LUKA DAN CINTA

LUKA DAN CINTA
Luka dan Cinta


__ADS_3

bab 209


.


.


.


sepanjang jalan pulang, Zakia setia dengan fikirannya. bahkan ia tidak peduli saat Rans mengajaknya bicara, Zakia tetap setia Berkutat dengan fikirannya sediri.


Rans yang sangat faham Zakia langsung tau jika Zakia tengah memikirkan sesuatu. agar leluasa berbicara Rans memarkirkan mobinya disudur jalan dan berhenti.


Zakia sedikit terkejut kala mobil berhenti sebelum tiba dirumahnya. seketika ia menoleh kearah Rans yang ternyata sudah lebih dulu memandangnya.


"pa..pam..n ke..kenapa.. berhenti ??" tanya Zakia ragu-ragu. tatapan Rans seakan mengintimidasinya.


" apa.yang kau fikirkan ?? apa kau memikirkan laki-laki lain ??" tanya Rans dengan dugaan sekenanya.


Zakia membulatkan matanya. "enak saja.. kenapa paman berfikir begitu !!"


" kau diam saat aku berbicara padamu, kau sibuk dengan fikiranmu, apa lagi yang kau fikirkan ?? bisa tidak bercerita saja jangan biasakan dipendam sendiri !!" entah mengapa Rans.terlihat kesal dan meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


Zakia menundukkan wajahnya ia mengatur nafas dan berusaha tetap tenang.


" maaf.." balas Zakia lirih.


Rans membuang tatapannya kearah lain. selama ini ia selalu sabar menghadapi zakia. namun entah mengapa jika melihat zakia melamun memikirkan sesuatu Rans merasa tak berguna sebagai pasangan.


"sebenarnya apa yang kau fikirkan ??" tanya Rans melembutkan nada bicaranya.


" aku..aku..memikirkan jika..jika..paman mengajakku menikah" balas Zakia sembari memejamkan matanya.


Rans membulatkan mata seakan tak percaya. "kau..memikirkan hal itu ??"


Rans menutupi seringainya setelah mendengar jawaban Zakia. ia berusaha agar tidak tertawa dan bijak disini.


" Zakia.. dengarkan aku.." Rans meraih jemari zakia dan menatap mata Zakia dengan lekat.


"menikah memang tujuan sebuah hubungan. tapi pernikahan harus dilaksanakan ketika kita berdua sudah sama-sama siap..aku tidak akan mengingkari janjiku dulu yang akan menunggumu menjadi seorang dokter. kau tenang saja. asal kau selalu percaya padaku aku tidak akan pernah bosa menunggu. jadi jika ada sesuatu yang mengganggu fikiranmu kau bisa katakan padaku, ceritakan saja.. anggap aku sebagai temanmu juga, jangan hanya menganggapku sebagai kekasihmu, aku ingin menjadi semua yang begitu kau butuhkan.." terang Rans dengan penuh ketulusan.


Zakia bisa melihat ketulusan dimata Rans. ia bersalah lagi karna meragukan Rans.


" jangan terus merasa bersalah.. kau selalu begitu jika aku memberimu penjelasan.." tambah Rans.

__ADS_1


Zakia terkekeh dengan ucapan Rans.


" maaf ya. paman harus kembali menungguku.."ucap zakia.


" seberapa lamanya itu. aku akan setia menunggu. asal kau juga bisa menjaga hati ini.." Rans menarik tangan zakia dan menempelkannya didada Rans.


Wajah zakia bersemu merah dengan tingkah Rans yang selalu dapat menghiburnya.


" jadi.. bisa kita pulang ?? ini sudah sore.." ucap zakia.


" baiklah.. apa kau masih memikirkan pernikahan ??" goda Rans.


" paman... kau menyebalkan..!!" timpal zakia sembari menggembungkan kedua pipinya.


tawa Rans pecah didalam.mobil melihat respon zakia. apa lagi wajah Zakia yang memerah seperti tomat. dan wajah imut uang membuat Rans semakin gemas dibuatnya. ingin rasanya Rans mendekap Zakia denga erat. namun Rans harus selalu menahan diri, tak menutup kemungkinan Zakia saat ini bertambah cantik seiring bertambah usianya. Rans pria dewasa yang normal, bisa saja dia khilaf jika terlalu lama memeluk zakia. menunggu dan kembali menunggu harus dijalani Rans demi kebahagiaan Zakia.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2