MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN

MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN
episode 177


__ADS_3

anda tahu jika alam sangat merindukannya tapi dirinya juga tidak mungkin kan harus membantah apa yang diinginkan oleh mamanya sendiri, karena sebagai seorang anak berbakti kepada orang tua itu adalah hal yang paling mutlak dan tidak terbantahkan.


" kamu nanti tolong jangan lupa kasih kabar ke mama Sandra Sama Papa Alexis, agar mereka segera datang ke sini sebelum mama menjodohkanku dengan pria lain. " anak mengatakan hal itu sampai tertawa tetapi berbeda dengan Alan yang responnya sangat luar biasa.


" nanti kamu ngomong sama mama kamu kalau sampai dia menjodohkan anak gadisnya kepada orang lain aku bakalan menculiknya dan tidak akan memulangkan nya sama sekali, sampai Mama kamu itu menangis dan memberikan Restu kepadaku dengan cuma-cuma tanpa ada unsur paksaan sedikitpun apalagi mengeluh di belakang. " Alan membuat anak hanya bisa terkekeh geli.


" kamu ini kita ngomongnya apa kamu jawabnya apa jadi bingung sendiri orang lain untuk memikirkan ataupun mencerna sesuai dengan apa yang kamu kehendaki, aku harus balik ke rumah Soalnya dari tadi Mama marah-marah Katanya aku adalah anak pembangkang yang tidak mau mendengarkan orang tua berbicara sedikitpun. "mendengar anak yang bakalan pergi dalam waktu cepat membuat alam langsung lemas seketika Rindunya saja belum terobati malah sudah ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.


" aku perginya tidak bisa tunggu Lain kali saja Kenapa harus sekarang juga padahal kamu kan belum sampai 5 menit Disini, kalau sudah tanggung untuk pergi ya sudah sekalian saja genapkan buat 1 hari biar kalau dapat marah kan tidak setengah-setengah? "tanya Alan membuat Ana mendengus kesal karena sepertinya pria itu ingin membebankan segala sesuatu amukan Lia hanya kepadanya.


"itu mah enaknya di kamu susahnya dia aku. aku yang dapat marah kamu yang senyum, setidaknya kamu sekali-sekali bantuin aku agar tidak dimarahi sama mama Tapi yang ada eh malah kamu lepas tangan dan seolah berlari dari kenyataan. kalau ternyata calon mertua kamu itu adalah wanita galak!" Sungut Ana sambil mendengus kesal dan memilih untuk pergi ke arah kursi kebesarannya Alan dan duduk di situ.


Alan hanya berdiri menatap tak percaya ke arah kekasihnya itu. Bagaimana Tidak di sini yang menjadi bosnya adalah dirinya tapi, kenapa malah Ana yang duduk di kursi kebesarannya, hingga membuat pria itu ikutan menyusul ke arah Anna dan mengangkat wanita itu agar gantian duduk di pangkuannya dan dirinya duduk kembali di kursi kebesarannya itu.


" Lho kok kayak gini jadinya Aku kan pengen adem terus merasakan gimana sih jadi seorang pemimpin, Kamu orangnya kelebihannya pelit sampai sama pacar sendiri saja tidak ikhlas kursinya dipakai sedikit? "Sungut Ana tidak terima dengan Sikap yang ditunjukkan oleh Alan barusan.


" Aku bukannya pelit hanya ingin belajar agar besok lusa kita selalu berbagi suka dan duka berat dan ringan dirasakan bersama, biar terasa lebih ikhlas dan nikmat segala sesuatunya sesuai dengan keinginan tidak dilebih-lebihkan. "ujar Alan membuat Ana hanya bisa menyandarkan kepalanya di dada bidang memilih kekasihnya itu sambil mendengar Irama detak jantung pria itu.


" kamu sudah telepon papa Alexis sama mama Sandra buat datang ke sini atau belum, Soalnya kamu tahu sendiri kan Gimana keras kepalanya Mama kalau sampai apa yang disuruh tidak diikuti sama sekali ? " Tanya Ana pelan.


"sebenarnya kalau tidak ada halangan sama sekali rencananya Mungkin sebentar malam mereka bakalan sampai, Soalnya kamu tahu sendiri kan antusiasnya Mama ketika mendengar aku menyuruh mereka datang ke sini untuk melamar kamu secara resmi. "jelas Alan membuat Ana menghembuskan nafasnya lega karena akhirnya tidak ada halangan lagi untuk menyatukan hubungan keduanya akibat sifat overprotektif yang dimiliki oleh Lia itu.


" kalau begitu Aku senang dengarnya Soalnya kalau tidak Kepala aku tuh bakalan mu Met pagi siang sore malam menghadapi sikap Mama yang terlalu aneh, masa iya disuruh menunggu saja tidak mau Memangnya dia pikir jarak dari Kanada Indonesia itu dekat seperti dari Tanah miring ke Kota Merauke?' ujar Ana Ketus ketika mengingat sikap Mamanya itu yang selalu saja memaksakan kehendak padahal dirinya juga sebenarnya tidak tidur saja sih sementara mengupayakan hal itu dengan Alan.


setiap hubungan itu punya ujian dan cobaan masing-masing terkadang berjalan mulus sesuai dengan keinginan tapi juga terkadang berbanding terbalik dengan kenyataan, tetapi Percayalah sebuah hubungan yang di lalui dengan lika-liku penuh dengan jurang yang terjal itu adalah ciri hubungan yang paling kuat di masa depan karena mereka sudah mengalami yang namanya pengorbanan di masa awal.

__ADS_1


" kamu sudah ada kabar belum dari Alika? katanya Mereka pergi bulan madu kok sampai sekarang belum kembali juga jangan sampai kenapa-napa di sana, soalnya selama ini kan Alika tidak pernah kayak begitu hilang kabar sama sekali bahkan sampai berminggu-minggu. "perkataan Alan itu membuat Ana mengerutkan keningnya berbagai macam pikiran yang aneh-aneh mulai timbul dalam benak wanita itu Mungkinkah Alan masih menyimpan perasaan kepada sahabatnya itu.


" Maksud kamu mengatakan hal itu apa aku sepertinya gagal paham deh, kamu kan tahu kalau dia bulan madu itu sama suaminya kenapa malah kamu yang orang lain merasa cemas seolah dia itu adalah siapa-siapanya kamu? " tanya Ana sinis karena memang sikapnya Alan itu terlalu berlebihan sebagai seorang sahabat.


Alan hanya sambil Tersenyum Dalam diam karena sepertinya kekasihnya itu dalam mode yang tidak sehat untuk diajak bercanda. Padahal dirinya menanyakan hal itu atas dasar rasa persahabatan dan juga dirinya sedang terlibat kerjasama dengan perusahaan nya Dafa, jadi otomatis jika pemimpinnya terlalu lama kembali proyek kerjasama mereka itu bakalan mangkrak di jalan sebab tidak ada pembahasan lanjutan antara kedua pemimpin.


" Jadi ceritanya kamu sedang cemburu nih kepada Alika karena aku lebih mengkhawatirkan dirinya dibandingkan kamu yang jelas-jelas ada di hadapanku, jangan aneh-aneh deh pemikirannya yang ada kita bakalan berantem gara-gara masalah yang sebenarnya tidak ada dalam pikiranku sama sekali? "Goda Alan.


" Kamu kenapa percaya diri begitu seolah-olah aku memang sedang cemburu kepada kamu dan Alika, Emangnya kamu pikir pria-pria di dunia ini tidak ada lagi selain hanya diri kamu saja? Aku mah tidak peduli Jika kamu mau sama siapa saja soalnya kita berdua juga kan belum sah, Jadi bebas dong mau sama siapa saja Kapan saja dan dimana saja?' Tanya Ana santai.


" Astaga kamu kok bisa ya sampai punya pemikiran aneh seperti begitu seolah-olah aku ini memang tidak ada serius dengan hubungan kita, lain kali jangan seperti begitu dong aku kan jadi bingung harus mengambil sikap seperti apa lagi tentang hubungan kita ini kedepannya? " tanya Alan karena merasa aneh dengan Sikap yang ditunjukkan oleh Ana sekarang.


Ana hanya menghembuskan nafasnya kasar karena memang dirinya selalu saja merasa sensitif jika alam membahas tentang wanita lain meskipun itu sahabatnya sendiri, Mungkinkah keduanya merupakan manusia yang memiliki sifat over posesif tingkat akut dan itu bisa bahaya kedepannya jika sifat seperti itu tidak dihilangkan dengan segera.


" Kamu kan tahu sendiri kalau selama ini aku sama Dafa itu terlibat kerjasama sebelum dirinya menikah dengan Alika, Dan sekarang proyek kerjasama itu berhenti di tengah jalan karena tidak adanya tanda tangan Daffa dengan berkas-berkas yang akan dijalankan. jika selama ini Alika ataupun Daffa memberi kabar Otomatis kita bisa mengkonfirmasi Kapan mereka balik ataupun kelanjutan dengan proyek itu, sebab Biar bagaimanapun ribuan karyawan bergantung pada pekerjaan yang akan dilakukan jika tidak ada bendahara sedikitpun. "Ana seolah tak berminat dengan penjelasan yang diberikan oleh Alan karena memang sama saja dirinya tidak ingin tahu menahu soal pekerjaan alam yang kerjaannya hanya menatap kearah dokumen dan menandatanganinya serta setuju atau tidak.


Karena pekerjaannya di restoran itu hanya menjadi kerasa layak dihidangkan atau tidak ya kalau layak langsung dieksekusi tapi kalau tidak ya langsung disimpan di dalam tempat sampah, tetapi kalau Alan berbeda dirinya berputar seharian hanya ditemani oleh dokumen yang sebagai setumpuk nya untuk diperiksa apa sesuai dengan pengeluaran atau pemasukan kah tidak.


terkadang setiap orang itu punya skill masing-masing dalam menjalani pekerjaan mereka Meskipun begitu banyak angka yang harus dihitung semua itu bakalan selesai tepat waktu, hargailah apa yang kamu punya sekarang sebelum diambil dari mu dan tidak akan pernah kembali lagi kepadamu meskipun itu adalah sumber kehidupan mu sekalipun.


" Kamu kenapa malah diam setidaknya respon dong apa yang aku katakan barusan agar besok lusa kalau aku bertanya soal Alika kamu tidak bakalan marah-marah lagi, Karen urusannya bakalan berabe Kalau kamu marah-marah tidak jelas kepada aku padahal sebenarnya maksud tujuanku tidak sampai ke arah sana tapi kamu memaksakan diri untuk harus sampai ke arah yang tidak pernah aku bayangkan dalam hidup? " tanya Alan karena merasa heran dengan sikap diamnya Ana itu seolah penjelasannya tadi itu tidak ada gunanya sama sekali.


" yang bilang aku tidak merespon Apa yang kamu katakan itu siapa? soalnya aku diam itu karena pikirnya kamu bakalan ada kata lanjutan lagi,tapi ternyata aku hanya salah paham saja?" Ketus Ana membuat Alan bergidik ngeri karena cara Ana memandang nya itu.


"Aku pikir kamu itu masih mau marah marah ya maka nya langsung meminta respon kamu,soalnya orang kalau diam itu sangat menakutkan untuk dilihat dan juga di ajak bicara!" Kekeh Alan.

__ADS_1


"Aku mah biasa saja tuh,tidak ada yang spesial juga kok!" Ketus Ana santai.


Alan memilih hanya diam saja tidak usah sudah menjawab apa yang dikatakan oleh Ana karena nanti sama saja bakal menimbulkan konflik, Alan memilih diam karena Kasihan juga si Ana juga harus dijawab terus sedangkan wanita itu sekali-sekali ingin didengarkan bukan untuk di bantah.


" tadi waktu kamu kesini pamit sama Mama dan Papa gimana? soalnya aku penasaran sekali respon mereka, Pasti bakalan rame deh keadaan rumah kalian tadi pagi soalnya tahu sendiri kan sikapnya mama Lia Seperti apa? "tanya Alan begitu penasaran dengan sikap pria yang selalu saja tidak menyukai jika Ana berdekatan dengan dirinya.


" kamu pasti tahu dong tanpa perlu kujelaskan lagi gimana sebenarnya sikapnya Mama ketika aku ngomong kalau ketemu sama kamu, aku saja sampai kebingungan harus bicara apa supaya dia tidak marah-marah tapi karena aku pengen ngomong apa ya sudah aku langsung jalan saja tanpa pamit. " Jelas Ana santai membuat Alan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap kekasihnya itu.


" Astaga Apa yang kamu lakukan ini bisa membuat Mama tambah marah karena mengira bahwa aku yang menyuruh kamu pergi terus pamit, Kamu tahu kan setiap kali aku tidak melakukan sesuatu tetapi selalu menjadi tertuduh bahkan sampai-sampai lama-lama bisa dijadikan tersangka!": ujar Alan.


" Oh jadinya kamu tidak suka kalau aku datang ke sini ya sudah aku akan kembali ke rumah lagi dan tidak akan pernah kembali ke sini, soalnya sepertinya kehadiranku tidak diharapkan sama sekali sama semua orang entah mungkin dosa apa yang sedang kupikul sekarang ini? " Ana pura-pura marah padahal sebenarnya dirinya juga tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.


"Lho kamu kok marah Yang? Padahal aku kan hanya bertanya saja tanpa ada niat untuk melarang kamu,ayolah jangan seperti Itu lah!" ujar Alan sambil mentowel wajah Ana yang cemberut itu.


"Aku juga tadi hanya bercanda saja tidak ada niat yang lain juga kok,soalnya melihat wajah bingung kamu itu kan sangat menggemaskan!" Goda Ana membuat keduanya langsung tertawa tanpa peduli dengan semua berkas yang sedang menatap malu malu kearah mereka berdua.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Alan lagi.


" aku sih sebenarnya merasa lapar dari tadi Tapi kasihan sih sama asisten kamu yang tadi sudah sempat kena marah, jadi nanti setelah kita minta maaf ke dia baru kita menyuruhnya lagi biar impas kan . " Sahut Ana begitu santai membuat Alan kesal karena kekasihnya itu sudah lebih peduli pada orang lain apalagi yang dipedulikan itu merupakan seorang pria.


" Biarkan saja responnya dia seperti apa bukan seorang bawahan itu harus dimarahi jika sudah melakukan kesalahan, agar kamu yang sebagai pemimpin merasa disegani tidak merasa dipermainkan seolah tidak ada harganya sama sekali. "Ujar Alan dengan nada yang tidak begitu senang.


Dio yang berada di kantin mulai merasa cemas ketika merasa seperti bakalan ada bencana yang akan datang kepada dirinya, dan ini semua pasti akibat dari ulah majikannya itu sebab orang di dunia ini tidak pernah memperlakukannya seperti Alan.


" aku sepertinya merasa bakalan dicekik batang Leherku oleh Tuan Alan, tapi semoga saja Nona Ana bisa membantu agar nyawaku bisa selamat dan juga tetap berada di dalam badan!"Gumam Dio.

__ADS_1


__ADS_2