
Alan bingung harus menjawab apa, di satu sisi dirinya tidak ingin membuat Ana salah paham. hanya saja jika dirinya tetap mempertahankan untuk ke rumahnya Ana, bisa dipastikan dirinya bakalan diinterogasi sedemikian rupa oleh penghuni rumah itu.
Ana yang melihat Alan hanya diam saja menjadi kesal sendiri,sebab pria itu seolah menghindar jika diajak bertemu orang tuanya.
"Ya sudah kalau memang tidak ada niat untuk pergi aku bakal pulang sendiri,tapi hanya satu yang aku minta kamu tidak boleh bertemu denganku lagi mulai sekarang !" Tegas Ana lalu menyuruh Alan untuk menghentikan mobilnya itu.
"Bisa tolong hentikan mobil nya,karena aku mau turun?" Tanya Ana memastikan.
Alan menatap heran kearahnya karena dasar apa hingga wanita itu meminta turun dari mobil,padahal dirinya tadi itu hanya berbicara saja belum juga memaksakan kehendak.
"Kenapa kamu mau turun,memang nya kita sudah sampai?" Tanya Alan heran.
"Ya kan kamu tidak mau kerumah,makanya aku mau pulang pake taksi saja biar tidak merepotkan!" Ujar Ana sambil mengerutkan keningnya.
"Yang bilang aku tidak mau itu siapa,orang tadi kan hanya mencoba mengajak kompromi saja bukan nya menolak?" Tanya Alan datar membuat Ana pun tak kalah kesal dengan pria yang berada di hadapannya itu.
"Dasar pria aneh suka sekali mengatakan hal yang tidak Tidak,dia pikir aku wanita apaan? Seenaknya saja mengatakan hal yang tidak tidak seperti itu,awas saja nanti kalau di sana malah bertingkah aku bakal bikin dia kapok tujuh turunan!" Sungut Ana dalam hati.
"Kapan jalan kalau kamu hanya jadi orang bingung seperti ini,kenapa sih harus di bilang dulu baru kamu sadar?" Tanya Ana tak habis pikir membuat Alan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Keduanya kini sudah menuju kerumah Ana setelah drama yang terjadi,memang benar jika sama sama tidak bisa menurunkan ego maka bisa di pastikan bakal susah untuk mendapatkan sesuatu yang lebih manis nantinya.
Setelah sampai di sana tampak Alan berusaha menetralkan jantungnya,agar bisa kuat mental saat bertemu dengan kedua orang tuanya Ana meskipun ini bukan hal yang baru baginya.
"Kenapa,takut?" Tanya Ana heran karena Alan yang masih betah di kursi kemudi.
"Siapa bilang,orang aku hanya mencoba untuk menata penampilan agar lebih keren lagi kok? Masa iya saat bertemu mertua aku harus hancur berantakan seperti ini,nanti malah di pecat jadi menantu kan bisa berabe urusannya?" Ujar Alan penuh percaya diri membuat Ana menatap heran kearahnya.
"Memang nya kamu pikir aku sudah mau sama kamu,lain kali kalau mau bicara itu di pikir dahulu.Aku kan selama ini selalu saja tidak terlalu peduli dengan kamu,hanya kamu saja yang ke geeran berharap kita ada apa apa begitu?" Sinis Ana membuat Alan menatap heran kearahnya.
"Kamu bilang apa tadi,wah kamu jangan macam macam ya membuat aku jadi seperti orang yang berharap sia sia? Awas saja kalau kamu tidak menerima cintaku dan membuat aku galau,aku bakal membuat kamu hamil dan tidak bisa berpaling ke lain hati!" Sungut Alan sambil menatap tajam kearah Ana yang terlihat santai tanpa beban.
"Kamu lelet sekali sih jadi pria,kalau begini terus lama lama kita bakal selalu telat kalau mau kemana mana?" Sungut Ana karena gaya jalan Alan yang terkesan sedang berlomba dengan anakan siput.
__ADS_1
"Bisa dengar dulu tidak apa yang aku katakan,jangan main pergi begitu saja dong. Aku ini seorang pria dan otomatis butuh kepastian,bukan kamu gantung kesana kemari sesuka hati!" Ana menajamkan kembali pendengaran apa ia tak salah lihat dan dengar yang dikatakan Alan barusan.
"Kamu yakin jika aku gantungan perasaan kamu,wah ternyata selain narsis kamu juga sangat memalukan. Sadar tidak dengan apa yang kamu katakan barusan, selama ini memangnya aku ngomong apa ke kamu tentang hubungan kita? perasaan aku tidak pernah berbicara apapun kok, jadi tolong jangan menyimpulkan sesuatu seolah aku adalah pihak yang paling bersalah di sini?" setelah mengatakan hal itu tanpa banyak bicara lagi Ana langsung berjalan lebih dahulu meninggalkan Alan yang tengah menatap heran ke arahnya pria itu mengerutkan keningnya mencoba mengingat apakah dirinya berbuat kesalahan lagi.
Alan mengerutkan keningnya karena Lagi Dan Lagi dirinya salah dan membuat Ana terlihat begitu tak menyukainya, Mungkinkah dirinya yang terlalu berlebihan dalam menyikapi sesuatu tapi pertanyaannya jika dirinya diam saja lantas Bagaimana dengan kelanjutan hubungan mereka karena bisa dipastikan akan berjalan hanya di tempat.
" apa aku tadi salah bicara tapi pertanyaannya letak kesalahannya di mana coba, aku kan hanya mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku tidak lebih dari itu massa selalu harus disalahartikan seperti begini? tapi Yah begitulah seorang wanita pasti bakalan selalu menang pria mah bisa apa, palingan cuma menyengir doang!" desah Alan pelan lalu segera mengikuti langkah kaki Ana yang terlihat sudah berada di teras bahkan menoleh ke arahnya pun wanita itu tidak melakukannya sama sekali Ana terlihat tak menganggap kehadiran Alan di situ ternyata benar pembalasan itu lebih sadis.
" sayang tungguin aku dong, masa datangnya berdua masuknya sendiri-sendiri kan tidak enak dilihatnya!" teriak Alan membuat Ana Jengah.
" yang suruh kamu panggil sayang itu siapa? asal kamu tahu Ya, dari dulu Nama aku itu Ana bukan sayang! jadi tolong jangan merubah nama yang sudah diberikan orang tuaku dengan panggilan kamu yang tidak jelas itu!" sungut Ana membuat Alan menatap heran ke arah wanita itu.
" Bukankah panggilan sayang itu Terdengar sangat manis Bukankah semua wanita pasti sangat menyukai hal itu, tapi kamu kenapa tidak menyukai hal itu memangnya ada yang salah dengan panggilan yang aku berikan barusan?" tanya Alan penasaran.
Ana hanya bisa menghela nafasnya kasar. ternyata memang Alan hanya menang tampan doang, karena sedari tadi pria itu tidak paham dengan apa yang ia mau. jika sudah seperti begini bakalan ada drama apa lagi nanti didalam, karena keterlambatan mereka padahal itu hanya karena sikap Alan yang membuat mereka Terhenti Di depan pintu.
"Demi Tuhan Aku mohon dengan sangat kepadamu, bisa tidak jangan mengajakku berdebat karena nanti Papa sama Mama bakalan tanya yang macam-macam Kenapa kita telat! "pinta Ana dengan tatapan memelas membuat Alan yang hendak menjawab pun mengurungkan niatnya.
" Halo Pa Ma maaf ya tadi kami telat, Soalnya ada urusan kecil yang harus diselesaikan!" ujar Anna sambil menatap ke arah Alan yang hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" siang Papa Mama, kami tidak mengganggu kan?" pertanyaan alam yang aneh bin ajaib itu membuat Ana menatap heran ke arahnya sambil menggelengkan kepala.
kalau sudah tahu mengganggu Kenapa datang bertamu lebih baik tidak usah saja sekalian, soalnya setiap orang bertamu di jam-jam seperti begini jatuhnya pasti mengganggu Jadi kalau sudah sadar diri lebih baik terus bertanya hal yang seperti begitu lagi kan nanti kalau dijawab kan rumah sesuai dengan apa yang kita tanyakan jadi malu sendiri.
" orang Kenapa sih dibilangin ku tidak pernah paham, kalau sampai Mama jawab yang bukan-bukan madunya kan nggak ketulungan!" semut anak dalam hati Namun ternyata apa yang ia takutkan sama sekali tidak terbukti.
" Ih yang bilang kalian mengganggu itu siapa sih? justru mama senang daripada hanya makan berdua sama papa, kan makanan yang sebanyak ini kelihatannya jadi mubazir kan?" sahut Lia sambil tersenyum membuat Ana hanya bisa menghela nafasnya lega karena ternyata tidak ada drama susulan'
" ya sudah Kenapa malah bengong Ayo duduk, Memangnya makanan bakalan membuat kita kenyang kalau hanya dilihat saja?" ajak Andra membuat semuanya langsung memilih tempat masing-masing untuk duduk Ana tanpa sadar jika kini dirinya duduk tepat disamping Alan terlihat seperti pasangan yang tidak ingin saling menjauh,
" Cie yang duduknya juga sudah tidak ingin berjauhan kapan nih dihalalkan, Mama sudah tidak sabar loh pingin menggendong cucu kira-kira kalau darahnya blasteran seperti kalian jatuhnya Seperti apa ya keturunannya kalian nanti?" goda Lia membuat Ana yang tengah meminum air langsung tersedak.
jika Ana terlihat begitu terkejut berbeda dengan Alan yang begitu antusias, karena ini namanya lampu hijau sudah di nyalakan tinggal dirinya Bagaimana caranya menaklukan hati anak yang Sekeras Batu itu.
__ADS_1
" Ah Mama tenang saja jika Ana sudah tidak menolakku pasti tidak lama lagi Mama bakalan menimang cucu, mana saja sekarang masih kendala sama calon mamanya yang terlihat sepertinya tidak menyukai keberadaanku di dekatnya!" perkataan Alan itu membuat Ana menatap tajam kearah pria itu karena terlihat seperti sedang memprovokasi orang tuanya.
" kamu itu bicara apa sih Kenapa jadi ngelantur gitu, bisa tidak Fokus aja sama Makannya kamu itu yang dari tadi bahkan belum tersentuh sama sekali. Awas aja kalau kamu bicara yang tidak tidak lagi seperti tadi aku bakalan mengusir kamu sekarang juga, selalu saja membuat mood orang hancur ketika hendak ingin melakukan sesuatu?" ancam Ana yang terlihat begitu serius tidak ada nada bermain di dalamnya.
" Iya maaf tadi hanya keceplosan saja kok, beneran tidak serius Jadi kamu jangan marah-marah dong cemberut itu tidak cocok buat kamu!" goda Alan bukannya membuat Anna Tersanjung malah membuat wanita itu hanya bisa mendengus kesal.
interaksi mereka berdua itu tidak luput dari pengamatan Andra dan Lia, mereka hanya bisa tersenyum ketika melihat sikap Alan yang bagaikan kerbau dicucuk hidungnya menurut saja dengan apa yang dikatakan oleh Ana tanpa membantah sama sekali.
" kalian kenapa sih kelihatannya sangat manis sekali, mama jadi keingat waktu muda dulu selalu ngegas kalau Papa salah sedikit?" ucap Lia sambil menatap kearah suaminya yang daritadi bahkan tidak ingin mengeluarkan satu kata,
" bisa tidak kita makan dalam posisi yang tenang, karena kasihan loh apa yang kita usahakan dengan keringat yang bercucuran tidak kita hargai sama sekali?" tanya Andra membuat semua yang ada di situ hanya bisa menundukkan kepalanya karena tidak mungkin membantah apa yang dikatakan kepala keluarga.
berbeda di lain tempat sepasang suami istri yang tengah menikmati bulan madu, sedang berpacu untuk meraih kenikmatan dunia yang segera akan mereka dapatkan tidak peduli dengan cuaca di negara itu itu yang sedang musim dingin.
" sayang kamu memang sungguh sangat membuat aku sampai ketagihan dan tergila-gila, Jika seperti begini terus aku tidak akan membiarkan kamu lolos barang sedikitpun!" desah Dafa yang terlihat begitu semangat menggoyang pinggulnya sesuai dengan irama yang ia mau.
Jangan ditanya lagi wajah Alika ini seperti apa karena terlihat sangat memerah karena malu dan juga menikmati apa yang diberikan oleh sang suami, Dafa memang memperlakukan dirinya sangat lembut Tapi tetap saja biarpun lembut tapi kalau sudah sakit bersemangat terkadang lupa dengan kelembutan itu sendiri.
pergulatan mereka bukan hanya sebentar, karena Daffa selalu beralasan Jika sesuatu yang dilakukan berulang-ulang itu hasilnya bakalan lebih tokcer. daripada Hanya Sekali Saja maka dari itu ketika dirinya meraih pelepasan pertama, biasanya miliknya tidak akan pernah dicabut karena akan berlanjut ke ronde yang kesekian kalinya dan Alika Hanya bisa pasrah mengimbangi kegilaan suaminya yang tidak pernah habis-habis itu.
setelah selesai entah di waktu yang berapa lama Alika tanpa banyak bicara langsung memilih untuk tidur, Persetan dengan pria yang ia sebut suami karena gara-gara pria itu dirinya Babakan tidak bisa memijakkan kaki di lantai karena sungguh merasakan kram yang tak terhingga.
sedangkan Daffa yang entah torpedo nya itu terbuat dari apa Sungguh terlihat tidak merasakan lelah sama sekali, bahkan pria itu sempat-sempatnya mandi dulu sebelum tidur berbeda dengan Alika yang memilih bergelung di bawah selimut.
Dafa hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat tingkah sang istri yang sudah seperti orang tidak bernyawa itu saat tertidur. ternyata efek kelelahan nya sungguh luar biasa, sebenarnya Dafa ada rasa kasihan tapi rasa bangga lebih mendominasi karena dirinya bisa membuat istrinya knock out.
" ternyata tidak sia-sia juniorku aku jaga agar tidak seperti teh celup, jadi saat di sekali dicelupkan di dalam tempat yang tepat dia bakalan bereaksi yang sungguh sangat sangat membuat aku bangga!" gumam Dafa yang tidak didengar sama sekali oleh Alika coba saja kalau sampai wanita itu mendengarnya pasti bakalan merasa kesal karena dirinya sudah dijadikan seperti bahan percobaan.
berbeda dengan kedua orangtua mereka yang sedang suntuk karena Mirna ingin sekali pergi berbelanja bersama menantunya, sekalian juga memamerkan kepada semuanya Betapa cantiknya menantunya itu dan hitung-hitung kan sekalian belanja sekalian refreshing.
"papa, Kenapa sih Daffa tega sekali. Padahal mereka baru menikah seminggu loh masak menantu main dibawa pergi begitu saja, kalau kalau begini kan mama bakalan kesepian tidak ada yang bisa diajak buat jalan-jalan?" sungut Mirna membuat suaminya menatap tak percaya kearah wanita itu kenapa jadi terlihat lebay ya.
" Dafa kan suaminya, jadi berhak dong membawa istrinya kemana-mana?" sahut Bey santai Mirna mendengus kesal karena suaminya itu tidak mendukungnya sama sekali.
__ADS_1