MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN

MANTANKU BRENGSEK VS SUAMIKU AROGAN
episode 72


__ADS_3

Like N KOMENNYA


LOPE U FULL


LANJUT ***


dalam kamarnya mereka Alika sedang memasang tampang kusutnya, karena video yang ditampilkan Deka tadi ada namanya disebut sebut oleh Raka saat melakukan perbuatan bejatnya itu.


Daffa memilih untuk berlutut sambil menatap kearah istrinya itu yang sedang duduk di tepian ranjang, dirinya tahu bagaimana perasaan wanita yang berstatus sebagai istrinya itu kini.


" Kamu kenapa kok diam saja dari tadi, Kalau ada yang tidak kamu sukai kamu kasih tahu dong biar aku segera mengurus semua?" pinta Dafa pelan agar sang istri tidak terlalu berlarut-larut dalam perasaannya itu.


" udah telat, kamu dari tadi ke mana saja sampai hal ini bisa terjadi? atau kamu sangat sengaja membuat aku malu Terus akhirnya seperti begini jadinya, belum juga sehari menjadi istri kamu sudah ada masalah yang bertubi-tubi datang?"" sungut Alika membuat Daffa hanya bisa menghela nafasnya.


" kamu Kok bisa punya pikiran seperti itu, Memangnya kamu lihat aku ini tipe pria yang selalu yang sesuatu untuk membuat orang lain kecewa ataupun sakit hati? Kamu tahu kan aku juga bingung kok tiba-tiba dia bisa muncul, hanya saja kamu jangan khawatir Aku yakin Deka sudah mengatur semua!" jelas Daffa agar istrinya itu tidak terlalu salah paham terus padahal.


" ih Terserah apa kata kamu pokoknya aku sedang kesal hari ini ini dan benar-benar tidak ingin diganggu oleh siapapun, jadi lebih baik kamu keluar sekolah sebelum aku juga bakalan marah ke kamu!" mendengar perkataan Alika itu Daffa mendadak jadi lemas karena sepertinya rencana yang sudah ada dalam benaknya bakalan tertunda lagi.


" kamu kok tega mengusirku dari sini, waktu tidak tidur di sini terus tidurnya di mana?" Tanya Daffa kamu memelas membuat Alika mendengus kesal.


" selama ini tidur sendiri saja bisa masa sekarang kamu mendadak jadi cengeng kayak begitu, jangan kelebihan lebay deh aku melihatnya itu jadi geli sendiri?" Alika tidak jadi memarahi Daffa.


Dafa memilih tak peduli dan langsung naik ke atas tempat tidur tanpa mengganti pakaiannya, karena jika dirinya menjawab perkataan Alika tadi maka bisa dipastikan dirinya benar-benar bakalan tidur diluar.


" ni orang disuruh keluar Kok malah tidur di situ, bukannya merenungi kesalahan malah berbuat seolah tidak terjadi apa-apa pun?" gumam Alika monolog dan ikut berbaring di samping Dafa yang sudah tertidur lebih dulu.


mungkin karena efek terlalu kelelahan tak berselang lama terdengar dari nafas yang begitu teratur dari Alika pertanda pemiliknya sudah tidur, Dafa yang dari tadi ternyata hanya pura-pura tidur langsung membalikkan badannya dan menghadap kearah wanita cantik itu.


" Kenapa sih hobinya kamu tuh marah-marah melulu, susah sekali diatur apa besok lusa aku harus selalu bersabar seperti ini atau mungkin kamu yang bakalan sadar dengan status kita?" gumam Dafa lirih sambil mengusap pelan pipi mulus Alika itu.


Daffa menarik tubuh agar lebih dekat dengannya setelah itu itu dirinya pun menyusul sang istri terlelap, karena Biar bagaimanapun pernikahan yang persiapannya hanya dalam waktu kurang dari 24 jam sungguh sangat menguras tenaga.


siapa saja pasti bakalan mengakui hal itu. hanya saja syukurlah ada kerabat dan juga pegawai yang membantu sehingga mereka tidak terlalu kesulitan, terlebih lagi sahabatnya Alika yaitu Ana yang dari pagi sudah stand by di situ membantu mengurus keperluan yang tidak sempat datang pikirkan.


berbicara soal Ana wanita itu memilih menginap di hotel daripada pulang ke rumah, karena mulutnya sedang kacau dan tidak ingin ditanya banyak oleh sama mama.


" lho ini mobilnya Ana arah ke mana sih, perasaan ini bukan jalan menuju ke rumahnya? anak itu mau kemana lagi sih udah malam seperti ini, apa tidak capek padahal seharian sibuk kesana kemari?" gumam Alan monolog karena kebingungan dengan arah mobil punya Ana tidak tahu sebenarnya tujuannya arah ke mana.


Ketika Ana melihat ada hotel di hadapannya dirinya pun memilih untuk singgah, sebab tidak baik terlalu lama berkendara dalam kondisi yang begitu kelelahan.

__ADS_1


tanpa dirinya sadari ternyata sedari tadi Alan mengikutinya dari belakang, pria itu merasa sangat Kehilangan dengan jalan pikiran Ana yang sama sekali sulit untuk ia pahami.


" hotel, Kenapa Ana bisa berada di sini? jangan bilang dia mau ketemu sama pria lain, pantas saja dari kemarin sikapnya selalu aneh padaku jadi karena ini?" gumam Alan memilih untuk membuntuti Ana Sebenarnya apa yang dilakukan sendirian di hotel itu.


" Permisi mbak, ada kamar yang kosong?" tanya Ana kepada resepsionis dan petugas di situ.


" ada mbak, mau menginap untuk berapa lama?" tanya resepsionis itu memastikan.


" hanya malam ini saja!" sahut Ana.


" Ya sudah ayo sini saya antar!" Ana pun mengikuti langkah kaki wanita yang berpakaian seksi ke kamar yang sudah dipesan.


Alan pun mengikuti Ana dari belakang Karena penasaran sebenarnya jarak Hotel dan rumah tidak terlalu jauh, tapi kenapa wanita itu memilih untuk menginap?


" Ini Mbak Silakan masuk, Saya tinggal dulu kalau ada apa-apa tinggal hubungi kami!" Ana pun hanya menganggukkan kepala dan segera masuk ke dalam kamar itu ketika hendak menguji pintu sebuah lengan kokoh menahan pintu itu.


Ana mengerutkan keningnya ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya kini, Kenapa Lagi Dan Lagi dirinya harus bertemu dengan orang yang ingin Ia hindari.


" kamu kok bisa disini, jangan bilang kamu membuntuti aku dari tadi? bisa tidak kamu pulang saja soalnya aku ingin istirahat dengan tenang, Coba sekali-sekali ada rasa pengertian dari kamu bisa tidak?" tanya Ana kesal.


" Kamu kenapa menginap di sini, padahal rumah kamu kan sudah dekat? apa ada yang kamu sembunyikan dan yang tidak kami ketahui sama sekali, kalau sampai itu terjadi aku bakalan marah besar ke kamu karena sudah berani berbohong padaku?" tegas Alan yang tak ingin dibantah.


" kamu buka pintu ini sekarang atau aku bakalan dobrak, kamu jangan pikir aku bakalan takut menghancurkan tempat ini sekarang juga!" Alan dengan nada yang tidak bercanda sama sekali.


" kamu mau mengancamku, terus kamu pikir aku bakalan takut sedikit pun begitu? jangan terlalu Naif deh jadi orang, kita bukan siapa-siapa Jadi untuk apa aku harus merasa takut ataupun menghormati kamu tanpa dasar yang jelas!" tanpa banyak bicara lagi Alan langsung membopong tubuh Ana di atas bahunya dan masuk ke dalam kamar itu lalu Mengunci pintu.


"Heii turunkan aku sekarang,Brengsek!" Teriak Ana sambil memukul pelan bahu Alan namun tak di gubris oleh pria itu.


Brugh


Tanpa banyak bicara Alan langsung menghempaskan kasar tubuh Ana di atas Ranjang King Size hotel itu,setelah itu tanpa banyak bicara Alan langsung melepas paksa kemeja yang di pakainya itu sampai kancing bajunya pun berserakan di bawah lantai.


Tubuh Ana menegang,dirinya merasa gugup dengan apa yang di lakukan oleh Alan sekarang.Demi Dewa Pluto,Ana tidak akan pernah memaafkan Alan jika sampai melakukan hal yang tidak tidak padanya.


"Kamu mau apa?" Tanya Ana was was ketika melihat Alan yang sudah merangkak naik keatas ranjang dengan tanpa memakai baju.


"Menurut kamu aku mau apa sekarang?" Tanya Alan sambil menyeringai tipis.


"Ih mana aku tahu,memangnya kamu pikir aku Mbah dukun sampai bisa membaca pikiran kamu segala?" Tanya Ana ketus.

__ADS_1


"Ya makanya mulai dari sekarang,kamu harus belajar untuk lebih tahu segala galanya tentang aku!" Ujar Alan sambil tersenyum dan menarik tubuh Ana agar masuk kedalam pelukannya.


"Eh,lepaskan aku sekarang!" Teriak Ana.


"Astaga kamu kenapa sih berisik sekali,aku kan hanya mau peluk kamu doang memangnya salah?" Tanya Alan kesal.


"Bodoh amat,kalau mau peluk ya pake guling bukannya aku !" Ujar Ana ketus lalu berusaha mendorong tubuh Alan agar menjauh darinya.


"Kamu bisa diam tidak,mau yang lain juga ikutan bergerak?" Tanya Alan dengan suara seraknya.


"Itu mah derita kamu bukannya aku,sudah ah aku mau mandi dulu!" Ana masih saja tidak ingin di pegang oleh Alan.


Deg


Alan merasakan begitu nyeri di jantungnya karena penolakan yang di lakukan Ana berulang kali padanya,padahal saat di tolak Alika rasanya tidak sedikit ini.


Tanpa terasa air matanya menetes begitu saja hingga mengenai tangan Ana yang sedang berada di dekat wajahnya itu,membuat Ana mendongakan kepala menatap heran kearah nya.


"Kamu menangis,memangnya sesakit itu kah kehilangan Alika?" Tanya Ana yang menyangka jika Alan sedang menangisi Alika.


"Kamu kalau mau bicara yang benar dong,aku lagi sedih kamu malah bikin kesal!" Sungut Alan.


"Lho kenapa jadi aku yang salah,perasaan kamu yang membuat aku sedih malah menyebut nama orang lain?" Kesal Alan.


"Haishh kamu kenapa malah menyalahkan aku untuk masalah kamu itu,lagian di tinggal nikah orang lain itu tandanya kalian belum berjodoh.Untung saat kalian belum serius dia sudah di ambil orang lain,coba kalau sudah kan pasti sakitnya ngalahin makan bakso mercon!" Ujar Ana.


"Hadeuhh aku kan sudah bilang ini semua itu gara gara kamu,kenapa masih belum paham juga sih?" Kesal Alan.


Ana mendengus kesal karena Alan masih tetap mempertahankan egonya,Padahal dirinya saja kebingungan salahnya di mana?


"Ya ya terserah kau saja Tuan,tapi bisakah melepaskan aku sekarang?Soalnya aku ingin pergi memesan kamar yang lain,karena di sini kan kamu mau pake!" Pinta Ana membuat Alan langsung bangkit dan mengukung tubuh Ana di bawahnya.


Grep


pandangan keduanya bertemu,membuat kinerja jantung mereka terasa bekerja lebih keras.


"Oh Tuhan,tolong aku! sepertinya hari ini terakhir aku hidup di dunia ini, Kenapa mendadak jantung ku tidak berfungsi dengan benar!" batin Alan heran dalam memilih untuk kembali berbaring sambil menelungkupkan wajahnya di bantal agar Gejolak yang ada bisa diredam hingga tidak terjadi apapun malam ini.


" selamat selamat, syukur juga Dewi Fortuna masih berpihak padaku kalau tidak habis lah diriku di prikitiew sama dia!" batin Ana lega.

__ADS_1


__ADS_2