
Alika sampai kesulitan mengimbangi permainan suaminya yang begitu terlihat bersemangat, entah Tenaga apa yang digunakan Daffa tapi istrinya dibawa kukungan nya itu hanya bisa merem melek tanpa bisa mengeluarkan suara lagi karena sudah terdengar begitu Parau.
" yang, sudah dong aku udah nggak kuat lagi nih! " Lirih Alika sambil memejamkan matanya.
Dafa bingung harus berhenti atau melanjutkan permainannya karena sesuatu yang didalamnya sedang tidak bisa diajak kompromi, hanya saja jika melihat keadaan istrinya sekarang membuat hati nurani yang merasa Tak Tega.
" kamu mau kasih keluarnya berapa banyak sih sampai dari tadi tidak muncrat-muncrat, Pinggang aku udah mau lepas tapi kamu masih saja sodok terus?" tanya Alika kesal.
Daffa bingung harus bagaimana sebab istrinya sudah seperti kehabisan tenaga, hanya saja rugi ketika perjuangannya sudah sampai di tengah jalan malah harus dihentikan.
" Sabar sayang sedikit lagi, sudah di ujung tinggal lagi muncrat!" pinta Daffa dengan wajah memelas.
Alika membiarkan suaminya itu bekerja sendiri tanpa dirinya ikut membantu sebab sudah hampir berjam-jam keduanya berjibaku tanpa henti, sampai suaranya pun sudah enggan keluar karena sang pemilik terlalu memaksakan mengeluarkan ******* kenikmatan.
sedangkan di lain tempat Ana yang dari tadi siang memaksakan diri untuk mengikuti Alan bekerja, kini malah harus disibukkan dengan urusan pribadinya karena ternyata pelanggan tetapnya komplain terhadap restorannya tidak memberikan pelayanan yang maksimal.
sudah tengah malam pendirinya belum berhenti dan kesibukan karena biar bagaimanapun kesalahan yang terjadi itu akibat dari kelalaiannya, yang tidak memastikan dengan benar semua persiapan untuk kelancaran pekerjaannya. Padahal tadi Justin sudah mensugesti dirinya agar Jangan sampai tidak sesuai dengan keinginan, hanya saja ternyata keteledoran pegawainya membuat semuanya menjadi berantakan di tengah jalan dan kini pelanggan tetapnya itu harus menghilang dari daftar salah satu penyumbang terbesar di restoran.
" Ya Tuhan ini namanya Makan Buah Simalakama, antara memilih pekerjaan dan juga Kekasih Hati yang bingung harus yang mana yang mesti didahulukan! " ujar Ana sambil menghembuskan nafasnya kasar bahkan semua berkas yang berada di atas mejanya rasa rasanya ingin dibuangnya satu-persatu.
ketika Ana sedang sibuk dalam pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum besok pagi, tiba-tiba ada panggilan masuk dari Alan membuat wanita itu menatap Jengah ke arah ponselnya.
" Yaelah ini orang kenapa lagi kok bisa bisanya menelepon ku di jam-jam segini, apa dia Dia pikir hidup aku ini harus mengurus dia saja tidak ada waktu untuk diriku sendiri?" tanya Ana sambil memberengut kesal tetapi mau tidak mau tetap mengangkat panggilan dari Alan itu.
" Iya halo kenapa?" tanya Ana semangat membuat Alan menjadi heran dengan nada bicara kekasihnya itu.
" kamu kenapa, bukannya senang ditelepon olehku kok malah menanyakan hal seperti begitu?" tanya Alan penasaran.
" ya Habisnya tadi kan kita baru ketemu tadi siang malam seharian aku bareng kamu kok sekarang kamu malah menelponku lagi, Memangnya kamu pikir aku tidak punya waktu buat diriku sendiri begitu?" tanya Ana memastikan bahkan dengan nadanya yang terdengar Ketus.
Alan mengeryitkan keningnya karena merasa aneh dengan perkataan Ana ini, sebab menurut pemikirannya seseorang itu bakalan senang jika diberikan perhatian yang berlebihan.
__ADS_1
" kamu lagi ada masalah sekarang?" tanya Alan tudepoin karena mengerti kenapa sampai Ana bersikap Ketus padanya.
" Yah begitulah mau ngomong juga semua sudah terjadi ya tinggal dijalani saja, daripada hasil akhirnya bikin pusing terus membuat kepalaku yang ada tambah pening?" sahut Ana malas.
" jangan seperti Begitulah kalau ada apa-apa bilang sama aku, bukan ke suatu masalah itu bakalan terasa lebih ringan jika mau berbagi beban pikiran? kalau kamu pendam sendiri aku mana tahu kalau kamu sedang punya masalah, karena Biar bagaimanapun aku ini manusia biasa yang tidak bisa membaca pikiran setiap orang termaksud kamu!" ujar Alan yang tidak menyukai sikap Ana yang merasa diri sok kuat padahal sebenarnya lemah dan rapuh.
Ana mengusap wajahnya kasar bingung memikirkan kata apa apa yang harus diucapkan agar Alan tidak merasa bersalah, dan juga dirinya tidak merasa terbebani lagi.
" hanya ada masalah kecil di restoran tadi karena tuan Justin tiba-tiba membatalkan kerjasama, ini juga sih sebenarnya memang real kesalahan dari salah satu pegawaiku yang menyiapkan dekor tidak sesuai dengan tema yang diminta!" jelas Ana.
Alan mengerutkan keningnya mencoba mengingat nama yang barusan disebutkan oleh Ana barusan, karena sepertinya tidak asing dengan nama itu atau mungkin memang dirinya pernah bertemu dengannya.
" bukannya Justin itu adalah klien yang kamu temui kemarin, yang katanya mau membahas kerjasama karena dirinya mau memakai restoran kamu seharian penuh?" tanya Alan memastikan.
Ana menganggukan Kepala seolah Alan kini berada tepat di hadapannya, namun setelah dirinya sadar Ia pun akhirnya menjawab apa yang dikatakan oleh Alan.
" Iya kamu benar sekali dia itu sudah yang katanya mau memakai restoran tapi di cancel kembali, tapi ya sudahlah mungkin bukan rezekiku lain kali mungkin bakal ada perusahaan besar yang memakai jasa kami!" sahut Ana yang mencoba tetap positif thinking tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak karena sama saja semua sudah terjadi tidak mungkin harus Diulangi kembali.
" Idih Enak banget kamu jadi orang melamar anaknya kepada orang tuanya saja belum sudah main sebut kawin, Hei aku ini punya ayah sama ibu bukan dilahirkan oleh batu jadi kamu enak main ambil begitu saja!" Sindir Ana membuat alam cengengesan karena memang sampai sekarang dirinya bahkan belum meminta secara resmi Ana di hadapan kedua orang tuanya.
" ya Makanya bilang sama mama kamu jangan terlalu galak galak sama calon menantu, jangan sampai nanti suatu saat aku mau melamar kamu dengan keluarga ku malah diusir malunya dapat tahu tidak?" Alan mengingat dengan betul Bagaimana sikap Lia ketika bertemu dengannya wanita paruh baya itu bahkan memasang wajah garangnya seolah Alan penjahat kelamin yang tidak bisa diajak kompromi.
" ya Siapa bilang Mamaku itu merupakan orang jahat kamunya saja yang tidak punya nyali ketika bertemu dengannya, aku saja kadang-kadang bingung masa menghadapi Mamaku yang hanya seorang diri saja kamu sudah keok seperti begitu apalagi nanti kalau menghadapi semua keluarga besar mampu tidak?" tanya Ana dengan nada mengejek Alan membuat pria itu mati kutu karena sebenarnya apa yang dikatakan oleh Ana itu benar sekali.
" aku itu bukannya takut sama mama kamu hanya menghargai orang yang lebih tua, di mana-mana sebagai calon menantu itu harus mencuri hati calon mertuanya bukan malah membuat aku merasa kalah sebelum bertanding! " Alan benar-benar tidak mau dikatakan sebagai calon menantu yang takut kepada mertuanya sendiri.
pembahasan keduanya yang lari dari pada topik awal membuat Ana benar-benar terbantu, karena dengan begitu dirinya bisa lepas dari masalah dan sedikit merilekskan pikiran dengan pembahasan yang ngalor ngidul kemana-mana.
" Kamu sudah makan belum, ingat kerja boleh tapi Makan itu penting jangan coba-coba diet karena ukuran kamu sebegitunya saja sudah pas apalagi kalau tampak kecil yang ada nanti aku kalau mau Peluknya kadang-kadang susah!" tanya Alan yang diselingi dengan nada ejekan.
" Maksud kamu ngomong seperti begitu apa, Ya sudah cari wanita yang bodinya lebih bohai kemudian bahenol yang kalau jalan itu selalu bikin mata kamu jadi di tambah vitamin. aku mah santai saja soalnya dia diluaran sana itu masih banyak bukan hanya kamu saja, Lagian kita kan nikah saja belum jadi otomatis tidak punya ikatan bebas dong aku mah sama siapa saja di luaran sana!" ujar Ana membuat nafas Alan tercekat jangan sampai hal itu benar-benar terjadi demi Dewa Neptunus sebelum negara api menyerang pasti dirinya bakalan menghajar pria yang sudah berani mendekati kekasih itu.
__ADS_1
" Aku ke situ sekarang!" setelah mengatakan hal itu Alan langsung mematikan ponselnya sepihak tanpa menunggu komentar dari seberang karena menurutnya itu hanya bakal memakan waktu.
sedangkan Ana menatap heran ke arah ponselnya yang mati secara tiba-tiba bahkan sebelum dirinya mengatakan apa yang ingin Ia katakan, bahkan antara percaya atau tidak ketika Alan yang mengatakan ingin datang ke rumahnya tengah malam begini.
" Waduh, jangan sampai ini cunguk beneran datang ke sini? karena kalau sampai hal ini terjadi aku bakal kebingungan ini harus mesti ngomong apa Ke Papa Mama, Lagian kok bisa-bisanya sih super duper nekat? " Ana benar-benar dibuat frustrasi sehingga berkali-kali membuka tirai jendela nya memastikan bahwa Alan hanya membual tidak benar-benar datang ke rumahnya.
namun ada pepatah yang mengatakan harapan tak sesuai ekspektasi begitulah yang terjadi sekarang, sebab Lamborghini milik Alan itu sudah parkir sempurna tepat di depan gerbang rumah dari keluarga Ana sekarang.
pukul 23:15
Alan menatap kearah jendela kamar Ana yang Lampunya masih menyala dan dirinya yakin jika kekasihnya itu belum tidur, Ya iyalah mereka baru habis teleponan 15 menit yang lalu jadi otomatis Abu Nawas jika dalam jangka waktu seperti begitu seseorang Langsung tertidur.
Alan langsung menghubungi kekasihnya berharap Ana langsung merespon agar dirinya tidak mati kedinginan, soalnya suhu di musim paceklik seperti ini sangat tidak menentu terkadang sangat dingin di malam hari.
Derth derth derth
Ana menatap kearah ponselnya dan melihat ada panggilan dari Alan dengan segera Ia pun berlari ke arah jendela memastikan kira-kira pria itu beneran ada di situ atau tidak, netranya membulat ketika Alan mengangkat tangan ke arahnya memastikan Kalau pria itu tiba dengan selamat di depan gerbang rumahnya.
" Astaga kamu Beneran datang aku kira kamu hanya bohong dan tidak sungguhan, kamu Kok bisa sampai ke sini nanti kalau orang lain berpikiran yang tidak-tidak siapa yang mau disalahkan?" tanya kesal karena Alan melakukan sesuatu itu tidak pernah dipikir dulu seenak jidatnya saja.
sedangkan Alan ketika dimarahi oleh Ana itu bukannya dirinya merasa tersinggung malah bertambah kadar kesombongannya, sebab dirinya bangga melakukan hal konyol di tengah malam hanya untuk menemui kekasihnya itu layaknya ABG labil.
" gimana, Keren kan aku? tidak ada lho pria yang super duper nekat mendatangi rumah kekasihnya di tengah malam seperti begini, kamu mau ke sini atau aku yang ke situ? "tanya Alan dengan sikap narsisnya dikira Ana bakalan bangga.
" yang bilang kamu keren itu siapa, jadi orang itu percaya diri sih boleh tapi jangan berlebihan juga soalnya kalau jatuh ke bawah tanah tuh rasanya sakit banget loh? " ejek Ana membuat Alan mendengus kesal Percuma dong dirinya datang jauh-jauh tapi ternyata kehadirannya tidak diharapkan sama sekali.
" Kamu kok gitu jawabnya bukannya merasa tersanjung karena aku nekat datang ke sini malah mematahkan semangat ku, kamu tunggu situ saja deh biar aku yang menuju ke situ sampai kamu hanya terima bersih tanpa mau bergerak sama sekali? " Lirih Alan Sendu tetapi bukannya patah semangat atau kembali pria itu malah tambah nekat memanjat pagar rumah orang syukur juga tidak ada binatang penjaga rumah kalau tidak sudah dipastikan bakalan viral Bro.
" kowe seneng, aku mah bisa apa Mas? "gumam Ana sambil menghembuskan nafasnya kasar berharap agar kedua orang tuanya tidak mendengar kegilaan yang sedang dilakukan oleh calon menantu mereka.
tidak berselang lama terdengar ketukan di jendela kamarnya dan dirinya yakin itu adalah pencuri yang datang dengan memberi kode lebih dahulu, dan pencuri itu bukannya Ingin mencuri barang berharga milik rumah itu melainkan ingin pencuri waktu berharga yang dimiliki oleh Ana.
__ADS_1
" Tuhan Lapangkanlah sabarku Tolong jangan kau ambil dari tempatnya karena hidupku besok lusa bakalan selalu diuji kesabarannya, lihat nih belum apa-apa sudah di gangguin seperti begini apalagi nanti!" lirih Ana lalu menuju ke arah jendela.