
bab 164
.
.
.
Sesampainya dirumah Abigal segera memarkirkan mobilnya, senyum terpancar diwajah Abigal ketika mendapati Samantha tertidur dengan mendekap sekotak mocci yang dimakan sejak tadi.
Sesaat Abigal memandang wajah samantha.
dengan penuh kelembutan Abigal mengusap wajah Samantha.
" aku tau kau begitu mengharapkan kehadiran baby sampai kau seperti ini sayang.. maafkan aku, mungkin karna aku yang sudah terlalu tua.." gumam Abigal yang merasa jika perubahan Samantha karna tertekan memikirkan kapan diberi momongan.
Perlahan Abigal mengangkat tubuh Samantha dan membawanya masuk kedalam rumah.
Samantha hanya mengeliat dan menenggelamkan wajahnya didada Abigal. tempat ternyaman bagi Samantha jika berada didekapan Abigal.
Dengan penuh hati-hati Abigal meletakkan Samantha diatas ranjang, membenarkan selimut untuk membalut tubuh Samantha. kecupan hangat dan penuh kelembutan mendarat sempurna dikening Samantha.
" tidurlah sayang.. aku selalu mencintaimu.." ucap Abigal lirih.
Dering ponsel Abigal berbunyi menandakan jika ada panggilan masuk. alis Abigal bertaut ketika melihat nama yang tertera dilayar ponsel.itu.
" ada apa dia malam-malam menghubungiku ??" gumam Abigal sendiri.
Segera ia menerima panggilan itu.
" kau kemana sih ??!! lama sekali !!" omel Revandra dalam panggilan.
" ada apa ??!! ini sudah malam !?" balas Abigal tak kalah kesal.
" jangan pura-pura, aku tau kau sudah faham maksudku kan ??!!" timpal Revandra.
__ADS_1
Abigal terdiam sesaat. " lalu aku harus bagaimana ??"
" ikuti saja rencanaku, kau mana bisa berfikir" ucap Revandra.
Abigal hanya mendegus kesal dengan ucapan Revandra.
" kau yakin akan berhasil ??" tanya Abigal.
" kita coba saja dulu.. setidaknya mereka sadar saja.." jawab Revandra.
" terserah kau saja. sudah apa belum ??! aku mengantuk !!" tanya Abigal.
" kau ini, seperti perempuan saja !! sudah, tutup saja panggilannya !!!" balas Revandra dengan suara tinggi dan langsung mematikan panggilannya.
Abigal hanya menyunggingkan senyum tipis, baru kali ini ia terlibat sebuah rencana konyol yang begitu tidak pernah terfikir olehnya.
.
.
.
" sudahlah kak, turuti saja.." ejek Rans.
Abigal hanya membalas dengan tatapan tajam. namun rans hanya terkekeh dengan tatapan sang kakak.
" coba tanyakan Rans, hijau itu bagus kan Rans ??" tanya Samantha mencoba meyakinkan.
" tentu saja kakak ipar, itu warna yang cocok untuk kak Abi.." jawab Rans penuh semangat.
" Rans.. kau jangan mulai.." timpal Abigal dengan geram.
mama wina tertawa kecil dengan perdebatan serta candaan didepan meja makan.
" mas Abi, keterlaluan !!!" gerutu samantha.
__ADS_1
" sayang.. apa saja asal jangan memakai itu bisa tidak ??" Abigal.mencoba membujuk Istrinya.
Samantha memasang wajah masamnya dengan terlihat kesal seraya melipat kedua tangannya.
"aku tidak mau bicara dengan mas Abi !!" Samantha segera berdiri dan menuju kamar tanpa mengindahkan siapapun.
" sayang.. jangan marah lagi !!" pinta Abigal yanh begitu terlihat frustasi.
" Abi, sudahlah turuti saja, hanya kemeja kan tertutup jas kerja.." mama wina mencoba menengahi.
" iya kak, untuk istri ini.." timpal Rans ikut membela.
Abigal mengusap wajahnya dengan kasar.
" ma, Samantha terlihat aneh tidak ?? aku merasa ada yang aneh."ucap Abigal.
" apa mungkin ada sesuatu yang mengganggu fikirannya ??" tanya Mama wina balik.
" aku juga tidak tau. aku malah berfikir dia kefikiran masalah kehamilan.." balas Abigal lirih.
Rans yang mendengar ikut merasa bersalah, dulu karna kelalaiannya Samantha harus kehilangan janin yang begitu mereka impikan.
" kak, coba kedokter saja bagaimana ?? konsultasi.." saran Rans.
" aku takut Samantha merasa tidak nyaman."balas Abigal.
" untuk saat ini turuti saja setiap keinginannya, mama tidak mau menantu mama sampai tertekan hanya karna keinginan.besarnya memiliki baby." nasehat mama wina.
dengan malas Abigal menyusul Samantha kekamar guna menghibur dan membujuknya. apapun akan dituruti Abigal agar Samantha kembali ceria dan tidak murung.
.
.
.
__ADS_1