
Alan merasa gemas dengan benda persegi yang sedang dipegangnya itu ingin sekali dibantingnya agar cepat hancur, hanya saja bagaimana ceritanya jika nanti Ana yang bakal menelpon dirinya dan ketika dirinya tidak aktif sama sekali pasti bakal mengira jika Alan sudah pergi meninggalkannya.
"Ah bisa tidak jangan ada ujian cinta seberat ini,rasa rasa nya tulang ku mau rontok karena kekurangan semangat hidup!" Ujar Alan frustasi.
Tak beda jauh dengan Ana yang juga tengah gelisah galau dan merana akibat sikap keras kepala Mama nya itu,padahal dahulu mereka juga pernah muda tapi tetap saja rasa pengertian itu tidak pernah ada membuat siapa saja akan merasa emosi sendiri.
"Mah,Ayolah jangan kayak anak kecil begini dong! Aku itu perlu sekali untuk memakai ponsel ku,nanti kalau ada Klien yang menelpon terus tidak fi respon kan bisa berabe urusan nya.' Bujuk Ana agar sang Mama paham tapi tetap saja tidak bisa.
"Kalau nomor kamu tidak aktif kan mereka bisa langsung menghubungi ke restoran,sebab percuma saja satu orang yang sibuk padahal ada karyawan yang begitu banyak!" Sahut Lia terlihat begitu santai.
"Astaga sama saja kan jadinya kalau aku yang merupakan pemimpin nya,tetap saja mereka harus mendengarkan apa yang harus kukatakan!" Jelas Ana agar sang Mama paham.
"Oh tenang kemarin Mama sudah kasih ke mereka nomor ponsel nya Mama,jadi nanti Mama yang bakal menjadi delegasi untuk menyampaikan hal ini semua!" Ujar Lia dengan nada yang begitu santai.
Ana hanya bisa menghela nafas nya kasar apalagi di lihat nya dari tadi Andra Papa nya begitu santai seolah tidak terjadi apa apa,padahal anak nya sendiri sedang memerlukan bantuan yang bisa di bilang bukan urusan sepele.
"Kenapa lihatin Papa seperti itu Nak,kamu tahu kan sekarang kalau harga diri papa mu ini sudah tergadai dengan Mama mu?" Ujar Andra pelan membuat Lia mendengus kesal.
"Eh kok malah Mama yang disalahkan,memang kebiasaan Papa saja yang sangat memalukan itu yaitu tidak tegas mengambil sebuah keputusan!" Ujar Lia yang terlihat begitu tersinggung dengan apa yang di katakan oleh suami nya itu.
"Aduh kenapa jadi kalian yang berdebat kan yang punya masalah itu aku bukan siapa siapa,jadi jangan terlalu cerewet atau aku bakal benar benar marah karena sikap kalian yang begitu aneh!" Ujar Ana karena pikiran nya tambah pusing ketika mendengar kedua orang tua nya yang selalu memancing emosi.
"Eh anak nakal kenapa sih tidak di bawah santai saja seperti Mama,padahal Mama juga ikutan pusing melihat sikap kamu yang mendadak jadi orang aneh itu?" Ana yang sedang pusing dan ingin mencari udara segar memilih untuk mengeluarkan mobil dari garasi untuk pergi menemui Alan di kantor nya.
"Lho Papa itu Ana kok malah pergi bukan nya ikut apa yang Mama suruh,ih kalian itu kenapa sih sangat menyebalkan seolah Mama ini sedang bercanda?" Tanya Lia kesal karena sikap keras kepala putrinya itu.
"Lagian Mama yang terlalu aneh jadi orang,masa anak sudah sebesar itu tapi masih saja di atur ya siapa saja pasti bisa berontak. Ana itu biar hidup tanpa fasilitas dari kita juga bakal bisa,karena dia itu kan sudah punya usaha sendiri yang bisa di bilang sudah lebih mencukupi biaya hidup nya di luar sana". Andra tidak paham dengan sikap Istri nya itu yang terlalu berlebihan dalam mengekang puteri mereka sendiri.
Andra juga langsung pergi ke kantor karena sudah mau jam masuk kantor,dan sebagai seorang pemimpin tidak boleh memberikan contoh yang tidak baik.
__ADS_1
Lia mendengus kesal ketika semua orang malah sibuk dengan urusan pribadi mereka tak peduli dengan dirinya yang malah di tinggal sendirian,mungkin inilah yang di bilang punya anak itu harus banyak agar tidak kesepian ketika hanya di tinggal sendirian saja.
" ini orang semua kok pada tega ya padaku, masa iya meninggalkanku tanpa pamit atau setidaknya mengajakku ikut begitu agar tidak bengong sendirian di rumah. Eh malah nyelonong pergi begitu saja menjadikanku seperti patung yang tidak ada harganya sama sekali, lebih baik aku pergi shopping biar tidak mumet." Ujar Lia.
Terkadang seseorang itu lupa jika dirinya sebenarnya Tengah melakukan kesalahan yang tidak bisa ditoleransi oleh orang lain, dirinya itu merasa paling benar dan setiap kata-kata yang ia lontarkan itu adalah hal yang mutlak mesti harus di ikuti oleh siapapun. sampai-sampai dirinya lupa jika sebenar nya orang lain juga ingin yang terbaik untuk mereka,dan hal itulah yang tidak di sadari oleh siapapun.
Sebenarnya Lia tahu jika gadis nya itu sudah besar yang sudah bisa mengambil keputusan,hanya saja setiap orang tua selalu menolak kenyataan jika buah hati mereka itu sudah besar dan bisa bertanggung jawab untuk hidup mereka itu.
Ana yang sudah berada di parkiran kantornya Alan langsung segera masuk karena dirinya sudah sering bolak-balik ke situ jadi otomatis pegawai kekasihnya itu sudah merasa tidak asing,dan bertepatan dengan Dio yang baru keluar dari lift dengan wajah yang masam.
"Pagi Dio,wajah kamu kenapa kusut kaya jemuran yang baru di angkat?" Tanya Ana dengan tersenyum mengejek.
Dio menghela nafas nya karena akhirnya bala bantuan sudah datang membuat dirinya tidak perlu meladeni kegilaan dari atasan nya,sebab pawang nya Alan sudah sampai dengan selamat.
"Ah akhirnya Dewi Fortuna datang juga,kalau tidak aku bisa gila jika seperti begini terus!" Jelas Dio dengan begitu antusias membuat Ana merasa heran.
"Memang nya saya kenapa?" Tanya Ana sambil menunjukan kearah dirinya sendiri.
"Akhirnya aku bisa bebas dari perintah aneh Tuan Alan,yang terlalu aneh bin ajaib itu!" Ujar Dio dalam hati.
Ana yang tidak tahu menahu jika Alan sebenarnya pagi ini mengamuk non stop hingga membuat para pegawai nya kebingungan,memilih untuk masuk kedalam ruangan Alan dengan begitu santai nya tanpa beban sedikitpun karena ia memang tak tahu menahu sama sekali Mood Alan yang hancur berantakan.
Ceklek
"Eh brengsek aku tadi suruh kamu apa,kenapa malah kembali dengan Tidak melakukan apapun! Kamu pikir aku itu hanya membayar gaji kamu tanpa ada kerja yang nyata,lebih baik kamu pergi sebelum aku hajar kamu sampai sukses!" Teriak Alan yang bahkan tidak melihat kearah lawan bicaranya.
Ana tidak ada niat malah ingin sekali tertawa melihat sikap yang di tunjukan oleh Kekasih nya itu,sebab terlihat seperti nya benar benar kesal hingga tidak ingin melihat kearah sekitar.
"Aku harus pergi sekarang ya,tidak usah datang kesini lagi?" Tanya Ana dengan nada yang pura pura marah membuat Alan langsung menegang dan sekaligus senang karena ternyata keinginan nya langsung terwujud.
__ADS_1
"Sayang ini beneran kamu,maaf tadi itu...
"Eh jangan dekat dekat nanti aku kena hajar beneran gimana,soal nya tadi kamu bilang kamu bakal menghajar ku sampai sukses?" Tanya Ana yang malah mengangkat tangan ketika melihat Alan yang makin mendekat dengan mode ingin memeluk nya.
Alan langsung mematung bahkan tangan nya menggantung begitu saja di udara,hati pria itu mulai was was takut Ana marah besar kepadanya.
"Sayang tadi itu...
"Itu apa hemmm?" Tanya Ana sambil melipat kedua tangan nya.
"Itu aku pikir tadi itu Dio karena ...
"Terus Kalau Dio kenapa,jadi orang kok tega sekali dengan bawahan sendiri?" Tanya Ana ketus.
"Maaf soalnya....
"Stop sudah,soalnya aku pengen peluk kamu Jadi kemari lah sebelum aku berubah pikiran dan kamu tidak mendapatkan apapun!" Ujar Ana sambil merentangkan tangan nya kearah kekasih nya itu.
Alan yang begitu bahagia tidak perlu menunggu waktu yang lama lagi untuk segera memeluk kekasihnya itu, sebab dirinya sangat merindukan wanita Pujaan hatinya itu setelah sekian jam tidak bertemu. Akibat dari kelakuan Lia yang melarang mereka untuk bersama.
" Aku sangat merindukan kamu kekasih hatiku Pujaan jiwaku belahan Dadaku, yang selama ini Menghilang akibat dari Restu yang tak kunjung kita dapatkan. Tapi aku janji bakalan berusaha sekuat tenaga agar kita tidak pernah terpisahkan untuk selama-lamanya,sebab kita dilahirkan untuk bersama tidak pernah terpisahkan lagi!" Ujar Alan membuat Ana hanya bisa tersenyum karena Alan yang terlalu Lebay itu.
" kamu itu kalau ngomong kenapa sih kelebihan anehnya dari tadi aku saja sampai bingung cara mencernanya agar bisa masuk dalam nalar itu gimana, sebab dari tadi tidak ada yang benar satupun kebanyakan anehnya. Sampai aku saja berusaha untuk tidak lagi membahas hal yang telah lalu, padahal sebenarnya Kamu itu orang yang Sungguh Tega. Masa iya pegawai kamu yang tidak punya salah harus kena imbas akibat masalah kita,padahal kan ada jalan keluar nya yang tidak bisa di tolak!" Jelas Ana sambil tersenyum.
Alan tidak menggubris apa yang di katakan oleh Ana,karena baginya mencium aroma kekasihnya itu yang sangat menggoda iman dan pikiran nya.
"Kamu itu dengar tidak sih apa yang aku katakan dari tadi,jangan membuat ku seolah sedang bicara sama tembok?" Sungut Ana.
"Aku sedang mencoba mengingat aroma kamu biar nanti kalau tidur tidak bakal lupa,soalnya sudah terkunci di dalam ingatan ku dan aku tidak akan pernah melupakan nya!" Ujar Alan sambil tersenyum membuat Ana sangat tersentuh dengan sikap yang di tunjukan oleh Alan yang begitu manis.
__ADS_1
Sungguh sesuatu yang sangat indah dilihat tapi tidak sedap di bicarakan bagi yang sedang menjomblo,maka dari itu lebih mengertilah pada kaum yang sedang menyendiri di sudut kota itu karena sangat menyiksa.