
bab 146
Abigal memasuki rumah dini hari, Dengan berhati-hati agar samantha jangan sampai terbangun. perlahan Abigal membuka pintu kamar, sangat pelan, terlihat masih gelap Abigal sedikit lega. namun baru sampai beberapa langkah, lampu menyala menandakan jika Samantha tau Abigal pergi tengah malam. Abigal memejamkan matanya dan mengedar mencari keberadaan Samantha. Terlihat Samantha duduk dengan piyama tidur diatas ranjang sembari melipat kedua tangannya.
Abigal.nyengir kuda dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. sementara Samantha masih diam tanpa.berkomentar apapun.
" sayang.. kau..bangun ?? ini masih gelap.." ucap abigal mencoba mencairkan suasana.
" emm.. aku.. ganti baju dulu ya.." pamit Abigal yang kemudian melangkah kekamar mandi.
" sebenarnya ada apa ?? kenapa kau pergi tengah malam tanpa memberitauku ??" pertanyaan Samantha menghentikan langkah abigal.
Samantha memang kesal namun ia berusaha agar tidak terlalu egois apalagi sampai berlebihan.
Abigal mendekati Samantha yang terduduk ditepi ranjang. dia berjongkok dan bersimpuh menjadikan paha Samatha tumpuan kepala.
" maaf ya, Revandra tadi memintaku menemaninya minum..aku tidak bisa menolak"
" tapi kenapa harus tengah malam ?? dan juga kenapa tidak membangunkanku.." tanya Samantha lagi.
" kau terlihat kelelahan..aku tidak tega membangunkanmu, maafkan aku ya ??" pinta Abigal sambil menengadah memandang Samantha.
Samantha menerbitkan senyum manisnya, "lain kali aku tidak akan memaafkanmu"
Abigal membalas senyum samantha. " aku janji.." Seketika Abigal menarik kepala Samantja dan menciumnya.
__ADS_1
Samantha mendorong abigal secara spontan
" mas bau sekali.."
" bau apa ??" protes Abigal.
" minuman !! sana, sana mandi dulu.." Samantha menutup hidungnya dan memalingkan wajahnya.
Abigal memanyunkan bibirnya dan segera berdiri sebelum berjalan kekamar mandi Tak lupa Abigal Menjahili samantha dengan kembali mencium pipi Samantha.
"eemmuachh.."
" eemm..mas Abi !!!" rengek Samantha.
Abigal tertawa lepas dan melangkah menuju kamar mandi.
Rans bernafas lega setelah menghubungi Revandra, semalam ia meminta Revandra agar membebaskan maudy namun tetap memberinya hukuman, entah apapun asal bukan dibunuh. dan ternyata Revandra mengabulkan keinginan Rans.
Rans masih melihat sisi kemanusiaan, maudy memang bersalah, namun ia juga termasuk korban disini.
" semoga keputusanku ini benar.." gumam Rans sembari menuruni tangga untuk sarapan, sebelum berangkat kekantor.
Dibawah sambutan hangat dari mama wina membuat Rans tersenyum bahagia.
" Rans.. ayo makan dulu.." ajak sang mama.
__ADS_1
" wah..ini pasti enak.." balas Rans dengan antusias.
" Rans, kemarin penjaga bilang ada wanita muda datang kesini ?? siapa ?? pacarmu ??" tanya mama wina.
" oh.. bukan ma, Dia Revia, wanita yang dulu kuliah bersamaku diAmerika, dia hanya mampir." jawab Rans dengan santai.
" mama fikir pacarmu," timpal mama wina.
" bukan ma, kami hanya berteman saja." balas Rans.
" ma. Rans udah selesai, Rans berangkat dulu ya ??" Tak lupa Rans mencium tangan mama wina.
" hati-hati ya " nasehat mama wina.
Rans membalas dengan anggukan dan senyuman lalu melangkah keluar dari rumah menuju mobil dan segera melesat pergi dari rumah menuju kantor.
Sepanjang jalan Entah mengapa Rans begitu ingin menemui Zakia, namun ia bingung harus beralasan apa jika datang kerumah Revandra. beberapa kali Rans membuang nafas kasar, dan memutar terus otaknya, bahkan memikirkan alasan malah membuat kepala Rans pusing dibuatnya, hingga tanpa sadar Rana hanya berputar-putar dijalan yang akan menuju rumah Revandra.
lelah berputar terus, Rans menepi dipinggir jalan dan membuka kaca mobilnya.
" aku harus bagaimana ?? alasan apa yang tepat ??" gumam Rans seorang diri sembari mengusap dagunya beberapa kali.
seakan mendapat sebuah berlian, Rans tersenyum bahagia ketika mendapat sebuah ide yang bagi orang normal adalah hal konyol.
segera Rans turun dari mobilnya, melakukan sesuatu agar bisa bertemu Zakia dengan sebuah alasan.
__ADS_1