
bab 157
.
.
Zakia berusaha mencari tambahan oksigen untuk membantunya bernafas, seolah tertimpa batu besar, Zakia sekejap tak bernafas mendengar ucapan spontan Rans barusan.
beberapa kali ia mengerjapkan matanya, suapaya Rans segera berpaling. namun semua sia-sia Rans tetap terus menatapnya dengan tatapan penuh arti.
Zakia berusaha mencairkan suasana ia menuduk mengalihkan pandangannya kesegala arah. " em.. paman.. kau..kau..tidak serius kan ??" tanya Zakia ragu-ragu.
" aku serius, yang aku katakan serius. sebenarnya niat awalku mengajakmu makan malam bukan karna kau yang ingin mencari tau kehidupan Diluar negeri, tapi karna aku berniat mengungkapkan perasaanku, sudah sejak lama aku memendamnya, aku menyukaimu, aku memiliki rasa yang lebih terhadapmu, bukan sebagai keponakan, tapi sebagai kau yang seorang wanita." terang Rans dengan tenang dan penuh kelembutan.
Zakia benar-benar masih belum percaya dengan apa yang ia dengar, membayangkan berpacaran saja Zakia tidak pernah malah sekarang ada seorang pria yang begitu dekat dengannya menyatakan perasaan dengan santai tanpa keraguan.
" aku tidak memintamu menjawab sekarang, kau berhak menentukan perasaanmu, aku hanya tidak mau memendam rasa ini terlalu lama, aku juga tidak mau mengganggu impianmu " lanjut Rans lagi.
Zakia masih membisu dengan wajah super serius, ia bingung harus bicara apa dan menjawab apa. didalam hidupnya belum ada rasa suka apa lagi menyukai tentang perasaab mendalam.
Zakia memilih menunduk dan diam, ia mengatur terus nafasnya yang memburu.
sementara Rans segera mencairkan suasana dengan menyerahkan sebuah permen kepada Zakia.
"kau akan lebih rileks jika memakannya." ucap Rans.
Perlahan Zakia menerimanya tanpa berkomentar. bahkan menatap Rans Zakia terlihat tidak berani.
Sadar Zakia terlihat canggung, Rans segera menjalankan kembali mobilnya hendak mengantar zakia pulang.
__ADS_1
.
.
Dirumah Zakia yang sudah membersihkan diri dan bertukar baju, terus kepikiran dengan ucapan Rans tadi. ingin tidak percaya, tapi Rans mengatakan jika ia begitu serius dalam setiap ucapannya.
Zakia menarik nafas dan membuangnya dengan kasar. memejamkan mata dan mengusap wajahnya beberapa kali.
"bagimana bisa paman Rans malah menyukaiku..dan.. dia bilang sudah lama..??" gumam Zakia seorang diri.
Zakia berjalan menuju balkon kamarnya, membuka jendela kamar dan memandang kelangit.
" aku harus bagaimana sekarang ??!! " gumam Zakia kembali. ia memejamkan matanya meresapi angin malam menerobos setiap pori-porinya.
.
.
.
Abigal yang tidak pulang dan menginap dirumah mama wina tanpa sengaja melihat Rans duduk termenung didepan kolam, terlihat jika Rans tengah memiliki masalah.
" apa kau menyukai seorang wanita ??" tanya Abigal yang sudah duduk disisi Rans.
"kenapa kau selalu tau !!" protes Rans.
" kau terlalu kelihatan," balas Abigal.
Rans terkekeh dengan jawaban Abigal,
__ADS_1
" kak, aku sudah bisa melupakan Samantha.. dan kini hatiku tiba-tiba menyukai gadis lain..tapi kenapa aku begitu ragu jika dia juga menyukaiku.." ucap Rans mencurahkan isi hatinya.
" apa kau sudah katakan kepadanya ??" tanya Abigal..
Rans mengangguk pelan sembari membuang nafasnya, "sudah, tapi dia terlihat syok."
" syok ?? kenapa ?? apa kau memaksanya ??" terka abigal
" tentu saja tidak !! enak saja !!" balas Rans
" siapa wanita itu ??" pertanyaan Abigal membuat Rans kembali membuang nafasnya. ia masih ragu harus mengatakan kepada Abigal atau tidak.
" hey !! aku bertanya !!" tegur Abigal yang membuat lamunan Rans buyar.
" tapi kakak jangan mengejekku ya ??" Rans begitu terlihat frustasi.
" mengejek ?? kau menyukai istri orang ??!!" tuduh Abigal lagi.
" kakak jangan sembarangan !!! aku juga masih waras !!" gerutu Rans dengan kesal.
Abigal terkekeh dibuatnya. "baiklah.. siapa wanita yang berhasil membuatmu uring-uringan begini ??"
" dia..dia..Zakia, putrinya kak Vandra." ucap Rans lirih, namun masih didengar oleh Abigal.
Rans mengerutkan alisnya ketika melihat ekpresi Abigal yang biasa saja dengan santai.
.
.
__ADS_1
.
.