
bab 133
.
.
.
Revandra menutup pintu kamar setelah masuk dengan membawa Naren.
" kau tinggalkan mereka berdua ??" tanya Nada sudah menidurkan baby kembarnya.
" iya. biarkan saja. apa kau tidak percaya pada putrimu ??" balas Revandra yang menurunkan Naren dan mengajaknya bermain.
" iya aku percaya. katanya mau kerumah sakit ??jadi tidak ??" tanya Nada lagi.
" jadi dong..apa kau akan ikut ??"
" tentu saja. Tuan Abi kan teman sekaligus rekan bisnismu.. aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaannya.. melihat istrinya terbaring tak berdaya.."
" aku juga pernah diposisi seperti itu. Abigal dulu yang mengurus kantorku ketika kau koma dan kurawat dirumah. makanya, aku berusaha menemukan pelaku kejam itu.." terang Revandra.
" sudah ketemu ?? kenapa tidak langsung dilaporkan polisi ??" protes Nada.
" tidak sayang. biarkan Abi yang menghukumnya sendiri. kami memang tidak suka bekerja sama dengan polisi. polisi hanya bisa menangkap, jika ada uang tersangka bisa bebas dengan mudah.. Abi dan aku benar-benar membenci kepolisian." terang Revandra lagi.
" jangan seperti itu. kita hidup dinegara hukum.. kita harus mematuhi aturan yang ada." nasehat Nada.
" tenang saja sayang.. aku tidak akan menyerang kantor polisi kok" Revandra mencium pipi Nada dengan mesrannya. hingga menimbulkan gelak tawa Naren.
.
.
Zakia sudah selesai membersihkan diri, ia tidak menyadari jika Rans masih setia duduk diruang keluarga dengan santainya. pelayan juga menyiapkan secangkir kopi dengan camilan ringan diatas meja.
__ADS_1
" paman belum pulang ?? memang tidak.kekantor ??" tanya Zakia yang masih menapaki tangga. dengan kaos oblong dan celana pendek serta rambut tergerai seakan membuat Zakia terlihat cantik alami tanpa riasan. dalam hati Rans begitu memuji kecantikan Zakia.
Rans memutar kepalanya, tersenyum pada Zakia. tidak mungkin ia berkata jujur jika ingin berlama-lama disitu. Zakia pasti akan menertawakannya dengan keras.
" aku tadi sudah mau pulang tapi pelayan terlanjur membuatkan minuman. sayang dong jika tidak diminum " jawab Rans sekenanya.
Zakia terkekeh dan membanting tubuhnya dikursi sofa didepan Rans.
" kau memang tidak mau rugi ya.." ejek Zakia
" tentu saja.." balas Rans dengan santai.
" kau belum pulang Rans ??" suara Nada terdengar
Rans menoleh bersama dengan Zakia.
" belum kak, pelayan tadi membuatkan minum, sayang jika tidak diminum.." balas Rans.
Nada hanya membalas dengan tersenyum
" kami mau kerumah sakit sayang.. " jawab Nada.
" yah..kan aku mau minta papa mengajariku tugas sekolah ma.." protes Zakia.
" kebetulan sekali.. pamanmu Rans itu orang yang jenius.. mintalah bantuan padanya." ucap Revandra dengan santai sambil merangkul Nada.
" benarkah ??" seakan tak percaya Zakia.menatap Rans yang hanya tersenyum simpul.
" Rans dan kakaknya sama-sama jenius.. mereka lulus lebih awal dari prediksi." terang Revandra.
" kakak jangan berlebihan.." timpal Rans.
" tapi, apa Rans tidak akan kembali kekantor ??tidak apa jika kau sibuk dan...-"
buru-buru Rans meralat ucapan Nada. " tidak kak, aku tidak akan kekantor lagi."
__ADS_1
Semua menatap kearah Rans.
" emm.. maksudku, jadwalku kosong. semua juga sudah dihandle kak Deri, tidak masalah jika aku membantu Zakia menyelesaikan tugas, kak Vandra sudah membantuku tadi, aku akan berbalik membantu Zakia.." terang Rans berusaha tetap tenang. meski sebenarnya jantungnya berdetak tak karuan.
" baguslah.. aku tidak perlu emosi mengajari anak nakal.itu.." balas Revandra.
" papa !!" protes Zakia.
" kami tinggal dulu ya.. jika lapar minta pelayan menyiapkan makanan ya.." ucap Nada.
" mama tenang saja..hati-hati dijalan.." balas Zakia
senyum bahagia tergurat dalam wajah kedua orangtua Zakia.
baik Zakia maupun Rans hanya bisa memandang kepergian Dua sejoli yang tetap mesra meski sudah tidak muda lagi.
" paman.. kau yakin akan mengajariku ??" tanya Zakia penuh antusias. bahkan ia menepuk kedua tangan seolah menadakan ia tengah bahagia.
Alis rans bertaut, " memang kenapa ??"
Zakia terkekeh pelan dengan seringainya. "ini berkah untukku paman.. aku tidak perlu mendengar omelan papaku lagi.."
Rans hanya tersenyum tipis merespon ucapan Zakia yang frontal itu.
dengan penuh semangat Zakia berdiri segera ia menarik lengan Rans, hingga membuat Rans terkejut.
" ayo paman.. kita keruang belajarku.." ajak Zakia.
Rans masih dengan sisa keterkejutannya, namun ia menurut dan mengikuti langkah zakia.
.
.
.
__ADS_1