
bab 60
.
.
.
Dengan kecepatan maksimal Rans mengendarai mobilnya dijalan yang dipadati banyak pengendara, linangan air mata dipipi menandakan betapa ia sangat kecewa dengan keluarganya, yang selama ini menyembunyikan kenyataan pahit itu.
sesekali Rans memukul-mukul setir mobilnya dengan kuat, seakan ingin sekali melepaskan amarah yang meluap-luap didalam hatinya.
" kenapa ... kenapa kalian tega membohongiku... kenapa... kenapa !!!??" teriak Rans dengan penuh frustasi.
Rans terus memukul-mukul stir mobilnya dengan kuat hingga tangannya terlihat memerah.
" aaakkkhhh !!!!! Ya Allah... kenapa, kenapa harus kakakku !!!!" teriak Rans kembali.
hingga Rans sampai dijalan buntu dan membanting stirnya begitu saja, namun meski begitu,mobil berhenti dengan sempurna.
Rans segera keluar dari mobil dan membanting pintu mobil dengan kerasnya, bahkan untuk meluapkan amarah dalam dirinnya Rans meninju bahkan menendang mobilnya berulang-ulang,
" kalian jahat sekali.. kenapa kalian jahat sekali padaku !!!" Rans terduduk begitu saja dengan tubuh lemas dan air mata memenuhi pipinya.
.
.
.
__ADS_1
Setelah menenangkan Sang mama, Abigal berlari kekamar dimana Samantha berada. ia juga amat kawatir dengan kondisi mental sang istri itu.
perlahan ia membuka pintu kamar agar tidak mengejutkan Samantha. terlihat samantha berdiri didepan jendela dengan melipat kedua tangannya, Abigal sedikit bernafas lega saat melihat Samantha tak sehisteris sang mama.
pelukan hangat dari belakang membuyarkan lamunan samantha.
" apa kau baik-baik saja ??" bisik Abigal ditelinga Samantha.
Samantha mengangguk pelan, " iya mas, q baik. yang q takutkan terjadi mas,"
" bukankah kita sudah mempersiapkan semua ini sejak lama ?? kau yang selalu memberiku semangat kan ?? q harap kau juga bertahan ya.." ucap Abigal
Samantha memejamkan matanya, " lalu bagaimana hubungan mu dengan Rans nantinya ?? bahkan mama merutuki dirinya sendiri dan menyalahkan dirinya sendiri.. padahal semua ini adalah kesalahanku mas.."
" suutt.. jangan katakan itu lagi. kau tidak bersalah disini, baik kau maupun mama tidak ada yang bersalah disini. jika memang harus disalahkan, itu adalah q, q yang awalnya memaksamu untuk menikah denganku..jadi hentikan menyalahkan dirimu sendiri.. " Timpal Abigal dengan sepenuh hati. jujur saja, Abigal juga merasakan sakit dihatinya ketika Melihat bagaimana tatapan Rans yang melihatnya penuh kekecewaan.
" pasti, kita biarkan Rans beradabtasi dulu, semoga dia bisa berlapang dada dengan kenyataan ini.." jawab abigal.
Samantha memutar tubuhnya dan meletakkan kepalanya didada bidang abigal.
" q takut mas... q takut dia tidak mau memaafkan kita.." ucap samantha yang mencurahkan isi hatinya.
" jangan seperti itu, kita berdoa saja semoga Rans bisa memaafkan kita ya.."balas Abigal dengan memeluk Samantha.
.
.
.
__ADS_1
Hingga malam tiba Rans belum juga kembali kerumah. rasa cemas masih menghantui mama wina yang mondar-mandir didepan pintu ruang tamunya. ia amat berharap Rans bisa lapang dada dalam.masalah ini, namun semua nihil, hingga tengah malam Rans belum juga nampak.
Samantha yang melihat gurat kecemasan diwajah sang mertua segera menghampiri sang mama,
" ma, kita masuk kedalam saja..ini sudah tengah malam," ajak Samantha.
meski gurat kesedihan masih nampak, mama wina berusaha tersenyum didepan menantunya.
" sebentar lagi sayang.. kau masuklah dulu.." balas Mama wina.
Samantha benar-benar kagum dengan mertuanya itu, sebegitu tegarnya sang mama mertua dihadapannya. bahkan terpaksa tersenyum yang terus dilakukan mama wina untuk menjaga perasaan Samantha.
Samantha meraih sang mama dan memeluknya. " ma. jika mama masih sedih atau bahkan butuh teman untuk bicara, Samantha siap untuk menjadi tempatnya ma.. q mohon jangan pendam sendiri luka dan beban dihati mama..kita hadapi sama-sama.."
Mama wina membalas pelukan sang menantu yang amat ia sayangi itu, " maafkan mama sayang.. maafkan mama.. mama terlalu memikirkan adik iparmu.."
Samantha mengeratkan pelukannya, " kita akan hadapi sama-sama ma, Samantha akan coba bicara dengan Rans nanti.. mama tenang ya.."
mama wina mengangguk pelan dan terus memeluk Samantha.
Abigal meremas tangannya ketika melihat dua wanita yang amat ia cintai harus larut dalam kesedihan dan Rasa bersalah akibat ulahnya dulu. " jika saja q tidak.memiliki ide menikahi Samantha, semua tidak akan begini.."gumam Abigal yang dipenuhi penyesalan mendalam.
namun apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, Kini baik abigal maupun Samantha sudah saling mencintai, sebuah hubungan tanpa sengaja menjadi erat karna seringnya bersama.
.
.
.
__ADS_1