
mendengar apa yang dikatakan oleh Raka, Dinda menatap tidak suka ke arah putranya itu. Bagaimana tidak dirinya tahu benar Berapa harga fantastis cincin yang ingin diberikan Raka kepada Alika, sebuah cincin yang bertahtakan berlian yang begitu terlihat indah dimata dan juga sangat pas untuk dibawa dan dipamerkan kepada teman-teman sosialita nya.
" untuk apa penyimpanan barang yang tidak bakalan kamu kasih ke orangnya secara langsung padahal jelas-jelas disini ada mama yang lebih cocok memakai barang itu, Kamu kenapa jadi orang terlalu keras kepala dan juga tidak suka mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang tua sendiri apa begini cara balas budi kamu kepada orang tua?" sungguh Sikap yang ditunjukkan oleh Dinda itu membuat Raka menyesal kenapa harus bersusah payah keluar dari tempat terpencil itu dan bersusah payah pulang kerumah padahal di rumah kehadirannya tidak di harapkan sama sekali.
" aku dari awal tidak pernah minta untuk dilahirkan ke dunia ini kalau memang kalian merasa tidak nyaman atau pun tidak menyukai kehadiran ku di sini Ya sudah baiklah aku bakalan keluar dari rumah ini dan tidak akan kembali lagi, tapi tolong setiap kartu kredit yang kalian pakai harus kalian kembalikan karena aku tidak mau berurusan dengan polisi!" tegas Raka dan masuk kedalam kamarnya untuk menyimpan semua barang barang nya.
Dinda bukan nya berhenti dan menyadari kesalahannya malah tambah menatap sinis kearah Raka,karena menurutnya anaknya itu bukan nya meminta maaf karena tidak bisa membahagiakan sang Mama malah mengatakan hal yang tidak masuk akal.
"Pokoknya Mama tidak mau tahu,kamu harus membayar kredit Mobil nya Mama dan juga cicilan rumah! Disuruh cari menantu kaya malah bawa pulang dengan tangan kosong ,sudah begitu datang kasih tunjuk penampilan yang sangat memuakkan!" Omel Dinda tapi Raka tidak peduli sama sekali.
__ADS_1
"Jika kalian memakai kartu kredit dengan Nama Raka Alfian,maka sekarang aku ganti nama dan tidak akan memakai Nama itu lagi!" Tegas Raka dengan nada yang meninggi dari dalam kamarnya.
"Mah,bisa tidak jangan marah marah lagi? Nanti kalau Raka benar benar melakukan apa yang tadi dikatakan bisa bahaya urusan nya,nanti yang bakal membayar semua angsuran siapa?" tanya Ricky memastikan.
Dinda malah bertambah kesal dengan kelakuan semua pria dewasa yang berada di rumah itu yang dari tadi mau memancing emosi yang sedang ia rasakan, padahal yang ia inginkan itu sesuatu yang sederhana menurutnya tapi sebenarnya terasa sangat berlebihan menurut orang lain.
Sampai sampai suami dan anak nya pun menjadi sasaran ,padahal Apa yang Raka katakan sangat benar.
"Papa itu suami yang sangat tidak tahu diri karena bukannya membahagiakan istri malah membuat hidupnya istri sengsara dan juga sangat memalukan dilihat oleh orang lain,coba setidaknya bisa kasih apa yang Mama mau pasti tidak akan seperti begini?" Dinda memang benar benar mengganggap remeh suaminya sendiri hanya karena tidak bisa memberikan apapun yang ia mau.
__ADS_1
Raka memilih tak ambil pusing ketika mendengar orang tuanya yang selalu bertengkar karena uang,padahal bisa di bilang hidup mereka berkecukupan intinya bisa makan dan tidur di rumah sendiri.
Dilain tempat Alan dan Ana terlihat tengah memijat kepala mereka perlahan, Bagaimana tidak kedua orang tuanya sedang sibuk berdebat tanpa henti bahkan seolah tidak menganggap kehadiran mereka sama sekali.
Padahal pertemuan itu untuk membahas proses lamaran yang akan diadakan minggu ini,tapi tetap saja musuh bebuyutan yang sudah lama tidak bertemu itu tetap saja harus bertengkar karena hal yang tidak jelas.
"Pokoknya aku mau saat lamaran kita harus memakai Kebaya warna putih,ingat ya Buluk kamu jangan coba coba membantah!" Ketus Lia.
"Eh mana bisa begitu ? Aku mau pakai kebaya warna Marun bukan putih,karena bukan kita yang dilamar jadi kenapa harus repot segala ?" Tanya Sandra tak terima.
__ADS_1
"Ya sudah kita mengulang lagi apa yang sudah terlewatkan,biar bisa tetap menjadi kenangan !" Sahut Lia ulang lagi.
"Ya sudah kalau begitu kita pakai dengan apa yang ingin dipakai masing masing ,tidak perlu harus couple jika berbeda pendapat seperti ini!" Sungut Sandra tak mau kalah.