
Like N KOMENNYA
LOPE U FULL
LANJUT ***
Ana kini bukannya memperlambat memeriksa laporannya, sebab dirinya tidak ingin keluar kemana-mana apalagi menghabiskan waktu untuk sesuatu yang baginya tidak penting sama sekali.
Alan yang dari tadi sibuk pada ponselnya merasa jenuh sendiri dengan sikap Ana yang terlalu lelet menurutnya, Jika seperti begini terus kapan baru mereka berdua bisa pergi yang ada bakalan makan angin .
"" Sayang Kamu itu sebenarnya ya Dari tadi memeriksa Laporan atau laporan yang balik memeriksa kamu, Masa Iya tidak kelar juga dari tadi lo perasaan aku berada disini tapi hanya itu saja yang kamu lihat dibalik halaman pun juga tidak?" tanya Alan Tak habis pikir membuat Ana mendengus kesal mungkin karena terlalu menikmati sendirian maka dari itu Ana lupa akan statusnya kini.
" Ya habisnya kan kamu tahu kalau memeriksa laporan itu harus teliti biar tidak selisih ataupun tekor nantinya, Lagian kalau kamu memang tidak betah dari tadi aku tidak memaksamu untuk menunggu! kalau kamu mau pergi ya pergi saja kenapa harus merepotkan diri segala, Jadi kalau saat aku lama ya kamu tidak terlalu tertekan seperti begitu kan? "sahut Ana yang terlihat santai tanpa beban.
Alan mendesah kasar karena sepertinya hubungan mereka itu hanya dirinya saja yang berjuang, sedangkan Ana terlihat Acuh Tak Acuh padanya jangankan untuk menghubungi dirinya lebih dahulu sekedar menanyakan kabar saja tidak pernah apalagi mengharapkan perhatian lebih dari itu maka bisa dipastikan sampai kucing bertanduk pun hal itu tidak bakalan terjadi.
hanya saja Alan tidak mungkin memaksakan kehendaknya karena takut bakalan membuat Ana tidak nyaman, akan tetapi jika dirinya diam saja Mungkinkah Ana bakalan menjauh atau memahami keinginannya sehingga bisa memahami dengan apa yang harus mereka lakukan agar hubungan mereka tidak hanya monoton seperti itu.
__ADS_1
Ana hanya bisa menghela nafasnya kasar karena sepertinya memang dirinya dari tadi sudah mengabaikan kehadiran Alan di situ, akan tetapi Ana tidak mau menjalani sebuah hubungan hanya karena keterpaksaan saja jika saja Alika tidak menolak keberadaan Alan tidak mungkin pria itu disini bersamanya sekarang.
Percuma saja menjalani sebuah hubungan jika masih saja terpaut dengan masa lalu, Ana ingin bahagia kalau memang bukan dari Alan tidak masalah karena dirinya yakin banyak pria di luaran sana yang bakalan lebih bisa dipercaya daripada pria itu.
" Jadi kamu maunya gimana, kalau memang kamu mau mau pergi aku tidak melarang kok? karena Biar bagaimanapun aku tidak bisa membiarkan pekerjaan ini terbengkalai begitu saja jika memang kamu tidak bisa menunggu, Entah kapan semua ini bakalan selesai itu juga aku tidak bisa menjanjikan untuk kamu? " jelas Ana dengan wajah datarnya sebab dirinya lagi tidak mood untuk diajak berbicara hari ini.
Alan hanya bisa mengusap wajahnya kasar karena dirinya tidak bisa menjawab apapun perkataan Ana barusan, karena dirinya yakin jika salah menjawab bisa dipastikan keduanya pasti bakalan bertengkar karena dalam keadaan mood yang tidak bagus.
" Apakah kehadiran ku di sini mengganggu kamu, sampai kamu menyuruhku untuk pergi begitu? padahal aku hanya ingin menemani kamu saja agar kamu lebih semangat kerja, dan juga tidak melupakan soal makan siang yang pastinya bakalan kamu Terlewatkan dengan tanpa kamu sadari sama sekali ! kalau memang kamu tidak menyukai aku disini Baiklah aku tidak mempermasalahkan hal itu, hanya saja demi Tuhan aku tidak akan pernah meninggalkan kamu dalam keadaan apapun!" tegas Alan sambil menatap sendu kearah Ana yang sedari tadi tidak mau menatapnya.
" Memangnya kamu harapkan apa dari hubungan ini, Terus kenapa kamu tidak mengurus perusahaan kamu atau Bila perlu kembali ke Kanada begitu? jika kehadiran kamu disini bahkan tidak membawa dampak apa-apa bagi perusahaan kamu kalau begitu untuk apa kembali, atau kamu hanya ingin datang dan memperjuangkan Alika setelah ditinggal baru kamu mau mencoba untuk mempermainkan perasaanku?" Ana benar-benar tak bisa menahan uneg-uneg yang berada dalam hatinya.
" kamu yakin berbicara seperti itu memangnya aku tadi Bicara apa sampai bisa meluber kemana-mana pembahasannya, bisa tidak jangan terlalu mencurigai seseorang tanpa alasan yang jelas hingga akhirnya membuat sebuah masalah yang sebenarnya tidak ada akhirnya mencuat ke permukaan?" tanya Alan Tak habis pikir.
" kamu yakin bicara seperti itu, sekarang aku tanya ke kamu sebenarnya apa tujuan kamu balik lagi ke sini kalau bukan karena Alika Dan juga perusahaan kamu? emangnya pernah kamu memikirkan aku barang sedikitpun, Memangnya pernah kamu mendahulukan aku daripada Alika?" tanya Ana sinis membuat Alan langsung bungkam karena bingung dirinya harus menjawab apa.
" Kenapa diam saja, pasti benar kan apa yang aku katakan barusan? jadi tidak usah sok pura-pura peduli ataupun melakukan sesuatu yang secara terpaksa, karena nanti akhirnya sama saja tidak ada yang bisa dipertahankan sama sekali karena dari awal sudah melangkah secara salah?" tanya Ana sambil tersenyum mengejek.
__ADS_1
Alan yang dari tadi duduk di seberang meja kerjanya Ana, langsung mendekati wanita itu dan menatap Intens ke arahnya hingga membuat Ana tak bisa berkutik, tanpa banyak bicara lagi Alan langsung menggendong tubuh mungil Ana dan duduk di atas pangkuannya.
" Kamu mau ngapain, jangan macam-macam ya kamu sama aku? Kamu pikir aku tidak bisa melawan dan mau saja kamu memperlakukan sesuka hati, Awas aja kalau kamu sampai macam-macam dan melakukan hal yang tidak-tidak karena aku bakalan tidak tinggal diam!" Ana mengancam Alan sambil menatap tajam ke arah pria itu tapi bukannya membuat nyali Alan menciut melainkan dirinya bertambah gemas dengan wanita itu.
Cup
Cup
Alan berkali-kali mengecup bibir Ana yang sedang cemberut karena merasa kesal dengan permintaannya tidak diindahkan sama sekali oleh pria itu, netra Ana membulat sempurna ketika Apa yang dilakukan oleh Alan barusan membuat kinerja jantungnya serasa ajep-ajep tidak jelas.
" kamu ngapain jangan macam-macam ya kamu, enak saja main nyosor sesuka hati. situ pikir aku ini tembok apa, Jadi tidak perlu meminta izin sama tuannya main Hajar saja?" tanya Anna Tak habis pikir membuat Alan hanya bisa tersenyum tanpa dosa.
" ya kan kita pacaran Jadi apa yang menjadi milik kamu ya miliknya aku juga dong, letak kesalahan aku di mana coba tidak ada kan? Jangan marah-marah Nanti cantiknya luntur loh, percuma melakukan perawatan mahal tapi wajahnya kerutan di mana-mana akibat tuannya terlalu paksa buat marah !" goda Alan membuat Ana bukannya merasa tersanjung malah bertambah emosi.
" aku kasih pilihan yang paling bagus kamu turunkan aku sekarang, atau aku buat kamu tidak bakalan bisa bergerak selama- lamanya?" ancam Ana sambil melototkan matanya tajam karena dirinya benar-benar diuji kesabarannya oleh Alan kali ini.
" aku tahu kamu itu penyandang gelar taekwondo sabuk hitam, hanya saja Masa sih kamu tega melakukan itu kepada pacar sendiri? kalau seperti begitu mendingan kamu bunuh sekalian saja biar harga diriku tidak tergadaikan sama sekali, apalagi kalau aku out di tangan kamu mah aku ikhlas! " ujar Alan memasang wajahnya sendu.
__ADS_1
Ana hanya menggelengkan kepalanya karena sepertinya berbicara dengan Alan itu harus butuh kesabaran, Soalnya dari tadi seolah tidak paham dengan apa yang ia katakan padahal sebenarnya tidak ribet ribet amat juga sih.
" Ya sudah kalau begitu ayo kita Jalan Ikuti apa yang kamu mau, kalau di sini terus lama-lama aku bisa tambah pusing dengan sikap kamu yang tidak jelas seperti begitu!" ajak Ana membuat Alan langsung senang ternyata hanya digertak sedikit wanita itu langsung menurut kalau begini kan dirinya tidak perlu memasang wajah memelas seperti tadi.