
Alika tidak tahu harus berkata apa lagi, karena dari tadi Raka tidak mendengarkan apa yang dia katakan membuat siapa saja pasti bakal merasa jengkel.
" Terserah kamu mau bilang apa yang penting intinya sekarang aku mau pulang, kamu kalau masih mau betah di sini terserah aku tidak peduli karena kita sudah tidak ada urusan sama sekali!" sungut Alika kesal Raka yang tetap mempertahankan pemikirannya padahal itu semua sebenarnya salah besar.
" Kan aku sudah bilang dari tadi kita bakalan pergi menjauh dari semuanya, tak peduli kamu setuju atau tidak karena bagiku keputusanku mutlak dan tidak dapat dibantah sedikitpun!" tegas Raka nyolot membuat Alika benar-benar tersulut emosinya untung juga tangannya masih terikat Coba kalau sudah bebas bisa dipastikan dirinya bakalan mengajak duel pada pria yang ada dihadapannya kini.
" Kamu itu kenapa sih setiap kali dibilangin selalu saja ngeyel, Padahal tadi kan aku ngomongnya baik-baik Loh jadi setidaknya kamu menghargai apa yang aku inginkan? bisa tidak melakukan sesuatu itu memikirkan perasaan orang lain juga jangan hanya memikirkan diri sendiri, hargai dong keputusanku kalau memang sudah bilang tidak mau tetap tidak mau?" melihat Raka yang tidak bergeming sama sekali Alika rasa Percuma saja dirinya berbicara panjang kali lebar karena pasti pria itu tidak bakalan mendengarkannya.
kalau Diam adalah cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah maka itu adalah langkah yang terbaik Alika pilih, sebab dirinya selama setahun berhubungan dengan Raka sudah sedikit banyak mengenal bagaimana kepribadian pria itu. Jika sesuatu sudah diklaim sebagai miliknya maka apapun yang terjadi dirinya akan memperjuangkan hal itu, padahal sebenarnya apa yang ia lakukan itu sangat salah yaitu mengganggu rumah tangga orang lain.
sedangkan Raka tersenyum puas karena dirinya merasa berhasil memisahkan Alika dari suaminya, Persetan dengan kepanikan Dafa sekarang karena dirinya selama beberapa hari ini lebih panik lagi dibandingkan pria itu. panik karena Alika sudah memiliki suami dan pasti sudah dibobol juga oleh pria itu, Sedangkan dirinya selama setahun mati-matian menjaga Alika agar nanti saat sudah menikah baru ia ingin menyentuh wanitanya itu.
sedangkan di langit yang sama namun berbeda tempat terlihat seorang pria sedang mengacak rambutnya frustasi, dirinya berjanji jika nanti menemukan Raka dirinya bakalan menghabisi pria itu karena sudah berani-beraninya menyentuh istrinya.
" brengsek, kok bisa-bisanya aku kecolongan seperti ini? ini semua pasti kesalahannya Deka, karena menelponku di waktu yang tidak tepat dan alhasil istriku menghilang tanpa jejak! Lagian ini mana lagi Papa katanya bakalan menghubungi rekan bisnisnya, kok malah menghilang seperti Ditelan Bumi Awas aja kalau sampai hari tua Kenapa mereka semua bakalan aku jebloskan ke dalam penjara termaksud Papa sama Mama!" Daffa yang terlihat begitu panik Bahkan tak memikirkan apa yang dia katakan syukur saja hanya dikatakan Coba kalau di praktikkan dalam kehidupan nyata ya sama saja bohong kan.
raga yang sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi memilih untuk pergi ke kantornya mr.kim seperti yang dikatakan oleh Papanya tadi, karena sungguh pekerjaan yang menunggu itu sangat membosankan dan semua orang pasti menghindari hal itu.
Dafa yang kebetulan sudah sampai di lobby hotel merasa terkejut ketika ada yang memanggilnya, padahal dirinya tidak mengenal siapapun di negara itu hanya tidak ada salahnya kan jika menyapa balik.
" Permisi apakah anda putra dari tuan Adrian, perkenalkan saya Mr Kim yang tadi dihubungi beliau secara langsung!" jelas pria yang bermata sipit tepat dihadapan Daffa sambil tersenyum.
" Iya benar sekali, saya Daffa putranya. Oh jadi Anda Mr Kim, Kebetulan sekali saya juga tadi berniat untuk ke kantornya Tapi karena kita sudah bertemu secara langsung Bagaimana kalau kita mencari tempat yang pas sini untuk bisa mengobrol soal masalah saya?" tanya Daffa menawarkan sesuatu langsung kepada intinya tanpa berbasa-basi lebih dahulu.
Lagian menurut Dafa untuk apa berbasa basi, jika Papanya sudah lebih dulu mengatakan maksud dan tujuan kepada pria itu.
" Saya rasa tidak usah membuang waktu Bagaimana jika anda langsung ikut saya dan anak bos saya pergi ke tempat istri anda berada, semoga saja tidak terlambat dan dia masih berada di tempatnya!" perkataan mr.kim itu membuat dada Daffa bergemuruh hebat karena tidak menyangka jika keberadaan istrinya sudah terdeteksi.
__ADS_1
" Ya sudah kalau begitu Semoga saja dia tidak kenapa-napa, dan terima kasih karena sudah mau membantu?" Daffa mengatakan hal itu mengikuti langkah kaki Mr Kim yang bukannya keluar dari hotel malah masuk ke dalam lift.
" Loh kenapa kita malah masuk ke dalam lift bukannya pergi ke tempat istriku berada, kalau seperti begini namanya buang-buang waktu Kenapa tidak langsung ke intinya saja? " tanya Daffa memastikan.
" kita bukannya membuang-buang waktu tapi justru Ini adalah mempersingkat waktu, karena Untuk apa kita keluar jika mereka ada di dalam sini?" sahut Mister Kim ambigu sambil tersenyum membuat Dafa seperti menyadari sesuatu.
" jadi maksud anda manusia itu membawa istriku ke dalam hotel ini, hotel di mana kami menginap? Astaga kenapa aku tidak berpikiran sampai situ karena hotel ini kan jaraknya dekat dengan tempat tadi kami berdua pergi, Semoga saja tidak terlambat dan Alika tidak kenapa-napa." Dafa akhirnya paham jika istrinya sebenarnya berada di dekatnya hanya dirinya saja yang tidak mengetahui sama sekali.
ketika Daffa sudah sedikit bernafas lega berbeda dengan Deka di dalam pesawat yang sedang uring-uringan, Bagaimana tidak jika dirinya terlambat sampai maka bisa dipastikan Daffa bakalan mengamuk akibat dirinya yang lelet itu.
" hidupku bakalan habis ini kalau besok baru sampai, Lagian Kenapa jarak kedua negara ini sangat jauh sehingga membuat masalahku bertambah runyam?" Deka benar-benar merutuki keadaannya sekarang karena sangat tidak mendukung dirinya.
wanita yang berada di samping pria itu merasa heran karena tingkah Dika yang terlihat begitu gelisah.
" Om kenapa Kok kelihatan gelisah begitu, ini penerbangan yang pertama kali atau gimana ya? soalnya seumur hidup Saya baru melihat pria yang memiliki tubuh sebesar Anda tapi merasa takut naik pesawat, saya sarankan ya Om lebih baik tidur agar perjalanan biarpun jauh terasa tidak terlalu lama? " tanya wanita bertubuh mungil yang duduknya tepat di samping Deka.
Deka yang rasa sedang rumit bertambah kesal ketika ada yang malah menghina dirinya secara tak langsung, padahal dirinya tidak menunjukkan tanda-tanda orang ketakutan penerbangan tapi kenapa wanita di sampingnya itu bisa berpikiran seperti begitu?
sedangkan wanita itu merasa diabaikan menjadi kesal terhadap Deka yang menurutnya terlalu sok jual mahal padahal sebenarnya penakut, sebab dirinya tadi hanya mencoba membantu Tapi tetap saja tidak dihargai itu kan Rasanya sesak sekali coy.
" eh Om, bisa tidak jangan terlalu sok keren begitu? soalnya saya tahu apa yang kau rasakan sekarang Karena dulu saya juga seperti begitu, makanya uang banyak itu jangan terlalu dipendam didalam Bang lebih baik digunakan buat jalan-jalan jadinya kan jadi kebiasaan?" sinis perempuan itu sambil tersenyum mengejek membuat Deka benar-benar ingin sekali melenyapkan tubuh wanita itu di luar jendela pesawat.
" apa kita saling mengenal Nona?" tanya Deka datar bahkan tanpa ekspresi sama sekali.
" pria aneh bukannya berterima kasih sudah diberi saran yang paling ampuh eh malah nyolot, Memangnya situ pikir ear hanya orang saling mengenal saja yang bisa saling menolong? menyesal saya tadi sudah menawarkan pendapat kepada anda, jika tahu Orangnya saya kasih pendapat itu tidak tahu berterima kasih!" sungut wanita itu membuat Deka mengerutkan keningnya Tadi siapa yang sok peduli kenapa sekarang malah berbicara yang aneh seperti begitu.
" Memangnya tadi siapa yang menyuruh anda memberikan saya saran, Bukankah itu karena kebiasaan Anda yang selalu saja berbicara tidak jelas jadi kemanapun Anda pergi selalu saja mengatakan hal aneh? lagian kalau saya mau liburan atau ke mana pun tidak perlu kan harus melapor kepada anda, Jangan pernah berbicara lagi atau Anda bakalan menyesal karena sudah memilih lawan yang salah! " ancam Deka yang masa bodoh jika dibilang tak menghargai wanita sama sekali.
__ADS_1
wanita itu membulatkan matanya sempurna ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Deka barusan, karena itu sama saja dengan menghina harga dirinya Padahal tadi Maksudnya itu baik tidak ingin menyinggung siapapun.
" Lho kenapa kamu jadi ngegas ke saya, Memangnya tadi apa yang saya katakan sampai situnya marah-marah tidak jelas? saya kok bisa ya ya dapat tempat duduk di samping manusia seperti anda, sudah bikin rusak pemandangan wajahnya mirip Kanebo kering sangat menyebalkan!" sungut wanita itu membuat Deka hanya bisa menghela nafasnya kasar karena dirinya bukan tipe pria yang suka ribut di tempat umum padahal masalahnya hanya sepele.
Deka memilih memejamkan matanya meskipun sebenarnya dirinya tidak tidur, hanya karena ingin menghindari yang namanya perdebatan unfaedah dalam hidupnya ia sangat tidak menyukai sama sekali.
sedangkan wanita berada di sampingnya itu ingin sekali mencekik leher pria itu yang bukannya meminta maaf malah memilih untuk tidur, Jika saja Ini bukan tempat umum dan takut mengganggu orang lain pasti bakalan ia buat keributan seheboh nya disitu.
" dasar pria aneh Awas aja kalau saat bertemu nanti terus kamu jatuh cinta sama aku, aku bakalan menghajar kamu habis-habisan dan membuat kamu merasa malu lalu bahkan sampai tidak sadar Jika kamu itu punya urat malu?" sungut wanita itu lalu memasang earphone agar tidak di intimidasi lagi oleh Deka yang ternyata hanya pura-pura tidur dan mendengar jelas apa yang dikatakan oleh wanita yang berada di sampingnya itu.
" Jika saja seluruh dunia wanita sudah punah dan itu tersisa hanya anda, biarkan saya menjadi jomblo Wanto sejati dan Si Joni di museumkan karena saya tidak bakalan mau dengan wanita aneh seperti anda!" sungut Deka yang mengira jika wanita disampingnya itu masih mendengar apa yang ia katakan padahal sebenarnya telinga sering disumpal oleh earphone sehingga tidak mendengarnya sama sekali.
pramugari yang tadi melihat keributan antara Deka dan penumpang di sebelahnya memilih untuk mendekat, karena Biar bagaimanapun kenyamanan penumpang lain itu sangat penting dan utama.
" Permisi tuan, Apa ada yang bisa saya bantu? soalnya saya melihat anda dari tadi sepertinya tidak nyaman dengan Nona yang berada di samping anda, Jika ada yang membuat Anda tidak nyaman berada di sini silakan sampaikan komplainnya biar Kami bakal membantunya?" tawar pramugari itu membuat Deka hanya bisa menghela nafasnya kasar karena jujur dirinya dari tadi itu ingin beristirahat tapi ada saja gangguan yang dihadapi.
" yang perlu Anda lakukan yaitu tidak mengganggu saya, dan soal wanita yang disamping Anda juga saya sangat merasa terganggu tapi ya sudahlah tidak etis juga Akan berpindah tempat!" Sindir Deka yang merasa kenyamanannya sangat terganggu kali ini coba saja kalau tadi dirinya menerima tawaran dari pilot jet pribadinya Dafa pasti dia bakalan tidur dengan keadaan yang sunyi senyap dan aman Sentosa.
" Ya sudah kalau begitu selamat menikmati perjalanan!" sahut pramugari itu sambil tersenyum padahal sebenarnya hatinya merasa dongkol karena ada penumpang yang nyolot seperti Deka itu.
Deka sebenarnya tidak terlalu gelisah jika masalah yang dihadapi tidak terlalu rumit seperti sekarang ini, berbagai pikiran dan kecurigaan berkecamuk dalam benaknya apalagi menyangkut soal Daffa sikap Arogan nya dari dulu sampai sekarang paling susah diajak kompromi.
" semoga masalahku hari ini hanya berakhir di dalam pesawat ini setelah turun dari sini sudah tidak terlalu mencemaskan lagi, dan aku bakalan balas dendam kepada pria yang sudah membuat hidupku menjadi berantakan! " batin Deka frustasi karena dirinya benar-benar dibuat kesusahan dengan keadaan sekarang ini.
Jika boleh memilih dirinya ingin menghilang saja dari hadapan Daffa, nanti setelah masalah ini beres barulah dirinya muncul lagi.
Dika Dan Bey harus dibuat pusing dengan tingkah istri mereka itu, karena dari tadi memarahi pilot yang terlalu lelet membawa pesawat padahal rute perjalanan dari dulu sampai sekarang ya seperti begitu tidak bakalan berubah.
__ADS_1
" kalian bisa diam dulu tidak kenapa dari tadi bicara banyak sekali, apa mulut kalian tidak capek dipakai buat ngomong terus? kita juga lagi pusing loh memikirkan hal-hal ini, bukan hanya kalian sendiri yang merasa cemas dan orang lain tidak!" sungut Dika yang sudah tidak tahan melihat Alice yang dari tadi ngomong terus.
" papa kok marah-marah pesan dari tadi kan mama cemas memikirkan Alika sendirian di sana, meskipun bersama dengan Rafa tapi kalau Hanya mereka berdua saja pasti dapat sekarang juga Tengah kebingungan dong memikirkan Alika di mana? Jadi lebih baik diam saja deh jangan banyak komentar memangnya papa yang merasakan saat sakitnya melahirkan, hanya bisa jadi eksekutor doang nanti kalau sudah Hamidun lepas tangan!" terus Alice karena suaminya itu daritadi seolah menyalahkan dirinya.