengganggunya.
"Ada apa?" tanya Nathan. Erick menghela nafasnya panjang. Menatap mereka secara bergantian kemudian tersenyum masam.
__ADS_1
"Aku tahu kalian pengantin baru. Tapi apakah normal pengantin baru bangun pukul 16.00? Apakah itu tidak terlalu ke lewatan?" Raut wajah Erick seketika berubah menjadi hitam. Membuat Anindya yang melihatnya, langsung ketakutan.
Sedangkan Nathan yang sedari tadi diam saja, tersebut tipis. Ia berpikir, Erick hanya bercanda karena memang Erick lebih sering bercanda dengannya dari pada bicara secara normal.
Yah anggaplah itu salah satu kelebihan dari Erick. Lagipula kapan lagi, Erick bisa seperti ini?
"Haha maaf kakek. Tapi kami mengantuk sekali. Hoam ....," Nathan menatap Erick lemas. Seolah-olah mengatakan padanya bahwa 'Tadi malam aku begadang. Jadi jangan ganggu' lewat tatapannya.
Erick menghembuskan nafasnya karena merasa sudah salah mengerjai mereka. Terlebih lagi dengan menantunya.
Ngomong-ngomong soal menantu, apa ia baik-baik saja?
"Apa menantuku baik-baik saja? Kau tidak kasar, tadi malam, kan?" Erick mengernyitkan keningnya. Lantas membuat Nathan yang sedang menguap langsung membelaaakan matanya.
Berbeda orang berbeda ekspresi. Itulah yang saat ini yang sedang Erick pikirkan.
Erick menatap Anindya khawatir. Ia takut gadis kecil itu, patah tulang karena Cucunya yang terlihat sangat garang ketika tadi malam. Namun juga terlihat senang, karena tidak lama lagi akan memiliki menantu.
Sedangkan menatap Nathan dengan ekspresi mesum bercampur geli. Nathan menghela nafas. Berusaha mengatur ekspresinya agar tidak terlalu memalukan di Depan Erick. Namun, sayangnya itu sia-sia karena Erick sudah lebih dahulu melihatnya.
Erick mendekat ke arah Nathan, kemudian berbisik di telinganya. "Bagaimana rasanya? Nikmat, kan?" tanya Erick menggoda. Erick bahkan sampai menghembuskan nafasnya di leher Nathan yang terlihat sedikit kemerah-merahan. Kemudian tertawa ngakak, di depannya.
__ADS_1
"Wah tidak kusangka, menantuku liar juga ternyata!" ujar Erick senang. Anindya yang sudah agak paham, dengan alur pembicaraan menyembunyikan wajahnya di Balik telapak tangan Nathan, tanpa di sadarinya.
"Hohoho, ternyata menantuku malu-malu kucing ya ...." Erick terus menggoda Anindya sampai seluruh wajahnya memerah sempurna. Nathan yang mengetahui itu, langsung mendekap Anindya. Menyembunyikan tubuh wanita itu agar tidak terus-menerus di goda oleh Erick. Dan, membuatnya menjadi samsaknya.
"Sudahlah Kakek. Kau mengganggu saja. Padahal ini hari pertamaku dengan istriku, asal kau tahu." Nathan mencebikkan bibirnya. Namun di dalam hati, sudah menyumpah mati, Erick agar segera pergi dari hadapannya.
"Hohoho, begitukah? Baiklah, aku pergi. Sampai juga pengantin baru," Erick tertawa mesum. Lantas, melemparkan sebuah benda ke arah Nathan, lalu berlari tunggang langgang meninggalkan Nathan yang terbingung sembari menggenggamnya.
"Ini apa?" Nathan menekan nekan barang itu. Tapi keras. Mencoba menggigitnya, namun, tidak ada rasanya.
"Mana, coba lihat?" Anindya yang sudah melepaskan pelukan Nathan meraih benda yang Nathan pegang. Baru, beberapa detik kemudian. Berteriak heboh melihatnya.
"O-obat k-kuat?"
"Apa?" Nathan yang merasa, telinganya sedikit bermasalah, menatap Anindya bingung. Namun, Anindya yang sudah memerah merona mengabaikannya, dan langsung pergi meninggalkannya.
"Sebentar. Apa yang di maksudnya obat kuat?"
"Obat kuat ya,"
"Eh, obat kuat? DASAR KAKEK-KAKEK TIDAK TAHU UMUR!"
__ADS_1
Suara Nathan melengking dari lantai dua. Erick dan para pembantu yang kebetulan mendengarkannya tertawa geli, berbeda lagi dengan Anindya yang saat ini tengah mencari lubang untuk menyembunyikan wajahnya.