
bab 228
.
.
.
meski masih dalam keterkejutan Zakia bisa menerimanya. bahkan saat ini Zakia tengah bersama Mayra, ia begitu penasaran bagaimana sosok ayahnya. dan mayra menceritakan kronologi bagaimana Mayra bisa bertemu dengan Revandra dan bagaimana ayah zakia meninggal.
sesak rasanya ketika Zakia mendengar semuanya. masa lalu yang amat mengiris yang terjadi pada keluarganya.
" apa kau membenci ibu ??" tanya Mayra dengan menahan air mata.
" tidak mungkin aku bisa marah pada ibu yang menanggung beban seberat itu.. maafkan Zakia yang tidak sadar selama ini.." jawab zakia dengan menerbitkan senyum diwajah pucatnya.
" boleh ibu memelukmu sayang ??" pinta Mayra.
" kenapa ibu harus minta ijin. selama menjadi bibiku Ibu seringkan memelukkukan.." balas Zakia sembari membuka kedua tangannya.
tak ada yang dikatakan baik oleh Zakia maupun Mayra. hanya kebahagiaan yang ada didalam hati mereka. Mayra begitu bersyukur Zakia bisa dengan berbesar hati menerimanya, semua karna didikan Revandra yang begitu mayra banggakan.
Tak lama pintu terbuka. nampak Rans masuk bersama mama wina.
" Bu mayra.. apa kabar ??" sapa Mama wina.
" sangat baik nyonya.. terima kasih selama ini sudah menjaga Zakia dengan baik. Zakia banyak.bercerita pada saya.barusan.."balas Mayra denga. sopan.
" bu may bisa saja..meski zakia menantu dirumah kami, tapi saya selalu menganggapnya sebagai anak kandung saya sendiri.." ucap mama wina.
__ADS_1
" hubby, mana anak kita ??" tanya Zakia
" masih diruangan inkubator sayang, bersabarlah ya.." jawab Rans
" aku ingin melihatnya ??! apa tidak bisa ??" pinta Zakia.
" kau masih terlalu lemah sayang.. bersabarlah ya.." bujuk Rans.
" tapi hubby.. aku belum melihat wajahnya sama sekali.." timpal Zakia.
" Zakia.. jahitanmu belum sembuh total, dan kau juga memiliki luka, akibat tertabrak mobil.." timpal Mayra.
Zakia terlihat murung. semenjak melahirkan Zakia belum melihat seperti apa wajah putranya yang katanya berjenis kelamin laki-laki.
ponsel Rans berdering, alis Rans berkerut saat mendapati nama papa mertuanya tertera disana.
"papa." balas Rans yang langsung menerima panggilannya.
" ada apa pa ??" tanya Rans.
" buka panggilan video sekarang " perintah Revandra.
Meski masih bingung Rans membuka panggilan videonya.
saat terbuka terlihat Revandra dan Nada.tengah diruang khusus bayi.
" Rans tunjukan pada Zakia, mama yakin dia sangat ingin melihat putranya.." ucap Nada dengan bahagia.
Rans menerbitkan senyumnya, ia lalu memberikan ponselnya pada Zakia.
__ADS_1
" sayang.. kau ingin melihat putra kita kan ??"
Zakia begitu semangat, senyum berbinar tak dapat tergambarkan oleh apapun. melihat bayi mungil diruang steril sedang tertidur pulas. tak sadar zakia menitikkan air mata begitu saja. hampir saja ia membahayakan putranya sendiri karna rasa empati yang amat tinggi.
Rans duduk disisi Zakia dan merangkul zakia.
" lihatlah dia sangat lucu kan.." ucap Rans.
" kapan aku bisa.menggendongnya hubby..??" tanya Zakia dengan suara lemah.
" kau harus ekstra sabar. putra kita lahir diusia masih 8 bulan. dia harus mendapatkan perawatan intens disini.." jawab Rans dengan lembut sembari mengusap kepala Zakia.
" sabarlah sayang..ibu jadi teringat dirimu dulu. kau dulu juga lahir dengan berat tubuh kurang dari normal, bahkan papamu Revandra itu yang setia menunggu dirumah sakit.." ucap mayra.
" benarkah ??" Zakia menerka lagi.
" iya. karna terlalu depresi ibu sampai tidak memikirkan keselamatanmu, bersabarlah..putramu akan baik-baik saja. Kak Vandra tidak akan membiarkan putramu sendiri disana. lihatlah dilayar ponsel itu.." Mayra menunjuk ponsel dimana Nada memperlihatkan ruangan bayi yang dipenuh banyak perawat dan penjaga anak.buah Revandra.
tawa kecil terdengar dari bibir Zakia, betapa papanya terlalu berlebihan dalam menjaga cucu pertama mereka.
" papa luar biasa.." gumam Zakia sembari menatap mata Rans dengan mata terus berbinar.
Rans menerbitkan senyum bahagia dan menarik Zakia kedalam pelukannya.
.
.
.
__ADS_1