
Andra menatap heran kearah istrinya itu yang ketika dirinya mengajak bercanda selalu saja ditanggapi dengan begitu serius, masa iya sebuah rumah tangga hanya lurus saja kayak jalan tol tidak berkelok sedikit biar lebih berwarna begitu?
" Halo Mama Papa tadi kan ngomongnya itu misalnya kalau punya istri 2 mungkin jadi ada yang bisa gantian melayani papa, bukannya berharap kalau punya istri 2 lain kali paham bahasa dulu dong jangan asal ngegas?" kesal Andra dengan sikap istrinya itu yang selalu saja menyalahkan dirinya ketika berbicara.
Lia bukan menyadari kesalahannya malah tersenyum mengejek Terus suaminya meyakini bahwa pria itu sedang emosi adalah sebuah kebanggaan baginya, karena menurutnya jika tadi ada tidak lebih dulu mengatakan hal yang tidak-tidak tentu saja dirinya tidak bakalan melakukan hal itu.
" ya Makanya Papa juga jadi orang kalau ngomongnya jangan sembarangan dong, mau tidak mau ya mama meladeninya saja daripada sayang loh kata-kata papa mengambang begitu saja di udara?" sahut Lia membuat Andra menatap tak percaya ke arah istrinya itu.
" papa Kayaknya kapok deh kalau ngomong sama mama bawaannya langsung ngegas seperti ini, coba sekali-kali tanggapi nya dengan respon biasa saja biar papa kalau ngomong itu lepas tanpa beban pikiran!" pinta Andra kepada istrinya itu tapi yang namanya Lia mah bodo amat dirinya bakal tidak peduli sama sekali dengan kemauan Andra tadi.
" kenapa, menyesal karena Mama tadi ngomongnya ngegas seperti itu? Makanya jangan coba-coba dipancing pemikiran Mama yang bangkit dari sisi liarnya, soalnya nanti papa sendiri yang bakalan kesusahan dan akhirnya kebingungan Harus berpikir seperti apa?" Sindir Lia memilih kembali ke depan kamarnya Ana sambil memegang kemoceng yang dari tadi tidak pernah berpindah tempat dari tangannya itu.
Andra melihat sikap istrinya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya karena sudah tidak tahu lagi harus berbicara apa, tingkahnya begitu absurd dan Barbar sehingga membuat orang di sekelilingnya sedikit kebingungan harus memulai berbicaranya dari mana.
" Kenapa yah istriku harus bersikap seperti itu padahal di dalam kamar itu anaknya sendiri loh, jadi orang ku tega sekali melakukan hal yang menurutnya benar padahal sebenarnya sangat mengerikan?" lirih Andra frustasi karena sepertinya Lia adalah tipe orang yang keras kepala Susah dibilangin padahal sebenarnya dirinyalah yang bersalah.
" Mama Bisa tidak kalau mau menasehati anak tidak perlu pakai alat kayak begitu, sebab lihatnya itu seperti sebuah sikap yang sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan? " tanya Andra membuat Lia mendelik kesal.
" maksudnya berprikemanusiaan itu seperti apa ya, kamu kalau ngomong jangan sembarangan memangnya siapa yang mau jadi peri kebinatangan?" tanya Lia heran.
Andra menggaruk kepalanya yang tak gatal bingung harus menjelaskan Seperti apa jika dirinya tidak menyukai gaya pemikiran istrinya itu, hanya saja begitulah tipe Mama zaman now dibilangin secara halus selalu menyahut nya itu wadidaww.
"ya bukan seperti itu juga maksudnya Masa Mama menunggu anak untuk bangun pagi dengan menggunakan kemoceng, kalau bukan namanya kejahatan dalam rumah tangga sekarang Apa coba namanya yang lain?" tanya Andra memastikan.
" Ini itu sebenarnya bukan urusan papa karena bisanya papa itu cuma di kantor doang kalau mama mah Urusannya di rumah, jadi lebih baik Tuh Papa cuci piring kotor yang semalam pas kita makan karena Biar Papa sekali-sekali merasakan betapa capeknya istrimu ini di rumah mengerjakan pekerjaan yang tidak tahu habisnya!" tegas Lia yang kemudian sudah tidak bisa menahan rasa kepo nya langsung memilih untuk mengetuk pintu kamar Ana begitu kuat.
" Ana, kamu bangun sekarang atau Mama yang bakalan pindah pintu kamu ini dari tempatnya!" teriak Lia dari pintu depan membuat kedua anak manusia yang tengah menikmati mimpi bertemu dengan raja dan ratu dari dunia kerajaan langsung terlonjak kaget.
__ADS_1
" dimana song Goku, perasaan tadi aku mimpinya dia lagi memegang ponsel untuk memotret diriku?" tanya Alan sambil celingak-celinguk mencari objek yang dimaksud.
begitu pula juga dengan yang tengah dialami oleh Ana, Karena Wanita itu pun sama celingak-celinguk mencari sesuatu yang terjadi hanya dialami mimpinya tapi alam nyata mah zonk.
" terus kuda poni nya aku tadi ke mana, warna biru lo sungguh sangat menggoda jiwa dan pikiran tapi kok saat aku bangun binatang itu sudah tidak ada?" tanya Ana yang bahkan dengan tingkah konyolnya mencari di bawah kolong tempat tidur.
keduanya Saling pandang dan akhirnya tersadar dengan kekonyolan mereka barusan, karena terlihat begitu menggelikan dan juga mereka berdua berubah menjadi orang yang paling lemot sejagat.
"itu tadi mimpi ya? soalnya begitu nyata aku sampai pikir-pikir kalau memang binatang itu ada disini, tapi ternyata eh ternyata semuanya tidak sesuai dengan kenyataan?" ujar Ana Sambil tertawa kecil bahkan melupakan keberadaan orang yang tengah menunggu mereka berdua.
" Iya aku juga sama sampai jadi bengong sendiri karena bisa-bisanya ya tidur sambil memeluk guling hidup malah mimpi yang tidak jelas, Padahal aku kan ingin kita berdua ya masuk dalam mimpiku Terus setelah itu memasuki kastil yang paling megah! "jelas Alan membuat Ana menatap heran kearahnya kok bisa-bisanya pria macho kok malah berpikiran seperti di negeri dongeng.
" ya itu artinya pertanda kalau kita itu tidak cocok untuk tidur bareng, jadi lebih baik mulai dari sekarang atur jarak jaga posisi agar jangan saling menempel soalnya sepertinya dunia sedang marah kalau melihat kita berdua!" jelas Ana ambigu membuat Alan menatap tak percaya.
" teori menyesatkan itu dari mana kamu dapatkan aku saja selama hidup belum pernah mendengarnya, Kok kamu bisa bisanya ya ngomong seperti itu? semesta mana yang bakalan marah melihat kita berdua yang ada itu mereka bakalan menyanyi bikin konser mendukung kita, Jadi kalau ngomong jangan sembarangan soalnya aku saja bilang kamu dapat ide mengatakan hal itu dari mana?" tanya Alan mendelik kesal membuat Ana ingin sekali tertawa karena ternyata dirinya hanya bercanda tadi dianggap serius oleh pria itu.
karena setiap dirinya mengatakan sebuah kekonyolan pasti langsung ditanggapi begitu serius oleh Alan, padahal dirinya hanya bercanda saja tidak ada yang serius dari nada bicaranya.
karena saking kenyamanan yang mereka dapatkan bahkan kini melupakan waktu yang tepat untuk jalan pulang, apakah mereka berdua juga tidak tahu menahu jika sekarang Lia sedang menatap kesal kearah mereka dengan kemoceng di tangan.
" tadi aku sudah teriak tapi anak-anak ini Kok pada belum bangun, mereka pikir aku nih manusia apaan sih tapi sekarang juga tidak sadar-sadar? lanjutkan saja anakku sayang nanti sebentar Ntar mama bakalan Sleding kalian berdua, soalnya dengan senang hati lo tadi mengajak Mama untuk marah-marah?" gumam Lia monolog Bahkan kemoceng yang berada di tangannya untuk bentuknya sudah seperti Apa akibat saking gemasnya kepada orang yang berada di dalam itu.
Ana yang lebih dulu sadar dengan keadaan mereka sekarang langsung menatap tajam kearah alam yang justru Tengah menatapnya dengan Tatapan yang begitu keheranan, karena mood dari kekasihnya itu selalu saja berubah kadang manis kadang kaku bahkan lebih parahnya beraninya itu loh mengerikan lebih daripada singa betina.
" kamu kok masih di sini tadi kan katanya pagi-pagi bakalan pulang, Jadi orang kok selalu saja plin-plan? nanti kalau mama atau Papa tahu terus tanya yang aneh-aneh Memangnya kamu bakalan bisa menjawab, Jadi orang kok tega banget sih cari masalahnya selalu saja ngajakin buat berjamaah?" tanya Ana yang terlihat begitu waspada jika sampai kehadiran alam diketahui oleh Lia urusannya bakalan bisa berabe.
Alan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal mendengar apa yang dikatakan oleh Ana tadi, sebenarnya dirinya juga tidak tega sih hanya saja semua sudah terjadi di depan mata mengelak pun tidak ada jalan untuk kembali.
__ADS_1
" ya sudah kita tinggal menghadap sama orang tua kamu masalahnya bakalan kelar, Jadi kamu jangan tegang seperti begitu Cukup aku saja yang tegang!" jelas Alan membuat Ana benar-benar tak percaya dengan isi otak kekasihnya itu yang bisa bisanya mengajaknya mesum di saat yang tidak tepat.
" Kamu itu orang lagi darurat kok malah ngajakin bercanda yang tidak jelas, aku saja sampai bingung harus bersikap apa lagi ke kamu? Ya sudah kamu keluar sana nanti urusan mama sama papa biar aku yang bakalan tanggung jawab, Soalnya aku yakin Mama sekarang Pasti lagi memegang senjata kebangsaannya yaitu kemoceng!" Ana berpura-pura untuk menakuti Alan agar pria itu merasa gentar dan kembali.
" ya aku gitu sih Kamu kan tahu aku paling takut kalau ketemu sama mama kamu, hanya saja demi mendapatkan hati calon mertua pinggang encok pun aku rela yang penting I am sold out!" jelas Alan penuh percaya diri seolah merilekskan pikiran agar tidak terlalu panik Ketika nanti berhadapan dengan Lia.
" Iya tidak masalah kamu memang sudah sold out tapi kan belum ada kata Iya dari kedua orang tuaku, lain kali percaya diri nya jangan terlalu berlebihan Mas soalnya nanti kalau jatuh ke bawah tuh sakit banget loh!" tegesana belum juga dirinya membuka pintu kamar Eh ternyata sudah ada ketukan maha dahsyat dari arah luar.
" anak kurang ajar Tidak tahu diri melawan orang tua kalau dibilangin tidak pernah mau dengar sekarang kalian keluar atau Mama yang bantu kasih keluar, sudah dipanggil Bagaimana merubah Agar kalian paham jika Sebenarnya Mama itu lagi Tunggu kalian di sini tuh dari tadi!" teriak Lia dari luar membuat Alan kebingungan harus memanjat jendela seperti dirinya tadi malam atau harus memasang badan agar kekasihnya tidak dimarahi.
" Waduh singa betina lagi ngamuk tuh di depan, aku mesti ngapain yang, kalau kabur itu artinya aku bukan seorang pria sejati tetapi kalau menghadapi Mama kamu yang lagi ngamuk seperti begitu nyali aku udah menciut loh?" ujar Alan kebingungan seperti orang yang sudah Ketangkap basah sedang menggaet anak gadis seorang Ya Iyalah emang kenyataannya seperti begitu masa iya harus dibahas lagi.
" eh Mana ada bisa begitu pokoknya mau atau tidak kamu harus temui Mama Aku dan Papa kemudian mengatakan hal yang sebenarnya, Aku mau bersiap diri dulu mau ke kantor Soalnya ini udah jam 8 loh!" tegas Ana lalu segera mendorong tubuh Alan agar keluar dari dalam kamarnya.
Alan merasa panik belum lagi sikap Ana yang sudah cuci tangan dari masalah yang terjadi sekarang, padahal seharusnya sebagai pasangan yang sejati mereka berdua harus saling membantu agar tidak ada yang tersakiti.
" ya Mana bisa begitu biar bagaimanapun pokoknya kamu harus menemaniku di mana saja dan kapan saja, apalagi untuk menghadapi Mama kamu yang sangat mengerikan itu sungguh merupakan ujian yang terberat di dalam hidupku!" jelas Alan dan kepanikannya semakin menjadi ketika Lia yang sudah berteriak akan mendobrak pintu kamar.
" Ya habisnya mau gimana lagi di mana-mana itu kalau menyukai anak gadis orang otomatis harus menyukai orang tuanya juga, entah sifatnya sudah seperti singa ataupun harimau Ya risiko dalam keadaan harus dihadapi tidak boleh mundur lagi?" kata-kata anak yang begitu dramatis membuat Alan bergidik ngeri dan merutuki kebodohannya kenapa tadi malam dengan sadar diri membawanya datang ke sini Di Ambang kehancuran.
" tolong pinjamkan aku pintu Kemana saja Doraemon biar aku menghilang sekarang juga soalnya di sini auranya sudah sangat mencekam, rasa-rasanya nyawaku sisanya 5 watt saja tiba-tiba bisa pergi begitu saja Jadi sepertinya aku tinggal pingsan ini sebentar lagi!" bujuk Alan membuat Ana ingin sekali tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu kenapa menemui mamanya saja Sampai separah itu.
" Ih kamu jangan berlebihan seperti begitu deh kelihatannya lebay sekali loh, Memangnya salahnya Mama itu kenapa sampai kamu kok bisa sampe takut itu sama dia?" tanya Ana yang tak mengerti dengan Alan pemikiran yang begitu kuno kolot'
" Ya ampun kamu kok bisa lupa sama sikap Mama kamu setiap bertemu denganku, Aku saja sampai rasa-rasa Sudah kekurangan oksigen kok masih bisa ya kamu bertanya hal itu? sudah pokoknya kamu harus bantu aku untuk bertanggung jawab menjelaskan yang terjadi, karena Biar bagaimanapun Ini masalah akibat dari kita berdua ya jangan aku sendiri dong Yang menanggungnya!" pinta Alan yang tak ingin dibantah membuat Ana bukannya kasihan malah merasa tidak terima.
" lo Mana ada bisa begitu pokoknya mau sampai kapanpun Kamu sendiri yang bakalan ketemu sama Mama aku mah ogah, Lagian saja kapan masalah ini timbul karena aku bukannya kamu yang menjadi biang keladinya?" tolak Ana namun Alan juga tak ingin dibantah akhirnya menarik wanita itu agar sama-sama dengan dirinya keluar.
__ADS_1
cekLex
tampak seorang wanita yang tengah menatap heran kepada kedua anak manusia yang sedang menunduk dan tidak berani menatap ke arahnya, tatapan wanita itu hanya tertuju kepada seorang pria yang sudah membuat dirinya emosi pagi-pagi.