MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN

MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN
episode 147


__ADS_3

Diana hari ini tidak ingin marah-marah makanya dirinya memilih hanya tersenyum saja menanggapi apa yang dikatakan oleh Arin, sebab kebahagiaannya yang sekarang tidak ingin dirusak oleh apapun yang terjadi.


" Terserah kamu mau ngomong apa yang penting intinya aku hari ini sedang bahagia, jadi tolong jangan mengatakan apapun yang merusak kebahagiaanku itu ya? kalau kamu lagi galau noh pergi duduk di balkon menggantikanku Siapa tahu setelah kembali ke sini otak kamu lebih kinclong, soalnya aku saja langsung mendapatkan inspirasi sehingga kembali kesini sudah tidak ingin marah-marah lagi sebab pikiranku sudah segar kembali!" perintah Diana membuat Arin ingin sekali marah-marah karena dari tadi sudah berulang kali disindir oleh Diana tentang keberadaan Cecep Masduki tidak mau memberi kabar padanya.


" awas aja kamu ya kalau sampai Ayang Cecep kasih kabar ke aku tentang keberadaannya nanti Saat kalau aku ketemu Terus romantisan di depan kamu jangan galau ya, soalnya biasanya pembalasan itu bakalan lebih kejam daripada Apa yang kamu lakukan kepadaku sekarang! " Arin sih masih tetap optimis karena menurutnya dirinya tidak punya masalah sama sekali dengan kekasihnya itu..


" Ya sudah tidak masalah juga sih kalau memang besok lusa saat kalian ketemu kamu yang gantian galau ingat ya jangan pernah menangis di depanku sambil minta tolong, karena aku sedikitpun Tidak bakalan membantu ataupun menoleh kearah kamu orang itu kan sudah nasib kamu Siapa suruh ditinggal lagi pas sayang-sayangnya ya sudah Si Cecep pilih ke arah tikungan lain saja kan yang selalu ada buat dia!" oh sumpah demi Dewa Neptunus Diana memang mulutnya kelewat jujur padahal dirinya tidak sadar jika Arin itu selalu menemani orang untuk ke mana-mana yaitu orangnya adalah dia sendiri.


" kamu sadar tidak dengan apa yang kamu katakan barusan, aku itu terpaksa harus meninggalkan dia terus karena kamu yang selalu saja minta ditemani ke pelosok dunia manapun? bukannya Terima kasih sebagai seorang sahabat yang sejati ih kamu malah ngeyel pula, itu mah enaknya di kamu sengsara nya di aku?" sungut Arin tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Diana barusan.


" ya makanya kamu juga jangan mencari masalah denganku dong masa iya aku punya mulut tapi tidak digunakan buat ngomong, Kalau kamu tidak tega mengatakan hal yang membuat aku emosi ya makanya aku juga bakal tidak tega mengatakan hal yang membuat kamu kesal!" Arin hanya bisa menghela nafasnya kasar karena memang apa yang dikatakan Diana itu tidak ada salahnya jika dirinya selalu saja memancing keributan dengan menyebutkan status Diana yaitu jomblowati sejati.


" Ya sudah Maafin aku ya Tadi sudah ngomong yang bikin kamu kesal tapi Percaya deh aku selalu ada untuk kamu kapanpun dan dimanapun, kamu jangan marah-marah lagi ya apalagi mau pengen pulang tanpa mengajakku seperti tadi aku kan rasa-rasanya seperti seorang sahabat yang Tak Dianggap?" ujar Arin sok puitis.


Diana tersenyum sambil menganggukan kepalanya karena dirinya juga sebenarnya tidak tega berkata kasar kepada sahabat rasa saudara nya itu, karena Biar bagaimanapun sosok Arin selalu ada disaat dirinya membutuhkan bukan seperti keluarganya yang hanya menyiapkan materi tanpa dibarengi dengan kasih sayang yang begitu melimpah kepadanya.


" maafin aku juga ya tadi sudah bikin kamu mau nangis Soalnya kamu juga cengeng sih, nanti saat kita kembali baru kamu cek kenapa sampai Si Cecep Cecep nya kamu itu tidak mengangkat panggilan sama sekali? doakan saja semoga dia di sana tidak nakal Soalnya kamu di sini kan kalau tidak nakal ya buktinya aku lho saksinya, Jadi sekarang Tolong jangan terlalu dipantengin tuh hp-nya apa enggak sayang Itu barang bakalan stres karena kamu belai terus?" goda Diana membuat Arin tertawa karena bahasa terakhir yang diucapkan oleh sobatnya itu sungguh sangat menggelikan.


Ya iyalah jelas dirinya tertawa karena dari dulu sampai sekarang itu yang namanya ponsel Android pasti hanya bisa dielus tanpa bisa ditekan, jadi kalau sekarang dirinya fokus mengelus benda persegi itu ya dimaklumi saja karena memang itu yang harus dirinya lakukan.


" Oh iya kamu rasa lapar Tidak sih soalnya aku udah kelaparan nih, atau gimana kalau kita jalan-jalan siapa tahu ada yang jual jajanan di pinggir jalan biar mudah untuk alas perut daripada buku cantik tapi lapar kan sungguh sangat menyiksa?" tanya Arin sambil memegang Kampung tengahnya yang dari tadi sudah berdisko mengajak tuannya untuk pergi memberikan kekuatan padanya.


" ya Kenapa sih kita itu selalu Sehati karena memang apa yang kamu rasakan itu juga yang tengah aku rasakan sekarang, ya sudah kita jalan sekarang daripada nanti lebih malam lagi kan rasanya tidak begitu bagus!" ajak Diana lalu keduanya segera pergi dari situ.

__ADS_1


ketika Arin menutup pintu kamarnya terlihat DK disamping pun juga Anda keluar dan sedang mengunci pintunya juga, tatapan keduanya bertemu tapi segera mungkin dihentikan oleh Diana Karena Wanita itu sedang tidak ingin mood nya hancur!


" Halo om, mau keluar juga? kebetulan nih soalnya kita berdua juga mau keluar pengen cari makan soalnya lapar, Om juga mau cari makan sama seperti kita ya? " tanya Arin kepada Dika yang dari tadi hanya diam saja sambil menatap kearah Diana yang seolah-olah tak peduli dengan keberadaannya.


ingin sekali Diana menyumpal mulut sahabatnya itu yang begitu lemes sehingga kelebihan jujur dan akhirnya membuat orang lain tahu rencana mereka berdua, Diana menatap tajam kearah Arin seolah memberi kode lebih baik Mereka pergi dari situ tapi Arin sepertinya tak paham dengan apa yang dilakukan oleh Diana itu.


" ini anak lama-lama aku hajar juga ya kenapa jadi sok peduli sama orang yang tidak jelas seperti dia itu, orang tidak ditanya juga kok malah ngejawab dengan begitu jujurnya?" sungut Diana dalam hati tapi Arin mah Masa bodoh karena menurutnya mempunyai sikap ramah itu adalah cerminan hidup wanita yang berkelas.


DK memaksakan senyuman ke arah Arin yang terlihat begitu ramah dibandingkan Diana yang stay cuek dari tadi seolah tidak memperdulikan kehadirannya sama sekali, Padahal tadi wanita itu begitu ngegas menghina harga dirinya sebagai seorang pria yang bermartabat.


" Oh ya ya kalian tahu Lapar juga saya pikir badan yang sekecil kalian ini tidak tahu makan sebab yang dikasih makan itu hanya cacing-cacing doang, tapi ternyata laper juga ya syukurlah kalau tidak ada yang diet sebab kalau tidak bisa dipastikan makan banyak saja tetap kurus apa lagi diet mah tinggal kulit bungkus tulang jadinya!" Sindir Deka membuat Diana yang tadi tidak peduli mendadak menghentikan langkahnya.


" kamu itu lain kali kalo ngomong lihat orang dong yang mana monster dan yang mana manusia, masa orang yang mirip sama ma Kanebo kering Kok kamu ajak bicara nggak ada kerjaan aja sih kamu ih? " ujar Diana sambil menatap kearah Arin gemas membuat Arin akhirnya menyadari kesalahan yang telah dirinya lakukan sehingga membuat Diana murka.


Karin hanya tersenyum kikuk karena sudah termasuk di dalam perang dingin antara kedua orangnya itu, padahal yang dirinya butuhkan sekarang ini adalah ketenangan yang tidak diganggu oleh siapapun.


akan tetapi sebelum Deka menjawab Diana sudah memotongnya terlebih dahulu.


" tiada yang namanya pertemuan berikut-berikutnya lagi karena ini adalah pertemuan kita yang terakhir, semoga saja saat kembali ke tanah air lagi kita sudah tidak saling mengenal dan juga tidak bertemu seumur hidup! " setelah mengatakan hal itu selalu tanpa perasaan Diana menarik tangan Arin agar ikut dengannya karena jika tidak Cs nya itu bakalan mengajak Deka ngobrol lagi.


" Astaga pelan-pelan dong jangan tarik-tarik begini Aku bukan kerbau loh yang enak saja kamu tarik kesana kemari, Jangan setega itulah sebagai seorang sahabat tangan aku sakit nih!" kesal Arin membuat Diana merasa bersalah kepada sahabatnya itu tapi juga merasa kesal karena ariantari terlihat begitu akrab dengan Deka padahal jelas-jelas pria itu sangat menyebalkan di matanya.


" habisnya Siapa suruh kamu tadi akrab banget sama dia kamu tahu kan kalau dia itu adalah rivalku yang paling Kubenci, Lain kali kalau mau ngajakin orang ngomong lihat dulu sikapnya selama ini apa sopan atau menganggap kamu ada atau tidak?" Arin hanya bisa menghela nafasnya kasar karena bingung juga sih harus menjelaskan apa kepada Diana na na agar wanita itu bisa paham.

__ADS_1


keduanya pun melupakan masalah mereka berdua sesaat karena biar bagaimanapun Hidup itu harus dijalani bukan untuk diratapi, Percuma saja Tuhan memberikan nafas kehidupan kemudian otak untuk bisa berfikir jika semua itu tidak dihargai sama sekali.


sedangkan Alan kini tengah uring-uringan dikantornya sebab biasanya dirinya datang ke tempat itu setelah semua karyawan pulang, tapi berbeda hari ini karena dirinya datang tepat disaat para karyawan masuk kantor.


Kalau sudah seperti begitu otomatis Alexis Papanya bakalan bangga karena memiliki Putra yang sudah sangat pantas disebut sebagai seorang pemimpin, padahal tanpa pria paruh baya itu ketahui jika Sang putra itu hanya melakukan hal itu setengah hati tidak ada yang setulus hati ataupun sepenuh hati.


" Yaelah aku kalau aku datang ke kantor sepagi ini kelihatan Seperti sudah orang tua, Padahal aku kan belum menikah laku saja sudah hanya OTW pernikahannya yang belum?" kesal Alan lalu memilih masuk lalu memilih masuk ke ruangannya dan menghubungi sekretarisnya untuk membawakan jadwalnya hari ini.


namun tanpa akan ketahui jika dari tadi ada sepasang mata yang menatap Intens ke arahnya, mata yang terlihat begitu mengagumi sosok yang dilihatnya bahkan mungkin bisa dibilang sangat terobsesi untuk memilikinya'


" Aku tidak ingin hidupku begini terus tidak dianggap oleh orang-orang sekitar dan juga tidak dihargai karena merupakan wanita paling miskin, Percuma saja doang kalau sudah bersusah payah bekerja di sini tapi tidak bisa menggaet bosnya! pokoknya Hari ini aku tidak boleh gagal karena hanya ini adalah satu-satunya cara untuk membuat aku menjadi seorang nyonya besar, Persetan dengan anaknya Tuan Andra Slavia itu karena biar bagaimanapun yang lebih pantas berada disampingnya yaitu aku Bella belia!" gumam wanita itu dalam hati.


rekan kerjanya yang berada di sampingnya itu menatap tak percaya ke arah Bella yang dari tadi tatapannya tidak pernah lepas dari Alan, padahal sudah seantero tempat itu mengetahui jika Bos tempat mereka bekerja itu sudah memiliki kekasih dan merupakan sosok wanita yang begitu Mandiri.


" eh Bella kamu itu sadar diri dong kalau orang yang sudah terbiasa makan dengan sendok emas mereka itu bakalan lebih cocok dengan orang yang sama, bukan seperti kita yang tahu punya memegang kemoceng sama sapu tidak ada kata pantas robot manusia seperti kita ini untuk bersanding dengan mereka yang merupakan keturunan sultan!" tegas Nadia yang merupakan rekan kerjanya Bella.


Bella mendengus kesal ketika ada yang sudah seolah menasehati dirinya padahal wanita di sampingnya itu bukan wanita benar juga kan, karena kalau wanita itu benar tidak mungkin kan mau jadi pelakor yang lagi membahana seantero negeri.


" kamu kalau mau menasehatiku sadar diri dong Memangnya sudah benar jadi orang, Lain kali kalau ngomong itu dipikir dulu apa sudah pantas atau belum Soalnya jatuhnya itu memalukan banget loh!" Ketus Bella yang sama sekali tidak ingin ada yang mengganggu kesenangan nya sekarang ini.


" aku itu hanya mau mengingatkan kamu saja tentang ke-2 orang tua kamu yang membutuhkan makan dan minum, Terus kamunya juga sudah dikasih pekerjaan enak jangan seolah melupakan hal itu kalau pekerjaan itu sekarang sangat susah untuk didapatkan!" jelas Nadia sambil tersenyum karena Biar bagaimanapun nasib dirinya dan Bella itu tidak beda jauh sama-sama dari kampung hanya untuk ingin merubah nasib keluarga yang tidak menentu.


" mau aku susah atau tidak terus orang tuaku bisa makan atau tidak Itu bukan urusan kamu, silakan kamu Lanjutkan pekerjaan kamu jangan selalu kepo dong urusan orang lain yang sama sekali tidak penting bagi kamu!" perintah Bella sambil menatap sinis kearah teman kerjanya itu padahal dirinya karena tidak melupakan betapa pentingnya sosok Nadia ketika dirinya baru awal-awal bergabung di tempat itu.

__ADS_1


" kalian pikir saya gaji kalian itu hanya untuk duduk dan ngobrol tanpa bekerja sedikitpun, kalau memang kalian mau ngobrol ya kalau begitu menyimpan barang-barang kamu yang ada di kantor ini terus pulang kerumah dan lanjutkan acara mengobrol nya soalnya tidak ada yang bakalan melarang?" tanya Alan yang entah kapan tapi sekarang posisinya sudah berdiri tepat di hadapan Bella dan Nadia yang begitu terkejut dengan kehadiran sosok tersebut.


padahal secara tak langsung jika mereka berdua tadi itu berdebat hanya karena sosok yang tengah menatap mereka tajam itu, membuat Bella nyalinya langsung menciut sedangkan Nadia malah menatap tajam kearah Bella yang sudah membuat Alan marah kepada dirinya juga.


__ADS_2