
Alan hanya bisa menghela nafasnya Ternyata apa yang ia harapkan jauh dari ekspektasi,calon mertuanya sangat galak dan terlihat tukang marah marah.
"Punya mertua kok gini amat ya,padahal anak nya juga belum di apa apakah baru di icip icip doang?" Lirih Alan yang masih bisa di dengar oleh Lia membuat wanita itu menatap tajam kearahnya.
"Kamu bilang apa tadi,wah kamu mau macam macam ya sama saya?" Tanya Lia mendelik kesal.
"Aduh maaf Mama Macan tadi keceplosan,itu sebenarnya....
"Apa kamu bilang tadi,macannn?" Tanya Lia sambil menatap tajam penuh dengan amarah bahkan terlihat ada asap yang seakan bersiap siap keluar.
"Nah tuh kan salah lagi,padahal....
"Diam kamu! Belum jadi menantu sah saja sudah bikin tensi saya naik,apalagi sudah jadi bisa bisa mati cepat saya nih!" Sungut Lia membuat Alan bergidik ngeri.
Andra yang melihat Lia sudah terlalu kesal memilih untuk menenangkannya karena tak enak hati kepada pelanggan yang ada,nanti mereka bakal berpikir yang tidak tidak dan membuat Ana yang bakal kena imbasnya.
"Mah,kita masuk kedalam ruangan Ana saja yuk! Malu dilihat semua orang,Nanti apa kata mereka?" Bujuk Andra sambil mengusap pelan bahu Lia.
"Iya benar sekali Mah,soalnya nanti Ana yang bakal kena imbasnya!" Ana menyetujui apa yang di katakan oleh Papa nya barusan.
Lia menyipitkan matanya sembari menatap kearah Alan, seolah menyiratkan jika urusan dirinya dengan Alan belum selesai.
Sedangkan Alan hanya bjsa pasrah saja tidak mungkin juga dirinya bakal ngegas,mengingat siapa itu Lia sebenarnya yaitu merupakan calon mertua dari wanita yang kini tengah menjadi kekasihnya.
"Pasrah saja deh,terserah mau kau apakan diri ini wahai calon mertua karena aku sudah tergadai!" Lirih Alan dalam hati dengan wajah yang penuh menyedihkan.
Ana yang menyadari hal itu hanya menggelengkan kepalanya melihat hal itu,karena baginya Alam terlalu mendramatisir keadaan.
"Aneh!" Gumam Ana.
Kini Lia sudah berada di ruangan Ana sedangkan Andra tengah ke dapur mengecek keadaan,karena biar bagaimanapun sebagai orang tua dirinya tidak mungkin lepas tangan begitu saja.
"Siang Miss Silvia,gimana keadaan dapur masih aman kah?" Tanya Andra kepada koki handal yang bekerja di situ.
Wanita paruh baya yang terlihat begitu cekatan itu tersenyum kearah Pria yang paling berpengaruh di tempat Itu,ia sangat menghormati Andra yang merupakan atasan Suaminya.
"Puji Tuhan,sejauh ini masih aman aman saja tidak ada kendala sedikitpun karena Ibu Bos menghandle semuanya dengan sangat baik!" Jelas Silvia sambil mengaduk Capcay di dalam penggorengan.
"Syukurlah kalau begitu,ya sudah saya ke depan dulu !" Pamit Andra lalu berlalu dari situ.
"Sayang,kita harus menemui Mama kamu atau stay disini saja?" Tanya Alan was was dengan jawaban yang bakal di keluarkan oleh Ana nanti.
"Memang nya kenapa kamu tanya begitu!" Tanya Ana balik.
"Ah tidak hanya tanya saja kok!" Sahut Alan berbohong.
"Kamu lagi berbohong kan?" Tanya Ana penuh selidik.
__ADS_1
"Siapa bilang,mungkin itu hanya perasaan kamu saja?" Tanya Alan balik membuat Ana mendengus kesal karena bukan jawaban.yang di dapat melainkan pertanyaan balik.
"Kamu takut kan sama Mama?" Tanya Ana meledek.
Alan mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan yang di ucapkan oleh Ana,karena sepertinya kebenaran itu tak diragukan bahkan lebih dari 100%.
Tapi masa harus mengaku hal itu nanti apa kata Ana,lama lama dirinya bakal di tolak mentah mentah sebelum memulai.
Dirinya merasa harga dirinya sebagai seorang pria jatuh jika hal itu benar benar di ketahui oleh Ana,maka dari itu jika berbohong soal kebaikan tak masalah kan!
"Dengan kamu yang galaknya ngalahin Singa betina saja aku bisa apalagi Mama kamu ,itu mah hanya butuh usaha 5% saja juga pasti langsung manis orangnya!" Ujar Alan penuh percaya diri.
"Jangan harap saya bakal baik sama kamu,kareja yang kamu bilang 5% itu adalah harapan kamu di terima sebagai menantu. Ana ayo ikut kedalam,ngapain malah ngobrol di luar membiarkan Mama sama Papa karatan di dalam ruangan kamu!" perintah Lia sambil menatap sinis kearah Alan.
"Sabar sabar ya Guys,makanya lain kali kalau ngomong itu sadar tempat jangan sampai jadi boomerang balik !" Ana bukan nya memberikan. kata kata yang membuat Alan tenang malah bertambah pikiran yang tidak tidak.
"Kamu kok tega Sih Yang,bikin aku mental down dan tidak tahu harus berbuat apa karena kata kata kamu barusan." Alan merajuk membuat Ana benar benar ingin tertawa.
"Sudah jangan banyak bicara lagi,lebih baik kita masuk kedalam sebelum Mama tambah mengamuk ke kamu!" Ajak Ana sambil menarik tangan Alan agar ikut dengannya.
Alan pasrah mana bisa menolak hal itu karena bisa bisa Lia benar benar memberikan lampu merah padanya,agar jangan mendekati Ana yang merupakan anak perempuan nya.
Ceklek
Ana membuka pintu disusul Alan berjalan di belakangnya dengan sedikit menunduk ,membuat Lia langsung menanyakan sesuatu yang tidak tidak.
"Apa yang jatuh Ma,terus punya siapa?" Tanya Andra heran.
"Iya Mama,duit siapa sih yang jatuh karena perasaan tidak ada deh saat Ana lewat? Kalau tahu pasti aku sama Alan bakal ketemu,benar tidak Sayang?" Tanya Alan yang tanpa sadar membuat Alan bagaikan mendapatkan ribuan kupu kupu di kepalanya.
Cieee,dipanggil sayang nih ye??
"Ehemm,sudah ada yang berani ngomong mesra ya di depan kami?" Tanya Lia sinis.
" Tadi apa yang jatuh,kenapa malah mengalihkan pembicaraan ?" Andra masih fokus pada pembicaraan awal.
"Memang nya tadi Papa tidak lihat kalau ada yang masuk kesini dengan tertunduk terus?" Tanya Lia.
"Oh My God,jadi tadi Mama ngomongin aku?" Tanya Alan memastikan.
"Syukurlah kalau situ sudah sadar,jadi bisa masuk kedalam soal nya kalian berdua merusak pemandangan jika hanya berdiri di depan pintu!" Ujar Lia yang dari tadi terlihat sangat kesal kepada Alan.
"Sayang,Tadi panggilan yang itu aku suka.Bisa tidak di ulangi lagi soalnya sangat manis,tapi nanti saat kita berdua saja ya takut nanti ada yang bakal iri!" Wah Alan ternyata memang benar benar ingin mencari masalah dengan Lia.
"Apa kamu bilang,kamu mau macam macam di belakang kami?" Tanya Lia kesal.
"Mah,dia kan hanya bercanda jangan ngegas gitu dong!" Ana membela Alan yang dari tadi menjadi korban dari amukan Lia.
__ADS_1
" Dasar anak kurang ajar dibilangin orang tua malah tidak dengar, jangan bilang kamu senang kalau diapa-apain sama dia Mama bakalan marah besar loh? jadi anak gadis itu harus bisa menjaga diri agar tidak pikirannya murahan, dan juga jadi seorang pria bisa tidak jangan hanya memikirkan daerah ************?" tanya Lia sambil menatap kearah kedua anak manusia yang sedang merasa heran kearahnya karena membicarakan hal yang tidak mereka pikirkan.
" Mama itu ngomong apaan sih Masa sama anak sendiri tidak percaya, kalau mama saja seperti itu Bagaimana dengan orang lain yang diluar sana pasti bakal berpikir yang aneh-aneh?" sungut Ana karena merasa kesal kepada Lia yang selalu saja mengatakan hal yang tidak-tidak.
Jangan ditanya lagi dengan ekspresi Alan kini karena pria itu sedang kebingungan, sebab dari tadi wanita paruh baya yang ada di ruangan itu terlihat sangat tidak menyukai keberadaannya.
" Mama kenapa sih marah-marah dari tadi, memangnya aku salahnya di mana coba sampai-sampai Mama selalu saja marah-marah tidak jelas? " tanya Ana yang sudah merasa heran dengan kemarahan mamanya dari tadi.
" sayang kamu kenapa sih jadi marah-marah tidak jelas begitu, calon Mama mertua Maafkan calon anak menantu mu ini sudah membuat calon Mama mertua marah-marah !" permintaan maaf Alan yang terdengar sangat formal membuat Ana tak bisa menahan tawanya karena merasa lucu.
" kamu apa-apaan sih ngomong seperti itu, sudah ah kedengarannya sangat lucu tahu tidak?" tanya Ana membuat alat hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal karena dirinya sedang bersikap manis eh Ana malah meledek dirinya.
" kamu kok malah tertawa bukannya mendukung ku melakukan semua ini, dari tadi aku sudah kebingungan Lagi duduk berdiri harus seperti bagaimana Kamu bukannya mengerti malah membuat aku tambah Spot jantung?" Alan sambil mendengus kesal.
Lia tak terima ketika putrinya itu dimarahi tidak jelas, padahal dirinya saja jarang lho memarahi Ana Sampai sebegitunya tapi kenapa Alan yang masih menjadi calon suami kok sudah ngegas.
" aku salah lagi deh!" batin alam frustasi sebab dari tadi dirinya tidak pernah benar dimata Lia syukur juga tidak dilarang bernafas kalau tidak bisa lewat sekarang juga.
Andra dari tadi melihat sikap semua orang di ruangan itu yang sepertinya kadar emosinya sedang di atas ambang batas, Bagaimana tidak masalahnya Masalah sepele saja selalu berdebat apalagi kalau masalah yang lebih berat lagi wah bisa dipastikan perang dunia ke-2 kalah jauh dan mereka bakal menciptakan sesuatu yang lebih dahsyat lagi.
bingung harus berkata apa Ana memilih untuk diam karena tidak mungkin juga kan membantah mamanya yang sedang emosi, dirinya pun perlahan mendekati Papanya sambil setengah bisik menanyakan hal yang sedang terjadi sekarang di depan mata.
" papa, Mama itu sudah menopause atau belum sih Kok bisa-bisanya marah-marah tidak jelas kayak orang lagi PMS dadakan?" bisik Ana membuat Andra menatap heran ke arah putrinya itu.
" Kamu kenapa sampai punya pemikiran seperti itu, memangnya kalau mama lagi PMS ada hubungannya begitu sama dia lagi marah-marah seperti begini? kamu kan tahu kalau mama itu setiap saat selalu marah tidak jelas, papa saja tidak pernah benar di matanya dia?" tanya Andra yang sambil berbisik pula membuat Lia yang berada di sampingnya menatap heran kepada ayah dan anak itu.
karena Lia merasa yakin jika dirinya menjadi bahan gibahan mereka berdua, sudah seperti ini jangan menyesal jika dirinya bakal ngambek lagi.
" kalian lagi ngomongin apa sih, Awas aja kalau sampai ketahuan ngomongin Mama di depan orangnya secara langsung kalian tidak bakalan selamat loh?" tanya Lia memastikan membuat Ana bergidik ngeri.
" Mama Memangnya di dunia ini orang kalau lagi berbisik selalu menceritakan hal tentang orang lain begitu, bisa saja kan itu karena masalah penting dan hanya bisa dibicarakan kepada orang-orang tertentu saja?" tanya Ana berkilah sambil menatap kearah Alan yang juga menatapnya.
" Kamu kenapa berdiri saja Ayo duduk di sampingku sini, Terus kamu makan apa biar aku suruh mereka Mengantar ke ruangan sini agar kita bisa makan sama sama papa dan mama?" Ana terlihat begitu perhatian kepada Alan membuat pria itu merasa tersentuh karena ternyata dibalik sikapnya yang judes ternyata ada kelembutan dan perhatian didalamnya.
" Coba kalau setiap saat manis seperti begini tidak marah-marah tidak selalu menyalahkan ku, pasti aku bakal menjadi pria yang selalu hari-harinya dipenuhi dengan senyuman bukan perdebatan yang mewarnai hal itu!" Lirih Alan dalam hati tapi Biar bagaimanapun dirinya tetap bersyukur karena Ana adalah wanita yang terbaik untuknya.
" aku makan yang kamu makan, dan akan menerima semua yang kamu Siapkan tanpa menolak sedikitpun!" jawaban yang diberikan Alan membuat Ana hanya menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
" mama sama papa dilupain nih ceritanya, Wah kalian tega sekali lo Jadikan kami seperti obat nyamuk kelihatan tapi tidak dihargai? Ya setidaknya tawarin minum atau makan apa begitu Eh ini malah dia yang ditawari, Percuma dong capek-capek datang ke sini tapi hasilnya malah dicuekin begitu saja? " tanya Lia yang seolah tak terima jika perhatian Ana diberikan kepada Alan sedangkan dirinya sebagai orang tua dapat apa Masa iya ampas doang.
" mama itu ngomongin apa sih, di ruangan sini kan bukan hanya kita saja ada dia ya Otomatis setelah aku menanyakan ke dia baru tanya ke mama sama papa hanya belum melakukan hal itu Mamanya sudah ngegas marah-marah?" tanya Ana yang merasa lucu dengan wajah mamanya yang lagi merajuk itu.
drama itu pun masih berlanjut ketika sudah selesai makan siang, karena Alan yang masih saja tidak mau pergi dari tempat itu membuat Lia merasa tak suka karena pria itu selalu mengganggu putrinya yang hendak bekerja.
" kamu bisa tidak meninggalkan tempat ini sebentar saja, memangnya tidak ada pekerjaan lain apa selain mengganggu Ana? ingat loh kamu jauh-jauh dari sana buat mengurus urusan yang ada di sini bukan malah keluyuran, nanti apa kata orang tua kamu di sana setelah berbangga diri jika anaknya sedang bekerja eh tak tahunya zonk Karena semua itu tidak ada yang benar?" tanya Lia merasa heran.
" Iya setelah menemani Ana kerja setelah itu baru saya ke kantor, tapi karena masih jam segini Ya tidak masalah lah?" sahut Alan santai tanpa beban membuat Andra dan Lia Saling pandang.
__ADS_1
" kamu itu kalau ngomong ada saja, Memangnya kamu pikir Ada apa jam pekerjaan ketika orang semua sudah pulang baru kamu mulai bekerja?" tanya Lia sambil menggelengkan kepala.