MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN

MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN
Episode 208


__ADS_3

Tatapan Raka berubah sendu ke arah Alika yang dari tadi selalu tersenyum kepadanya Padahal di dunia nyata wanita itu bahkan ketika bertemunya melihat kearahnya pun saja tidak, namun berbeda kali ini ketika Raka Berada di posisi sakaratul maut pria itu malah selalu mendapatkan senyuman dari wanita yang sangat di cintanya itu sampai akhir nafas.


"Maafkan aku!" Itulah kata terakhir yang diberikan Raka untuk Alika .


Dan di saat yang bersamaan Alika yang sedang tertidur bermimpi jika Raka pamit padanya,padahal jangan kan berbicara untuk bertemu selama ini saja dirinya enggan.


"Ya Tuhan,Astaga!" Alika langsung kaget bangun membuat Daffa yang sedang berada di sampingnya juga ikutan terkejut.


"Kamu kenapa Yang?" Tanya Daffa cemas takutnya Alika kenapa napa pasalnya sekarang mereka sedang berada dipesawat untuk kembali Ke Tanah air karena kondisi kehamilan Alika yang sudah bisa dibawa berpergian jauh.


"Mas,aku tadi memimpikan Mas Raka! Kira kira dia kenapa ya,kok bisa aku sampai memimpikan dia?" Tanya Alika yang tidak sadar jika Daffa sedang memasang wajah cemberut nya karena tidak suka dengan mimpi Alika barusan.


"Mimpi apa yang tidak ada faedahnya seperti itu,aku saja bingung kok bisa-bisanya ada orang lain di muka bumi ini kamu malam memimpikan manusia seperti dia?" Tanya Daffa tak terima.


Alika mendengus kesal mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu,mana ada mimpi bisa di request ,kalau ada pasti tiap hari emak emak berdaster ingin merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan oleh semua orang.


"Memang nya ada mimpi yang bisa di minta seperti yang kamu katakan,kalau ada yang bisa seperti itu pasti semua orang bakalan mau!" jelas Alika yang sangat tidak bersahabat.


Daffa tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu sebab menurutnya sesungguhnya tidak ada yang ditutup-tutupi,maka dari itu ia tidak terima jika Alika menyebut nama orang lain di hadapannya.


"Ya memang tidak ada tapi kan aku hanya sangat tidak menyukai mimpi yang kamu katakan barusan,sebab aku kan hanya berkomentar saja soalnya apa yang kamu katakan itu aku sangat tidak suka!" jelas Daffa tidak terima dengan apa yang dimimpikan oleh sang istri.


"Jadi ceritanya kamu lagi cemburu nih karena aku memimpikan orang lain,wah padahal orang nya tidak ada disini lho?" Tanya Alika sambil tersenyum mengejek.


Daffa tidak menggubris apa yang di katakan oleh Alika karena baginya itu adalah sebuah hal yang sangat memalukan,karena ketahuan jika dirinya merupakan pria yang cemburuan.


Tapi bukan kah kalau cemburu itu tandanya sayang maka tak masalah jika dirinya melalukan hal itu,karena itu sama saja dengan kelebihan sayang pada orang tersebut.

__ADS_1


"Jangan bahas yang aneh aneh kamu,karena memang aku itu lagi tidak bisa berpikir jernih jika menyangkut manusia yang sangat aku benci itu!" Ketus Daffa tapi Alika masih saja terus menggodanya.


"Cieee ada yang marah nih?" Tanya Alika pelan sambil memasang wajah yang terasa sangat begitu menggemaskan.


"Ah tidak kok mungkin perasaan kamu saja,aku sejak kapan marah ke kamu yang ada itu aku makin cinta sama Istriku ini?" Daffa kembali rileks karena menurutnya untuk apa juga marah marah dengan mimpi yang menurutnya itu tidak ada dalam kehidupan nyata.


Baginya Istri dan juga calon anak mereka merupakan hal yang utama tidak bisa diganti apalagi disia siakan begitu saja,sebab mereka adalah harta yang paling berharga dalam hidup.


Ketika Alika tengah berbahagia karena bakal kembali kerumah dan juga bisa beraktifitas dengan bebas,sebab selama beberapa bulan ini dirinya selalu di kekang untuk tidak boleh melakukan apapun.


Tetapi dilain tempat Dinda tampak histeris bahkan nyaris pingsan sebab ia tak sanggup mendengarkan kabar yang disampaikan oleh dokter,dunia nya terasa runtuh tak berbentuk lagi bahkan mungkin bisa dibilang bumi bukanlah tempat dirinya berpijak saat ini.


"Tidak Pah,pokoknya Raka anak kita masih hidup dan Mama yakin itu karena tadi dia sempat marah marah ke Mama!" teriak Dinda yang seolah masih percaya ataupun tidak.


"Sabar Mah,lebih baik ikhlas karena itu yang terbaik !" Bujuk Riki yang sebenarnya juga merasakan hal yang sama hanya saja ia tidak mungkin lemah jika kondisi Dinda sudah seperti itu.


Riki hanya bisa terdiam dan tidak tahu lagi harus mengatakan apa kepada istrinya itu agar agar bisa lebih belajar ikhlas sebab sikap dari seorang ibunya yang menentukan kan Jalan anaknya, karena lebih baik mendoakan orang yang sudah tidak ada daripada menangis yang berlebihan yang membuat sendiri yang bakalan mempersulit Jalan orang yang kita sayangi.


" dokter Anda berbohong kan kepada saya tadi kalau sebenarnya anak saya itu hanya tertidur Soalnya dari capek dan juga badannya sakit semua, tidak meninggalkan saya dan juga Papanya disini tetapi hanya ingin tertidur sebentar?" tanya Dinda Lirih Wanita itu bahkan memohon dengan sangat agar semua orang yang berada di situ kembali menjelaskan kalau Sebenarnya anaknya tidak kenapa-napa.


" maafkan kami ibu karena kami sudah melakukan sebisa yang kami lakukan Tetapi kalau penciptanya berkehendak lain kita sebagai ciptaannya bisa apa, belajar ikhlas antarkan dia dengan doa agar tempatnya lebih luas di alam sana Dan juga tolong jangan menunda-nunda untuk membawanya pulang karena kondisinya yang sudah seperti itu!" jelas dokter yang bertugas menangani Raka tadi.


Duarrr


ketika mendengar penjelasan yang berulang adalah awal membuat Dinda sudah tidak tahu lagi harus merespon Seperti apa ataupun bertanya Seperti apa lagi Tidak semua orang jawabannya tetap sama dan tidak berubah-rubah.


wanita itu kini tetap berada di ruangan tempat Raka berada anaknya itu sudah dibungkus dan juga tidak bisa disentuh sebagaimana seharusnya nya sebab memang kondisi yang sangat mengenaskan tidak memungkinkan untuk hal itu terjadi.

__ADS_1


wanita paruh baya itu sudah tidak peduli dengan sekitarnya dirinya bahkan marah-marah tidak jelas seperti orang yang sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, dirinya bahkan ingin sekali menghancurkan semua yang ada dihadapannya agar hanya ingin membuat putranya itu kembali. tapi akal Sehatnya masih bekerja dan juga bisa diajak kompromi sehingga dirinya tidak sampai hati melakukan hal yaitu, maka dari itu dirinya memilih untuk diam dan menatap sendu kearah tubuh yang sudah terbujur kaku bisa dibilang jauh dari kata layak untuk dilihat.


"Papa, tolong suruh orang untuk menyingkirkan semua barang-barang yang ada di rumah karena tadi katanya dia sangat tidak menyukai barang-barang itu yang menurutnya tidak ada kegunaannya sama sekali , dan juga Apa kalau nggak satu mess resinya dan juga papa tolong urus administrasi agar dia bisa secepatnya dibawa pulang ke rumah!" pinta Dinda.


Riki melakukan seperti apa yang di katakan oleh istrinya itu sebab memang menurutnya lebih bagus seperti itu, karena tidak mungkin juga kan dirinya menahan Raka untuk berlama lama ditempat itu.


" Ya sudah kalau begitu nanti mama menyusul barengan sama Raka Soalnya di rumah tidak ada siapa-siapa, kasihan kan kalau dia tidak ada yang temani dan juga kita tidak punya siapa-siapa yang bisa untuk dihubungi! " setelah mengatakan hal itu Ricky pun pergi dari situ Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan sang istri sendirian menemani Putra mereka hanya saja segala sesuatu yang di rumah pun harus diurus sedangkan di dunia ini hanya mereka bertiga sama keluargaku Entah di mana mungkin karena kebiasaan mereka berdua yang selalu saja menunjukkan harta benda sehingga semua orang pada memilih untuk menjauh.


Linda mendekati putranya dengan air mata yang belum kering hatinya Terasa seperti dibawa pergi sebelah, anak yang selama ini sudah memberikan apapun yang ia inginkan bukannya berterima kasih dirinya malah menyakiti putranya itu sehingga mungkin mereka tidak fokus pada jalanan hingga tabrakan pun tidak bisa dihindari.


" Maafkan mamamu ini nak yang selalu saja menuntut lebih dan menginginkan hal yang tidak pernah kamu sukai tanpa, bahkan lebih parahnya lagi sebelum kamu pergi dari dunia ini mama sudah mengatakan hal yang tidak-tidak bahkan mungkin tidak bisa dimaafkan semua perkataan mama yang selalu menyakiti hati kamu. Mama salah selama ini sudah tergiur oleh harta duniawi sampai-sampai tidak memikirkan jika satu-satunya harta yang kami punya akan pergi secepat, Kalau boleh meminta dan menukar apa yang Mama pikirkan makan lebih baik Mama saja yang pergi lebih dahulu agar tidak merasakan sakit yang dalam ini. " lirih Dinda sambil menatap kearah putranya itu yang pasti tentu tidak akan pernah ada sahutan lagi dari mulutnya karena mungkin saat itu adalah saat terakhir jadinya melihat Raka tapi setelah itu tidak akan pernah terjadi lagi di dalam hidupnya karena Biar bagaimanapun Raka harus dikebumikan segera mengingat kondisi yang sangat mengenaskan seperti itu.


setiap perbuatan pasti ada konsekuensi yang bakalan dihadapi karena Biar bagaimanapun setiap orang diciptakan dengan memiliki kelebihan serta kekurangan masing-masing, jika lebih mu bisa menutupi kekurangannya maka lakukanlah hal itu jangan malah kekurangannya engkau malah menuntutnya untuk harus bisa lebih dari itu karena dirinya tidak mungkin bisa melakukannya.


Tuhan tidak pernah menuntut umatnya untuk sempurna karena biar bagaimanapun kesempurnaan itu hanyalah milik Nya,hanya saja yang ia inginkan adalah umatnya selalu memberikan kesempurnaan atas berkat yang diberikan.


Dea yang kebetulan sedang berada di rumah sakit karena ingin memeriksakan kandungannya bersama Tio,merasa heran dengan keberadaan Riki yang terlihat sangat sibuk.


Dan juga Dinda yang masuk kedalam ruangan jenazah,padahal selama ini wanita itu paling tidak suka berada di rumah sakit menurut yang ia ketahui dari Raka dulu.


"Mas,itu bukan nya Dinda yaitu Mamanya Pak Raka kok bisa ada disini?" Tanya Dea pada Tio.


Pria itu tak pernah masalah jika Dea menyebut nama orang lain apalagi orang masa lalu nya,sebab tidak ada orang yang hidup tanpa masa lalu.


"Ya sudah ayo kita pergi melihat siapa tahu mungkin dia memerlukan sebab sepertinya wajahnya itu sangat sedih,jangan menjadi orang yang tidak tahu apa apa karena hanya ingin memendam dendam!" Bujuk Tio membuat Dea hanya tersenyum.


"Makasih Mas kamu mau menjadi pria yang pengertian!" Ujar Dea yang benar benar tidak

__ADS_1


__ADS_2