
Like N KOMENNYA
LOPE U FULL
LANJUT ***
flashback off
Alika masih belum sadarkan diri ketika Raka membawanya ke sebuah tempat yang asing, sedangkan Raka sedang membersihkan tubuhnya agar nanti saat bertemu Alika keadaannya sudah lebih fresh.
ketika pria itu sudah selesai mandi dirinya terkejut dengan panggilan masuk, dan ia yakin pasti itu para wanita yang selalu saja berteriak dibawa kukungan nya.
" ah Surga Dunia ku memanggil tapi mau bagaimana lagi jika nafas kehidupanku sekarang berada dihadapanku? Tanpa mereka aku masih bisa hidup tapi tanpa Alika Aku bisa mati, jadi untuk sekarang aku harus bisa berubah agar dia kembali padaku dan tidak ada pikiran dengan pria yang menjadi orang ketiga itu!" batin Raka penuh percaya diri.
sedangkan Daffa sudah seperti orang yang kesetanan karena mencari Alika kesana kemari tapi tak kunjung menemukannya, tak berselang lama juga panggilan dari Deka pun masuk membuat pria itu bertanya kesal.
" kalau sampai kamu menyampaikan kabar yang buruk lagi seperti tadi hari ini merupakan hari terakhir melihat matahari!" tegas Dafa dengan nafasnya yang turun naik dan sangat frustasi.
" saya sudah menemukan keberadaan Raka Alfian, dan dia ternyata mengikuti penerbangan tuan dan Nona Bos berikutnya jadi otomatis dia sekarang berada di Korea bersama dengan kalian. saya harap tidak ada masalah yang terjadi sekarang karena biar bagaimanapun....
" masalahnya sudah terjadi dan itu semua gara-gara keterlambatan kamu memberi informasi, Jadi sekarang juga saya suruh kamu datang kesini Karena istriku hilang!" tegas Dafa harus segera mematikan panggilan itu karena dirinya sedang kebingungan mau mencari Alika di mana lagi.
" pikir Dafa Ayolah berpikir, kok bisa-bisanya di saat seperti ini otak kamu menjadi lelet! aku harus menghubungi papa dan menanyakan kenalannya yang bekerja di sini di dunia bawah, karena Percuma saja aku mencari jika tidak mengetahui seluk beluk negara ini!" gumam Daffa monolog lalu kembali ke hotel karena dirinya yakin Raka benar-benar sudah mau bawa pergi istrinya di situ.
sedangkan di Indonesia, Alice merasakan seperti ada yang tidak beres Yang bakalan terjadi hanya saja dirinya bingung hal itu sebenarnya apa.
Dika yang melihat tingkah istrinya berjalan kesana-kemari layaknya setrikaan menjadi bosan sendiri, kok bisa-bisanya ya wanita itu melakukan hal yang aneh-aneh. padahal dirinya tadi sudah membujuk untuk membuat adiknya Alika tapi ditolak mentah-mentah, sekarang malah melakukan hal yang lebih unfaedah lagi kalau sudah seperti begini Mana berani dirinya berkomentar bakalan salah lagi.
" Mama kenapa sih kok bisa jalan kesana kemari seperti begitu, Memangnya ada yang Mama pikirkan sini kasih tau papa biar mungkin Papa bisa bantu Cari jalan keluarnya?" tanya Dika memastikan.
"Mama punya firasat buruk seolah mungkin nanti ada yang bakal terjadi,hanya apa itu Mama juga bingung sekali !" Ujar Alice dengan wajah yang begitu cemas.
"Mungkin hanya perasaan Mama saja kali,karena setahu Papa keluarga kita kan baik baik saja!" Sahut Dika berusaha membuat sang istri kembali rileks dan tidak berpikiran macam macam.
Padahal Dika sebenarnya juga merasakan perasaan yang sama,hanya saja dirinya berusaha tetap santai agar Alice tidak terlalu curiga yang berlebihan.
__ADS_1
"Mama ke kamar dulu ya Pah,soalnya capek sekali mau istirahat!" Pamit Alice yang terasa tubuhnya tidak semangat untuk duduk karena sedang memikirkan sesuatu yang entah apakah itu.
Dika yang melihat Alice sudah masuk kedalam kamar,langsung menghubungi Bey guna memastikan keadaan mereka baik baik saja atau tidak.
nomor yang anda hubungi sedang sibuk silahkan lakukan beberapa saat lagi!!!!
lu pada tahu kagak bahasa yang seperti begitu bikin autor kadang emosi, Bagaimana keadaan sedang gawat darurat sedangkan satupun panggilan tidak direspon sama sekali.
" ini Bey kemana lagi, kok bisa-bisanya panggilanku tidak direspon sama sekali? Semoga saja mereka baik baik saja, karena nanti apa yang harus kukatakan oleh Alice jika dia bertanya?" Batin Dika frustasi.
Sedangkan Bey kini tengah kebingungan menenangkan Mirna dan juga memberikan solusi untuk Daffa,karena kini hanya dirinya saja yang bisa berpikir jernih.
"Kamu hubungi Tuan Kim untuk membantu cari tahu keberadaan Alika,nanti Papa kirim nomornya.Terus nanti kalau ada perkembangan terbaru jangan lupa kasih kabar kesini,nanti Papa yang kasih tahu Deka untuk menyusul kamu kesitu!" Ujar Bey agar Daffa tidak terlau panik.
"Deka sudah aku suruh untuk menyusul,tapi satu yang mau aku katakan tolong Papa jangan kasih tahu ke Papa Dika dan Mama Alice.Karena aku tak ingin mereka jadi kepikiran,dan menjadi tidak tenang karena keadaan Alika sekarang." Pinta Daffa membuat Bey menghembuskan nafasnya kasar.
"Mama mau ikut kesitu,biar tidak membantu tapi setidaknya bisa memberikan solusi!" teriak Mirna yang ternyata dari tadi dirinya menghilang dikira Bey dirinya sedang menangis dikamar ternyata salah besar.
Wanita paruh baya itu terlihat membawa sebuah koper besar entah apa isinya,membuat Bey gagal fokus harus berbicara apa lagi.
"Ma,apa apaan ini? Kok bisa bisanya sudah berbenah begini,memangnya kapan Papa bilang kita bakal pergi?" Tanya Bey tak habis pikir.
"Ya sudah Kalau Papa tinggal biar Mama sendiri jalan,lagian kan tinggal duduk dalam pesawat doang bukan menyetir seperti mobil?" Ketus Mirna membuat Bey hanya bisa mendengus kesal.
"Tapi kan Mah,nanti kalau keluarga Dika dan Alice tanya kita harus jawab apa?" Tanya Bey.
"Kami juga ikut,bisa kita pergi sekarang?" Terdengar suara cempreng Alice dari pintu depan dengan menyeret kopernya.
Bey bertambah pusing memikirkan semua hal yang terjadi secara tiba tiba,tapi yang menjadi fokusnya adalah kok bisa Dika dan Alice datang memang nya siapa yang memberi tahu.
Flash Back On
Dika yang tengah duduk di ruang tamu memikirkan Bey yang tidak bisa di hubungi,padahal ia sangat berharap bisa memastikan keadaan mereka.
Derth derth derth Ponsel Alice yang berada di atas meja ruang tamu bergetar,membuat Dika merasa heran.
__ADS_1
Ketika melihat Id pemanggil akhirnya ia membawa ponsel Alice,karena dikiranya Mirna menghubungi istri nya Karena ada masalah soal wanita.
"Ma,Mirna ada telpon kamu nih!" Ujar Dika.
Alice yang sedang memegang majalah fashion langsung mengambil ponsel di tangan suaminya,kebetulan Dika juga belum menjauh jadi bisa mendengar jelas apa yang di bahas oleh Alice dan Mirna di seberang.
"Iya Hallo Mir,ada apa tumben telpon biasanya kan aku yang lebih dulu?" Tanya Alice penasaran.
"Laila hilang di Korea!" Ujar Mirna setengah teriak membuat Alice pun tak kalah histeris.
"Apaaaa?" Teriak Alice membuat Dika langsung mendekati Alice.
"Aku mau menyusul mereka ke sana,kamu mau ikut tidak?" Tanya Mirna memastikan.
"Kami ikut!" Sahut Alice lalu segera mematikan panggilan .
"Ada apa sih,kok teriak segala terus tadi aku dengar ada sebut nama Alika memangnya ada apa?" Tanya Dika heran.
" Alika hilang Papa,jadi Mama mau susulin mereka ke korea!" Sahut Alice Yang terlihat seperti bergetar tubuhnya mungkin karena memikirkan keadaan puteri semata wayang nya.
Dika langsung memegang pelipisnya karena benar benar tak habis pikir,kok bisa bisanya putrinya hilang di negeri orang.
"Ya Tuhan jaga putriku dimana dan bersama siapa dia kini!" Lirih Alice yang sudah bingung mau membawa apa untung juga Dika masih waras hingga membantu Alice.
"Sabar Mah,Tuhan pasti jaga dia dimanapun !" Sahut Dika sambil mengusap pelan bahu Alice.
"Tapi Pah,itu negeri orang nanti mau kemana kita cari dia coba. Sedangkan mitra bisnis kita saja tidak ada disitu,baru mau minta tolong kesiapa?" Tanya Alice sambil menitikkan air matanya.
orangtua mana yang akan tersenyum ataupun biasa saja ketika mengetahui darah dagingnya sedang dalam masalah, jika memang ada orang tua yang seperti itu bisa dipastikan mereka bakal menyesal Suatu Hari Nanti.
orang tua bakal menyayangi anaknya apapun kesalahan yang ia lakukan, meskipun sudah berkeluarga sekalipun karena kata orang zaman dahulu kasih orang tua itu sepanjang jalan.
** sebagai orang tua Tolong jangan pilih kasih apalagi selalu membeda-bedakan rasa kasih sayang, karena setiap anak diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan yang sudah dari lahirnya.
*** Tinggal bagaimana bijaknya orang tua itu menyikapi apa yang harusnya dilakukan kepada sang anak, malah dikucilkan dijauhi bahkan juga dikatakan Sampai sebegitunya. mental anak itu ditentukan oleh perilaku orang tuanya sendiri bukan orang lain, menjadi pribadi yang bertanggungjawab dan juga menyenangkan jika di dalam rumah ia diajari seperti begitu.
__ADS_1