
HAII READER KU TERSEYENG
MAAF JIKA TELAT UP
LOPE U FULL
HAPPY READING YA GUYS
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
LANJUT ^^^
Raka dan Vika berpacu menikmati surga dunia ,yang selalu bisa membuat orang tak peduli dengan sekitarnya.Yang ada dalam pikiran mereka hanya sekarang untuk bagaimana bermain lebih ganas lagi,dan bagaimana bisa dibilang sebagai orang yang sangat memuaskan.
"Ayo lebih cepat lagi Lika sayang,aku ingin keluar," desah Raka sambil menepuk bokong Vika yang sedang bergerak diatas dirinya.
"Saya juga sudah tidak kuat Pak," sahut Vika.
"Ahhhh." Keduanya mendesah bersamaan seiring mencapai puncak nya.
"Kamu keluar dari sini,dan satu lagi jangan sampai Alika curiga dengan yang terjadi diantara kita," ucap Raka tegas.
__ADS_1
"Baiklah saya tahu Pak,apa yang harus saya lakukan." Sahut Vika sambil memperbaiki penampilannya.
Begitulah kebiasaan Raka memperlakukan wanita,tak ada rasa hormat atau apapun itu. Karena baginya mereka hanyalah pemuas nafsu tidak lebih dari itu.
Ia selalu mengatakan pada semua jalangnya,jika jangan bermain dengan hati ia tak ingin sama sekali.
Setelah bagian bawahnya sudah diberi makan dan minum ,Raka lalu mencoba menghubungi kekasihnya tapi tak direspon sama sekali.
"Ya ampun Sayang kenapa tidak diangkat sih telponnya,atau jangan jangan dia tahu semuanya?" Gumam Raka bermonolog.
Alika tidak mendengar sama sekali panggilan dari Raka,karena ponsel nya dalam mode silent.
"Jadi bagaimana apa proyek ini bisa segera berjalan?" Tanya Dika memastikan.
"Tapi saya ingin anda serius dengan proyek ini dan tidak terbebani dengan pekerjaan lainnya." Dafa memperingati Alika agar serius.
"Tapi....
"Iya itu sudah pasti,putri saya orang yang bertangung jawab dan tidak akan mengecewakan anda Tuan." potong Dika karena tak ingin jawaban Alika membuat Dafa jadi berubah pikiran.
"Ok kami permisi dulu,nanti dalam minggu ini kami akan kabari proses selanjutnya," pamit Dafa lalu menjabat tangan Dika sebelum pergi.
__ADS_1
Ketika hendak menjabat tangan Alika,terlihat wajah wanita itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Hanya saja Dafa merupakan pribadi yang cuek jadi tidak terlalu ingin ambil pusing.
"Silahkan Tuan,nanti Ello yang akan mengantar kalian kedepan." Sahut Dika sambil memberikan kode kepada asistennya.
Selepas kepergian Dafa dan Deka,Alika langsung menghempaskan tubuhnya diatas sofa dalam ruangan itu.Ia sedang memikirkan masalah hubungan nya dengan Raka dan juga mengenai proyek ini.
"Pa,apa tidak bisa orang lain yang mewakilkan?" Tanya Alika pelan.
"Kenapa harus orang lain sedangkan Papa punya kamu sebagai penerus semuanya ini." Sahut Dika.
"Tapi pah,Lika kan sekarang masih kerja di Travel dan tak bisa ditinggal," ucap Alika pelan.
"Yang tidak bisa ditinggal itu pekerjaan kamu atau kekasih kamu yang maniak itu?" Tanya Dika sinis.
"Papa itu kenapa sih selalu saja berburuk sangka sama Mas Raka,asal Papa tahu ya selama ini aku kerja sama dia belum pernah aku melihat perbuatannya yang aneh aneh." Sahut Alika sedikit kesal.
"Apa kamu kenapa saat dia menerima tamu kamu tidak boleh mendekat,apa kamu juga pernah melihat seperti apa rupa tamu kamu itu?" sindir Dika tegas.
"Maksud Papa apa?" Tanya Alina heran.
"Hah ternyata putri Papa terlalu naif dalam menyimpulkan sesuatu,ini Papa punya kamera pengintai ukuran mini kamu letakkan didalam ruangan pacar tersayang kamu itu tanpa sepengetahuan siapapun.Besok pagi kamu lakukan itu,dan Papa harap besok siang kamu sudah bekerja tetap disini," ucap Dika tegas.
__ADS_1
Alika dengan gamang mengambil kamera mini pemberian Papanya,ia akan membuktikan bahwa tuduhan Papanya salah besar. Alika yakin jika Raka adalah tipe pria setia,ia tak mungkin mengkhianati Alika.
Alika akan meletakan kamera hari ini juga,karena jika dilakukan besok itu tidak mungkin mengingat gaya tidur Alika yang selalu bangun siang.