
Diana sudah tidak tahu harus berbicara apa lagi karena sikap yang di tunjukan oleh Deka itu membuat dirinya dilema,sebab yang sedang dipertaruhkan adalah harga diri dan keyakinan.
Harga diri,adalah harga mati yang dipertahankan untuk kedua orang tuanya bahwa seorang Desainer bisa sukses,maka dari itu ia harus belajar dan berusaha lebih giat lagi.
keyakinan, merupakan hal yang membuat Diana memilih untuk keluar dari rumah karena merasa yakin masa depannya akan tetap bagus dan juga Cemerlang meskipun tanpa embel-embel nama keluarga Pelangi.
bukan juga dirinya ingin menolak Deka secara mentah-mentah tetapi melainkan dirinya tidak ingin kedua orang tuanya berpikir yang tidak-tidak, dan merasa yakin jika alasannya untuk keluar dari rumah itu hanya oleh karena ada pria yang ingin hidup dengannya.
"Tapi apa Om tidak bisa menunggu sekitar satu tahun lagi,soalnya Saat itu baru aku bisa memberikan jawaban yang pasti?" Tanya Diana membuat Deka menatap tak percaya kearah nya.
"Apa kamu mau melihat aku semakin tua lagi,apa kamu ingin rambut aku beruban saat meminang kamu?" Tanya Deka memelas membuat Diana ingin sekali tertawa.
"Ya ampun astaga Om,biarpun kita menikah sekarang saat tahun depan pasti Om tua juga kan dan rambutnya juga pasti memutih?" Tanya Diana dan Deka tidak menampik hal itu.
"Itu kamu tahu,jadi kenapa harus di tunda niat baiknya?" Ujar Deka yang masih kekeh dengan pendiriannya.
Kini Deka dan Diana sedang berada di apartemen Diana sedangkan Arin berada di dapur membuat makan siang dengan menu yang diinginkan oleh Diana,ketika keduanya tengah asyik mengobrol tiba tiba terdengar bunyi bel dari luar.
Membuat Diana merasa heran sebab ia selama ini tidak pernah terima tamu selain pria yang ada di sampingnya Kini,Deka pun menatap heran kearah Diana kira kira siapa yang datang.
"Siapa yang ada di luar,apa kamu pesan makanan dari luar?" Tanya Deka memastikan.
"Tidak lah,tuh anak orang lagi capek di dapur masa iya aku tega malah memesan makanan dari luar?" Sahut Diana tak terima.
"Terus siapa di depan sana?" katanya Deka memastikan membuat Diana mendelik kesal karena dirinya saja tidak tahu menahu orangnya ada di hadapannya malah bertanya pula kepadanya Memangnya dinding rumahnya itu tembus pandang jadi bisa melihat orang dari luar.
"Ya mana aku tahu,orang pintunya Saja dari tadi belum di buka dan hanya di lihat saja!" Omel Diana.
__ADS_1
Deka menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ternyata sebenarnya dirinya yang dari tadi mengajak Diana mengobrol sehingga tamu di depan pintu dibiarkan begitu saja,padahal mungkin sudah setengah jam dibiarkan begitu saja tanpa dihiraukan kedatangan nya.
"Ya habisnya saat dekat dengan kamu selalu membuat aku menjadi gagal fokus dan tidak bisa merespon dengan keadaan sekitar,maka dari itu aku akan jadi orang bingung kalau setiap ada kamu!" Ujar Deka membuat Diana mengerutkan keningnya karena malah dirinya yang disalahkan.
"Eh mana bisa begitu,yang ada kamu itu yang patut di salahkan karena sudah mengatakan hal yang tidak tidak?" Omel Diana.
Deka kini menuju kearah pintu dan membukanya,tapi satu hal yang ia bingung kenapa ada Wajah pria paruh baya yang merupakan rekan bisnis dari Daffa,pria yang selalu berdebat ketika bertemu dengan nya sebab kemauan Bima yang aneh aneh.
"Lho kamu kok bisa disini?" Tanya Vina heran.
"Yang mesti bertanya seperti itu harusnya aku,kenapa kalian ada disini?" Tanya Deka tak mau kalah.
"Lha kenapa kamu yang malah lebih berani,dasar tamu tidak tahu diri!" Omel Delima.
guys emaknya Diana kita rubah nama ya Jadi Delima soalnya auto lupa,mau balik kehalaman yang kaku sinyal tidak mendukung.
Deka tidak terima ketika dirinya dikatakan seperti itu karena menurutnya sebentar lagi dirinya bukan tamu di tempat itu melainkan pemilik nya,jadi tidak bisa dikatakan sebagai tamu yang tidak punya sopan santun.
"Kurang ajar,sejak kapan aku memberikan izin kamu untuk menjadi menantu keluarga pelangi!" Sarkas Bima kasar.
Busyett
Pelangi,,,itukan????
"Diana Pelangi dan pria itu Arbima Pelangi,jangan jangan....
"Papa sama Mama kok disini?" Tanya Diana heran..
__ADS_1
Deka langsung menegang ketika mendengar Diana memanggil para manusia yang tadi berdebat dengan nya menggunakan kata Papa dan Mama,karena itu sama saja dirinya dari tadi sudah memperkecil kemungkinan menjadi calon suami dari orang tuanya yang sudah ia marahi dari tadi.
"Kalian...
"kenapa,kaget?" Tanya Delima dengan tatapan mengejek.
"Ah tentu saja tidak lah,aku kan hanya mau menyuruh Om sama Tante masuk kedalam masa iya hanya berdiri saja?" Deka tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa lagi hanya karena keadaannya yang sekarang sudah seperti orang yang ketahuan sedang berbuat tindakan yang sangat memalukan di tengah banyak orang.
Delima ingin sekali tertawa melihat ekspresi wajah Deka Kini,sebenarnya ingin sekali dirinya melakukan hal itu hanya saja tidak sampai hati melakukan hal itu.
"Ada ya,tamu tapi malah mempersilahkan Tuan rumah yang masuk?" sindir Bima.
"Ada Om!" Sahut Deka.
Demi restu biar harga diri nya tergadai tak masalah,karena kapan lagi cari muka dihadapan calon mertua jika tidak sekarang.
"Om,ayo kasih jalan buat Tuan dan Nyonya Pelangi!" kali ini Diana mengubah panggilan nya menjadi lebih formal dan tidak ada panggilan yang lebih akrab lagi.
Bima menatap tanpa ekspresi kearah Diana yang selalu saja cari perkara dengannya,padahal dirinya yang notabene sebagai orang tua gadis itu sudah rela menurunkan harga diri demi datang ke tempat itu.
"Kamu kok bicara seperti tadi kepada orang tua kamu,ayo minta maaf nanti dikira calon Mama yang tidak punya sopan santun!" Ujar Deka membuat Diana merasa ingin sekali menghajar pria itu.
" kamu itu kalau tidak tahu apa-apa sebaiknya diam saja karena untuk apa juga kamu jelaskan ke kamu kalau sebenarnya tidak paham duduk perkaranya, kehadiran kamu di sini itu cukup menemani aku dan juga mendengarkan apa yang orang tua berdua itu lakukan agar kamu sadar Bagaimana sikap mereka selama ini! " perintah Diana setengah berbisik membuat Deka mengerutkan keningnya karena merasa heran Sebenarnya ada masalah apa antara anak dan orang tua itu sampai-sampai Diana memilih minggat dan tinggal sendiri di apartemen.
" kalian berdua itu kenapa malah berdiri di situ sudah tahu ada orang tua disini kok malah melakukan hal yang aneh-aneh? Lain kali itu harus belajar menghargai kehadiran orang yang lebih tua agar kalian sadar, bukan malah berbisik di depan pintu seolah kehadiran kami di sini memang tidak diinginkan sama sekali? "omel Delima karena tidak menyukai sifat yang ditunjukkan oleh Diana dan Deka kepada mereka berdua.
" karena yang ingin bertamu di rumah ini itu kalian sendiri ya Otomatis Aku tidak terlalu harus ikut campur kan? soalnya yang menyuruh kalian datang ke sini kan bukan aku kalian sendiri yang mau, jadi Jangan menyalahkan aku dengan hal yang tidak pernah kulakukan sedikit? " tanya Diana sinis lalu memilih untuk mengikuti Arin yang sedang berjibaku di dapur.
__ADS_1
" kami juga terpaksa melakukan hal ini karena kalau tidak setiap waktu bakalan diteror oleh Mama, Jadi kamu jangan terlalu percaya diri Kalau kami melakukan semua ini hanya karena kasihan dengan anak kepala batu seperti kamu! " ujar Bima yang benar-benar tidak menyukai sikap Diana yang seolah tidak menginginkan kehadiran mereka dan juga menunjukkan sikap yang sangat tidak sopan.
padahal mau dilakukan seperti apa atau merespon Seperti apa status mereka tetaplah sebagai orang tua, namun Bima juga tidak mungkin harus menyalakan Diana terus-menerus Bukankah yang menyebabkan Gadis itu keras kepala adalah sikap dirinya dan juga istrinya yang selalu saja keras kepala dan tidak suka diatur maka dari itu buah jatuh tidak jauh dari pohonnya kan?