
sambil ngedumel kesal Arin mengikuti langkah kaki Diana, sebab jika dirinya tidak melakukan hal itu sudah dipastikan Diana bakalan meninggalkannya.
" Astaga Diana bisa tidak jalannya di pelan-pelan sedikit, aku sampai kesusahan loh buat menyusulnya! kamu Jadi orang kok tingkahnya Barbar sekali, setidaknya jaga image lah di depan om-om biar tidak dikira sebagai wanita yang sifatnya absurd!" ujar Arin kesal karena meskipun dirinya sudah berbicara dengan setengah berteriak tidak dihiraukan sama sekali oleh Diana.
" kamu kalau berbicara terus bakalan kutinggalkan Disini, Memangnya kamu pikir aku sudah tidak punya kesibukan lain lagi selain mendengar perkataan kamu yang tidak jelas itu?" kesal Diana dengan sikap Arin yang menurutnya terlalu manjalita.
" ya makanya kamu juga jangan terlalu lebay deh soalnya aku bukannya tambah kasihan malah tambah jengkel melihat kamu, Jadi orang kok terlalu kentara sekali butuh perhatian!" sungut Diana kesal melihat sikap Arin yang jauh dari kata sempurna padahal dirinya tidak berkaca malah lebih parah.
" ya kamu kok seperti begitu jawabannya tidak ada rasa persahabatan begitu, padahal seharusnya Aku adalah orang yang kamu bela dalam keadaan apapun!" ujar Arin tak terima dengan perkataan Diana tadi.
" Ya sudah kalau begitu lebih baik diam agar aman tidak perlu membahas sesuatu yang tidak penting lagi, hanya membuang tenaga dan pikiran dan juga tidak ada faedahnya sama sekali!" tegas Diana lalu segera masuk ke dalam mobil tanpa menunggu Arin lagi yang sedang menatap cemberut ke arahnya.
sebenarnya interaksi mereka berdua dari tadi itu diperhatikan oleh Deka dari arah parkiran yang lain, pria dewasa itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua Gadis itu yang tidak sadar dengan tempat ketika berdebat.
" dasar wanita aneh sukanya melakukan hal yang tidak-tidak tanpa memikirkan perasaan malu sama sekali, semoga saja kedepannya aku tidak berhubungan lagi dengan manusia seperti itu karena jika tidak bisa dipastikan hidupku bakalan blangsakan!" gumam Deka monolog lalu memilih pergi dari situ.
setelah memastikan Arin sudah menggunakan seatbelt Diana pun melajukan kuda besinya kembali ke hotel, rencananya besok mereka bakalan kembali ke tanah air karena sudah dipastikan mood mereka berdua sudah hancur jika berlama-lama di tempat itu.
" besok kita jadi pulang?" tanya Arin memastikan.
" Kenapa bertanya seperti itu, jangan bilang kamu ingin membatalkan rencana kita buat pulang hanya karena ingin bertemu sama om-om itu?" tanya Diana sambil mendelik kesal membuat Arin menatap tak percaya ke arah Cs nya itu.
" Ih kamu kenapa malah menuduh aku seperti begitu seolah-olah kamu adalah seorang cenayang yang bisa membaca pikiran semua orang, Lagian apa salahnya sih tinggal menjawab saja orang aku kan bertanya baik-baik?" tanya Arin balik karena tidak menyukai dengan jawaban yang diberikan Diana tadi.
" Oh aku pikir kamu bakalan meng-cancel jadwal kita lagi, ingat loh Kamu punya Cecep di sana Memang nya tuh anak orang mau taruh di mana?" tanya Diana sambil tersenyum mengejek membuat Arin mendengus kesal karena biarpun tanpa dikatakan dirinya juga tahu diri dan sadar status.
" tidak perlu Kamu ingat kan aku itu sudah selalu tersimpan di dalam memori Aku tidak akan pernah tergantikan, jadi jangan pernah menyebut tentang kesayanganku itu sebab nanti kasihan anak orang bakalan batuk sampai bodoh!" jelas Arin membuat Diana ingin sekali tertawa karena pemikiran kuno kolot masih saja di bawah di zaman modern seperti begini.
" Ya ampun aku pikir kamu itu cewek zaman now Jadi tidak pernah tergoda sama pemikiran cuman opa opa dulu, nyatanya pemikiranku tuh salah besar Soalnya kamu itu jiwanya cewek tapi pemikirannya nenek-nenek yang Sepertinya harus dibenahi biar sedikit lurus!" ledek Diana namun tak digubris sama sekali oleh Arin karena bisa dipastikan wanita yang di sampingnya itu akan semakin besar kepala karena merasa dirinya terpojokan dan tidak tahu harus menyahut apa lagi.
__ADS_1
" Nah karena dari tadi membahas soal aku kenapa sekarang kita tidak ganti topik yaitu membahas soal kamu, soalnya Sepertinya kalau membahas soal kamu sama si om pasti bakalan keren kedengarannya?" tanya Arin sambil menaik turunkan alisnya membuat Diana menatap heran.
" kamu lebih baik tidur terus nikmati kehidupan kamu jangan membahas sesuatu yang tidak perlu untuk dibahas, Lagian Menurut kamu apa bagusnya situ om om tidak ada yang spesial juga kok?" tanya Diana tak paham dengan isi pemikiran sahabatnya itu.
" Cie yang sekarang bilang tidak ada spesial nanti besok lusa kalau jadi spesial baru nyaho karena sudah telan ludah sendiri, asal kamu tahu ya cinta sama benci itu beda tipis loh ibaratnya nih kayak kertas jadi kalau kebahasaan sedikit langsung deh menyatu!" goda Arin lagi membuat Diana merasa gemas dengan wanita yang berada di samping yaitu untuk menjaga dirinya sedang menyetir Coba kalau tidak entah apa yang sudah terjadi.
" satu kali lagi Kamu bicara apa bisa pastikan kamu tidak bakalan bisa ngomong lagi sepanjang hidup kamu, soalnya setiap kali kamu bicara itu selalu saja mengundang masalah tidak pernah membawa kebahagiaan bagi orang yang mendengarkannya!" ancam Diana membuat Arin bergidik ngeri karena sepertinya Sahabat nya itu sedang tidak bisa diajak buat berkompromi.
kini keduanya pun tidak tahu lagi membahas apa maka memilih diam adalah jalan yang terbaik daripada nanti bakal akhirnya ribut, bisa dipastikan nyawa keduanya bakalan melayang karena dia na kalau sedang marah biasanya bakalan ngebut saat membawa kendaraan.
sedangkan Deka sedang menikmati kesendiriannya dengan melihat sekelilingnya yang penuh dengan wanita bermata sipit dan berkulit putih bening dan mulus, tanpa gangguan seorang Diana gadis mungil yang suaranya melebihi speaker aktif Kalau saat berbicara.
" kenapa aku merasa hidup ini lebih tenang ya tanpa gangguan wanita cempreng itu, semuanya terasa lebih indah kalau hidup ini tanpa gangguan sedikitpun!" gumam Deka sambil tersenyum sendiri layaknya orang yang sepertinya baru mendapatkan kebebasan.
tanpa pria itu sadari jika sebenarnya kehadiran seorang Diana pelangi itu begitu berpengaruh dalam hidupnya, karena dirinya lebih menjadi pribadi yang sedikit cerewet dibandingkan seperti biasanya.
Arin yang melihat Diana membawa mobil dengan keadaannya melamun membuat dirinya sedikit was-was, sebab masih banyak planning yang sudah ia rancang dalam hidupnya tinggal pembuktiannya saja dan belum ingin mati muda.
" Hey Nona muda kalau menyetir itu memang bagus kalau fokus Tapi parahnya kalau sedang melamun karena nyawa jadi murah lho, kalau kamu mau tewas jangan ajak-ajak dengan aku dong soalnya di rumah aku kan sudah ada yang menunggu!" Sindir Arin yang tak terima jika Diana berperilaku seperti itu dirinya merasa sedikit cemas.
" Terus menurut kamu Aku juga pengen mati muda begitu, Lain kali kalau ngomong itu Jangan asal jeplak saja dong aku kan Lagi fokus bukannya melamun? Lagian mana ada sih orang gila yang mau melamun sambil menyetir, sembarangan saja kalau ngomong selalu bikin orang darah tinggi nya pada kumat!" Arin menatap tak percaya ke arah Diana yang dari tadi selalu saja sensitif ketika dirinya ajak bicara sebenarnya kesambet setan apa sih wanita yang ada di sampingnya itu karena diajak bicara secara halus malah cara menjawabnya itu kasar nya minta ampun kayak emak tiri yang kalau lagi marah tidak pernah pikir pikir.
" kamu Kalau bawaannya tiap hari marah-marah begini aku jadi ngeri sendiri loh, soalnya setiap kali diajak bicara cara menyahut nya itu loh bikin orang hanya mengelus dada!" sahut Arin Sambil tertawa kecil karena memang wajah Diana kali ini benar-benar tidak bersahabat berbanding terbalik dengan kebiasaannya selama ini.
" sebahagia kamu lah mau ngomong apa aku mah no comment, soalnya hasil akhir pasti bakalan salah lagi kan dan juga kamu bakalan berpikir yang tidak-tidak!" ujar Diana.
sebenarnya segala sesuatu dalam hidup itu tidak ribet sih tergantung orangnya mau bawa ke arah mana kehidupannya, manusia hidup itu punya masalah Siapa bilang sih orang hidup tidak ada masalahnya. hanya saja bijaklah dalam mengambil sikap agar masalah yang sedang kamu alami tidak menjadi bumerang balik untukmu, kalau sampai Setiap orang selalu heboh ketika ada masalah yang dihadapi gue pasti kan Bro Rumah Sakit Jiwa bakalan penuh dengan orang stres.
Ya iyalah jelas Rumah Sakit Jiwa bakalan penuh karena kalian pasti tahu dong di sana itu tempatnya apa ya itu tempatnya orang stres, terus pertanyaannya orang stres itu karena apa ya karena masalah kan? jadi santai saja dalam mengambil sikap tidak perlu dibikin huru-hara seolah tidak ada jalan keluarnya lagi, Tuhan menciptakan otak manusia itu untuk berpikir bukan untuk menjadi pajangan saja untuk menyempurnakan diri.
__ADS_1
manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna karena penyempurnaannya adalah Tuhan Semata, Jadi jangan terlalu membanggakan diri dengan apa yang dipunya karena nanti kalau diambil bakalan stres dan juga kebingungan harus bersikap seperti apa lagi.
so calm down!!!!
Raka sekarang sedang kebingungan harus bersikap seperti apa dalam menjalani hidupnya, seorang pria yang terbiasa hidup di kota metropolitan ini dipaksa tanpa menanyakan keinginannya harus hidup di daerah terpencil jauh dari keramaian apalagi alat telekomunikasi pun tidak ada.
marah so pasti ada kecewa jelas, tapi mau bagaimana lagi semua sudah terjadi otomatis dirinya harus menghadapi hal itu meski sebagian besar hatinya tidak ikhlas untuk menjalaninya.
belum lagi dirinya yang merupakan seorang maniak tidak bisa hidup tanpa menyalurkan kebutuhan biologisnya, padahal sebenarnya ada berbagai cara yang bisa dilakukan seperti salah satu contoh ada sabun cair Bro Pakai saja.
seperti pepatah yang mengatakan tidak ada akar rotan pun jadi, lah kira-kira begitulah silakan menggambarkannya menurut definisi anda Soalnya autor ini anak baik tidak berani ngomong yang berbau 21 +.
Keesokan paginya di kediaman Silvana kedua anak manusia itu anteng masih menikmati tidur mereka, bahkan rencana dari awal bahwa Alan harus pergi pagi-pagi sekali dari tempat itu tidak terjadi sama sekali sebab satupun dari mereka tidak ada yang sadar dengan waktu.
berbeda dengan Lia yang sudah memegang kemoceng menunggu kehadiran Alan dan Ana, namun sudah lebih dari setengah jam wanita paruh baya itu mondar-mandir di hadapan kamarnya Ana satu pun belum ada yang keluar.
" ini anak-anak ini tidur atau mati sih kok sampai sekarang belum muncul juga, jangan bilang mereka tadi malam begadang sampai pagi sehingga lupa waktu? oh demi Dewa Neptunus yang bersemayam di kerajaan Yunani jangan bilang mereka berdua tadi malam melakukan hal yang tidak-tidak, kalau sampai hal itu terjadi bakalan ku penggal anak kurang ajar itu yang sudah menghancurkan isi otak anakku!" gerutu Lia yang Bahkan terlihat seperti setrikaan berjalan kesana kemari tanpa ada kejelasan sama sekali.
Andra hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya itu yang benar-benar sangat mengerikan Ketika dilihat secara baik, Bagaimana tidak wajah Lia itu begitu tidak bersahabat seolah-olah ingin menerkam hidup Alan ataupun Ana yang bakalan keluar dari depan kamar.
" mama, kenapa malah berdiri Bengong di situ? setidaknya urus dong sarapan papa daripada melakukan sesuatu yang unfaedah, Mama itu punya suami jadi yang mesti Mama perhatikan yaitu Papa bukannya orang lain!" bujuk Andra agar istrinya itu berubah pikiran dan segera menjauh dari situ sebab Matanya sakit melihat pergerakan wanita itu yang sudah bertahun-tahun menemaninya selama ini.
bukannya menyadari kesalahannya Lia malah menatap tajam kearah suaminya yang sudah mengganggu ketenangannya dari tadi, dirinya tidak menyukai sikap Andra yang menurutnya terlalu lemah dalam bertindak sehingga membuat orang lain bakalan semena-mena pada keluarga mereka.
" papa kalau rasa lapar sendiri urus diri tahu kan posisi dapur ada dimana tidak perlu harus Mama yang menyiapkan semuanya sedangkan Mama lagi ada urusan penting, jadi suamiku Manja banget sih mesti apa-apa harus diurus oleh istrinya memang ya papa pikir Mama di sini itu diambil sebagai pembantu atau istri sih?" Wah ternyata puluhan tahun baru kali ini Andra mendengar istrinya mengeluh dan parahnya bukan mengeluh karena capek ternyata hanya ingin mengamuk di pagi-pagi seperti begini.
" Astaga istriku sayang, Papa Memang sih benar ambil Mama itu untuk istri bukan sebagai pembantu hanya saja tidak ada salahnya dong jika menjadi pembantu untuk suami sendiri? lagian selama ini yang urus makan minumnya papa kan Mama bukan orang lain, kecuali Papa punya dua istri Ya sudah kalau yang satu lagi sibuk bisa istri yang lain!" perkataan Andra itu membuat Lia yang tadi hendak memarahi Ana berubah jadi haluan menjadi ingin sekali mengajar kepala Andra itu akan sadar dengan apa yang dikatakannya.
" Oh jadi ceritanya Papa selama ini nih Sudah ada keinginan buat mengambil istri satu lagi, terus mama mau dikasih madu begitu? Wah lain kali kalau ngomong pikir-pikir dulu, Soalnya mama juga masih muda loh masih segar jadi kalau mau punya suami satu lagi juga sepertinya tidak masalah?" tanya Lia sambil tersenyum mengejek membuat Andra menatap heran ke arah istrinya itu.
__ADS_1