MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN

MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN
episode 132


__ADS_3

" semuanya, tadi disuruh tuan Alan untuk berkumpul kembali di ruangan meeting! Ingat jangan sampai ada yang telat karena beliau sudah lebih dulu ke sana, dan satu lagi tolong siapkan apa yang dimintanya tadi tanpa ada yang kurang sedikitpun!" setelah mengatakan hal itu segera menyusul Alan dan Ana ruangan meeting karena tidak ingin tuannya itu menunggu terlalu lama dan alhasil dirinya yang bakal kena marah.


Anna menatap kearah kekasihnya yang terlihat wajahnya seperti tidak menikmati semuanya, dirinya sebenarnya Tak Tega juga melihat Alan seperti begitu hanya saja percuma kalau sudah sampai capek datang tapi tidak melakukan sesuatu yang berguna'


" kamu senyum dong jangan pasang muka yang ditekuk seperti begitu, nanti ter kesannya seperti dipaksakan Apa kamu mau Semua orang punya pemikiran seperti begitu? " bujuk Ana membuat Alan tersenyum memandang kearah kekasihnya itu.


" Aku baik-baik saja kok tidak marah juga ke kamu, hanya saja lagi pusing memikirkan semuanya! semua orang yang bekerja sama tidak bisa diajak kompromi, dan alhasil pekerjaan jadi tertunda tidak beres semuanya!" ujar Alan yang begitu frustasi karena laporan yang harusnya diterimanya sekarang malah tidak nampak untuk disebut dengan kata layak.


Ana paham dengan apa yang ada dalam pikiran kekasihnya itu, tanpa banyak bicara dikecupnya pipi Malang agar jangan terlalu terbebani dengan semuanya.


Cup


Alan langsung membeku tidak tahu harus bersikap seperti apa karena apa yang dih lakukan oleh Ana barusan, karena selama ini wanita itu itu yang susah untuk diajak bermesraan tapi kenapa sekarang dirinya bahkan dengan sukarela melakukan hal itu di ruangan umum.


" wow, kamu sudah berani menggoda aku apa tidak takut kalau aku minta tambah? soalnya pipi sebelah bakalan merasa iri kalau hanya di sebelah saja dikasih jatah, kamu pasti paham dong maksudku barusan atau perlu aku Praktekkan lagi supaya kamu paham dengan apa yang aku maksud barusan?" tanya Alan sambil menaik turunkan alisnya.


" tidak ada namanya siaran ulang, bukannya Terima kasih sudah dikasih sekali tapi malah minta tambah! Lain kali kalau tahu kamu orangnya seperti begini Aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh lagi, soalnya dikasih hati minta jantung lama-lama isi sekalian kamu ambil kasih habis!" sungut Ana memasang wajah cemberut dan tak berselang lama pintu diketuk dari luar.


tok tok


" tinggal masuk saja aku susah sekali ngapain juga pakai harus Ketuk pintu segala, sudah tahu terlambat datangnya Tapi masih saja bersikap keanehan memang dia pikir kita ini manusia yang tidak punya kerjaan lain lagi?" ujar Alan dari dalam yang masih bisa didengar oleh Dio.


ceklek


" Permisi tuan, Maaf saya sedikit terlambat soalnya harus memberitahukan kepada yang lain soal meeting dadakan ini!" ujar Dio sebelum dirinya kena semprot oleh Alan.


" yang lainnya mana kalau memang kamu sudah kasih tahu, bisa tidak jangan membuat pekerjaan orang lain Jadi menumpuk hanya karena menunggu kalian? mana laporan yang tadi salah soalnya calon istriku ingin melihatnya, dia bukan seperti kalian yang tidak berguna sama sekali di saat seperti begini?" Sindir Alan membuat Dio tak bisa berkata apa-apa lagi sedangkan Ana hanya bisa menundukkan kepalanya sebab dirinya merasa terbang melayang karena disebut sebagai calon istrinya Alan'


" wow, dia menyebutku dengan kata calon istri rasanya seperti mimpi?" gumam Anna dalam hati.


dengan perlahan Dio memberikan map kuning yang sedang dirinya pegang itu kepada Ana sambil menundukkan kepalanya, karena merasa tak enak hati terhadap calon istri Bosnya itu. sebab sudah harus ikut campur dengan pekerjaan yang harusnya menjadi tugasnya, ternyata memang di saat seperti ini IQ seseorang benar-benar dipertaruhkan kira-kira bisa berfungsi tidak dalam keadaan darurat.


" Maaf merepotkan Anda, Nyonya Bos." ujar Dio pelan.


" sudah tahu merepotkan masih saja ngomong, Ya sudah kamu duduk kembali ke tempat kamu sambil menunggu yang lain. sudah bilang ke bagian pantry untuk menyiapkan minuman, tidak mungkinkan kita duduk bengong saja seperti begini tanpa ada apa-apa yang bisa mengganjal?" sinis Alan.


" sudah tuan!" sahut Dio pasti.


" baguslah kalau begitu karena begitu artinya kamu pantas untuk diharapkan, tugas seorang asisten yaitu diharapkan Dalam kondisi apa apapun jangan ketika hanya diperintah saja?" jelas Alan sambil menatap tajam ke arah Dio yang tidak bisa berbicara panjang lebar lagi.


sedangkan Ana dari tadi sibuk memeriksa berkas yang diberikan Dio kepadanya, karena Biar bagaimanapun dirinya tak ingin kekasihnya itu marah-marah tidak jelas dan alhasil semua orang yang bakal menanggung Akibat dari semua perkataan pedesnya itu.

__ADS_1


tidak berselang lama pintu dibuka dari luar tampak lah beberapa orang penting yang dari perusahaan Itu yang pernah memegang Berkas untuk keperluan meeting, semua menunduk sambil memberi hormat kepada Alan yang terlihat Acuh kepada mereka karena sudah membuat dirinya merasa sangat kecewa.


ketika Alan sibuk dengan mendisiplinkan para karyawannya berbeda dengan Deka yang sedang pusing harus menghadapi Daffa yang menuduhnya berbuat yang tidak-tidak, padahal melihat Diana saja emosinya sudah di ambang batas apalagi ada bermain dengan wanita itu bisa putus nafasnya saat itu juga.


" Jadi bagaimana ada yang bisa kamu jelaskan soal kejadian tadi pagi yang aku dengar di kamar hotel mu, ingat ya jangan sampai saat kita kembali ke Indonesia nanti terus ada rumor yang mengatakan asistenku itu melakukan hal-hal yang tidak terpuji di Korea? kamu tahu sendiri kan Bagaimana populernya perusahaan Adrian Group, Sebab aku kesini itu untuk berbulan madu Dengan istriku bukan membiarkan kamu menyebar santan kesana-kemari?" tegas Dafa membuat Deka hanya bisa menghela nafasnya kasar.


" Kamu kenapa tidak membawa calon istri kamu ikut kan ke sini, Siapa tahu aku bakal punya teman baru dan tidak bakal bosan harus terkurung di tempat ini saja?" tanya Alika antusias karena kapan lagi melihat Deka menggandeng pasangan sebab selama ini hanya selalu membuntuti suaminya.


" Ya ampun Nyonya bos juga ikutan, aku mesti gimana caranya ngomong ke mereka kalau itu hanya perempuan gila yang sedang mencari gara-gara denganku?" sungut Deka dalam hati karena ternyata Alika sepaham dengan Daffa.


" sebenarnya wanita itu hanya karena salah paham akhirnya memaksa masuk ke dalam kamar hotel saya, tapi sebenarnya dia itu tidak masuk di dalam kriteria wanita idaman saya sama sekali kok! saya masih normal bisa membedakan mana yang merupakan wanita yang pantas dipertahankan dan tidak, apalagi model seperti knalpot racing seperti begitu untuk apa coba saya peduli dengan dia?" tanya Deka yang benar-benar tidak menyukai sikap Diana yang cempreng nya minta ampun.


" Oh ya, Memangnya kriteria kamu tuh harus seperti yang bagaimana? kita itu jangan terlalu menargetkan sesuatu setinggi langit kalau sebenarnya kita tidak pantas mendapatkan yang berlebihan, Aku jadi kasihan sama wanita yang sudah kamu permainkan terus kamu anggap bahwa dia itu tidak pantas!" entah Dafa dan istrinya itu terkesan memaksakan kehendak untuk Deka agar memiliki pasangan sedangkan pria itu belum ada niat sama sekali jika dalam pikirannya wanita itu merupakan makhluk yang sangat merepotkan.


" Nah betul itu sayang aku setuju sama perkataan kamu barusan, kasihan lo anak orang kalau di permainkan Sesuka Hati!" ujar Alika antusias seolah memojokan Deka itu itu adalah sesuatu yang sangat mereka impikan sejak lama.


Deka memilih diam saja dari pada tambah banyak bicara membuat pikirannya jadi mumet,sebab majikan nya itu masih saja tetap mempertahankan ide mereka yang jauh dari kata benar.


Sedangkan Diana yang hari ini rencananya bakal mengunjungi tempat yang cocok untuk swafoto di korea memilih duduk diam saja,mood nya sudah hancur ketika dari semalam sampai tadi pagi dirinya harus berdebat dengan Deka.


Arin yang sedang merasa di cuekin oleh Diana membuat dirinya jadi heran dengan kelakuan cs nya itu,padahal liburan ini adalah keinginan mereka berdua.


Sedangkan Diana memilih tetap pada khayalan dirinya sendiri,tak peduli mau bagaimana lagi caranya Arin mengingatkan dirinya agar kembali menikmati liburan yang ada.


"Astaga ini anak kenapa sih bukan nya merespon malah tambah ngeyel,padahal aku teriak sudah sampe tenggorokan pecah sendiri tapi dia malah off begitu saja?" Sungut Arin lalu mencubit gemas pipi Diana agar kembali sadar dengan kehadiran dirinya.


"Kamu kenapa sih,Rin?Kamu pikir aku anak bayi apa yang bisa kamu gemas sesuka hati,ini sakit Tau tidak?" Ketus Diana sambil mengusap pelan pipinya yang terasa begitu kram karena ulah dari Arin barusan.


"Siapa suruh di panggil dari tadi tapi tidak respon,padahal aku sampai mau menangis karena ulah kamu itu!" Sinis Arin.


"Au ah,aku lagi malas buat liburan lebih baik kita pulang ya,pengen bobo cantik di kamar saja!" Pinta Diana sambil memasang wajah tak semangat.


"Yah kok gitu,padahal susah payah lho buat minta izin sama bokap kamu untuk datang liburan di sini?" Tanya Arin memelas.


"Sama saja kalau tidak ada mood,bakal hancur juga kan liburan kalau tidak di nikmati?" Diana entah mengapa terlihat begitu tak semangat mungkinkan dirinya perlu bertemu dengan Deka agar mood nya bisa kembali normal.


"Terus kamu mau nya gimana,tanggung lho kita sudah jauh jauh datang kesini? Kalau pake mobil sih tidak masalah tapi masalahnya tadi itu kita jalan kaki gaya cantik,kaki aku saja sudah hampir sama dengan atlet lomba lari!" Tanya Arin yang juga ikutan tak semangat ketularan dari sikap Diana itu.


"Kita makan dulu saja,siapa tahu dengan perut kenyang semangat bakal kembali lagi!" Ajak Diana yang sudah berdiri sambil berjalan kaki menuju ke cafe yang sedang banyak di kunjungi anak muda.


Padahal tanpa mereka sadari jika Alika ternyata juga ingin berada di situ,maka sekarang Deka dan Daffa sudah bersiap menemani Nyonya Bos mereka pergi dengan sesuai kemauannya.

__ADS_1


"Sayang,kenapa sih harus jalan jauh jauh hanya untuk makan?" Tanya Daffa yang hanya ingin berduaan dengan sang istri di dalam kamar.


"Percuma datang jauh jauh kalau hanya mengurung diri dalam kamar,lebih baik kita tetap stay di indonesia saja kan?" Tanya Alika balik.


"Bukan begitu juga sih,tapi nanti kamu capek lho!" Bohong Daffa karena tak ingin sang istri menyadari modusnya.


"Aku kuat kok siapa bilang aku lemah,kamu saja yang kelebihan lebay sampai selalu menganggap diri lu lemah!" Sinis Alika sambil memicingkan mata menatap kearah Daffa yang sudah tak dapat berkutik lagi.


"Kamu kenapa diam saja,setidaknya bicara sedikit apapun itu?" Waduh kenapa jadi Deka yang ikut di salahkan jika tak mampu berdebat dengan Alika.


"Maaf Tuan,saya diam karena bingung harus berkata apa lagi!" Ujar Deka yang memilih jalan aman karena tidak ingin terlibat dengan perdebatan Suami istri itu.


"Nah itu baru benar jawaban kamu tadi,lain kali kalau bingung harus bicara apa lebih baik diam biar aman ?" puji Alika sambil menunjukan jempolnya.


Karena memakai mobil hingga membuat mereka tak memerlukan waktu yang lama untuk sampai,kebetulan tempat yang mereka tuju berada di ditempat yang ramai karena berada di jantung kota.


"Stop it,karena kita sudah sampai!" teriak Alika antusias.


Citttt


Deka mengerem mobil secara mendadak karena benar benar terkejut dengan teriakan Alika barusan,untung juga dirinya cepat tanggap kalau tidak pasti ada kepala yang sudah di lindes ban mobil.


"Astaga Yang,kamu kenapa pake teriak segala untung juga suami kamu punya jantung yang kuat!" Tanya Daffa yang sambil mengusap pelan dadanya.


Deka menatap heran kearah Tuan nya itu,padahal dirinya yang terkejut dan bisa berpengaruh pada nyawa mereka tapi kenapa pria itu yang terlihat lebay.


"Aku yang sedang spot jantung kenapa Tuan Daffa yang sengsara?" Tanya Deka dalam hati.


"Kenapa lihat lihat,kamu pikir aku ini pajangan yang bisa seenaknya kamu lihat lihat?" Tanya Daffa tajam.


"kalian berdua ini kenapa sih harus pake acara saling tatap begitu,nanti jatuh cinta siapa yang mau tanggung jawab?" Tanya Alika setengah meledek.


"Aku,bakal jatuh cinta sama dia? Kamu yang benar saja Yang kalau ngomong,memang nya kamy lupa bagaimana normal nya suami mu ini kalau di ranjang?" Tanya Daffa sambil menunjukan dirinya.


Deka mengusap pelan kupingnya yang terasa begitu panas karena mendengar apa yang di katakan Tuan nya itu,kok bisa bisanya membicarakan hal ranjang tepat di hadapannya yang jelas jelas jomblo akut.


"Huss jaga mulut mu itu jangan ngomong sembarang,lebih baik kita turun keburu tempatnya penuh kan percuma datang jauh jauh!" Ketus Alika lalu menarik tangan suaminya agar mau ikut dengannya turun dari mobil.


Sedangkan Deka hanya mengikuti dari belakang pasangan suami istri yang terlihat betah bergandengan tangan,maklum lah pengantin baru mana ada rasa malu untuk menunjukan kemesraan di depan umum.


Nanti kita lihat sepuluh tahun kemudian,kira kira masih sama tidak ya?

__ADS_1


__ADS_2