
Ana tidak tahu harus berbuat apa ketika melihat sikap Mamanya yang selalu saja marah marah tidak jelas, padahal sebenarnya dirinya juga hanya ingin lebih dekat dengan Alan bukan ingin keluyuran atau melakukan hal yang tidak-tidak dan alhasil apa yang ditakutkan Lia bakal menjadi kenyataan.
" maka dari itu sebagai orang tua harus percaya dong sama anak sendiri Bukannya malah mengatakan hal yang tidak-tidak, apa mau pikir Kami anak kecil yang bakalan melakukan sesuatu yang tidak memikirkan perasaan kalian sebagai orang tua? Tolong dong Setiap kali anak bergerak kasih dukungan itu yang terbaik bukannya malah membuat anak itu menjadi seperti terkekang, Padahal aku kan sudah besar padahal kan mau menikah terus Jalannya juga bareng sama calon suami sendiri bukan sama orang lain?" tanya Ana yang menang sudah tidak tahu lagi harus mengatakan hal apa agar Mamanya itu paham apa yang ia inginkan.
semua orang menatap ke arah Lia yang sedang mendesah kasar karena saya bingung harus menjawab apa keluh kesah putrinya tadi , sebab memang dia juga sadar kalau selama ini terlalu mengekang setiap kebebasan yang ingin dimiliki oleh Ana. padahal seharusnya itu memang harus terjadi setiap anak yang sudah dewasa dan juga Mulai ingin membangun komitmen dengan lawan jenis, sikapnya sebagai orang tua yaitu hanya mengarahkan saja ke jalan yang lebih benar agar tidak menimbulkan fitnah di tengah-tengah kehidupan mereka.
" Ya sudah kalau begitu Mama minta maaf sebab sudah membuat kamu tidak nyaman, Mama tidak akan mengulangi hal itu lagi hanya kamu juga tolong jangan berlebihan terlalu ya jika belum sah?" sahut Lia yang akhirnya memilih untuk mengalah karena demi kebahagiaan anak otomatis sebagai orang tua harus sedikit menurunkan ego agar anak rasa kasih sayang yang diberikan oleh orang tua itu tetap sama meskipun dirinya sudah dewasa dan sudah bisa dibiarkan menikmati kebebasan di luar sana'
Ana sebenarnya tidak tega menatap wajah mamanya yang terlihat begitu tidak sedap dipandang, entah apa yang sedang dipikirkan oleh wanita paruh baya itu dirinya saja bingung harus mencernanya seperti apa.
" aku yang harusnya minta maaf pada kamu karena sudah mengatakan hal yang tidak-tidak dan membuat wa menjadi kecewa kepada aku, aku janji bakalan mengikuti semua yang Mama katakan dan berjanji tidak akan mengulangi hal yang tidak tidak!" Jelas Ana sambil tersenyum.
Sebenarnya masalah dalam keluarga itu bisa selesai jika saling berbicara dan mengatakan hal harusnya dikatakan tetapi tidak saling menyakiti,jangan jadikan keluarga sendiri seperti orang asing dan juga menjadikan sebuah masalah kecil menjadi sebuah hal yang besar dan akhirnya saling berjauh-jauhan.
kalau memang sebuah masalah itu sangat besar dan juga kebingungan untuk jalan keluarnya cobalah tetap untuk menggunakan cara yang lebih kekeluargaan, Jangan menganggap diri selalu benar karena status keluarga yang dimiliki misalnya mungkin posisinya lebih tinggi.
karena tidak tega dengan Mama nya Ana memilih untuk beristirahat saja di rumah tidak kemana-mana bersama dengan Alan, dan syukur juga pria itu tidak mempermasalahkan hal itu sebab menurutnya tidak baik pergi keluar rumah ketika orang tua tidak menyetujui hal itu.
" Mas nanti jalan-jalannya kapan-kapan saja ya mungkin setelah menikah, soalnya sama saja kita juga bakalan lebih repot urusannya kedepannya jadi lebih baik sekarang simpan tenaga buat hari esok!" pinta Ana.
Alan menganggukkan kepalanya karena memang tidak merasa keberatan sama sekali dengan apa yang diinginkan oleh calon istrinya itu, masih ada hari esok masih panjang dan tentunya banyak kegiatan yang harus mereka lakukan. mereka berdua memang harus beristirahat secara total agar nanti saat hari H Tidak ada yang encok ataupun pegal linu karena terlalu banyak beraktivitas diluar, sebab menjaga kesehatan itu lebih penting daripada mencari masalah dan setelah itu bakalan runyam sebab memikirkan jalan keluarnya itu hanya membuat kepala pening.
di lain tempat Raka merasa heran ketika melihat sosok yang tidak asing sedang duduk di pinggir jalan sambil menikmati jajanan yang ada, hanya saja aku fokusnya lebih tertuju kepada perut yang sedikit membuncit wanita itu. padahal setahunya ya sudah lama sekali jadinya tidak berhubungan dengan wanita itu, masa iya sekarang sudah dalam posisi seperti itu?
" Dea, kamu kok ada di sini? Perasaan di sini kan jauh dari rumah kamu kok bisa bisanya kamu malah nongkrong, Apa kamu ada keperluan lain atau mungkin ada keluarga yang tinggal di dekat sini? " tanya Raka basa-basi bukan ingin mencari tahu lebih detail tentang wanita itu karena ada perasaan tertentu melainkan hanya sebatas kemanusiaan saja.
__ADS_1
" kalau aku ada di sini Memangnya kenapa tidak mengganggu aktivitas kamu juga kan? Lagian kita tidak ada hubungan yang bisa dibilang dekat karena hanya sebatas partner tertentu saja, jadi lebih baik urusi saja kehidupan masing-masing bukan saling kepo seperti itu? " Entah mengapa Dea terlihat begitu sensitif ketika berdekatan dengan Raka seolah pria itu merupakan musuh terbesar di dalam hidupnya.
" ya aku pernah bertanya saja kalau memang kamu tidak menyukai pertanyaanku Ya sudah tidak masalah, Jadi orang kok aneh aneh sekali ditanya baik-baik malah ngeyel! " sungut Raka lalu memilih pergi dari situ.
melihat Raka yang sudah semakin menjauh membuat Dea mendengus kesal, sebab wanita hamil itu merasakan sakit hati yang begitu dalam mengingat perkataan hinaan yang dilontarkan oleh Orang tua pria itu.
"Dasar orang tua sama anak tidak ada bedanya,selalu saja merasa diri benar dan tidak ada salahnya !" Omel Dea.
" Dasar orang tua sama anak tidak ada bedanya sukanya hanya menghina orang lain dan juga tidak pernah memikirkan perasaan orang Sedikitpun, aku sumpahin semoga Ditabrak sama mobil box biar langsung tewas di tempat agar itu kedua orang tuanya tidak sombong lagi! " sambung Dea lagi.
ketika sedang mengatakan hal itu tiba-tiba sebuah ucapan pelan mendarat di bahunya, membuat Dea menoleh ke belakang sambil tersenyum sebab dirinya yakin jika tangan yang sedang mengusap nya itu adalah orang yang bakalan selalu ada untuknya.
"Mas Tio,kok tahu aku ada disini?" Tanya Deka sambil tersenyum.
Pria dewasa itupun membalas pertanyaan Dea dengan senyuman,sebab biar bagaimanapun wanita yang ada di hadapannya kini itu tengah mengandung darah dagingnya.
" Ya habisnya itu orang tiba-tiba muncul terus menanyakan hal yang aneh-aneh, aku yang lagi menikmati makanan pun jadi tidak telan soalnya muncul di saat yang tidak tepat!" ujar Dea dengan wajah yang sangat tidak bersahabat.
"jadi pria itu yang selalu kau menceritakan selama ini, kenapa malah tidak berdamai dengan masa lalu supaya nanti menjalani masa depan sudah tidak terganjal dengan hal itu? bukan kamu Maafkan seseorang itu mudah Yang penting Kamunya bisa belajar ikhlas, yang penting Intinya kamu sadar jika Sekarang kamu sedang tidak sendirian ada kehidupan lain yang sedang kamu bawa! "jelas di o dan juga sekalian meminta pengertian Dea bahwa segala sesuatu itu sebenarnya bisa selesai jika tidak ada dendam.
"Terima kasih mas sudah mau membuatku kembali ke jalan yang benar dan tidak melakukan hal gila seperti hari kemarin, aku janji bakal melakukan semua yang kamu katakan dan juga tidak bakalan melakukan hal yang membuat kamu malu dan juga kecewa nantinya! "lirih Dea yang benar-benar mengakui sikap pria itu adalah seorang yang sangat bertanggung jawab dan tidak ingin lari dari perbuatan yang telah dilakukan.
"Aku kan selalu bilang ke kamu kalau aku bakal bertanggungjawab dengan semua keadaan yang menimpa kamu mulai dari sekarang, jadi otomatis Aku ingin kamu selalu berpikir positif pada lingkungan sekitar agar kamu tidak kenapa-napa. "jelas pria itu lalu mengajak Dea pulang karena hari sudah semakin siang dan dirinya harus kembali bekerja.
pria itu bukan seorang pemimpin perusahaan yang besar ataupun orang yang kaya raya yang memiliki segala sesuatu yang bisa untuk dibanggakan, tetapi Intinya cuma satu yaitu pria itu sangat bertanggung jawab dan ingin berkomitmen dengan seseorang meskipun dirinya tahu kalau kehidupan masa lalu Dea bukan hanya berhubungan dengan dirinya saja melainkan dengan banyak pria di luaran sana.
__ADS_1
namun Bukankah memberikan kesempatan kedua kepada seseorang itu adalah suatu hal yang wajib dilakukan jika memang orang tersebut ingin merubah, karena kita melakukan hal itu sama saja dengan menolong seseorang agar berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak masuk ke dalam jurang yang sama selama hidupnya.
"Memangnya bengkel lagi sepi ya sampai kamu datang menyusul aku ke sana, ingat menjadi seorang pekerja itu harus selalu patuh apa yang dikatakan oleh bos-nya bukannya malah keluyuran ke mana-mana?" tanya Dea penasaran.
" kamu tenang saja Tadi aku ke sini itu di sana lagi sepi dan juga suntuk menunggu pelanggan untuk datang ke tempat itu, maka dari itu aku memilih untuk menyusul kamu ke sini siapa tahu ada yang ingin kamu beli? "jelas Tio membuat Dea merasa menjadi wanita yang beruntung karena diperhatikan sampai segitunya.
"Aku jadi tersanjung Mas,tapi beneran deh tidak ada yang aku inginkan sekarang ini soalnya lebih baik daripada kita menghamburkan uang lebih baik menabung untuk biaya nikah sama lahiran nanti! "ujar wanita itu yang merasa bahwa masa lalunya tidak sama seperti sekarang ini yang dulunya suka menghamburkan apa yang ia dapatkan maka sekarang dirinya lebih memilih untuk perhitungan.
" tapi kalau misalnya saat kita nikah nanti tidak ada resepsi sama sekali kamu tidak keberatan kan, Soalnya kamu tahu sendiri kan kondisi keuangan aku seperti apa dan tidak memungkinkan hal itu terjadi? " Entah sudah berapa kali dia mengatakan hal itu tapi yang diinginkan oleh Tio adalah sebuah kejujuran dari Dea dan juga bukan sebuah keterpaksaan yang dilakukan.
" aku kan selama ini sudah ngomong ke kamu kalau tidak masalah menikah tanpa resepsi yang penting intinya sakral dan sah, Bukankah hal itu hanya bisa dilakukan jika memang orang merasa memiliki kelebihan dan juga keadaan yang mendukung? "Tio tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Dea barusan dan pertanda bahwa wanita itu Memang ikhlas menjalani hidup dengannya.
" sudah kalau begitu mah dari sekarang lebih baik kamu tenang di rumah tidak keluyuran ke mana-mana nanti anak kita yang bakalan kenapa-kenapa loh kan aku mah biarkan aku yang menjadi kerja dan juga mencari uang yang banyak agar kita bisa pindah dari kota ini dan memulai kehidupan yang baru!" Bujuk Tio.
karena memang pria itu berencana membawa Dea jauh dari situ agar tidak terhubung lagi dengan masa lalunya ,sebab jika ingin lebih maju maka otomatis masa depan lah yang harus di rencanakan bukan malah terpaku pada satu masa.
Ketika wanita yang biasa menjadi partner ranjang nya sudah menemukan sosok yang bisa menjaganya, berbeda dengan Raka yang masih saja terpaku pada sosok masa lalu yang tidak bisa dilupakan begitu saja.
namun dirinya juga tidak ingin melakukan kesalahan yang bodoh kembali terulang lagi sebab sudah cukup dirinya dihukum dengan cara tidak bisa terhubung dengan dunia luar beberapa waktu yang lalu,yang ada dalam pikiran pria itu sekarang yaitu membuat kedua orang tua nya tidak menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting. karena dirinya sekarang tidak mempunyai apapun yang bisa untuk dibanggakan apalagi untuk menjalani hidup yang lebih mewah dari sebelumnya, Ketika diketahuinya bahwa tempat Travel miliknya ternyata Sudah digadaikan oleh kedua orang tuanya hanya untuk membeli pernak-pernik mengisi rumah yang sangat tidak jelas.
mungkin karena mengendarai mobil dengan keadaan terlalu banyak pikiran membuat pria itu kehilangan fokus dan tidak menyadari jika ada mobil box yang sedang melaju dari arah yang berlawanan, alhasil berapapun menabrak kendaraan tersebut sehingga membuat kecelakaan tidak bisa terelakkan dan membuat mobil pria itu ringsek dengan masih ada dirinya di dalam kendaraan itu.
di rumah, Dinda yang sudah menyadari kesalahannya mencoba untuk menghubungi putranya itu tapi sayang tidak ada panggilan yang terjawab Dan hanya terdengar suara operator cantik yang menjawab dari seberang.
" Papa ini gimana kok Raka sama sekali tidak mengangkat panggilan dari Mama, apa dia benar-benar marah dan tidak ingin kembali Kerumah ini lagi? "tanya Dinda yang ingin menangis karena kebingungan memikirkan keberadaan putranya yang sama sekali tidak merespon panggilannya sama sekali padahal hatinya sedang sangat tidak tenang seolah ada hal yang akan terjadi kedepannya.
__ADS_1
Ricky hanya bisa mencoba menenangkan sang istri sebisanya meskipun dirinya juga merasakan hal yang sama, sebab kotak batin antara orang tua dan anak itu tidak bisa terelakkan dan otomatis hal itu pula yang membuat setiap orang tua bahkan merasa cemas ketika anak anaknya sedang tidak berada di dalam pengamatan.