
Like N KOMENNYA
LOPE U FULL
LANJUT ***
Ben memilih untuk pergi dari situ,karena biar bagaimanapun dua digit dari gajinya adalah hal yang paling penting.
"Aku Mengalah sajalah daripada pembahasannya jadi meluber kemana mana,terus masa depanku jadi hancur kan sama saja bohong.Karena nanti senangnya di mereka terus aku nya cuman dapat ampas doang!" Batin Ben lalu segera pergi dari situ membuat Daffa tersenyum penuh kemenangan.
"Good Job,dengan begini aku bisa dong bebas ngapain saja.Lagian tuh cacing kremi kenapa sih harus macam macam,memangnya dia pikir aku ini otaknya secuil doang?" Seru Daffa yang terlihat ingin sekali berjingkrak senang.
dengan tanpa merasa takut atau mengendap bagaikan pencuri Daffa dengan percaya dirinya mengetuk pintu kamar tempat Alika berada, pria itu sudah tak untuk bertemu dengan wanita yang dari tadi Mengusik pikiran.
Tok tok tok
" Ya Tuhan manusia Siapa lagi sih di depan, apa dia lupa waktu atau gimana sih? Ini kan udah malam bukannya tidur malah keluyuran, gangguin orang pula! " sungut Alika tapi tetap membukakan pintu.
sedangkan Dafa di depan pintu sedang gelisah karena, Alika yang tak kunjung membukakan pintu dalam pikirannya mulai ada prasangka yang aneh- aneh.
" Apa dia sudah tidur atau sudah pulang tanpa memberitahu, Wah kalau sampai ini terjadi masa iya aku harus dobrak ini pintu!" seru Daffa kebingungan.
Tok tok tok
" Iya sabar sebentar lagi!" teriak Alika dari dalam ketika mendengar pintu yang kembali diketuk dari luar.
Ceklek
netra Alika membulat ketika melihat Siapa yang sedang berada di depan pintu kamarnya, Kalau boleh berteriak dirinya akan berteriak karena mengira orang yang depan pintu itu adalah titisan dari seorang Daffa Adrian.
" kamu, Kamu beneran Daffa ?" tanya Alika memastikan membuat Daffa mendengus kesal.
" Bukan, tapi Lee Min Ho!" sahut Daffa asal sambil memasang wajah cemberutnya.
" Ih aku tuh tanya beneran loh, Kenapa kamu malah jawab yang tidak jelas seperti itu? Terus ngapain juga malam-malam ke sini, Emangnya kamu pikir aku ke sini itu bukan buat beristirahat tapi menerima tamu!" tanya Alika sinis.
"kenapa tidak suruh aku masuk, kamu pikir tidak capek Apa berdiri terus? "tanya Dafa kesal.
" ngapain pakai kegiatan mau masuk segala, di dalam itu hanya aku sendiri loh nanti kalau orang lain salah paham gimana? kalau kamu ada yang lebih penting ya tinggal ngomong saja, kan tidak perlu pakai harus masuk segala kan? " tanya Alika penasaran.
" di luar sini itu banyak nyamuk, Jadi enaknya masuk di dalam saja doang tidak ada yang gangguin juga! Lagian aku juga tidak bakalan ngapain kamu kok hanya pingin mengecek keadaan di dalam, Siapa tahu mungkin ada kecoa atau tikus yang berkeliaran? " de jure Daffa Mencari Alasan yang sangat tidak masuk akal.
Alika menatap heran ke arah pewaris kerajaan bisnis Adrian itu, masa iya Villa secantik ini ada gangguan seperti tikus dan kecoak Memangnya gunanya penjaga Villa itu apa?
" kasih alasan itu yang masuk akal sedikit kali bro, Jangan yang aneh-aneh seperti itu Kamu pikir aku anak kecil apa yang bisa kamu permainkan Sesuka Hati?" tanya Alika kesal membuat Dafa tersenyum simpul ternyata menggoda wanita itu adalah kesenangan tersendiri untuknya.
__ADS_1
" kamu minggir dong dari depan pintu Lagian ini Villa juga punyaku kok, jadi ngapain kamu khawatir segala untuk aku melakukan sesuatu yang tidak tidak ke kamu?" ujar Dafa membuat Alika jadi tersulut emosi.
" eh yang bilang Villa ini punyanya Ben itu siapa, Lagian kalau tadi kita pulang aku juga tidak Sudi menginap di tempat ini. jadi jangan memamerkan sesuatu yang bikin aku tambah kesal ke kamu, bisa tidak jadi orang tuh berpikiran nya yang lebih jernih dewasa terus tidak memancing keadaan?" tanya Alika sinis.
Daffa mendesah kasar karena ternyata dirinya memang tidak pantas menjadi pria romantis, karena selalu kaku dan sulit berkata manis.
" aku hanya ingin mengobrol dengan kamu tidak lebih dari itu, jadi bisa tidak aku masuk ke dalam agar terlihat lebih akrab! kamu pasti ingat dong kalau orang tua kamu Dan orang tuaku ingin menjodohkan kita, jadi otomatis mulai dari sekarang sampai kedepannya kita merupakan pasangan yang menuju OTW sah!" perkataan Dafa barusan membuat Alika meradang kalau begini mah susah payah ia berusaha untuk menolak jika Dafa tak mendukungnya sama sekali.
" Terserah kamu saja, tapi yang pasti aku tidak akan pernah mengizinkan kamu masuk jika kita belum halal. tolong Kamu hargai keinginanku Sekali Ini Saja, Lagian aku tidak meminta lebih kok hanya itu saja yang aku inginkan!" pinta Alika serius membuat Dafa menjadi Tak Tega.
" gimana kalau kamu yang keluar kamar terus kita mengobrol di Gazebo dekat kolam renang, soalnya aku tidak bisa tidur kalau masih jam begini !" bujuk Dafa dengan wajah memelas nya.
" Ya sudah kalau begitu aku ambil jaket dulu ya, soalnya daerah di sini dingin sekali Entah aku kuat sampai berapa Jam duduknya!" Alika mengatakan hal itu dan hanya di angguk kepala oleh Dafa.
kini keduanya berjalan beriringan menuju ke samping kolam renang, Percayalah Dafa yang tadi terlihat semangat yang menggebu-gebu ingin mengajak Alika ngobrol seketika semangat itu langsung hilang begitu saja.
suasana begitu canggung karena tidak ada yang berinisiatif untuk membuka percakapan lebih dulu, jadi jangan salahkan rumput yang bergoyang jika keduanya jadi membisu seperti itu.
" di sini dingin ya?" tanya Daffa.
"Hemmm, enakan tadi aku tidur jadi tidak bakalan kedinginan seperti ini. tapi sekarang sudah terlanjur keluar terus kamunya malah ngomong seperti itu, aneh-aneh saja tahu tidak kamu tuh jadi orang?" Sindir Alika.
Dafa hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar perkataan ambigu nya tadi malah disalahartikan oleh Alika, Jika seperti begini terus Maka jangan salahkan Jika setiap pertemuan pasti keduanya bakalan berdebat.
" Ya sudah kalau begitu kamu kembali ke dalam ke kamarmu lagi, aku juga mau balik soalnya tidak nyambung berbicara dengan wanita yang selalu saja marah-marah seperti kamu." nah tuh kan Tom and Jerry mulai beraksi.
namun ketika langkah kakinya belum terlalu jauh masih berada di jangkauan matanya Daffa, terdengar ponselnya berdering setelah dilihat ID card pemanggil ternyata mantan brengsek nya yang menelpon.
" tuh orang ngapain lagi coba, apa dia belum paham apa yang aku katakan tadi? itu artinya aku harus cepat mencari calon suami biar dia sadar kalau diriku sudah move on, agar tidak mengganggu ku terus seperti ini." sungut Alika Tapi entah mengapa dirinya Malah tetap mengangkat panggilan dari Raka itu.
" kenapa?" tanya Alika Ketus.
Dafa merasa penasaran dengan siapa Alika bicara hingga wajahnya terlihat begitu kesal, pikirannya langsung tertuju pada Raka mantannya Alika.
" astaga kalau begini terus posisi kebakaran terancam, maju saja belum masa langsung dicolong Star kembali?" desah Dafa dalam hati karena merasa stres.
lalu dengan tanpa permisi pria itu mengambil ponsel yang sedang dipakai alihkan untuk berbicara dengan Raka itu, ia ingin menunjukkan kepada pria di seberang jika Alika sekarang adalah hak miliknya dan tidak ada yang boleh mengganggu gugat.
Grep
tanpa permisi Daffa langsung merebut ponsel dari tangan Alika dan membawanya masuk ke dalam kamar, Persetan dengan segala teriakan Alika karena jujur dirinya tak ikhlas jika wanitanya masih berhubungan dengan pria masa lalu.
Alika yang tidak sempat mengelak karena gerakan tiba-tiba dari dafa itu, hanya bisa berdiri melongo karena begitu terkejut dengan apa yang lakukan oleh Daffa.
" Woi balikin ponselku sekarang, kenapa sih suka sekali mengganggu privasiku? kembalikan tidak aku dobrak pintu kamarmu ini, Ayolah aku lagi tidak sedang bercanda!" teriak Alika dari luar kesal dengan kelakuan Daffa yang semena-mena pada dirinya itu.
__ADS_1
sedangkan Daffa memilih untuk merespon panggilan Raka yang masih tersambung, pria itu dengan memasang tatapan datarnya berbicara kepada Raka di seberang.
" Halo Alika Sayang kamu masih di situ kan, aku mohon beri kesempatan padaku untuk menjelaskan semuanya dan jangan menjauhiku seperti ini karena terasa begitu sakit! "pinta Raka dari seberang membuat Dafa ingin sekali menonjok pria itu.
karena tak kunjung mendapatkan jawaban Raka yakin jika Alika masih bisa mendengarkan dirinya, hanya saja wanita itu memilih untuk tidak berbicara.
biarlah Alika tidak menjawab panggilannya dan perkataannya itu yang penting ia mendengarkannya, karena baginya segala sesuatu tergantung dari respon Alika yang penting intinya apa yang ingin Ia sampaikan bisa sampai kepada wanita itu.
" Alika sayang, Aku tahu kamu marah dan juga kesal serta kecewa padaku! Tapi ini semua diluar kuasa aku untuk melakukan hal itu untuk menghentikannya pula, aku butuh kamu untuk membawa aku ke jalan yang benar. entah apa jadinya aku jika kamu meninggalkanku seperti ini, rasanya seperti Separuh Nafasku pergi entah kemana dan dada ku terasa begitu sakit." Lirih Raka dari seberang membuat kesabaran seorang Daffa Adrian yang mendengarkan gombalan receh itu menjadi sangat emosi.
" ini Ini pertama dan terakhir kalinya aku mendengar kamu menghubungi calon istriku, karena jika sampai hal itu terjadi maka bisa kupastikan kamu adalah orang pertama yang bakalan kuhajar Saat ketemu nanti. Dan itu semua tergantung pilihan kamu mau langsung ke kuburan atau menginap di UGD, sebab apa yang aku katakan tidak pernah kutarik kembali apalagi jika menyangkut dengan calon istriku. jika anda manusia yang mempunyai akal dan pikiran pasti paham dengan apa yang kumaksud, dan balik lagi kepada anda Apakah benar-benar manusia atau bukan! "apa yang dikatakan Daffa itu benar-benar tidak sesuai dengan harapan seorang Raka Alfian.
Bagaimana tidak perasaan Ia baru putus dengan Alika beberapa hari yang lalu, kenapa sekarang wanita yang masih sangat ia cintai itu sudah disebut dengan calon istri oleh pria lain?
Apakah ini dirinya yang salah dengar atau memang itu benar-benar sesuai dengan kenyataan yang ada sekarang, Oh Tuhan Jika seperti ini sepertinya mulai sekarang dirinya bakalan bekerja lebih keras.
" kamu itu masih calon suami bukan sudah menjadi SUAMI!! jadi jangan terlalu percaya diri dengan apa yang kamu ucapkan barusan, sesuatu yang belum sah terkadang jika kita mengklaim sebagai miliknya kita rasanya tidak terlalu afdol!" sinis Raka yang membuang segala macam urat malunya untuk melawan seorang Daffa Adrian.
Daffa terkekeh kecil karena merasa lucu dengan apa yang dikatakan Raka yang penuh percaya diri barusan, fix dirinya yakin jika Raka memang memiliki sindrom kelebihan percaya diri akut.
" wah mungkin anda sedang terkena Amnesia ya tuan, karena melupakan hal yang penting yaitu Kenapa Alika meninggalkan anda waktu itu? Atau harus saya jelaskan ulang lagi, biar anda lebih bisa percaya atau tidak melupakan hal yang seharusnya diingat?" tanya Daffa sinis.
dengan tanpa banyak bicara lagi Raka langsung mematikan panggilan tersebut, kata-kata yang Dafa ucapkan tadi benar-benar menyinggung harga dirinya.
" perasaan tadi yang mengangkat panggilan itu Alika deh, kok bisa jadi gantian pria itu yang menjawab? apa jangan-jangan mereka sedang berduaan ya, Wah kalau sampai hal itu terjadi Posisiku bakalan terancam nih?" ujar Raka frustasi.
Daffa yang sudah selesai membuat Raka bungkam,dengan segera membuka pintu kamar dan menyerahkan ponsel pada Alika yang sedang menatap tajam kearahnya.
"Ini Ponselmu Kesayangan nya aku!" Goda Daffa sambil mengedipkan matanya sebelah.
Alika menatap kearah Daffa tajam karena kelakuan pria yang macam macam,padahal ia tak tahu jika Daffa sedang senang karena ia berhasil mengerjai Pria yang sedang tak bisa Move on itu.
"Jaga mulutmu itu,dasar pria aneh!" Sungut Alika.
"Lho memangnya aku kenapa,perasaan biasa saja deh?Soalnya mulai dari sekarang harus biasakan memanggil kamu dengan sebutan Sayang,karena kita kan sebentar akan menikah!" Ujar Daffa santai padahal Alika sedang kesal padanya.
"Belum sah juga kan,lagian kalau ngomong tuh di pikir dulu dong?Terus kurang ajar sekali kamu main rebut ponselku segala,itu kan privasi yang harus tetap aku jaga." Ketus Alika kesal.
"Hehe soalnya aku mana Ihklas kamu berbicara dengan mantan yang tidak bisa Move on itu.Karena pasti kalau terlalu dekat takut nanti kamu bakal kembali padanya,terus aku nya gimana?" Tanya Daffa memelas.
"Itu mah urusan pribadi aku kenapa kamu yang repot?" Tanya Alika sinis.
"Mulai sekarang urusan kamu itu adalah urusan Aku!" Ujar Daffa posesif.
"Sebahagia kamu sajalah Mas Bro,aku capek mau tidur soalnya capek mata dan hati!" Sindir Alika lalu segera pergi dari situ sebelum masalah tambah ribet dan pembahasan jadi melebar kemana mana.
__ADS_1
"Mau aku antar?" Tanya Daffa menawarkan diri.
"Tidak perlu!" Ketus Alika kesal.