
Diana mendengus kesal ketika mendengar nada terakhir yang diucapkan oleh Arin tadi, masa iya dengan percaya dirinya mengatakan kalau dirinya bakalan merindukan Deka nantinya.
padahal melihat pria itu saja dirinya ingin sekali muntah dan mengajaknya untuk berduel gaya SmackDown terbaru, menurut Diana pria yang bernama Deka itu adalah orang yang paling kaku seperti Kanebo kering yang tidak punya perasaan sama sekali terhadap seorang wanita.
" apa kamu bilang tadi, Enak saja kamu kalau ngomong ya? yang bilang aku bakal merindukan pria aneh bin ajaib itu siapa, Biarpun aku menjadi perawan ting-ting seumur hidup tak sudi sedikitpun mengenal pria Arogan seperti dia! "Ketus Diana sambil terus mengamati barang-barangnya karena sudah cukup dirinya berada di negara itu yang ada bukanya membuat mulutnya tambah baik malah ada tambah parah.
Arin masih berusaha membujuk sahabatnya itu Bukankah Korea itu luas jadi kalau tidak ingin bertemu dengan Deka ya tinggal menghindar saja, kecuali dunia ini hanya selebar daun kelor ke sana sini ya pasti bakalan ketemu terus.
" kamu kok malah menyerah seperti begitu tidak seperti Diana pelangi yang selama ini aku kenal yang selalu tak gentar apapun yang mengganggu, Kalau memang kamu tidak ingin menemui dia ya masalahnya kan gampang tinggal kamu menghindar saja kan! "kesal Arin karena sahabatnya itu seolah-olah tetap kokoh dengan pendiriannya tanpa mau berpaling sedikitpun.
dia menatap tajam kearah Arin yang dengan enteng sekali mengucapkan kalau dirinya pantas untuk menghindar dari seorang pria seperti Deka, Memangnya Apa hak pria itu untuk melarang dirinya melakukan sehat sesuatu sekehendak hati.
" kamu kalau ngomong di Sadar dulu kenapa? Memangnya kamu pikir aku adalah tipe orang yang suka menghindar ketika ada orang yang melakukan sesuatu yang tidak disukai, lain kali menyuruh seorang Diana pelangi itu dipikir dulu sesuai dengan style Aku selama ini atau tidak?" sinis Diana kemudian memilih duduk di atas ranjang beralih menatap kearah ponselnya Pakaiannya yang tadi teronggok di atas tempat tidur dibiarkan begitu saja soalnya keinginannya untuk packing sudah tidak ada lagi.
Arin tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Diana yang sudah berubah pikiran seperti itu, dirinya yakin jika mereka malam ini tidak bakalan kembali ke tanah air walaupun sebenarnya kekasihnya Si Cecep Cecep sedang menelponnya berulang kali.
Diana yang melihat wajah menyebalkan Arin yang setengah tersenyum membuat dirinya merasa kesal dengan sahabatnya itu, Pasti kata-katanya tadi itu hanya membuat dirinya berubah pikiran tidak masalah Diana bakalan membalas dengan caranya.
" kamu kenapa senyum-senyum seperti itu, senang karena lama-lama di sini melihat para pria plastik itu? terus kamu itu mau taruh di bagian mana ketek atau di bagian mana, Aku penasaran Jika kamu terlalu lama di sini kira-kira Cecep bakalan setia tidak ya sama kamu? soalnya kamu tahu kan kalau si Cecep itu menjadi Primadona para ABG yang baru datang dari kampung, Jadi kalau kamu lebih lama di sini jangan menyesal juga sih kalau di sana dia juga Mendua?" sinis Diana sambil tersenyum penuh kemenangan karena merasa yakin Arin pasti sudah termakan oleh hasutan nya barusan.
sesuai dengan dugaannya Diana, Arin mulai terlihat gelisah. dirinya bahkan berkali-kali melihat ponselnya untuk memastikan Apakah ada kabar dari kekasihnya atau tidak, reaksinya bertambah parah ketika tidak ada sedikitpun kabar dari Cecep Masduki si kekasih idaman nya dari Arin.
" Kenapa guys wajah kamu kok ditekuk seperti begitu, lagi galau atau mau otw galau? Tolong ya aku yang Jomblo Jomblo Bahagia ini tidak mau ketularan sama orang yang kesambet setan bucinnya itu yang akutnya minta ampun, jadi usahakan sedikit menjauh dari jangkauanku soalnya sepertinya mulut ku yang cantik ini bakalan selalu berkomentar banyak!" Sindir Diana membuat Arin tambah kesal kepada sahabatnya itu dan melempar bantal yang sedang dipegangnya.
" Kamu itu kenapa sih jadi teman kok tidak setia kawan begitu, Padahal aku itu kan lagi butuh dukungan sebab kekasihku kan hilang kabar begitu saja?" Ketus Arin membuat Diana ingin sekali tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh cs-nya dengan wajah cemberutnya yang terlihat begitu menjengkelkan.
__ADS_1
" wajahnya jangan di tekuk begitu, Apa kamu tidak kasihan sama bibir dower kamu yang sudah semakin parah? jadi lain kali itu Sombongnya jangan kelebihan batas soalnya seorang Diana pelangi itu punya stok kata-kata yang paling melehoy, jadi nanti kalau dibalas sekalian kamunya yang bakalan nyaho sendiri karena tidak punya kata-kata untuk membantahnya!" Diana begitu tersenyum penuh kemenangan karena Akhirnya bisa membuat Arin bungkam seketika.
" tak masalah jika aku jadi jomblo nantinya yang penting intinya aku sudah pernah merasakan apa itu pacaran, dan juga pernah dianggap spesial sama seseorang! pernah merasakan malam mingguan diajak keluar sama pacar sendiri, nonton di bioskop jalannya bareng sama gandengan terkece. Nah kamu boro-boro jalan ada yang menggandeng tangan merasakan pacaran saja belum, aku itu sampai bingung sama kamu Sebenarnya waktu kebagian Jodoh kamu itu nomor yang ke berapa sih kok sampai sekarang belum dapat-dapat?" Sindir Arin yang akhirnya mendapat kata-kata yang bisa skak mat Diana agar tidak terlalu percaya diri seperti tadi.
" Oh Tenang saja guys tak masalah jika sampai sekarang belum merasakan semua itu, tapi kamu juga belum pernah akan merasakan ketika mau kemana pun tidak ada yang melarang kemudian mau stalking akun siapapun tidak ada yang mencari tahu?" Diana sebenarnya yakin jika Arin pasti bakal menertawakannya tapi mau bagaimana lagi dirinya tidak mau dong harga dirinya jatuh begitu saja.
" kamu kok tega sih ngomong seperti itu, padahal itu sebenarnya membuat kamu terlihat seperti orang yang sangat menyedihkan karena tidak ada yang memberikan perhatian sama sekali?" sudah cukup demi Dewa kalau tidak dihentikan perdebatan ini bisa dipastikan mereka bakalan lupa makan dan juga lupa tidur bahkan merupakan cowok ganteng jika kerjaannya hanya berdebat melulu.
Diana yang bosan di dalam kamar memilih untuk berdiri di balkon menikmati angin segarnya malam dari hiruk pikuk perkotaan yang begitu membuat Terkadang kita merasa sesuatu yang berbeda, karena merasa bahwa diri kita itu tidak sendirian di dunia ini ada begitu banyak makhluk dengan berbagai macam type dan pikiran masing masing.
tanpa Diana ketahui yaitu Jika ternyata Deka berada di kamar sebelah nya juga Tengah menikmati Angin Malam, sebenarnya pria yang sudah sangat matang itu tidak pantas disebut Pemuda lagi karena sebenarnya dia harusnya sudah menikah.
Diana yang berdiri menyamping tidak sadar jika ada sepasang mata yang tengah menatap intens kearahnya, Angin Malam yang begitu sebagai sepoi menerbangkan rambut wanita cantik itu hingga menutup wajahnya terlihat begitu imut dan menggemaskan.
Deka sebenarnya penasaran dengan sosok Dian Pelangi akan tetapi dirinya mencoba untuk tidak terlalu kentara agar wanita itu bertambah kesal padanya, mungkin karena kebiasaannya yang selama ini jarang sekali berkomunikasi dengan yang namanya wanita membuat dirinya terlihat begitu Arogan dan kaku ketika bertemu mereka.
apalagi dengan kebiasaan Diana yang suka mengganggu orang yang baru dikenalnya tanpa memandang siapa dia atau apakah orang tersebut nyaman dengan caranya atau tidak, membuat Deka sedikit risih dan juga tidak terima ataupun merasa kesal dengan sikap yang ditunjukkan oleh Diana itu.
" Hei tukang ganggu Wanita Paling bawel sejagat, kenapa malah mojok di situ jangan bilang kamu ditinggalkan sama sahabat yang ikutan cempreng itu?" tanya Deka setengah teriak takut Diana Tak Mendengar suaranya.
Diana yang melamun mendengar ada nada bicara yang tidak asing di telinganya terdengar seperti sedang memanggil, hanya saja dirinya bingung karena disitu hanya ada Arin dan juga dirinya.
__ADS_1
" waduh ini aku yang salah dengar atau memang ada yang bener-bener memanggilku, jangan sampai hanya halusinasiku saja atau tempat ini ada makhluk yang tak kasat mata begitu?" tanya Diana sambil celingak-celinguk mencari sumber suara itu bahkan lebih parahnya lagi dirinya sampai menunduk tapi tidak menoleh sedikitpun ke arah samping.
" tadi itu kan ada yang memanggilku tapi kok tidak ada sama sekali yang kelihatan batang hidungnya, ih Percuma saja sewa hotel mahal-mahal kalau akhir akhirnya harus ketemu makhluk tak kasat mata?" sungut Diana yang tanpa sadar sudah menyalakan hotel tempat dirinya menginap padahal sebenarnya dirinya saja yang tidak peka dengan lingkungan sekitar.
sedangkan Deka yang berada di seberang hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala bisa-bisanya ada wanita seperti itu terlahir di dunia, Padahal yang jelas-jelas dirinya yang memanggil dari seberang dengan nada suara yang sedikit ditinggikan.
" woi, kamu dengar tidak kalau aku sedang memanggil kamu dari sini? atau telinga kamu itu perlu aku korek biar lebih bersih agar orang memanggil meskipun dengan berbisik saja pasti bisa mendengarkan, cantik-cantik kok budeg nya di pelihara?" teriak Deka lagi membuat Diana Langsung menatap kearah samping dan tatapannya tertuju pada sosok yang dari kemarin hingga tadi membuat dirinya selalu merasa kesal.
Diana ingin sekali menjangkau wajah pria itu dan mencabik nya Hingga tak berbentuk karena sudah mengatakan hal yang membuat dirinya emosi, padahal waktu Diana mengajaknya bercanda tidak ditanggapi sedikitpun oleh Deka tetapi sekarang malah kebalikannya pria itu ia mengajak lebih dulu.
" eh Om kurang ajar situ pikir aku ini keponakannya kamu maka seenak jidat kamu mengajakku bercanda, tadi saja Sok jual mahal pura-pura tidak kenal eh sekarang malah nyerocos lebih dulu dasar Bujang lapuk!" Sindir Diana sambil menunjukkan sebuah bogem mentah yang begitu imut dimata Deka.
Deka hanya mengerutkan keningnya perasaan tadi dirinya hanya berbicara hal yang tidak terlalu menyinggung perasaan, tapi kenapa wanita itu jadi ngegas seolah dia adalah korban yang sedang teraniaya sekarang.
" eh Kamu itu kenapa sih badannya kecil tapi mulutnya pedes amat, tadi kan aku ngomongnya baik-baik kamunya malah melakukan ku seperti orang yang tidak terlihat sama sekali? Jadi wanita itu setidaknya menjaga image lah agar terlihat begitu Anggun dan mempesona, Eh bukannya setiap kali bertemu malah mengajak orang untuk berdebat kesan feminim nya dari mana coba!" Diana merasa kesal dengan sikap Deka yang entah kenapa malam ini terlihat begitu cerewet dibandingkan biasanya.
" Ya sudah kalau memang tahu aku orangnya cerewet nggak usah ngomong sekalian deh biar masalahnya kelar dan kamu juga bakalan bahagia selalu, orang tadi situnya aku yang ngajak ngomong lebih dulu kenapa malah menyalahkan ku sekarang? me time Ku jadi rusak gara-gara kamu soalnya nongol tidak tepat waktu, sudah begitu Sok tebar pesona dikira aku bakalan klepek-klepek begitu? kalau saja Tuhan menciptakan manusia hanya kamu seorang pria saja sebiji di dunia ini Mendingan aku jadi perawan ting-ting deh, soalnya bisa kehabisan oksigen aku kalau setiap kali dekat kamu soalnya nafasku langsung terhenti seketika!" alamak Deka yang tadi Maksudnya iseng-iseng saja menggoda Diana eh malah dikatain dari a sampai z membuat pria itu saja kebingungan harus menjawab apa.
" menyesal aku tadi menggoda dirinya dikiranya bakal direspon yang begitu halus Tidak seperti biasanya, Eh ini malah lebih parah dari sebelumnya membuat aku saja bingung harus berbicara seperti apa agar gadis mungil itu tidak terlalu mengeluarkan suara 5 oktaf nya!" Deka merutuki kebodohannya yang telah ia lakukan sampai-sampai membuat dirinya memilih untuk menepi daripada kalau memasang wajah terus di hadapan Diana entah apa jadinya.
" Kenapa nggak bisa jawab bingung mau memikirkan kata-kata apa yang pas untuk ku, Sepertinya kamu tidak Bakalan mendapatkan kata-kata yang pas karena aku adalah makhluk yang paling sempurna di dunia ini tidak ada cacat dan cela!" setelah mengatakan hal itu Diana pun bergegas masuk ke dalam kamar dan menutup jendela balkon karena jika tidak bisa dipastikan mungkin sendal Deka sudah melayang dari seberang.
" wanita itu benar-benar ya....
Deka sampai mengepalkan tangannya karena perkataan Diana yang begitu mencabik-cabik harga dirinya sebagai seorang pria, menyesal tentu saja karena wanita itu secara tak langsung membuat dirinya langsung nyemplung ke bawah.
__ADS_1
Arin yang sedang galau gelisah dan merana merasa heran dengan wajah Diana yang berbeda 180 derajat dengan yang tadi, jika Tadi Diana terlihat begitu emosi dan juga ingin sekali marah-marah maka berbeda dengan yang sekarang wanita itu terlihat begitu bahagia seperti memenangkan jackpot miliaran.
" kamu kesambet setan apa sampai wajah kamu bisa berubah seperti itu, ingat ya jangan sampai kamu melakukan hal yang aneh-aneh soalnya aku bingung berurusan dengan makhluk yang seperti begituan?" tanya Arin dengan wajahnya Yang penasaran tapi ketakutan juga sih soalnya apa yang dilihatnya terhadap Diana itu sungguh membuat bulu kuduknya merinding.