MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN

MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN
episode 154


__ADS_3

Deka terlihat begitu uring-uringan dengan apa yang ia alami sekarang, Jika boleh memilih dirinya ingin memarahi Diana yang sudah tega membuat dirinya menjadi pria yang lemot.


Bagaimana tidak marah Diana yang awalnya datang mencari masalah dengannya terus selalu saja membuat onar setiap bertemu, dengan tiba-tiba mendadak menjadi Cuek terus tidak menganggap kehadirannya sama sekali seolah dirinya itu bayangan yang hanya dilihat tanpa mau ingin disentuh ataupun ditatap.


jika Deka selama ini berpikir dengan sikap Diana yang cuek padanya itu merupakan sebuah awal dirinya yang bebas tanpa gangguan, Ternyata apa yang dipikirkan oleh pria itu salah besar karena otak dan juga hatinya tidak bisa diajak kerjasama.


hanya saja kalau sampai Deka benar-benar memarahi Diana maka bisa dipastikan antara mereka dua itu bakalan timbul masalah baru, masalah yang disebabkan oleh karena salah satu pihak yang merasa tidak ingin diganggu sedangkan pihak lain merasa dicuekin dan tidak dianggap kehadirannya sama sekali.


" lama-lama Aku bisa gila kalau sampai dia memperlakukanku seperti begini terus, apa dia sadar kalau aku itu bisa mencari wanita yang lebih bagus dan lebih cantik dari dia serta mulutnya tidak lemes?" sungut Deka yang ingin sekali mengetuk pintu kamar di mana yang tepat berada di samping kamarnya itu untuk memastikan bahwa wanita itu masih hidup atau tidak hingga bisa diajak nya untuk berdebat.


Deka pun berjalan kesana kemari layaknya setrikaan dan juga orang yang tidak punya pekerjaan sama sekali sehingga menjadi stalker kehidupan orang lain, sedangkan Diana yang tahu bahwa Deka sedang berada di depan pintu kamarnya merasa santai saja karena menurut dirinya tidak ada urusan sama sekali dengan pria itu.


" aku Ketuk pintu atau jangan ya ya soalnya Nanti dia bakalan bertanya aku ada keperluan apa, Terus kalau aku tidak ketuk juga dia juga tidak bakalan tahu kalau sebenarnya aku tuh lagi pusing memikirkan perubahan sikapnya dia itu?" Deka terlihat bergumam sendiri layaknya orang yang sedang memperhitungkan langkahnya agar tidak salah tetapi tepat sasaran.


Arin yang melihat Diana senyum-senyum sendiri merasa heran dengan tingkah sahabatnya itu, berbagai macam pemikiran mulai berseliweran di dalam benaknya karena dirinya yakin pasti Diana sudah terkena santet.


" kamu kenapa, jangan bilang kamu lagi Belajar gila ya? soalnya Sedikitpun aku tidak ada keinginan untuk membantu kamu, aku saja kebingungan harus meladeni orang gila itu seperti apa supaya tidak bertingkah yang aneh-aneh ataupun membuat aku pusing kepala seperti yang kamu lakukan sekarang ini." jelas Arin membuat Diana menatap heran ke arahnya Karena ada saja pemikiran cs-nya itu membuat dirinya terkadang emosi.


" Maksud kamu ngomong seperti begitu apa ya, Memangnya menurut kamu aku ini calon orang gila atau orang yang sudah gila? lain kali ngomong itu sesuai fakta ya Guys jangan sampai mengada-ada tapi tidak ada realita sama sekali, Aku bakal tuntut kamu di KPK lho karena sudah melakukan hal yang tidak menyenangkan." sinis Diana membuat Arin menatap tajam ke arahnya.


" Memangnya menurut kamu KPK itu menangkap orang yang melakukan ke tindakan kriminal apa, kalau tidak paham dengan pekerjaan seseorang lebih baik tidak usah ngomong sekalian soalnya nanti bikin malu?" tanya Arin sambil tersenyum mengejek tapi Diana santai saja karena menurutnya biarpun kata-kata ada yang salah tapi tak masalah juga sih sebab tidak ada yang bakalan memarahinya juga.


" Ya suka-suka aku lah mau suruh siapapun buat menangkap Kamu memangnya ada yang salah, Lagian kalau memang KPK terlalu jauh ya tinggal tim Basarnas yang bakalan aku minta tolong agar mereka membereskan manusia-manusia yang tidak berguna seperti kamu ini!" jelas Diana yang begitu terlihat santai seolah tanpa beban membuat Arin menatap kesal ke arahnya karena tadi Maksudnya mengatakan hal itu agar sahabatnya itu sadar jika tingkahnya sangat aneh eh malah menyalahkan dirinya.


" kamu jadi orang itu kadang-kadang itu aku saja bingung sebenarnya isi otak kamu itu Sebesar apa sih, sampai-sampai setiap mengatakan sesuatu tidak pernah kamu pikirkan Bagaimana perasaan orang yang sedang kamu kata itu?" tanya Arin sambil mendengus kesal tapi Diana bodo amat karena menurutnya tidak ada urusan sangkut-pautnya dengan Arin sekarang.


" kamu kalau memang tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan sekarang lebih baik kamu menjauh daripada akhir-akhirnya kamu yang bakalan pusing sendiri, menyangkut aku masih ingin berleha-leha menikmati hidup jadi lebih baik Tolong kamu atur kondisi agar Bagaimana caranya tidak mengganggu pemandangan kue yang sedang bersinar ini." Sindir Diana membuat Arin benar-benar menjauh dari jangkauan wanita itu sebab Arin merasa ketakutan melihat sikap Diana yang seperti orang kerasukan.

__ADS_1


" Ya Tuhan tolong kembalikan kesadaran sahabatku itu sebuah Terkadang aku merasa takut soalnya dia kadang tertawa kadang marah-marah sendiri ngomongnya juga ngelantur, sudah begitu bawaannya pengen emosi sama orang lain mau buat aku saja kan kadang bingung di dalam otaknya itu ada berapa warna sih!" Arin menutup matanya seolah memanjatkan doa kepada Tuhan akan mengabulkan permintaannya yang cukup sederhana tapi menurutnya Itu adalah sebuah terobosan yang paling besar selama ia hidup.


Diana yang sudah sangat penasaran memiliki untuk membuka pintu kamar hotel tempat dirinya menginap, daripada kalau menunggu deh kak mengetuk pintu bisa dipastikan sampai tahun baru yang kesekian kalinya pun tidak bakalan hal itu terjadi.


Ceklek


Diana memasang wajah angkuhnya karena tepat saat dirinya membuka pintu ada Deka disitu yang sedang terlihat begitu gugup, Diana ingin sekali tertawa melihat wajah pias pria itu mungkin karena terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.


" permisi ya Kamu ngapain disini, jangan bilang kamu sedang memasang kamera pengintai di sekitar kamarku atau mungkin sudah ada kamera yang berada di dalam kamarku sekarang?" tanya Diana memasang wajah terkejutnya membuat Deka menatap tak percaya dengan arah pemikiran aneh wanita itu.


Deka datang ke situ karena mengingat tentang sosok Diana yang sudah mengganggu pikirannya, nah saat Orangnya sudah datang malah dirinya dibuat pusing karena sikap Diana yang seolah memancing keributan.


" Maksud kamu bicara seperti itu apa ya, Sejak kapan saya masuk ke dalam kamar kamu? melihat isi di dalamnya saja tidak pernah apalagi menaruh sesuatu yang aneh di situ, kamu jadi orang kenapa sih selalu saja memancing emosi orang lain?" tanya Deka sambil mendengus kesal karena melihat sikap Diana yang angkuh dan juga menyombongkan diri.


" Ya itu kan hanya pertanyaanku saja tadi bukan memang sudah menarik kamu atau menjadikan kamu terdakwa di kantor polisi, Jadi kalau memang tidak ada apa-apa ya kenapa sekarang kalau berdiri di situ seolah ingin memastikan sesuatu?" tanya Diana dengan tatapan menyelidik seolah ingin mencari ada yang aneh tidak di badan Deka sekarang.


" Astaga Pantesan kamu tidak punya teman pria yang bakalan mendekat ke kamu soalnya sikap kamu yang terlalu sombong, saya saja bingung kenapa orang tua kamu mau melahirkan anak seperti kamu di dunia pasti Mungkin mereka sekarang sedang menyesalinya." Sindir Deka membuat Diana Langsung bungkam karena memang wanita itu sempat tersindir juga dengan ucapan yang diucapkan Deka itu karena memang itu yang sedang ia alami.


Diana yang tadi begitu berapi-api Ingin mau balas apa yang dikatakan Deka mendadak berubah jadi Sendu, bahkan dirinya terlihat seperti ingin menangis karena apa yang dikatakan Deka tepat mengenal pada hatinya.?


Deka yang melihat perubahan pada dia merasa heran sebab wanita yang berada di hadapannya Itu bukan lagi berani seperti tadi, bahkan dari tatapannya tersirat ada kesedihan yang sebenarnya sedang ia sembunyikan agar orang lain tidak menyadari hal itu.


" kamu baik-baik saja kan, atau ada yang mengganggu dengan perkataanku tadi? kalau memang iya aku minta maaf karena sudah menyakiti hati kamu dengan perkataanku yang tidak kusadari, tolong kamu jangan bersedih seperti ini Aku janji tidak bakalan mengulangi hal itu lagi!" pinta Deka yang sudah kebingungan harus bersikap seperti apa karena dirinya dari dulu sampai sekarang tidak pernah yang namanya mengucapkan kata-kata romantis kepada wanita agar mereka klepek-klepek dan melupakan kesedihan.


" kamu kalau memang selama hidup mendapatkan kebahagiaan dan juga perhatian yaitu urusannya kamu jangan pernah ngomong tentang aku, terserah urusanku mau diperhatikan oleh orang tuaku atau tidak atau Mereka menginginkan kehadiranku di dunia ini atau tidak bukan urusan kamu." Ketus Diana lalu memilih untuk masuk kembali ke dalam kamar dan membanting pintu nya kuat agar Deka sadar jika dirinya sedang marah.


" aku tadi salah ngomong ya, Astaga Kalau sudah seperti begini pasti dia bakalan lebih marah besar nih?" gumam Deka monolog sambil mengacak rambutnya frustasi karena kebodohan barusan yang telah ia lakukan.

__ADS_1


Deka ingin sekali mengetuk pintu kamar Diana dan mengajak wanita itu berbicara baik-baik dan meminta maaf, hanya saja ketika melihat Sikap yang ditunjukkan Diana tadi membuat dirinya membiarkan saja agar wanita itu pikirannya lebih tenang.


melakukan sesuatu dalam hidup setidaknya kamu sadari dan kamu perhatikan Bagaimana perasaan orang disekitarmu Ketika engkau menyakiti hati mereka secara tak langsung, hati setiap orang itu berbeda ada yang sudah terbiasa dengan ketegaran dan ada yang sudah terbiasa dengan malas tahu Tetapi ada juga yang ketika ada kata-kata yang menyinggung perasaannya sedikit maka bisa dipastikan dirinya berubah menjadi pribadi yang lain.


terkadang memilih diam bukan untuk menghindari masalah melainkan memilih diam karena ingin meratapi nasib secara tak langsung, semua masalah Tidak bisa diselesaikan hanya dengan perang mulut ataupun adu tenaga karena itu sama saja Bahkan menimbulkan masalah yang baru lagi.


Ketika umur sudah dewasa terkadang setiap orang menjadikan diri mereka harus didengar karena umur, namun tanpa mereka sadari terkadang anak yang masih kecil sekalipun bisa melakukan hal yang tidak dipikirkan oleh orang dewasa sekalian namun tetap saja mereka menganggapnya itu sebagai sesuatu yang tidak penting.


" Kamu kenapa lagi, perasaan tadi bahagia terus sampai senyum-senyum nya tidak pernah hilang eh sekarang dalam hitungan menit kok malah menangis ya? " tanya Arin heran ketika melihat Diana duduk dipinggir ranjang sambil meneteskan air matanya seolah ada yang sedang menyakiti dirinya tanpa Arin ketahui.


" aku baik-baik saja kok hanya saja Aku ingin tanya sama kamu tolong jawab yang jujur, apa selama ini sikap yang aku tunjukan menurut kamu menyebalkan dan membuat orang-orang di sekitarku membenciku? " tanya Diana dengan air matanya mengalir membasahi kedua pipinya tanpa ingin disentuhnya sama sekali karena menurutnya airmata itu pertanda bahwa dirinya cengeng.


Arin mengerutkan keningnya ketika mendengar apa yang ditanyakan oleh Diana yang sangat tidak masuk akal, biarpun sikap Diana selama ini menyebalkan tetapi sahabatnya itu adalah orang yang pertama hadir dalam kehidupannya ketika dirinya memiliki masalah yang kadang-kadang sulit untuk mendapatkan jalan keluarnya.


" yang ngomong begitu ke kamu siapa, Biar aku menemui dia dan menghajar wajahnya itu sampai bonyok?" tanya Arin dengan emosi yang berapi-api siap meledak suatu saat.


"Huwaaa, Kamu itu pembohong Nanti kalau aku seperti orangnya siapa Kamu bukannya membelaku Tetapi malah membelanya. kamu sebagai seorang sahabat tidak punya jiwa toleransi persahabatan, jadi Biarkan aku menangis sendiri nanti juga pasti diam masa iya aku harus menangis Satu Malam." jelas Diana bahkan tangisannya pun semakin besar tapi sambil bicara membuat Arin mengerutkan keningnya karena merasa aneh dengan gaya menangisnya Diana yang sangat tidak biasa itu'


" kalau mau menangis menangis aja kalau mau ngomong yang ngomong saja, Soalnya kalau kayak menangis seperti kamu aku juga mau ikutan sedih tidak jadi soalnya tidak dapat feel-nya." sungut Arin membuat Diana Langsung menghentikan tangisannya sebab sudah ada yang mau komplain secara langsung.


" ya makanya orang kalau bertanya dikasih jawaban bukan malah balik bertanya, Lagian kalau sudah tidak dapat tahu Ya sudah jangan ngomong banyak lagi tutup saja mulutnya rapat-rapat." Sungut Diana sambil memasang wajah cemberut nya.


" kamu itu terkadang kadang bisa menjadi orang aneh dalam waktu 1 jam, jangan bilang kalau kamu memiliki kepribadian ganda yang selama ini kamu tutupi dari semua agar orang-orang tidak menyadarinya?" tanya Arin dengan tatapan menyelidik membuat Diana mendengus kesal sebab hubungannya dengan dirinya yang marah-marah di mana coba dengan kepribadiannya selama ini.


" kalau ngomong jangan sembarangan ya kamu kalau sampai didengar orang lain Mereka bakal memiliki pemikiran yang aneh-aneh, awas aja kamu kalau sampai hal itu terjadi aku bakalan marah besar kakakmu karena sudah menjatuhkan Harga Diriku secara tak langsung? " ujar Diana tak terima.


" ya makanya kalau begitu kalau memang ini hari Kamu marah ya pertahankan satu hari itu buat marah, bukan 1 menit marah kemudian menit ke-2 menangis terus Nanti menit ke-3 bakalan jungkat-jungkit kan jadi bingung aku yang melihatnya." perintah Arin membuat Ia hanya menggelengkan kepalanya karena jika sampai dirinya mengikuti kemauan wanita itu bisa dipastikan semua orang bakalan menjauh karena dirinya marahnya sejam saja semuanya pada menjauh apalagi seharian.

__ADS_1


__ADS_2