
bab 70
.
.
.
Abigal mengamati layar bersama Revandra diruangan khusus milik ketua mafia itu.
" apa cctv dirumahmu rusak ??" tanya Revandra yang tidak bisa melihat aktivitas dirumah abigal.
" Rans pasti sudah merencanakan semua, bahkan ia dengan mudah masuk kerumah, padahal q memberikan penjagaan ketat dirumah." jawab Abigal.
Revandra kembali mengutak atik papan keyboard didepannya.
" Abi, lihatlah ini !!" ucap Revandra, Abigal segera mendekat dan mengamati layar didepannya.
" kau mengenal wanita itu ??!" tanya Revandra.
Abigal menautkan alisnya, Rans dibantu seorang wanita ??
" lihat plat mobilnya Vandra. q tidak mengenali wanita itu." jawab Abigal.
" sepertinya semua sudah terencana, mereka melepas plat mobilnya, kita lihat arah mobil mereka saja." balas Revandra yang kembali dengan aktivitasnya.
Abigal berkutat terus dengan fikirannya, bagaimana bisa Rans memiliki fikiran seperti itu, dan juga siapa wanita itu ?? Abigal terus menerka-nerka siapa yang membantu Rans.
.
.
.
Dengan perlahan Rans meletakkan tubuh Samantha ditempat tidur. Samantha masih dalam pengaruh obat bius yang diberikan Rans.
__ADS_1
Rans terus menatap lekat wajah Samantha yang polos tanpa make up namun tetap terlihat cantik.
" kita akan hidup bahagia setelah ini, Lupakan kakakku, dia hanya menjadikanmu pemuas nafsunya saja.." gumam Rans yang menggenggam jemari lentik Samantha.
" kau harus menderita karna q selama ini, maafkan q.. q akan menebusnya mulai sekarang.." gumam Rans kembali.
sebelum keluar Tak lupa Rans mencium kening Samantha dengan sepenuh hatinya. membenarkan selimut pada tubuh Samantha dan keluar dari kamar itu.
Rans memilih membasuh wajahnya, ia sadar yang ia lakukan adalah sebuah kejahatan. membawa pergi istri dari kakaknya sendiri. namun rasa ingin memiliki kembali seolah mengalahkan semuanya. Rans sudah mantap dengan semuanya, ia akan menerima semua konsekuesi jika sampai terjadi sesuatu.
.
.
Abigal sudah sampai dirumah, baju yang berantakan dengan wajah lusuhnya seolah amat kehilangan.
mama wina yang sejak tadi.menunggu kedatangan Abigal segera berlari menghampiri Abigal yang memasuki rumah.
" bagaimana Abi ?? apa sudah ketemu ?? Rans.. Rans.. membawa Samantha kemana ??!" tanya mama wina yang masih sangat panik.
mama wina terduduk lemas dikursi begitu saja. " Rans.. bagai mana bisa dia seperti itu..putraku.. ya Allah.. sadarkan putraku..." tangis mama wina.
Abigal mendekap sang mama berusaha memberi kekuatan. " bersabarlah ma, Abi akan berusaha secepatnya."
mama wina terisak dalam dekapan Abigal, masalah yang timbul malah dari keluarganya sendiri.
.
.
Pagi hari menyapa, Rans yang sudah bagun lebih dulu segera keluar dari apartemen guna mencarikan makanan untuk Samantha.
tujuannya tidak terlalu jauh, hanya didepan apartemen itu ada sebuah rumah makan kecil yang menyediakan berbagai menu. sambil menunggu antrian Rans duduk sambil.memainkan ponselnya. puluhan panggilan dari sang mama serta kakaknya.
segera Rans membuka ponselnya dan membuang kartu didalam ponsel miliknya itu.
__ADS_1
" maafkan Rans ma, Rans ingin hidup bahagia juga.." batin Rans.
" hay Rans. !!" sebuah suara membuyarkan lamunan Rans. segera Rans menoleh kesumber suara disisinya.
" Revia.. kau.. kau disini..??" tanya Rans yang sedikit terkejut.
" oh. q fikir q salah orang, ternyata benar kau. iya q mau beli makanan untuk sarapan." jawab Revia yang ikut duduk disisi Rans.
" kau terlihat jauh lebih baik, " balas Rans.
"tentu saja. semua berkat kau, terima kasih banyak ya.." timpal Revia penuh senyum.
" sama-sama. oh ya, kenapa kau disini ??" tanya Revia.
Rans terdiam sesaat, ia bingung harus menjawab apa.
Revia memperhatikan wajah Rans.
" q tinggal diapartemen itu." jawab Rans singkat sambil menunjuk kearah apartemen didepan rumah makan.
" oh...kebetulan, q juga tinggal disitu. setelah kau mengantarku kembali, papaku.mengusahakanku agar bisa punya ijin praktek, akhirnya q bekerja dirumah sakit sekitar sini. ngk jauh kok dari apartemen kita." terang Revia.
" benarkah ??" tanya Rans seolah terkejut.
Revia mengangguk pasti
" wah. selamat ya, kau cepat mendapatkan pekerjaan." Rans berusaha tetap tenang.
" terima kasih, kau kan yang selalu menasehatiku sepanjang perjalanan kita, masa lalu hanya masa lalu, kita boleh mengenang tapi jangan berlarut-larut, apa lagi sampai mengulangi kesalahan yang sama. mengiklaskan lebih baik dari pada mempertahankan yang memang bukan seharusnya milik kita. bukankah begitu tuan Rans ???!!" terang Revia sambil mengejek Rans. dengan mengulang setiap kata yang pernah Rans nasehatkan padanya.
Rans menerbitkan senyumnya, ia mengangguk pelan sebagai jawaban. entah mengapa mendengar ucapan Revia barusan seolah menjadi tamparan untuknya.
.
.
__ADS_1
.