
Diana Bukannya tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Deka Tadi, hanya saja menurutnya perkataan pria itu kebanyakan hanya membuat dirinya merasa emosi yang tidak bisa tertahan dan akhirnya keduanya bakalan ribut di situ.
Dirinya sebenarnya ingin sekali menjauh atau juga mungkin tidak perlu Terlalu ambil pusing dengan setiap apa yang dikatakan oleh pria, yang menurutnya tidak punya pekerjaan hanya untuk mencari masalah selalu mendapati dirinya, tapi mau bagaimana lagi tidak mungkin juga kan dirinya melaporkan Deka kepada pihak berwajib sebab bandara itu merupakan fasilitas umum Siapa saja boleh datang dan duduk di situ Entah tidak punya kesibukan apapun Hanya Ingin bersenang-senang saja ataupun selfie.
" kamu masih mau disini atau ikut denganku pergi menjauh Bila perlu yang tidak terjangkau sama sekali oleh orang asing ini, soalnya aku kalau terlalu berlama-lama disini lama-lama bisa tambah stres dan akhirnya bisa gila tidak jadi balik ke Indonesia yang ada di bawa ke rumah sakit jiwa? " tanya Diana kepada Arin yang dari tadi seolah menatap dengan tatapan memelas ke arah Deka.
" loh Kamu itu aneh sekali lo Diana kita kesini itu kan tujuannya tunggu pesawat biar bisa pulang ke Indonesia, terus kalau misalnya kita balik sekarang nanti kapan kita berangkatnya Memangnya kamu mau kita dikeroyok rame-rame oleh keluarga Pelangi? " Arin benar-benar tidak habis pikir dengan sikap sahabatnya itu yang terkadang memaksanya untuk harus pergi eh kadang juga selalu saja mengikuti kemauan yang berubah seperti air mengalir yang tidak jelas arah dan tujuannya.
" aku itu bukan bilang kita menunda perjalanan hanya saja maksudku mencari tempat yang lebih nyaman dari segala macam gangguan yang ada, hanya kamunya saja yang terlalu lambat buat meng-connect apa yang aku katakan dan akhirnya otak kamu itu selalu saja tidak sampai ketika dipaksa berpikir? " sungut Diana ketika melihat sikap Arin yang selalu saja membantah ketika ia sedang berbicara serius.
Deka akhirnya mengambil keputusan sepihak Persetan dengan segala ancaman ataupun amukan Dafa nantinya, karena Biar bagaimanapun urusan hatinya itu sekarang sangat penting dibandingkan dengan urusan pribadi tuannya yang notabene sudah mempunyai keluarga kecil sendiri yang harus dirinya bangun dengan gaya kepemimpinannya tanpa campur tangan Deka sama sekali.
" Bisakah kalian menungguku untuk penerbangan yang selanjutnya agar kita sama-sama perginya, soalnya aku juga bakalan merasa bosan ketika berada di pesawat sendirian tanpa ada teman mengobrol sedikitpun? " tanya Deka memelas membuat Diana menatap heran kearah nya.
"Apa hubungan kamu dengan kami,kalau mau balik ya bawa saja Tuan kamu itu agar punya teman ngobrol tidak perlu menggangu urusan orang lain?" Tanya Diana sinis.
"Bisa tidak kalian mengikuti apa yang aku mau?" Tanya Deka lagi tak peduli dengan respon yang bakal di berikan Diana itu.
Diana mendengus kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Deka barusan, padahal dirinya dari tadi itu jelas-jelas menolak apa yang diinginkan oleh pria itu tapi kenapa masih saja memaksakan kehendak seolah Diana ini orang yang plin-plan dan langsung berubah pikiran dalam hitungan detik sehingga sebuah pertanyaan itu harus diulang-ulang kembali agar orang tersebut langsung menjawabnya tanpa memikirkan hal lain lagi.
"Astaga demi Dewa! Kamu itu paham tidak sih apa yang aku katakan tadi,kenapa harus perlu di ulang kembali agar bisa paham dengan apa yang di mau?" Tanya Diana sampai sudah tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi.
"Aku kan hanya meminta dan aku tahu kalau hati kecil kamu pasti tidak akan menolak hal itu kan,karena biar bagaimanapun apa yang ku minta itu simpel saja kok!" Ujar Deka.
"Terus kamu mau aku kehilangan uang ribuan dolar hanya karena batal terbang,terus yang bakal menanggung kerugian yang kami alami siapa?" Tanya Diana sinis.
"Aku yang bakal menanggung biaya tiket kamu dan juga biaya kehidupan kamu kedepan nya,bila perlu sampai kita mati nanti!" Jelas Deka.
Diana hanya mendengus kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Deka barusan, karena perkataan pria itu terlihat begitu percaya diri padahal belum tentu dirinya menyetujuinya. Hanya saja setiap orang punya pemikiran masing masing, jadi otomatis kita tidak bisa memaksakan kehendak agar orang lain sepemikiran dan juga sepaham dengan kita.
__ADS_1
sebab manusia di dunia ini terkadang sifatnya selalu kebanyakan bertolak belakang meskipun itu pasangan hidup ataupun dengan orang tua, jadi lebih baik pemikiran orang lain dihargai kemudian disaring lebih dulu Apa pantas untuk diikuti atau tidak karena jika tidak lebih baik Jangan memaksakan diri karena akhirnya bakalan membuat tidak nyaman.
" Terima kasih atas tawarannya Om yang baik hati tapi kalau aku hidup di kakiku sendiri maka bisa mengatur setiap apa yang harus aku lakukan sesuai dengan keinginan, hanya saja hidupku sekarang itu adalah miliknya kedua orang tuaku dan aku tidak bisa membantah mereka sedikitpun. Tolong om paham dengan apa yang aku katakan barusan agar besok lusa nya ketika bertemu kembali sudah tidak ada kecanggungan yang ada, dan aku percaya kalau memang kita berjodoh Tidak bakalan kemana-mana karena pasti bakalan ketemu juga. " "Diana akhirnya paham jika sebenarnya Deka itu ingin dekat dan mengenal dirinya lebih jauh hanya saja entah nanti bagaimana respon dari keluarga Pelangi dirinya juga tidak tahu menahu.
Deka yang mendengar apa yang dikatakan oleh Diana barusan hanya bisa menghela nafasnya kasar karena Biar bagaimanapun dirinya tidak bisa memaksakan kehendak, karena yang ada bukannya Diana semakin mendekat malah menjauh darinya Dan mungkin bahkan tidak ingin mengenalnya sama sekali. jika sampai hal itu terjadi otomatis hanya ada penyesalan dalam hidupnya dan tidak akan bisa mengembalikan waktu yang sudah terbuang percuma, Oleh karena itu Deka memilih untuk mengalah bukan karena kalah melainkan untuk membiarkan Diana berpikir lebih jernih tentang bagaimana sikapnya dan juga pribadinya selama beberapa hari ini.
"Boleh aku minta nomor ponsel kamu,biar nanti kalau sudah pulang bisa saling berkomunikasi?" Tanya Deka memelas membuat Diana tak tega dan mengikuti apa yang di ingin kan pria itu.
Ketika sudah memberikan nomor ponsel terdengar panggilan untuk penerbangan yang bakal di ikuti oleh Diana dan Arin,membuat Deka hanya bisa menghela nafasnya kasar karena hari ini adalah hari terakhir melihat wajah cantik itu.
"Kita pamit ya Om,ingat jangan lupa telpon ya karena nomornya itu buat ditelepon bukan hanya dilihat saja karena mana bisa rindunya terobati!" Ujar Arin membuat Diana hanya bisa geleng geleng kepala.
"Ya sudah Om,kita pamit dulu salam buat Kak Alika ya!" Deka yang tadi sudah sangat senang karena bakal di berikan kata kata yang manis untuk perpisahan eh malah Alika yang dapat salam.
Siapa yang bakal tidak merasakan kekecewaan ketika apa yang di inginkan tidak di dapatkan sama sekali,padahal hal itu sedang sangat diharapkan.
Mungkin ini yang di namakan harapan tidak sesuai kenyataan,dan juga kenyataan yang tidak sesuai dengan dambaan.
"Dadahh Om,jangan lupa bawa wanita cantik kalau pulang ke Indonesia! Soalnya para wanita cantik disini kan original jadi kalau berduet sama yang lokal pasti bakal lebih joss mantap!" Bujuk Arin sambil tersenyum membuat Diana hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kamu itu kalau ngomong jangan suka mempengaruhi pikiran orang lain,memang nya kamu pikir Si Om nya mau cari wanita Asia Selatan kalau sampai dia cari wanita Bule gimana?" Tanya Diana sembari tertawa membuat Deka tambah lemas karena apa yang Diana katakan.
"Ya Tuhan aku pikir bakal di jodohkan dengan dirinya,eh malah dengan sadar menyuruhku cari wanita Bule?" Resah Deka dalam hati kalau boleh teriak sudah ia lakukan tanpa sungkan.
Diana pergi sambil menarik koper nya seolah sudah mendapatkan tenaga tambahan Karena bertemu dan berbicara secara baik dengan Deka,padahal selama ini ia selalu bermusuhan dengan pria yang menurutnya adalah orang yang selalu mencari masalah dan juga tidak pernah ada kata mengalah ketika bertemu dengannya itu.
" semoga saja suatu saat kita dapat bertemu lagi dengan keadaan yang lebih baik daripada pertemuan kita yang di awal dan tidak ada kesan manisnya sama sekali, dan juga semoga saja saat bertemu kembali juga kita sudah memahami apa yang harus kita ambil dalam kehidupan ini. " lirih Diana dalam hati.
jangan ditanya lagi Bagaimana dengan perasaan Arin kini,tentu saja wanita itu sedang berbahagia karena dalam hitungan menit bakal bisa bertemu dengan sang pujaan hati.
__ADS_1
"Gimana cerita nya ya nanti saat kita kembali si Cecep Masduki sudah di ambil Orang,apa pilihan untuk kembali berlibur masih ada di benak kamu atau tidak?" Tanya Diana sambil tersenyum mengejek.
Arin yang sedang cengengesan mendadak langsung lemas,sebab apa yang di katakan Diana itu adalah sebuah perkataan yang membuat dirinya ingin marah saat ini.
"Ya Tuhan kamu kok tega sih,sampai mengatakan hal yang tidak jelas seperti itu?" Tanya Arin tidak berdaya.
"Aku tadi itu ngomongnya jujur loh bukan hanya mengada-ada ataupun ingin menambahkan sebuah bahasa yang jangan sampai sebenarnya adalah kenyataan, jadi lebih baik untuk mengantisipasi hal itu agar nanti sampai di sana mental Kamu sudah siap menghadapinya ya makanya mulai dari sekarang harus diwaspadai! supaya kamu itu tidak akan jungkir balik di sana menangis tersedu-sedu akibat nasib yang tidak tentu yang sedang kamu alami, maka dari itu mulai dari sekarang usahakan air mata kamu yang sudah menjadi stock tersimpan dikeluarkan sebaik mungkin agar nanti kalau beneran terjadi kamu tidak perlu menangis sampai memalukan begitu! " Arin hanya bisa mengelus dadanya pelan karena sikap Diana yang begitu tega dan tidak ada rasa persahabatan yang begitu kental sampai-sampai mendoakan hubungannya dengan Cecep Masduki tersayang segera bubar.
" Ya ampun Diana kamu ini tega sekali sih jadi orang,setidak nya doakan yang terbaik lah masa iya yang parah semua?" Sungut Arin.
"Diam,tuh ada petugas yang mau cek paspor kamu siapa tau ketinggalan nanti beneran lho si Cecep kecantol wanita lain!" Ledek Diana.
Arin memilih diam saja sebab Diana itu kalau bicara selalu saja begitu menyakitkan,bahkan terkesan begitu membuat dirinya merasa sangat jatuh tenggelam tanpa bisa bernafas.
Setelah pengecekan yang di lakukan beres keduanya segera masuk kedalam pesawat dan duduk manis sambil sibuk dengan pemikiran masing masing.
Deka hanya bisa menatap sendu kearah pesawat yang lepas landas itu yang sudah membawa separuh hatinya pergi,dan itu semua terlambat disadari ketika semua sudah pergi tanpa ada kepastian bagaimana kedepan nya.
"semoga saja kelak kita kan bertemu lagi karena saat itu terjadi aku tidak akan pernah melepaskan kamu,meskipun keluarga mu adalah keturunan titisan Singa sekalipun!"persetan dengan orang lain Deka memilih untuk terus berkomat-kamit sendirian karena menurutnya dunianya itu yaitu miliknya dia tak peduli dengan kehadiran orang lain yang hanya membuatnya pusing kepala dan tidak tahu harus bersikap seperti apa.
" Aku mana mau sama wanita yang bermata sipit seperti mereka padahal Dian aku lebih seksi dan menawan di mata dan sedap dipandang, masa iya yang produk lokal lebih keren dan mendunia malah mencari produk orang lain yang jelas-jelas hasil dari oplas dan bukan limited edition ! ", Deka yang begitu bahagia Ketika nanti bakal bertemu dengan Diana di suatu tempat yang tidak terduga dan tentunya di negeri tercinta Indonesia.
pria itu bahkan tidak sadar jika seharian ini tidak ada panggilan masuk yang berasal dari Daffa sedikitpun, padahal biasanya Tuhannya itu selalu merecoki dirinya dimanapun dan kapanpun tanpa memandang ini sudah jam berapa atau posisi sudah tengah malam atau belum.
" Astaga aku hari ini tuh sibuk apa saja sih sampai lupa memberi kabar kepada Tuan Dafa ataupun sekedar menanyakan apa yang ia butuhkan, apa aku langsung ke hotel tempat dirinya menginap saja ya sebelum dia menelpon kepadaku aku harus lebih baik mengambil hatinya lebih dulu? " Deka benar-benar melupakan kehadiran tuannya itu yang memang seharian ini tidak memberikan kabar sedikitpun dan itu adalah hal yang paling langka selama dirinya bekerja dengan keluarga Adrian yang hobinya menyusahkan orang.
di lain tempat Alan hari ini harus mengalami kesusahan ketika orang tuanya Ana mengultimatum dirinya harus membawa kedua orang tuanya untuk menghadapi mereka dan Melamar Ana secara secara resmi, barulah dirinya bisa bertemu dengan Pujaan hatinya dan itu merupakan hal yang paling menyiksa selama ia hidup dibandingkan dengan semua fasilitas yang ditarik.
" Kenapa calon Mertuaku begitu tega kepadaku,padahal mereka kan pernah muda?" Sungut Alan dalam hati.
__ADS_1
Bahkan lebih parah nya semua panggilan yang ia tujukan kepada Ana selalu di alihkan,padahal ia hafal betul jika nomor ponsel kekasih nya tidak pernah diganti dan juga kemarin masih saling memberi kabar.
sungguh kesialan yang tidak terduga dan di inginkan,semoga saja cepat pergi dari dalam hidup nya dan Ana.