LUKA DAN CINTA

LUKA DAN CINTA
Luka dan Cinta


__ADS_3

bab 188


.


.


.


Sunyi terasa dikamar rawat Rans. atas anjuran dokter Rans harus dirawat secara intens. mama wina menatap.putranya yang masih setia memejamkan mata dengan penuh keharuan.


tak lama Pintu terdengar terbuka, nampak Abigal telah tiba disana.


" mama, bagaimana keadaan Rans ??" tanya Abigal, ia sudah tidak bisa menyembunyikan kekawatirannya.


" masih belum mau bagun bi, dokter bilang Rans terkena typus, dan mungkin juga karna kelelahan." balas mama wina


Abigal.mendekati Rans dan menatap Rans yang masih memejamkan mata, meski tidak pernah menunjukan rasa sayangnya, sejak dulu Abigal begitu menyayangi Rans melebihi apapun. kini ia merasa bersalah karna mengharuskan Rans menyelesaikan kerja sama mereka diluar negeri seorang diri.


" maafkan kakak Rans.." gumam Abigal lirih.


" bangunlah sayang.. mama disini.menemanimu.." pinta mama Wina dengan terus menggenggam tangan Rans.


Abigal beralih ke mama wina, " biar Abi bicara dengan dokter kenapa Rans.tidak.mau.membuka.matanya.." hibur Abigal


Mama wina hanya menjawab dengan anggukan pelan. Abigal segera menuju pintu. namun belum sempat Abigal keluar terdengar suara batuk dari arah Rans.


uhuukk..


uhukk..

__ADS_1


Mama wina segera berdiri dari.duduknya dan.mendekati Rans dan mengusap kepala Rans.


" sayang.. kau sadar ??" mama wina bahagia.dengan haru melihat Rans mulai membuka matanya secara perlahan.


Abigal.juga segers berlari mendekat.


" ha..haus.."ucap rans terbata


" iya..iya.. ayo mama bantu.. minumlah sayang.." mama wina segera mengangkat kepala Rans dan menyandarkan ketubuh mama wina. sedangkan Abigal segera menyerahkan segelas air putih dan membantu Rans minum secara perlahan.


setelahnya Abigal membantu Rans agar bisa berbaring kembali.


meski masih terlihat pucat dan lemah, Abigal bisa bernafas lega melihat Rans sudah membuka matanya.


" terima kasih.." ucap Rans masih dengan suara lemahnya.


" kau bicara apa sayang.. jangan berterima kasih.." balas mama wina dengan lembut.


" maafkan aku, seharusnya aku membantumu disana.. kau mengurus semua sendiri bahkan aku tau disana pasti musim dingin kau pasti terlalu lama.menahan rasa dingin.itu.." ucap Abigal yang begitu merasa bersalah apa.lagi ketika melihat wajah Rans yang pucat dan lemah.


Rans mengatur nafasnya secara perlahan..tubuhnya memang masih terasa lemah.


" tidak.masalah kak.. aku menikmatinya..kakak jangan berlebihan.."


" sudah.. sudah.. lebih baik.kau istirahat.dulu.. mama tidak mau kau kenapa-kenapa lagi.." kata mama wina kepada Rans.


" aku akan memanggil dokter agar memeriksa keadaanmu.." ucap Abigal yang segera berjalan keluar.


" kakak selalu berlebihan sejak dulu.." kata Rans.

__ADS_1


"kau pasti akan seperti itu juga kan jika kakakmu yang sakit ??" balas Mama wina


Rans kembali menerbitkan senyum pada wajah pucatnya.


.


.


.


Sementara Zakia kini tengah diperjalanan menuju rumah Rans dengan diantar Darren.


Setelah mendapat pencerahan dari sang mama Zakia kini malah diselimuti rasa kawatir, apa lagi.ketika mendapati nomer ponsel Rans tidak.bisa dihubungi. sepanjang jalan pun wajah Zakia menegang dengan fikiran treveling kemana-mana.


"tenanglah.. kekasihmu tidak apa-apa.. papa.yakin dia.ketiduran.."hibur Darren.


Zakia.menerbitkan senyum keterpaksaan agar papanya tidak terlalu kawatir juga.


ponsel Zakia.berdering panggilan dari Papa Revandranya.


dengan segera Zakia menerimanya.


" halo pa, ada apa ??" tanya Zakia.


" segeralah kerumah sakit, Rans dirawat dirumah sakit. papa baru mendapat kabar." ucap Revandra dalam sambungan panggilan.


Zakia mematung dengan perjelasan papanya. benar adanya. kekawatirannya benar terjadi. Paman Ransnya ternyata sedang berada dirumah sakit, itu pertanda jika Rans sedang tidak baik-baik saja.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2