
Like N KOMENNYA
LOPE U FULL
LANJUT ***
Daffa menatap kearah punggung Alika yang semakin menjauh, pria itu sadar jika Alika sedang kesal padanya.
hanya saja egonya melarang untuk meminta maaf jika Alika kesal padanya hanya karena ia tak mengijinkan untuk berbicara pada Raka, entah apa yang pria itu rasakan kini hanya saja hati kecilnya jika ada pria lain yang selalu Alika pikirkan.
" sepertinya aku harus melakukan sesuatu agar pria itu sadar, enak saja main robot apa yang seharusnya menjadi milikku! " batin Daffa lalu memilih untuk tidur biarlah permasalahan hari ini selesai dulu Bukankah masih ada hari esok?
di dalam kamarnya Alika sedang uring-uringan, wanita itu merasa semenjak bekerjasama dengan perusahaannya Daffa kebebasannya seolah terenggut.
" sepertinya aku harus kompromi Ulang deh sama Papa soal kerjasama ini, kalau tidak pasti tidak akan bisa bernafas dengan bebas jika selalu berdekatan dengan pria aneh bin ajaib itu." batin Alika frustasi lalu memilih untuk segera tertidur karena capek memikirkan hal duniawi yang dari dulu sampai sekarang tidak ada habisnya.
Keesokan paginya
Alika masih tertidur ketika matahari sudah menampakkan taringnya, karena dari semalam Ada banyak hal yang ia pikirkan termasuk dengan perubahan sikap Daffa yang sangat tidak menyenangkan menurutnya.
potret Alika mariano
LANJUT **
Daffa yang tidak bisa tidur dengan tenang sudah terbangun pagi-pagi sekali, setelah mandi dan bersiap diri bukannya mencari sarapan dirinya malah termenung tepat di depan pintu kamarnya Alika.
Dirinya Bahkan tak beranjak sedikitpun entah apa yang ada dalam pikirannya, membuat Ben sebagai asisten pun merasa bingung?
" pagi tuan, hari ini anda ingin sarapan apa biar saya siapkan?" tanya Ben memastikan.
Daffa menoleh ke arah sumber suara sambil mengernyitkan keningnya, karena dirinya merasa sendirian saja tadi di situ kenapa sekarang Ada Ben yang tiba-tiba muncul.
" siapkan nasi goreng dua porsi minumnya teh tawar hangat saya, setelah itu tolong jangan mengganggu aku sedikitpun! karena aku ingin sendirian dulu nanti kalau Alika nya sudah bangun baru lah kami bakalan menyusul, kamu cukup laksanakan tugas Masa jam dan tidak bertanya yang aneh-aneh lagi!" Daffa serius mengatakan hal itu.
setelah berpikir semalaman ia ingin membahas hal penting dengan Alika, sebab dirinya bukan anak kecil lagi yang tidak paham dengan sikap Alika kepadanya selama ini.
30 menit kemudian
Alika sudah terbangun dan terkejut ketika melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 9.30 pagi, dirinya pun penasaran kenapa selama ini mamanya yang begitu rewel tidak membangunkan dirinya yang selalu kesusahan bangun pagi.
" Mama kemana sih kok bisa ya tidak bangunkan aku, jadinya kan telat kantor? " sungut Alika lalu segera mandi tapi pikirannya langsung kembali menguasai dirinya ketika tahu dan sadar dengan tempat yang asing menurutnya.
" astaga aku kok bisa lupa ya kalau sedang berada di luar kota dan menginap di tempat ini, pantasan saja mama tidak membangunkanku orangnya tidak ada disini! " mereka yang sudah merasa bahwa waktunya sudah mepet memilih untuk tidak mandi dan hanya mencuci mukanya saja biar wajah bantalnya tidak terlalu kentara.
ceklek
Alika pun keluar kamar dengan terburu-buru hingga tak sadar jika ada Daffa yang berada di depan pintu kamarnya, dirinya bahkan sempat menabrak Daffa hingga keduanya jatuh dengan posisi Alika di atasnya.
Alika membulatkan matanya lebar ketika sadar bahwa ada tubuh yang berada di bawahnya, dengan segera Alika pun bangkit dan meminta maaf pada Daffa karena sudah ceroboh.
" Maaf aku tidak sengaja tadi, soalnya sedang terburu-buru. Lagian kamu kok bisa ada di sini ya sudah akhirnya aku tabrak, tapi ada yang terluka tidak ya? " tanya Alika penasaran tapi sedikitpun tidak mendapat respon dari Daffa.
pria itu memasang tatapan datarnya, karena kesabarannya memang benar-benar teruji ketika dengan sepenuh hati menunggu Alika tadi.
tanpa banyak bicara Dafa berjalan mendahului Alika, sedangkan Alika hanya mengikutinya dari belakang tidak berani bertanya apapun sebab tingkah aneh dafa itu sudah membuat dirinya pusing apalagi kalau bertanya lagi pasti pria itu bakalan lebih sensitif lagi.
" dasar pria aneh siapa tadi berdiri di situ Ya sudah aku tabrak saja, eh malah dianya marah tidak jelas tidak sadar jika di sini yang salah itu Dia Bukan Aku?" sungut Alika kesal.
Daffa benar-benar merasa dipermainkan oleh Alika, Bagaimana tidak ia menunggu Alika mulai dari pukul 7 pagi dan wanita itu baru keluar pukul 10.
3 jam
__ADS_1
menunggu dalam waktu 3 jam itu adalah hal yang paling membosankan dan menjengkelkan, ia bahkan sedikit menurunkan ego nya ketika ketahuan Ben tadi.
akan tetapi apa yang ia dapatkan tidak sesuai dengan ekspektasi Yang ada hanyalah kekecewaan, mungkin dirinya yang terlalu berharap untuk dihargai sedikit saja oleh Alika tapi sayang harapannya mungkin terlalu ketinggian hingga sulit sekali untuk terlaksana.
Ben yang baru pulang mencari sarapan merasa heran dengan Kesunyian yang ada itu, kedua manusia yang yang sedang duduk saling berhadapan itu malah sibuk dengan ponselnya masing-masing tidak ada obrolan sama sekali.
" tuan sarapannya mau saya siapkan Sekarang atau nanti saja, sekalian dengan kepunyaannya nona Alika, daripada kalau sudah dingin nanti rasanya bakalan tidak enak? " tanya Ben memastikan.
" kita pulang sekarang! " ujar Daffa bahkan terlihat seperti orang yang tidak ingin berlama-lama di tempat itu.
Alika pasrah karena bingung harus berbicara apa, ia bahkan bingung kenapa sikap Dafa begitu dingin padanya padahal dirinya tak berbuat kesalahan apapun itu.
" tapi tuan.....
perkataan Ben terhenti di udara ketika Daffa sudah memasang tatapan tajamnya, dengan pasrah pria itu menuju ke arah mobil untuk menunggu Alika dan Dafa.
Alika yang tak tahan dengan perubahan sikapnya Dafa memilih untuk bertanya daripada dirinya seperti orang bingung, ia tak mau terjebak di antara orang-orang yang sedang bertikai.
" bisa kita bicara sebentar?" tanya Alika memastikan membuat dakwah yang tadi ingin melangkahkan kakinya langsung berhenti dan membalikkan badan menghadap kearah wanita yang sedang berada di belakangnya itu'
" aku tidak punya waktu untuk membahas apapun itu, waktuku sudah terbuang habis pagi ini jadi jangan menambahkan lagi hal-hal yang tidak penting! "sinis Daffa membuat Alika begitu yakin jika pria itu kesal padanya karena dirinya yang terlambat bangun.
" aku minta maaf maaf jika membuat waktumu terbuang percuma karena terlambat bangun, hanya saja bisa tidak bersikap lebih sopan padaku? " tanya Alika pelan sambil menundukkan kepalanya.
" Sudah kubilang tidak ada yang perlu dibahas lagi, Ayo jangan menuntut hal yang tidak-tidak karena aku tidak ingin direpotkan hal yang tidak ada pentingnya sama sekali!" tegas Daffa.
Ok lanjut😘😘
Jleb
Perkataan yang di lontarkan oleh Daffa barusan benar benar membuat Alika kecewa,padahal tak ada perasaan cinta sama sekali tapi entah kenapa hatinya merasa seolah tak terima dengan kenyataan yang ada.
Daffa bahkan tak sadar sama sekali jika Alika tak mengikutinya,pria itu masih saja tetap mempertahankan gengsinya yang sebenarnya tidak ada faedahnya sama sekali.
Saat Daffa sudah hendak masuk kedalam mobil,barulah ia sadar jika Alika tak mengikutinya sama sekali.
"Aishh itu cewek kemana lagi sih,kenapa selalu merepotkan orang kerjaannya?" Gerutu Daffa yang bukan nya mencari Alika dirinya malah masuk kedalam mobil yang sudah ada Ben di dalamnya.
Ben yang Sadar jika Alika belum datang,mau tak mau terpaksa menanyakan pada Tuan nya itu walaupun ia merasa jika ada hal yang tidak beres.
"Maaf Tuan,dimana Nona Alika?' Tanya Ben pelan.
Daffa mendengus kesal mendengar pertanyaan Ben barusan,padahal ia saja sebenarnya bingung Alika sedang berada dimana?
"Kau pergi mencarinya saja kan gampang,lagian kau pikir aku bodyguard nya apa jadi selalu berada di samping nya?" Ketus Daffa kesal sambil memejamkan matanya.
Ben memilih untuk turun dari mobil dan mencari Alika,karena mereka tidak bisa pulang jika wanita itu belum datang.
Sepeninggal Ben,Daffa memilih untuk membuka matanya dan melihat sekeliling guna mencari keberadaan Alika.
Bohong jika dirinya tidak khawatir,belum lagi mengingat kata kata pedas yang di keluarkan olehnya tadi.
"****,kenapa tadi aku bisa lost kontrol seperti itu ya?Ah dia pasti sedang bersedih sekarang,kenapa kamu begitu bodoh Daffa sampai mengatakan hal yang tidak tidak?" Batin Daffa merutuki kebodohan nya.
Di dapur
Alika mendekati wanita paruh baya yang sedang sibuk beberes,terlihat kelelahan tapi tetap melakukan tugasnya.
"Permisi Mbok!" Panggil Alika pelan.
"Eh buju busyet akang Bemo!" Ujar Wanita itu latah karena terkejut.
__ADS_1
Sedang Alika menggaruk kepalanya yang tak gatal melihat reaksi wanita itu,ia merasa bersalah ketika melihat wanita itu yang begitu terkejut.
"Maaf Mbok,Jika tadi sudah sangat terkejut." Ujar Alika tak enak hati.
"Istri Bapak Mah gitu Non,bahkan kalau lagi bapak ajak begituan kalau jatahnya kambuh dia kadang berlari keluar kamar dengan tidak memakai apapun!" Suami wanita paruh baya itu menimpali membuat sang istri wajahnya memerah karena malu sedang Alika sudah tak tahu harus menjawab apa ketika mendengar pembicaraan suami istri tanpa Filter itu.
"Ya Tuhan ini kenapa Aki aki Mulutnya tidak bisa di sensor dulu sih,malah membahas hal yang belum pernah aku rasakan sama sekali?" Batin Alika menangis.
"Bapak Ih bisa tidak jangan ngebahas hal itu di depan tamunya Aden Daffa!" Ujar Wanita paruh baya itu.
Ketika nama Daffa di sebut,Alika akhirnya tersadar dengan tujuan awal dirinya disitu.
"Maaf mengganggu,kendaraan disini kalau mau kekota pake apa ya?" Tanya Alika penasaran.
"Maksudnya Non apa ya?" Tanya Pak Udin penjaga Villa itu.
"Jadi saya itu mau balik ke kota,tapi bingung harus pake apa kesana soalnya Mobil ditinggal di kantor kemarin!" Ujar Alika pelan.
"Lho Si Non ini gimana sih,Aden Daffa kan juga bawa mobil terus mau balik kekota kenapa harus cari kendaraan lain sih?" Tanya Nini Istrinya Mang Udin.
"Iya tapi saya harus ke suatu tempat dulu,sedangkan Mereka mau langsung ke kantor karena ada urusan penting!" Bohong Alika.
"Kalau kendaraan disini itu agak sudah Non,karena semua sudah di siapkan oleh alam.Sedangkan untuk bahan pokok yang lain,biasanya akan ada mobil yang membawanya kesini terus di beli sama warga!" Sahut Pak Udin menjelaskan.
"Tuh Mobilnya kira kira kapan balik kesini?" Tanya Alika memastikan.
"Dia seminggu sekali baru kesini!" Sahut Nini menimpali.
"Terus baru kemarin dia dari sini membawa kebutuhan warga,jadi kalau mau kembali lagi palingan minggu depan!" Ujar Udin.
Alika menghela nafasnya kasar,ia tak percaya jika niatnya tak ingin bertemu Daffa harus di cancel dahulu.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya Pak,Buk!" Pamit Alika sambil menundukan kepalanya setelah itu langsung berbalik arah seraya memecahkan masalah ini.
Tepat ketika ia keluar dari dapur,Ben pun muncul dan bernafas lega.
"Lho kamu kok masih disini,padahal saya pikir sudah pulang?" Tanya Alika heran.
"Yang benar saja Nona kami pulang tanpa anda,bisa bisa saya di gorok sama Nyonya Mirna karena membiarkan menantunya ada disini."Goda Ben sambil tertawa kecil.
"Ih kamu nih sembarangan saja kalau ngomong,sejak kapan jadi calon mantu?" Tanya Alika sambil mendelik.
"Itu mah bukan urusan saya Nona!"Ucap Ben yang langsung mendapatkan pukulan di bahunya dari Alika.
Keduanya tertawa sambil berjalan kearah mobil,Alika bahkan sampai memegang perutnya karena tak tahan dengan guyonan yang di lontarkan Ben itu.
Tanpa keduanya sadari jika sedari tadi Daffa melihat interaksi mereka,membuat pria itu merasakan terbakar bukan karena api.
"Kalian pikir saya tidak ada kerjaan lain lagi jadi menunggu kalian yang sedang melepaskan rindu?" Tanya Daffa datar.
Alika memilih tak merespon sedang Ben langsung bungkam,Alika tak kalah menatap sinis kearah Daffa yang terlihat sedang menatap intens kearah nya.
"Ben,Tuh Ular Phython kenapa ya sensian melulu dari tadi pagi?" Tanya Alika sambil berbisik.
"Astaga Nona tolong jangan sedekat ini,sadarkah Anda jika Tuan Daffa ingin menguliti saya hidup hidup?" Batin Ben Frustasi.
Daffa yang kuat melihat pemandangan yang berada di hadapannya kini, memilih untuk masuk ke dalam mobil dan duduk sambil memainkan ponselnya.
tapi asal kalian tahu ya telinga pria itu ia fungsi kan dengan sebaik mungkin, karena takut jangan sampai Ben malah menggombali Alika dan jika sampai hal itu terjadi ia tak terima sama sekali.
Ben sudah berada di kursi kemudi dan Alika juga memilih untuk duduk di sampingnya, sebab dirinya tidak ada niat sama sekali untuk berdekatan dengan Dafa apalagi duduk di sampingnya.
Apa yang dilakukan Alika itu membuat Daffa benar-benar meradang, sebab Alika lebih memilih di samping Ben daripada dirinya yang notabene lebih segala-galanya daripada pria itu.
__ADS_1