
"Hahaha, aku berhasil. Aku jamin mereka akan berjodoh. Jika tidak berjodoh, akan aku tonjok jodoh dari wanita itu!" Erick bergumam rendah di akhir kalimat. Karena ia sudah merasa, senang dengan Anindya. Terlebih lagi, Anindya terlihat seperti wanita yang sangat dicintainya, Istrinya.
Mereka terlihat mirip, dari segi sifat. Istrinya juga dahulu begitu polos dengan segala hal. Ia ingin tahu segalanya, tapi setelah di beritahu, pasti akan bosan.
Dan, sepertinya wanita ini juga akan begitu. Yah, dilihat dari tampilannya sih.
***
Anindya menghela nafasnya lelah, kala beberapa benda menyentuh wajahnya secara terus-terusan, sampai wajahnya terlihat seperti boneka Barbie dan tentunya sangatlah berat.
Ia berdiri, namun baru beberapa menit, langsung memijit tangan dan kakinya, yang sepertinya tidak kuat menahan beban, dari gaun yang di pakainya.
"Pengantin wanita, sudah bisa turun." seorang lelaki masuk, ia menggenggam sebuah sapu tangan dan setangkai bunga mawar pink di tangannya.
Sebelum ia, menggandeng tangan, Anindya ia lebih dahulu, menyerahkan bunga mawar pink itu, kepadanya .
Dari lantai 10 turun sampai lantai 5 terbilang agak melelahkan, karena harus naik turun tangga, dan yang pastinya lagi, dengan gaun yang menyebalkan.
Yah, itu menurut Anindya sih.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Ai, ah maksudnya,"
__ADS_1
"Saya ulangi lagi, ya pak! Saya nikahkan dan kawinkan engkau, dengan saudari Anindya dengan seperangkat alat sholat, di bayar tunai!"
"Saya terima .....,"
Anindya mengerutkan keningnya, tatkala matanya bersitatap dengan mata Nathan yang sepertinya tengah memandang tajam dirinya.
Seketika bulu kuduk, Anindya berdiri tegak, seperti melihat setan namun kali ini, setan yang lebih menyeramkan dan lebih berbahaya.
Sementara Erick yang tengah memakan bolu di pojok ruangan tersenyum bahagia, menghayalkan bagaimana malam pertama Nathaniel dengan Anindya, dan betapa ganasnya Nathaniel pada malam pertamanya.
Erick tersenyum malu-malu, ketika bayangan Nathaniel dan Anindya melintas di otaknya.
"Ah, aku tidak sabar menggendong cucu!" Erick bersorak bahagia dalam hati. Menepuk-nepuk tangannya beberapa kali, lalu tersenyum tipis di akhirnya.
***
"Loh, kenapa?"
"Jauh, kamu, kuman!"
"Kuman? WHAT?!"
__ADS_1
Nathan menghela nafasnya kasar, melihat Anindya yang tertidur di sofa. Posisi tidurnya, membuat gaun yang tadi di pakainya sedikit tersingkap, dan itu membuat Nathan merasa agak aneh, karena tangannya seperti menyentuh sesuatu yang sedikit kenyal dan agak menonjol. Itu terlihat seperti bulatan Boba di ingatannya tapi ia tidak pernah ingat, pernah membeli Boba sebelumnya.
"Untungnya pendengaranku tajam, jika tidak, Mungkin aku sudah menduduki wanita satu ini, karena ia bahkan tidak berkata ingin tidur di sofa. Hahh!" Nathan menghela nafas sekali lagi. Tangannya bergerak, meraba-raba wajah Anindya, lalu mengelus pelan di satu titik yang sangat lembut menurutnya.
Tanpa sadar, senyuman tipis terbingkai di wajahnya, menggantikan wajah datar yang sedari lama sudah mengisinya.
Hatinya terasa hangat, dengan hanya menyentuh bagian yang lembut itu.
"Yah, sebenarnya aku tidak merugi juga sih. Setidaknya aku bisa dapat dua dengan hanya membeli satu. Yah, anggap saja menghemat, untuk masa depan," Nathan bergumam, lirih ketika Kalimat itu tidak sengaja meluncur lagi dari bibirnya.
Senyumannya yang tadinya terlukis, mulai terhapus, berganti dengan senyuman menyedihkan yang tentunya membuat siapa saja, merasakan hal yang sama dengannya.
"Tuan, anda mengompol kah? kenapa celana anda basah?" Anindya yang merasa terusik, karena ada yang menyentuh kepalanya terbangun. Matanya lantas membelaak, kala melihat Nathan tengah duduk di atas pahanya, dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya.
'Astaga, jangan-jangan tuan Nathan, suka posisi seperti ini? Haah, posisinya menyeramkan sekali!' Anindya membatin ngilu, apalagi ketika Nathan tidak sengaja menggosok bagian vitalnya. Anindya seketika langsung tegang, mau berdiri rasanya susah, mau berteriak pun rasanya tidak bisa.
Namun, tiba-tiba sesuatu yang hangat mengalir di pahanya. Anindya mengkerut kan keningnya, mencolek air yang mengalir di pahanya, dan menciumnya.
"Tidak bau," gumam Anindya pelan, yang tentunya tidak di dengar Nathan yang tengah bersedih, dan tanpa sadar membuat celananya basah karena air matanya yang terbilang turun sangat banyak.
Nathan tersentak, pertanyaan Anindya membuat dirinya sadar, akan lamunannya, terlebih ketika kalimat, "Ngompol" terdengar di telinganya. Seketika, Nathan meraba celananya dan langsung menutup wajahnya, ketika tidak sengaja membuang air di atas Anindya.
__ADS_1
Terlebih lagi, tanpa di sadarinya.
'SIALA*, INI MALAM PERTAMA YANG MEMALUKAN, AKH!'