MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN

MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN
Episode 212


__ADS_3

Setelah segala sesuatu urusannya selesai Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu dengan Dinda dan Dea ikut mobilnya Tio,sedangkan Raka bersama Ambulans dari rumah sakit tanpa ada yang menemani.


Wajah Dinda begitu pucat seolah tidak ada aliran darah dan dirinya layaknya nya mayat hidup yang sudah tidak tahu harus berbuat seperti apa lagi untuk menjalani semuanya, Dea begitu ketakutan dan juga sedikit cemas dengan keadaan Dinda sekarang ini apalagi dengan tidak ada keluarga dekat di sekitarnya membuat wanita hamil itu kebingungan harus bersikap seperti apa.


" tante apa sebaiknya sebelum kita sampai di rumah ah mau hubungi Om lebih dulu siapa tahu mungkin dia ada kesibukan jadi tidak sempat memberi kabar, soalnya kasihan kalau sampai di sana terus tidak ada siapa-siapa nanti pasti petugas dari rumah sakit bakalan kebingungan mengurus?" Tawar Dea karena biar bagaimanapun kehadiran Papa nya Raka itu sangat penting.


Dinda menghembuskan nafasnya kasar wanita paruh baya itu seolah sedang mengumpulkan kata-kata yang pas agar semua orang paham dengan suasana hatinya kini,bukan ia tak mau melibatkan suaminya tapi dirinya adalah orang yang sangat tahu menahu bagaimana sikap Riki yang sesungguhnya.


"Tante pasrah Nak,karena begitulah sikap Papa nya Raka yang selalu saja seperti ini saat ada masalah!" Lirih Dinda pelan.


Apa yang dikatakan oleh Dinda itu membuat Dea dan Tio bingung,karena biar bagaimanapun tidak mungkin ada seorang Ayah yang meninggalkan anaknya di saat seperti ini.


"Tapi Tante,kita kan belum tahu kejadian yang sebenarnya. Siapa tahu Om mungkin ada kesulitan jadi tidak sempat menghubungi,maka dari itu tidak ada salahnya kan kita yang menelpon lebih dahulu!" jelas Dea.


"Nak,dengan kehadiran kalian saja Tante sudah merasa bahagia sekali karena Tante sudah ada yang menemani disaat begini.Nanti sampai dirumah baru kalian paham dengan apa yang Tante maksud,karena untuk menjelaskan itu butuh kesabaran ekstra!" Ujar Dinda.


Dea akhirnya ingat dengan apa yang dikatakan Raka waktu itu,jika Papanya adalah pria yang tidak pernah bertanggung jawab atas keluarga nya.


Maka dari itu Raka yang menjadi tulang punggung keluarga menggantikan Mamanya yang sudah tua,Papanya merupakan orang yang selalu hidup santai padahal sebenarnya bukan berasal dari kalangan orang kaya.


"Ya sudah kalau begitu,Tante jangan terlalu kepikiran ya." Bujuk Dea yang sudah tidak ingin memaksa Dinda.

__ADS_1


Dinda hanya bisa memejamkan matanya karena tidak tahu harus berbuat apa lagi,terlihat guratan kecewa dan sedih bercampur jadi satu.


Hanya saja untuk mengeluh di saat seperti ini merupakan hal yang mustahil,karena sama saja akan menambah beban pikiran.


Kini iringan mobil itu sudah sampai di kediaman keluarga Raka,terlihat suasana dalam keadaan sepi melompong seperti tidak ada kehidupan sama sekali.


Dinda dan Riki memang selama ini tidak pernah berdekatan apalagi saling bertegur sapa dengan keluarga dekat mereka,maka dari itu disaat seperti sekarang ini pun masih sama saja dengan hari kemarin.


"Ya Tuhan,kuatkanlah aku agar bisa melewati ini semua!" lirih Dinda dalam hati dan memilih untuk turun dari mobil untuk membuka gerbang.


Tio yang melihat hal itu langsung meraih kunci ditangan Dinda dan menggantikan wanita itu untuk melakukan itu semua, karena dirinya tidak tega melihat Dinda melakukan semua itu sambil melamun dan seolah tidak berada di situ.


Dinda tidak tahu harus berkata apa lagi dirinya memilih hanya diam saja sambil menunggu segala sesuatunya siap dan dirinya ikut masuk ke dalam rumah sambil melihat jenazah anaknya juga dibawa masuk, dirinya rasa-rasanya ingin sekali berteriak agar anaknya itu bangun dan kembali memarahi dirinya yang selalu saja menuntut lebih sehingga Raka kembali ke rumah itu dengan sudah tidak bernyawa.


" tadi kamu pergi dari rumah ini dalam keadaan sehat walafiat tapi kenapa sekarang kamu kembali dengan sudah seperti begini, nak? apa ini jawaban atas semua dosa yang selama ini melakukan yang tidak pernah menganggap orang lain itu ada, kalau memang Iya biar mama saja yang tanggung kamu tidak usah!" Dinda menangis dalam diam karena sudah tidak tahu lagi harus berbicara seperti apa lagi.


Dea hanya bisa mengucapkan bahu wanita paruh baya itu sambil mengucapkan kata-kata untuk menguatkan, dirinya merasa iba dengan keadaan Dinda sekarang sudah tidak ada keluarga yang menemani dan lebih parahnya sang Suami pergi entah kemana karena saat mereka datang rumah dalam keadaan kosong.


Setelah semuanya selesai ketika manusia itu hanya duduk sambil berdoa di dalam hati mereka memohon kepada Tuhan agar diampuni segala dosa yang dilakukan oleh Raka semasa hidupnya, namun ketika mereka baru sampai di rumah situ mungkin belum sampai sejaman terdengar dari luar ada beberapa mobil yang datang.


Dinda sudah tidak tahu lagi menerka atau pun berharap bahwa ada keluarga yang bakalan datang dan melihat keadaannya atau pun Raka, sebab dirinya sadar kalau selama ini yang ia lakukan itu lebih sadis dan juga lebih menyakitkan dibandingkan derita yang ia alami sekarang ini.

__ADS_1


" Ya Tuhan Dinda, kamu kenapa seperti begini nak? ada mama ya masih hidup kan aku tidak menelpon mama agar bisa mama datang ke sini terus temani kamu, Mau sampai kapan pun mau bagaimanapun kamu itu tetap anaknya Mama dan tidak akan pernah tergantikan!" ujar salah satu wanita paruh baya membuat Dinda menoleh ke arah sumber suara sambil menitikan air mata karena dirinya sangat hafal Siapa orang itu yang tengah berbicara dengannya.


" Mama, maafin Dinda mah sudah menjadi anak yang tidak berbakti dan akhirnya sekarang anak Dinda satu-satunya sudah diambil dari Dinda untuk selama-lamanya!" begitulah sikap manusia terkadang penyesalan datang disaat yang tidak tepat dan sudah terlambat tidak akan pernah bisa dirubah lagi sesuai dengan keinginan.


padahal manusia sebenarnya diberikan pilihan dari awal hanya terkadang dirinya yang lebih suka menentukan pilihannya tanpa mau merespon apa yang sudah ada di depan mata, dan alhasil Semua menjadi tidak sepadan atau pun tidak sejalan dengan pemikiran Percuma saja menyesal karena sudah terlambat.


suasana haru memenuhi ruangan itu ketika Dinda melihat seluruh keluarga besarnya datang dan tidak ada yang memasang wajah kesal atau marah dan apapun itu, mereka semua bahkan menyiapkan segala keperluan tanpa diminta dan juga membereskan urusan para pegawai diler dan juga toko perhiasan yang kembali ke rumah itu.


terkadang Tuhan menyiapkan duka dan bahagia itu di waktu yang sama membuat kita tidak tahu harus merespon seperti apa, hanya saja disaat hal itu datang Jangan pernah meminta lebih karena dirinya tahu batas umatnya seperti bagaimana.


berbeda dengan Daffa dan Alika yang baru saja menginjakkan kakinya di tempat ini, Daffa begitu posesif kepada istrinya karena dirinya tidak ingin wanita itu beserta dengan anak dalam kandungan nya kenapa-napa.


" Mas Aku itu hamil bukan sakit keras masa iya harus disuruh pakai dengan kursi roda segala? padahal kan katanya orang hamil itu harus perlu ke Jalan agar lebih lancar saat proses persalinan ya nanti, bukan seperti yang kamu lakukan sekarang ini yang ada kamu menjerumuskan aku agar saat melahirkan nanti bakalan kesulitan!" Sungut Alika yang tidak menyukai sikap Daffa yang entah darimana datangnya tapi sekarang di tangan pria itu sudah ada kursi roda dan memaksanya untuk duduk di atasnya.


" kamu lihat kan di sini itu ada banyak orang jadi tidak mungkin dong aku membiarkan kamu sendirian untuk jalan, Nanti kalau ada yang tidak sengaja tiba-tiba menabrak kamu terus Kamunya jatuh kan bisa bahaya urusannya?" jelas Daffa yang masih tetap pada pendiriannya bahwa Alika harus menggunakan kursi roda dan tidak boleh membantah sedikitpun,


" Aduh anak-anak mama sudah pada pulang nih, tapi kok kalian sudah selama berbulan-bulan di sana saat pulangnya Kok wajahnya tidak ada manis-manisnya?" tanya Mirna mengejek karena memang wajah Daffa dan Alika yang berdebat itu sangat tidak enak dipandang.


" Mama jangan mulai lagi deh, ngomong tuh sama menantu Mama yang keras kepala dikasih jalan keluar yang paling terbaik tapi masih saja membantah!" ujar Dafa karena memang Alika tidak mau sama sekali mengikuti apa yang ia inginkan.


" ya kalau aku mau wa-an kamu itu masuk akal dan juga bisa dipahami aku bakalan setuju, yang ada ini tanggal bikin mumet pusing kalau memikirkannya!" sungut Alika kesal.

__ADS_1


__ADS_2