LUKA DAN CINTA

LUKA DAN CINTA
Luka dan Cinta


__ADS_3

bab 168


.


.


.


Paginya aktivitas seperti biasa dilakukan semua keluarga. tak terasa keberangkatan Rans hanya tinggal esok saja. Dengan dibantu sang mama Rans mengemasi pakaian yang akan dibawa keLondon.


" sayang..jangan lupa kabari mama jika sudah sampai ya.." ucap mama wina.


Rans mengancingkan kemejanya yang belum.benar. " mama tenang saja. aku sudah biasa diluar negeri..lagian aku berangkatnya masih besok kan.."


" ma, bantu aku mengancingkan ini.." Rans mendekati sang mama dan menyodorkan lengannya yang baginya sulit dikancingkan.


"segeralah mencari istri, agar ada yang memasangkan dasi juga.." nasehat mama wina.


" mama tenang saja. hanya butuh waktu.." balas Rans dengan senyum.manisnya.


Mama wina mencubit pipi Rans dengan pelan. "kau sudah dewasa sekarang ya.."


" mama, pipiku.merah nanti !!" protes Rans.


" hanya merah.. apa mau mama cium ??" goda mama wina.


" tidak, tidak..!! sudahlah Rans berangkat dulu.." segera Rans mencium tangan sang mama dan melangkah keluar.


" hati-hati sayang.." nasehat mama wina.


Suara jawaban iya' terdengar sudah jauh.


dibawah Samantha dan Abigal sudah siap dimeja makan.

__ADS_1


" loh, Rans.. tidak sarapan dulu ??" tanya Samantha.


" aku kesiangan kakak ipar, sebelum pergi ada yang harus aku selesaikan.. maaf ya.. aku.pergi dulu.. bye kak Abi.. aku tunggu dikantor.." Rans segera melanjutkan langkah kakinya meninggalkan rumah.


" mas, Mas yakin mau mengirim Rans keLondon ??" tanya Samantha.


" tentu saja. hanya dia yang bisa sedikit lama disana." balas Abigal.


" kasihan dia mas," ucap Samantha lirih


" lebih kasihan jika dia disini.. setidaknya dia kan bisa sedikit melupakan waktu penantiannya." timpal Abigal.


" aku berharap penantian dia kali ini bisa berbuah manis." ucap Samantha. teringat dirinya yang pernah menghianati Rans.


Abigal menatap Samantha yang wajahnya muram. "sudahlah, yang dulu biarkan saja..jangan diingat lagi.." Dengan lembut Abigal memegang tangan samantha.


Samantha menatap Wajah Abigal yang tersenyum dengan dalam seakan ingin mengutarakan sesuatu.


"mas Abi, belikan aku ketoprak ya.." pinta Samantha.


melihat ekpresi Abigal redup Samantha mengerucutkan bibirnya.


" mas Abi tidak mau ya..??" Dengan suara majanya.


" bukannya tidak mau, tapi aku ada mitting sayang.. biar dibelikan sopir saja ya ??" ucap Abigal dengan selembut mungkin.


meski sedikit kecewa Samantha tidak mau terlihat marah didepan Abigal.


" baiklah, pergilah.." balas Samantha lirih.


" kau tidak marah kan ??" tanya Abigal penuh kelembutan.


Samantha menerbitkan senyum diwajahnya yang sedikit pucat. " tidak apa mas, aku tidak marah."

__ADS_1


Abigal berdiri dan mencium kening Samantha. "terima kasih sayang. aku berangkat dulu ya.." pamit Abigal.


" mas hati-hati ya." balas Samantha. sebuah anggukan menjadi balasan ucapan Samantha.


Samantha sendiri juga merasakan hal yang aneh pada dirinya, sejak beberapa hari belakang ia sering meninginkan sesuatu yang harus ia dapat begitu saja. jika diingat semua secara tiba-tiba, hingga terkadang membuat Abigal kuwalahan.


"apa aku keterlaluan ?? kenapa jika menginginkan sesuatu aku jadi seperti ini.." gumam Samantha lirih.


.


.


Rans sudah tiba dikantornya, bersamaan dengan rima sekretaris Rans, yang diantar calon suaminya, mereka berdua nampak mesra, bahkan mereka berdua berciuman dengan santainya. hingga membuat Rans merasa jengah dibuatnya.


lambaian tangan dari calon suami Rima membuat Rans mendegus kesal. Rima sama sekali tidak menyadari jika bos besarnya tengah memperhatikannya.


hingga ketika Rima memutar tubuhnya ia begitu terkejut dengan Rans yang menatapnya penuh kesal.


" Tu..tuan.. sedang apa disini ??" tanya Rima masih dengan sisa keterkejutannya.


" kau baru melihatku ya ??!!!" tegur Rans, Nada bicaranya sudah terdengar jika ia sangat kesal.


" ma..maaf tuan.. saya benar-benar tidak tau jika Tuan...-"0


" aahh.. sudah.. sudah !!! kau dan calon suamimu itu benar-benar menyebalkan !!!" ralat Rans dengan kesal sembari melangkah masuk kedalam kantornya.


Rima bingung dan mematung, bosnya kini sedang cemburu atau memang sedang tidak enak badan atau apa ?? fikiran Rima terus memutar namun seakan tak menemukan jawaban hingga Rima memukul kepalanya dengan pelan. segera ia berjalan masuk, jika terlambat ia harus siap mendapat omelan lagi.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2