
Like N KOMENNYA
sobat bisa minta tolong tidak, Aku tidak minta banyak hanya like, comment, And Vote nya.
Karma kelangsungan novel ini berasal dari jari jempol kalian, vote and like itu gratis loh tidak dipungut biaya apapun.
lanjut***
" kamu bisa mengantar aku nunggu apa pulang sekarang tidak, soalnya Papa dari tadi telepon terus jangan sampai ada masalah serius di rumah?" tanya Alika memastikan.
Daffa tersenyum karena sepertinya Alika menghargai keberadaannya, karena buktinya mobil yang tadi dibawa pulang dari kantor adalah mobilnya Alika.
akan tetapi wanita itu memilih untuk diantar pulang oleh Daffa, Bahagia Itu Sederhana ketika sesuatu yang menurut orang lain itu biasa saja Tetapi menurut kita sangat luar biasa.
" Kenapa tidak ditelepon balik saja, mungkin mereka ingin menitip sesuatu? " tanya Dafa memastikan.
" nanti saja deh kalau sudah sampai di rumah baru kita kembali cari lagi kan soalnya aku penasaran loh, tidak biasanya Papa seperti begini! " ujar Alika sambil memakai jaketnya.
keduanya kini tengah berada di apartemennya Daffa, rencananya Mereka ingin Menyiapkan makan malam untuk dinikmati berdua untuk lebih erat hubungan mereka.
akan tetapi maksudnya itu belum kesampaian telepon dari Papanya Alika membuat rencana mereka buyar, tapi mau bagaimana lagi Bukankah jangan sampai ada hal yang lebih penting yang tak bisa ditinggal?
ketika sudah sampai di parkiran Alika akhirnya tersadar, Kenapa dirinya tadi mengajak Daffa untuk ikut pulang padahal Ia sendiri bisa mengendarai mobilnya.
" Ya ampun Maafin aku ya soalnya lupa kalau tadi aku bawa mobil jadi bisa pulang sendiri, kamu kembali ke dalam saja deh untuk istirahat! " ujar Alika tak enak hati jika harus merepotkan pria yang belum sah sebagai suaminya itu.
Daffa mengerutkan keningnya karena sangat bingung dengan permintaan Alika itu, pasalnya dirinya saja tidak keberatan Kenapa wanita itu merasa tak enak hati seperti itu?
" kamu ngomong apaan sih, jangankan mengantarkan kamu hanya sampai rumah keliling dunia pun bakalan melakukan! "cie Abang Daffa udah berani ngegombal nih.
" orang lagi serius juga kamu malah bercanda, Ya sudah cepetan ayo jalan sebelum Mama yang beraksi kupingku bakalan lepas jadinya." ujar Alika cemberut membuat Daffa mengacak gemas rambutnya dan tanpa sadar mengecup sekilas bibir merah wanita itu.
mendapat serangan mendadak dari dafa itu Alika langsung melototkan matanya, karena dirinya benar-benar sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh pria itu.
" kamu....
" sudah jangan bicara banyak lagi, kalau nanti sudah sah aku bakalan tambah terus tapi untuk sekarang yang segitu dulu ya jangan minta tambah!" goda Daffa sambil menaik turunkan alisnya membuat Alika bertambah kesal karena rasa percaya diri pria itu yang terlalu ketinggian
" Ih kamu sangat memalukan atau tidak, sudah mainnya nyosor sembarangan terus pakai ngomong yang tidak jelas!" sinis Alika tapian namanya Dafa terlihat arogan di luar tapi menyebalkan jika sudah dikenal baik oleh orang terdekat.
ketika kedua manusia itu sedang sibuk bertempat di kediaman Mariano, sepasang suami istri itu Tengah harap-harap cemas memikirkan keadaan anak gadis mereka yang hanya sebiji sebuah itu.
" Papa gimana dong nanti kalau Alika diapa-apain sama dia gimana, waktu kita lapor ke polisi saja dengan tuduhan penculikan? " tanya Alice memberikan saran.
" ya tidak bisa begitu dong mah, kejahatan jika terjadi belum sampai 24 jam maka polisi masih menyerahkan kepada keluarga. kalau sudah lebih dari 24 jam baru mereka bisa bertindak, semoga saja Alan kembali dengan memberikan kabar yang baik! " ujar Dika dan diaminkan oleh sang istri.
" semoga saja ya Pa, Alan bisa menemukan mereka. soalnya mama khawatir sekali, kalau sampai kenapa-napa Mama bakalan habisin tuh orang! " Ketus Alice sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
tak berselang lama Alan kembali karena memang ia tak menemukan sama sekali di mana keberadaan Alika Dan Daffa.
Ya iyalah jelas dia tidak ketemu, orang Alika nya pergi sama Daffa.Akan tapi Alan malah mencarinya di kantornya Raka, nyambungnya di mana coba?
" kamu sudah pulang, terus Alika nya dimana dia baik-baik saja kan? Lho kamu kok sendirian Masa tidak sama sama Alika, Sebenarnya tadi kamu mencarinya tidak sih?" tanya alus Ketus membuat Dika akhirnya berusaha menenangkan sang istri yang terlihat sudah tak bisa menahan tangisnya.
__ADS_1
" Sayang jangan seperti itu, Biar bagaimanapun Alan sudah berusaha melakukan semampunya. kita sebagai orang tua tidak boleh putus asa, Yakinlah kalau Alika bakalan baik-baik saja." ujar Dika sambil tersenyum ke arah Alan yang juga terlihat sangat frustasi.
setelah dirasa agak tenang, Alice meminta maaf kepada jalan karena tadi sudah berkata kasar pada pria itu.
" maafin tante ya tadi karena terlalu panik Jadi ngomongnya agak ngelantur, apa Coba hubungi Alika lagi siapa tahu sudah bisa di respon!" pinter Alice lagi.
Baru saja Dika hendak menelpon putrinya, terdengar Deru mobil dari luar membuat Alan dan Alice berhamburan keluar rumah.
Alika yang baru saja turun merasa terkejut dengan tingkah sang Mama yang begitu aneh, Bagaimana tidak Alice tampak memeluknya begitu erat hingga membuat wanita itu kesulitan bernafas.
" kamu baik-baik saja kan Nak? Tidak kenapa-napa, Soalnya mama khawatir sama kamu?" tanya Alice cemas membuat Alika mengerutkan keningnya karena bingung.
sedangkan Dika langsung tanpa banyak bertanya menghajar Dafa dengan brutal, membuat pria tampan itu tidak sempat mengelak karena sangat terkejut.
Alika yang tadi sedang dipeluk oleh Alice langsung mendorong tubuh Mamanya itu, tanpa memikirkan apapun.Selain menyelamatkan Daffa dari amukan sampai Dika.
" Papa stop it! kenapa sih tiba-tiba kayak begini, Emang dia salah apa apa sampai kalian melakukan hal yang tidak-tidak?" tanya Alika sambil berteriak mencoba untuk memeluk Dafa sambil berderai air mata.
" Alika kamu menjauh dari dia sekarang, papa bakalan bikin perhitungan pada pria Kurang ajar ini!" tegas Dika yang tak ingin dibantah.
Alika mengerutkan keningnya pasalnya dirinya menjadi seperti orang bodoh dengan perubahan sikap orang tuanya itu.
" Aku tidak akan menjauh dari dia sebelum kalian ngomong salahnya dia itu apa?" tegas Alika dengan wajahnya yang memerah karena menahan tangis dan emosi.
" kamu jangan ngebantah papa apa sekarang, karena Papa tahu apa yang Papa perbuat!" tegas Dika dengan wajahnya memerah apalagi melihat Alika yang begitu melindungi Daffa.
" kalian itu aneh melakukan sesuatu tanpa menanyakan dulu, Aku kecewa sama kalian melakukan sesuatu dengan kekerasan seperti ini!" lirik Alika dengan wajah yang penuh penyesalan.
" bisa anda jelaskan mana letak kesalahan saya tadi?" tanya Daffa memastikan.
Alan pasang badan ketika melihat aura yang dipancarkan oleh Daffa terlihat begitu mematikan, dirinya yakin jika pria itu pasti tak terima diperlakukan seperti itu.
" kamu jangan lari dari kenyataan, Mulai sekarang saya yang akan menjaga Alika bukan pria Kurang ajar seperti kamu!" tegas Alan membuat Ali dan Daffa Saling pandang karena sepertinya mereka sudah paham siapa penyebab kekacauan hari ini.
" Siapa kamu seenaknya menyuruhku meninggalkan dia, ingat sudah ku katakan ke kamu berkali-kali kalau kita itu hanya sebatas teman!" Alika sudah benar-benar muak dengan apa yang dialami oleh Daffa tanpa banyak bicara ditariknya Daffa agar ikut bahannya ke dalam kamar namun suara Dika mencegahnya'
" jangan mengurusi dia biarkan para wanita ****** itu yang mengurusnya, Bukankah hal itu sudah biasa ia lakukan!" tegas Dika namun tak dipedulikan oleh Alika.
" Ayo kita ke kamar bersihkan muka kamu dulu nanti infeksi, urusan mereka biar denganku saja Kamu urus kesehatan kamu lebih penting!" Alika sengaja mengatakan hal itu agar kedua orang tuanya paham Di mana posisi Daffa kini dalam hidupnya.
" tidak, aku tidak peduli dengan semua luka ini. hanya saja Aku ingin berbicara secara langsung dengan orang tuamu sebenarnya Di mana letak kesalahan ku!" tegas Dafa membuat Alika pasrah memilih kembali duduk di tengah semuanya sambil tangannya tak lepas sedikitpun dari genggamannya Dafa'
Alan membuang nafasnya kasar ketika melihat Alika Dan Daffa saling berpegangan tangan, dirinya ingin sekali memukul Java hingga tak berbentuk agar bisa menjauh dari Alika.
" Perjodohan kalian batal dan tidak ada pembahasan lagi apapun itu!" perkataan Dika barusan membuat Alika merasa seperti tersambar petir di siang bolong.
Duarrr
" apa, Papa nggak salah ngomong kan?" tanya Alika penasaran.
" Papa tidak salah ngomong dan apa yang kamu dengarkan itu benar Nanti papa yang bakalan berbicara langsung ke orang tuanya dia dan kamu Alika kembali ke kamar sekarang!" Alika sama tak terima dengan perkataan Papanya Itu Bagaimana tidak disaat ia menolak mereka tetap memaksa ingin menjodohkannya.
disaat benih cinta dan kenyamanan itu mulai hadir mereka malah menghancurkan hidupnya dalam sehari saja, dirinya bukan anak kecil yang akan mengikuti saja kemauan orang tua.
__ADS_1
" saya akan mundur dari Perjodohan ini! Jika alasan yang diberikan masuk akal dan bisa saya terima, jika alasannya hanya mengada saja Maafkan saya Om bukannya tak sopan tapi saya sangat mencintai Putri anda!" tegas dafont membuat Alika tersentuh wanita cantik itu ingin menangis tapi melihat gelengan Daffa yang tak ingin wanita nya itu bersedih membuat urungkan niatnya itu.
" jangan menangis aku masih disini belum juga pergi meninggalkan, Nanti kalau sudah pergi baru boleh kamu menangis kan lebih afdol!" di saat seperti ini Daffa masih saja punya jurus untuk membuat Alika senyum.
" kamu ih tadi serius juga!" sungut Alika cemberut 3 keduanya itu seolah melupakan kehadiran orang lain yang dianggap bagaikan angin lalu yang tak usah dipedulikan sama sekali.
" kamu tadi ada di mana?" tanya Dika yang mulai mengintrogasi Dafa membuat Alika dan rasa saling berpandangan karena merasa bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan barusan.
" maksudnya Om, apa ya? soalnya saya bingung mau menjawab apa, karena tadi kan sudah saya katakan kalau saya dan Alika sedang jalan?" tanya Daffa balik.
ketika tatapan Daffa bersibobrok dengan Alan terlihat tatapan sinis dari pria itu membuat Dafa ingin sekali menghajarnya.
" Alan bisa keluarkan rekaman yang kamu bilang sebagai barang bukti!" perintah Alice membuat Alika merasa bingung kenapa ada hubungannya dengan Alan Kejadian ini semua.
" Baiklah om tante saya bakalan menyambungkan langsung ke layar laptop biar kita semua bisa melihatnya." Sahabat Alan antusias.
kini ini dengan penuh senyum kemenangan Alan mulai memutar rekaman video tak pantas yang ia ambil tadi.
percaya tidak belum berjalan 2 detik video itu diputar sebuah pukulan keras mendarat sempurna di kepala Alan oleh Alice.
Bughh
" Dasar anak kurang ajar dari dulu selalu saja cari masalah, jangan kamu putar lagi video laknat itu! sekarang coba kamu perhatikan baik-baik wajah orang yang ada di dalam video itu sama nama Daffa!" ujar Alice gemas dengan wajah kebingungan milik dafa Alan itu.
netra Alan membulat ketika sadar jika jika dirinya tadi telah melakukan kesalahan fatal, mungkin karena saking terobsesi nya ingin memiliki Alika hingga tak sadar apa yang ia tonton kan itu berbeda dari kenyataan yang sesungguhnya.
" sudah dilihat?" tanya Alice gemas ketika melihat wajah tanpa berdosa milik Alan itu sedangkan yang dilihat hanya menyengir karena sadar telah melakukan kesalahan.
" jadi karena si brengsek sialan ini Papa tadi memukul Daffa sampai bonyok?" tanya Alika membulatkan matanya.
" ya habis perkataannya tadikan sangat meyakinkan, Ya sudah Papa kepancing jadinya langsung tersulut emosi." sahut Dika memasang tatapan bersalahnya ketika sadar jika pukulannya tadi membuat Daffa terlihat babak belur.
" Kamu itu ya, Dari dulu selalu saja melakukan hal yang tidak-tidak! lebih baik kamu pulang ke Kanada dan tidak usah kembali lagi ke sini, soalnya setiap kali datang pasti hanya bawa masalah saja!" sungut Alika sambil menarik kuat telinga Alan membuat pria itu meringis kesakitan.
sedangkan Daffa bisa bernafas lega Persetan dengan wajahnya yang bonyok, yang penting dirinya tidak terpisahkan dari Alika.
Alice mendekat ke arah Daffa karena tak tega melihat wajah yang begitu memar, ketika wanita paruh baya itu ingin menyentuh wajah calon menantunya dengan segera Dika menarik kembali tangan istrinya itu.
" mama tangannya dikondisikan bisa tidak, biarpun dia calon menantu kamu tapi Papa tidak ikhlas loh!" ujar Dika sambil menatap kearah sang istri.
" eh orang tua ini semua juga gara-gara kelakuan kamu, Awas aja kalau besok kami menikah wajahnya masih memar aku bakalan marah besar sama papa! Dan mama juga enak sekali Mau menyentuh wajah suamiku, mana Aku ikhlas biarpun Mama sekalipun." Ketus Alika kesal.
" loh Kamu kok gitu, aku kan pria paling manis di jagat raya ini!" Alan masih tak terima ketika Alika memarahi dirinya.
" ih yang ada pahit pakai kecut bilang manis, dasar kamu itu....
" Alika Tadi kamu ngomong apa nak, Siapa yang mau menikah besok?" Dika baru connect dengan perkataan putrinya barusan.
" Ya aku lah sama dia, Memangnya kenapa Papa tidak senang? Aku mah bodo amat Siapa suruh mau berbuat seenak hati, ya sudah suka-suka aku juga dong mau ngapain aja!" Aduh ini cara ngomong ke orang tua kok kayak gini ya?
"Akunya Diundang tidak?" tanya Alan.
"Tidak!!" sahut Alika Dan Daffa bersama.
__ADS_1