
Like N KOMENNYA
LOPE U FULL
LANJUT ***
" malam semuanya, maaf aku tidak mengganggu kan?" tanya Alan sambil tersenyum.
semua orang menoleh ke arah sumber suara jika kedua orang tuanya ada mengerutkan kening karena heran, berbeda dengan reaksinya Ana yang mendengus kesal melihat Tamu Tak Diundang itu.
" manusia menyebalkan ini kenapa juga harus sampai ke sini, sudah begitu memasang tampang yang paling tidak sedap dipandang?" batin Ana heran.
" aku beneran tidak mengganggu kan?" tanya Alan lagi dengan memasang wajah tidak bersalah.
" kamu siapa, Terus kenapa Langsung nyelonong masuk memangnya siapa yang mengundang kamu ke sini? " tanya Amelia heran.
" Ya tante tega masa orang setampan aku dilupakan Padahal semua orang mengingatku dengan jelas, benar tidak Om kalau masih mengingat aku kan?" tanya Alan kepada Papanya Ana yang sedang duduk di situ.
" kamu kalau ngomong jangan ngelantur deh, Memangnya kamu manusia penting jadi harus diingat sama semua orang? sampah masyarakat yang ada yang tidak perlu untuk diingat tapi di sepak jauh-jauh! " Ketus Ana memasang tampang jutek ya.
" Yaelah Ana Kamu kenapa sih selalu tega sama aku, padahal Biar Begini ini Aku sahabatnya kamu dulu yang tidak mungkin dong kamu lupakan Begitu juga dengan kedua orang tuamu?" tanya Alan yang berbuat salah dirinya merupakan pria yang teraniaya di sini.
" Ana kamu kenal orang ini, ini soalnya kelihatannya kayaknya akrab deh?" katanya Amalia memastikan.
" Aku tidak pernah kenal Mama manusia seperti begini hanya dia nya saja yang sok akrab Sok Dekat, Anggap saja kehadirannya seperti angin lalu yang tidak usah dipedulikan biarkan dia berhembus setelah bosan pasti berhenti!" sinis Ana sambil menatap horor kearah Alan yang sedang menyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Beneran kamu tidak kenal, tapi kenapa dia sepertinya mengenal kamu dengan baik?" tanya Amelia lagi dengan tatapan penuh selidik.
Alan tersenyum penuh kemenangan sedangkan Ana mendengus kesal, belum juga disuruh duduk alam saya duduk manis di hadapan kedua orang tuanya Ana.
" yang suruh kamu duduk di situ siapa, bisa tidak langsung pulang sebelum kamu mengganggu ketenangan keluarga ini? tahu kan pintu keluar tidak perlu Saya tunjuk lagi, dan usahakan jangan kembali lagi sini tahu tidak kehadiran kamu itu sangat tidak diharapkan?" tanya Ana sinis.
" Mami sama tante beneran jadi ingat sama saya, ya sudah karena saya anaknya baik dan juga tidak sombong serta rajin menabung maka saya sendiri yang akan memperkenalkan diri. Perkenalkan nama saya Alan Smith, sahabat Silviana Amelia dan juga Alika Mariano. kami bersahabat semenjak memakai seragam putih biru sampai putih abu-abu, hanya saja beberapa tahun belakangan ini saya keluar tinggal di sana Jadi Om sama Tante jarang ketemu lagi!" jelas Alan membuat Amelia merasa senang karena akhirnya mengingat siapa anak muda yang berada di hadapan mereka kini.
" Astaga kenapa tidak ngomong dari tadi biar tante tidak bertanya Yang aneh-aneh, Wah Kamu kapan pulang dari Kanada nya? apa karena Alika yang mau menikah besok jadi kamu datang, atau ada urusan lain?" tanya Amelia memastikan.
Alan tersenyum kecut mendengar perkataan tentang pernikahan Alika, yang membuat sesuatu yang ingin melupakan sejenak kembali mencuat ke permukaan dan siapa saja yang merasakan itu pasti reaksinya bakal seperti Alan.
Alan terdiam mendengar pertanyaan dadakan dari Amelia mamanya Ana barusan, membuat Ana benar-benar merasa muak dan ingin segera pergi dari situ.
" dasar menyebalkan tidak ada perasaan sama sekali, setidaknya menghargaiku sedikit kan ada seni hidupnya dasar pria aneh menyebalkan aneh bin ajaib!" sungut Ana dalam hati,
Amelia menatap heran ke arah suaminya yang daritadi hanya sebagai penonton dan pendengar setia, Padahal dulu jika Alan berkunjung pasti suaminya itu bakalan mengajak untuk bermain catur.
" kamu tidak sedang melupakan Alan kan, ini dia lho yang dulu biasa kamu ajak main saat ia berkunjung ke sini?" tanya Lia kepada suaminya Andra itu.
__ADS_1
Andra menghembuskan nafasnya kasar dirinya memang tidak melupakan sosok Alan Smith, akan tetapi yang ia pikirkan adalah sang putri yang begitu memendam perasaan pada pria itu.
dulu terlihat Ana begitu Memuja Alan Smith , jika ketika orang mulai bercerita tentang pria itu maka Ana bakalan selalu membela Alan apapun keadaannya.
" Ma kalau boleh tahu Kata siapa Alika mau menikah besok, soalnya masalah ini aku belum mendengarnya sama sekali?" tanya Ana penasaran.
semua orang di ruangan itu mengerutkan keningnya karena merasa heran jika hal sepenting ini Ana tidak tahu sama sekali, sedangkan Alan memilih untuk tidak ikut campur.
" Lho Kamu tidak tahu sama sekali masalah ini, mama pikir selama ini kamu selalu berhubungan baik sama Alika kan?" tanya Lia memastikan.
" teman baik tapi belum tentu saling mengabari kan jika ke pekerjaan selalu menumpuk di depan mata dan, terus mama tahunya dari mana Soalnya aku sahabatnya saja tidak tahu sama sekali?" tanya Ana penasaran.
" itu ada surat undangan yang tadi dikirim oleh kurir, pernikahannya akan diadakan besok siang jadi Mama pikir kamu sudah tahu soal ini.Makanya tadi Mama sengaja ingin menanyakan hal ini ke kamu tapi keduluan sama Alan yang datang?" jelas Lia kepada putri semata wayangnya.
Ana menghembuskan nafasnya kasar,karena memang ternyata dirinya tetap tak bisa apa apa lagi.
"Oh Ya sudah nanti aku hubungi dia untuk tanya,siapa tahu aku bisa bantu menyiapkan sesuatu.Soalnya sahabatnya yang lain sangat tak bisa di harapkan,Karena mungkin sudah tahu soal ini tapi memilih untuk menghilang!"Sindir Ana sambil menatap tajam kearah Alan yang hanya bisa memasang wajah datarnya.
Alan bukannya tidak mau membantu persiapan pernikahan Alika,hanya saja ia tak bisa berbuat apapun karena patah hati butuh sesuatu yang baru bukan malah melihat luka lama itu.
Jika Luka hati itu berasal dari Alika,mungkinkah ia sanggup untuk bertemu dengan wanita itu.
"Kamu kenapa Lan,bukannya kalian bertiga itu Cs?Kok bisa kamu malah disini tidak ada niat untuk membantunya,nanti apa kata Alika pasti dia bakal kecewa?" Tanya Lia kepada Alan yang dari tadi hanya diam saja.
"Maksudnya kamu apa sih Na,memangnya Alan korban apa?" Tanya Andra penasaran.
"Ah Ana nya mungkin ngelantur Om,tapi bisakah aku di kasih makan dulu soalnya Ana tadi pelit sekali masa memberikan aku makan saja tidak Ikhlas. Padahal katanya pemilik Sunny Kafe,eh tapi pelitnya ngalahin Emak tiri!" Ejek Alan kearah Ana.
"Oh kalian tadi dari Sunny Kafe,kok bisa sih menangnya kamu kapan balik kesini?" Tanya Lia heran.
"Baru kemarin dulu,karena mau mengurus kerjasama dengan perusahaan Adrian Group. mungkin kalau sudah beres saya bakalan kembali lagi ke Kanada dalam waktu dekat ini, soalnya janji sama Mommy and Daddy bakalan kembali kalau sudah dapat calon menantunya mereka. tapi sepertinya tidak mungkin deh, soalnya cari calon istri itu lebih ribet Daripada cari klien!" jelas Alan sambil tersenyum kecut.
" Ya sudah kalian berdua langsung ke meja makan saja, itu masih ada sayur di dalam lemari es nanti anak yang kasih Ana kembali biar kalian bisa memakannya!" jelas Lia sambil menatap kearah anak gadisnya yang tampaknya seperti menolak keinginannya untuk melayani Alan.
" bukannya calon suaminya Alika itu juga pemiliknya perusahaan Adrian Group yaitu Daffa Adrian?" pertanyaan Andra itu ditanggapi oleh Ana dengan wajah yang penuh keheranan.
"Apa, jadi Alika nikahnya sama Dafa bukan sama Raka? lho Bukannya dia baru putus dari Raka beberapa waktu yang lalu, Terus kapan kenal sama Daffa kok bisa Aku tidak tahu?" tanya Ana memastikan.
" kamu ngobrolnya sama Alan saja ya, soalnya mama sama papa mau istirahat dulu! ingat ya Ana jadi wanita itu sikapnya lebih manis sedikit, jangan terlalu sok jual mahal kasihan anaknya orang kelaparan!" tegas Lia yang tak ingin dibantah karena melihat ketidak relaan Ana dalam melayani Alan.
" Nah itu dengar apa kata mama kamu, Jadi wanita itu manis sedikit jangan sok jual mahal pantasan saja tidak laku-laku soalnya tampangnya pas-pasan tapi belagak nya kayak bidadari baru turun dari kayangan!" Sindir Alan membuat anak hanya bisa mengepalkan tangannya sambil menunggu waktu yang pas untuk membalas perkataan kembali pria itu.
Lia dan Andra hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua sahabat itu, karena memang mereka sudah tahu bagaimana sikap Alan dan Ana ketika bertemu.
sepeninggal kedua orang tuanya Ana memilih untuk ke dapur memanaskan makanan untuk Alan, karena menurutnya Alan datang hanya untuk makan setelah kenyang pasti langsung pulang.
__ADS_1
Alan mengekor Ana dari belakang. Karena menurutnya dirinya terlihat seperti orang bodoh, ketika duduk sendirian di ruang keluarga jadi lebih baik melakukan sesuatu agar tidak terlalu membosankan.
" Kamu ngapain ngikutin aku sampai ke belakang, pergi sana duduk di mana terserah kamu yang penting jangan di sini?" sinis Ana karena memang sedang kesal terhadap Alan.
" terserah aku dong mau apa Lagian aku juga tidak mengganggu kamu sepertinya, Jadi silakan lanjutkan aktivitasmu tapi usahakan jangan terlalu kelamaan soalnya aku sudah kelaparan." perintah Alan sambil duduk santai di meja makan melihat aktifitas Ana di dapur yang langsung terhubung dengan tempat itu.
Ana pun memilih tak peduli dengan kehadiran Alan yang selalu saja pandangannya mengekor kemana ia pergi, Walau terkadang risih ketika kita sedang melakukan sesuatu ada orang lain menatap secara Intens tanpa berkedip.
" ini cepat makan setelah itu pulang aku mau istirahat, ingat cepat pulang Soalnya ada sesuatu yang penting yang harus aku urus sekarang juga!" ujar Ana tajam sambil Meletakkan makanan diatas meja.
" kamu ikhlas tidak kasih makan aku sekarang, kalau tidak biar sudah tidak usah aku pulang?" tanya Alan benar-benar kesal dengan perubahan sikap Ana padanya.
Ana menghembuskan nafasnya kasar mencoba untuk menetralisir emosi yang sedang ingin meluap sekali-sekali, dengan gerakan yang cepat sepiring penuh makanan Sudah ingat sajikan tepat di hadapan Alan tinggal di eksekusi saja.
" Jangan banyak bicara cepetan makan sekarang, kamu tunggu sini aku mau nelpon Alika dulu!" perintah Ana sambil memelototkan matanya ke Alan.
" Makasih Mama Ana, pasti deh Papa Alan bakalan habisin!" goda Alan membuat Ana ingin menangis karena pria itu sengaja ingin menghancur remuk redam kan perasaannya sekarang.
" Demi Tuhan aku membencimu Alan Smith!" batin Ana.
Ketika Ana sibuk menelepon Alika. Alan malah sibuk menikmati makan malam yang terasa begitu nikmat, maklumlah lama di negeri orang saat kembali ke negeri sendiri apapun yang disajikan pasti bakalan terasa nikmat.
" Halo Lika ini aku Ana cepat bangun aku mau ngomong, jangan kamu tidur terus atau aku bakalan kesana terus siram Kamu air seember!" alam tertawa mendengar ancaman yang diberikan Ana kepada Alika di seberang.
dirinya bahkan memelankan kunyahan makanan dalam mulutnya, jujur ini adalah moment yang selama ini ia rindukan yaitu mendengar candaan dan perdebatan kedua wanita yang sangat ia sayangi itu.
" ih Kamu kenapa sih Anna sensi banget malam ini, Memangnya aku salah apa ke kamu jadi dimarah-marahin terus ih Aku ngambek deh?" tanya Alika dari seberang pura-pura merajuk karena dirinya yakin jika Ana menelponnya selarut ini pasti ingin memarahi dirinya yang tidak memberi kabar soal pernikahan dadakan nya itu.
" jangan kamu balik memarahiku lagi, Kamu tuh ya sudah menyebalkan ingin ku pites kamu biar besok tidak jadi nikah sekalian!" sungut Ana sambil memasang wajah cemberut nya.
" loh kok kamu malah ngomong kayak gitu, temannya sold out bukan didoakan Yang manis-manis kok sampai terasa mengerikan begitu?" tanya Alika yang ingin sekali tertawa mendengar perkataan Ana barusan.
" Wah aku dukung kamu itu kalau mau Hajar si calonnya Alika biar tidak jadi nikah sekalian, supaya aku punya kesempatan yang bagus!" Alan menimpali perkataannya Ana barusan.
" Hei Curug kamu bisa diam tidak, makan tuh makanan kamu sampai habis itu pulang jangan ngomong banyak!" Ana memarahi Alan yang suka sekali menimpali perkataan orang.
Alika mendengar jelas Suara Alan dari seberang bersama dengan Ana, Ia pun merasa heran kok bisa keduanya bertemu jangan-jangan ini yang dinamakan jodoh.
" kamu sama Alan disitu, Wah tuh pembuat onar ngapain lagi?" tanya Alika penasaran membuat Ana mendengus kesal.
" biasalah katanya CEO terkenal tapi makan nya malah numpang di orang lain, aku saja bingung uangnya selama ini dilarikan kemana saja mungkin hanya ke daerah ************ saja kali!" sinis Ana sambil menatap tajam ke arah jalan yang tak terima dengan perkataannya barusan.
" Astaga kenapa kamu kasih makan, Biarkan Dia kelaparan supaya pulang kembali ke negaranya ngapain coba datang kesini hanya buat susah orang saja!" Alika menimpali perkataan Ana karena memang keduanya selalu kompak ketika mengejek Alan.
" Eh asal kalian berdua tahu ya di dunia ini hanya kalian berdua saja yang berani menghina seorang Alan Smith, padahal wanita yang lain itu berani merangkak kalau naik ranjangku!" Ketus Alan tak terima.
__ADS_1