
Diana merasa heran dengan sikap Arin itu padahal dirinya yang ditawarkan untuk dibelikan apartemen Kenapa temannya itu yang begitu antusias ya, ini pasti ada hal yang tidak beres sebab Siapa yang tidak tahu dengan sikap Arin yang suka modus di manapun dan kapanpun.
" jangan bilang kamu ingin nenek belikan apartemen saat ini juga supaya kamu bisa bebas berduaan dengan Cecep Masduki yang wajahnya abal-abal itu, kalau sampai hal itu terjadi kamu adalah orang pertama yang bakalan aku usir dari apartemenku saat itu juga!" sinis Diana membuat Arin hanya bisa cengengesan karena memang sebenarnya sebelum dia namun hal itu sudah terpatri jelas di dalam benaknya dia tidak akan bisa untuk diubah.
sedangkan Mala hanya bisa tersenyum dirinya tidak ingin bersedih di hadapan cucunya karena itu sama saja dengan menambah beban pikiran Diana, padahal sebenarnya dirinya datang ke tempat itu untuk memastikan keadaan Diana dan juga membujuk anak agar mau tinggal di apartemen yang dibelikan olehnya tidak usah pulang ke rumah karena memang sikap Bima dan Dinda istrinya nya sangat tidak masuk akal.
" Terserah kamu mau bawa siapa saja masuk ke dalam rumah karena nanti risiko kan kami yang tanggung bukan kami jadi kalau kamu mau Hamidun Ya tidak masalah, yang penting Intinya cuma satu yaitu Diana ada teman buat tinggal di sana soalnya jangan sampai nenek takutnya apartemennya itu bekas orang gantung diri kan jadi berabe urusannya!" goda Mala membuat Diana menatap tak percaya kearah neneknya itu kok bisa-bisanya yang menakuti dirinya padahal bentukan apartemennya saja belum ada di depan mata.
" Wah Nenek mah begitu selalu kalau mau kasih sesuatu pasti bakalan menceritakan kronologi kejadiannya dulu bahkan dilebih-lebihkan biar orang lain tidak bakalan meminta, kalau memang tidak ikhlas ya sudah tidak usah jangan ngomong yang aneh-aneh aku kan jadi bingung mau terima atau menolaknya soalnya apa yang dikatakan semua itu terlalu sadis?" ujar Diana yang memang paling tidak suka jika menyangkut hal yang berbau mistis karena menurutnya bentukan mereka itu nyata tidak ada yang hanya di angan saja jadi otomatis kalau menyebut di hadapannya maka bisa dipastikan ia bakal ngambek.
"Oh kamu masih takut yang begituan,Nenek pikir kamu sudah jadi strong woman otomatis yang begituan sudah tidak di pedulikan lagi," ledek Mala.
"Aihhh Nenek kalau bahas sesuatu kebanyakan lebihnya,supaya orang berubah pikiran biar uang nya tidak jadi di belikan Apartemen!" Diana benar benar tidak menyukai sikap yang ditunjukan oleh sang Nenek yang malah menyusahkan dirinya.
Mala hanya bisa tertawa mendengar apa yang di komentari sang cucu,karena memang ia sengaja menyebut soal makhluk yanh yang sangat membuat Diana takut itu karena memang hanya itulah yang bisa membuat Diana bungkam.
Arin hanya bisa geleng geleng kepala,sebab memang hanya alasan klasik itu sajalah yang bisa membuat seorang Diana Pelangi bungkam .
"Kamu itu sok kuat tapi sebenarnya penakut nya minta ampun!" Ledek Arin.
"Hah,enak sekali jadi orang kalau ngomong! Memang nya kamu pikir aku penakut sampai segitu nya,jadi kalian sampai menertawakan ku seperti itu!" Sinis Diana tak terima dengan apa yang di lakukan atau pun di katakan oleh Mala serta Arin.
Ketika mereka sibuk berbincang tampak dari depan Mama nya Arin yang baru pulang dari toko,wanita yang ramah dan murah senyum itu langsung bergabung dengan yang lain yang sedang duduk santai di teras rumah.
"Haii semua nya,aduh pada ngumpul disini. Terus kok bisa kamu tidak kasih minum untuk tamu nya,kamu ini memang anak yang tidak pengertian dan juga pemalas ,Arin!" Ujar Lina yang merupakan Mama nya Arin.
Arin hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal karena baru sadar dengan apa yang ia lakukan,sedikitpun tidak menawarkan tamu nya untuk minum atau pun masuk kedalam rumah.
"Hehe,Maaf Mah soalnya karena keasyikan ngobrol sama Nenek jadi lupa segalanya. Ya sudah aku bilang sama Bibi dulu ya biar bisa buatkan minuman,kalian duduk di sini dulu ya aku kedalam!" Arin akhirnya pergi dari situ.
"Kamu jangan marah marah seperti itu dong Nak,kasihan cucuku itu kalau kamu baru datang terus Marah marah!" Bujuk Mala karena memang jiwa kasih sayang nya akan muncul ketika melihat para cucu kesayangan di marah tepat di hadapan nya.
Lina hanya tersenyum karena tidak mungkin membantah apa yang adi katakan oleh wanita paruh baya yang sudah di anggap pengganti Ibu nya,wanita yang sering kali ia temui dan memiliki sifat yang jauh dari kata orang yang sombong karena memiliki kekayaan yang lumayan fantastis.
nggak mungkin juga kan dirinya membantah ada tamu yang datang ke rumah yang diyakini pasti ingin menyelesaikan masalah yang sedang menimpa cucunya itu,karena memang dirinya yang merupakan orang lain saja tidak tega melihat apa yang di alami Diana.
"Ibu sudah lama datang nya?" Tanya Lina penasaran.
"Lumayan lah Nak,dari perut nya Ibu masih kenyang sampai sekarang sudah lapar lagi tapi masih saja di sini!" Jelas Mala.
__ADS_1
"Astaga Maafkan aku ya Bu. Soalnya memang tidak tahu menahu kalau Ibu hari ini kerumah,karena kalau aku tahu pasti aku bakal pulang sekarang juga!" Lina benar benar menghargai kedatangan Mala di rumah mereka itu.
"Lho jangan seperti itu Nak,pekerjaan kalian itu lebih penting daripada Ibu yanh hanya main saja! Nanti kapan kapan kalau Ibu masih punya umur kita pergi liburan di Korea,siapa tahu ada pria keren yang bisa kita goda!" Ajak Mala membuat Diana yang sedang sibuk pada ponsel nya langsung mendelik kesal.
"Nek,Mama Lina itu punya Papa Bayu jadi jangan kasih kotor otak nya dengan hal yang tidak tidak!" Tolak Diana.
"Mama rela kok Nak,karena yang penting Papa kamu tidak tahu menahu!" Sahut Lina sambil tersenyum.
Semuanya hanya bisa tertawa saja karena merasa lucu dengan perdebatan mereka,suasana terasa begitu hangat sebab tidak ada yang saling menjatuhkan atau membuat orang lain tidak merasa nyaman.
"Ibu mau datang kesini untuk menjemput Diana,apa tidak sebaik nya dia tetap disini saja!" Tanya Lina yang memang tidak ingin anak kesayangan nya itu pulang kembali kerumah orang tua nya yang terlalu memaksakan didikan yang tidak ada rasa kasihan kepada anak yang hanya satu satu nya itu.
Mala tersenyum mendengar pertanyaan dari Kina barusan terdengar begitu tulus dan juga tanpa pamrih dalam merawat serta menjaga Diana,yang notabene bukan anak kandung nya.
"Kalau menurut kamu,lebih baik Ibu antar dia kembali ke rumah atau membelikan Apartemen untuk dia tinggal?" Tanya Mala.
Lina mengeryitkan keningnya mendengar apa yang di katakan oleh Mala barusan,kenapa malah bertanya yang tidak pernah ia pikirkan sama sekali.
"Maaf Bu,boleh aku ngomong?" Tanya Lina yang memang tidak ada niatan sedikitpun untuk tidak sopan atau memotong pembicaraan orang yang lebih tua darinya.
"Ya boleh lah Nak,bila perlu kamu usir Ibu pun tidak masalah!" Ujar Mala tapi sambil terkekeh geli membuat Lina memasang wajah cemberut nya.
"Haha,Ibu bercanda Nak tidak ada yang serius! Kamu kalau marah kan Ibu jadi ngeri,soalnya wajah kamu sangat menakutkan sekali!" Ejek Mala.
"Ibu kenapa harus suruh Diana pergi dari sini,padahal rumah ini kan masih bisa menerima kehadiran dia!" Sahut Lina yang menolak jika Diana harus pergi dari rumah itu.
Mala tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Lina barusan,ternyata wanita itu begitu tulus dan ikhlas menjaga serta merawat cucunya itu.
Padahal mereka itu tidak ada hubungan sama sekali bahkan bisa di bilang hanyalah orang asing yang saling mengenal dekat akibat persahabatan para anaknya.
"Apa tidak merepotkan kalian jika Diana berada disini,nanti kalau dia nakal atau cengeng gimana?"Tanya Mala penasaran.
Bukannya Lina yang menjawab malah Diana yang merasa gemas dengan sikap Neneknya itu,bagaimana tidak masa iya dirinya yang diperlakukan seperti anak kecil yang selalu saja meminta sesuatu secara berlebihan.
Sejak kapan dirinya menjadi orang cengeng atau pun suka merepotkan orang lain,sebab dirinya adalah orang yang paling mandiri dan paling tidak suka jika kehidupannya terlalu di merepotkan atau pun kebalikan nya pada orang lain.
Tapi ketika mendengar apa yang di katakan oleh Mala,bukan nya sebuah perhatian yang ia dapatkan melainkan ejekan yang membuat harga diri nya sejatuh mungkin.
"Nek,lain kali mau menjelekkan orang itu boleh tapi sesuai kenyataan dan juga jangan langsung di depan orang nya! Soalnya apa yang nenek lakukan itu melanggar adat kesopanan,dan juga sudah termasuk kebohongan belaka!" Ujar Diana sambil memasang wajah yang tidak bersahabat.
__ADS_1
Lina tidak bisa berdiam diri ketika melihat anak kesayangan nya Marah marah,karena menurutnya Diana itu adalah fotokopian dirinya waktu masih muda.
"Ah pokoknya kamu tenang saja nanti Mama tetap bakal ada di posisi kamu sebagai pejuang garis akhir,tapi intinya cuma satu yaitu kamu tidak boleh pindah kemana mana." Tegas Lina.
Mala tahu kalau mendengar apa yang di katakan Lina barusan pertanda bahwa wanita memang benar-benar menyayangi Diana sepenuh hati tanpa membeda-bedakan dengan anak kandungnya sendiri, padahal sebenarnya yang harus mereka perhatikan itu adalah Arin yang jelas jelas merupakan anak kandung mereka sendiri.
Namun ternyata hal itu tidak di lakukan sama sekali oleh Lina,karena baginya Diana dan Arin itu sama saja dan harus di perhatikan tanpa boleh ada yang berat sebelah.
"Tapi apa kalian benar tidak apa apa kalau Diana di sini terus,padahal dia kan punya orang tua yang harus lebih memperhatikan dia di bandingkan kalian?" Tanya Mala lagi karena memang terasa berat atau sakit jika orang yang kita sayangi terlalu menjauh dan susah sekali untuk di jangkau.
"Apapun keadaan Diana dan bagaimana orang tua nya bersikap,tapi bagi kami yaitu aku dan Mas Bayu selalu menganggap Diana adalah keluarga kami juga. Susah nya dia ya itu susah nya kami juga,dan tidak mungkin hanya duduk lihat saja tanpa melakukan apapun!" Sahut Lina tegas dan pasti tanpa keraguan atau kebohongan di matanya.
"Makasih Nak,tapi itu semua tergantung Diana mau nya bagaiamana sebab dia kan sudah besar otomatis harus lebih mendengarkannya yang sudah bisa mengambil keputusan!" Jelas Mala dan kebetulan Arin juga sudah kembali dari dalam rumah.
"Mah,kalau aku sama Diana pindah dari sini boleh tidak?" Tanya Arin yang sudah sangat gembira.
" Untuk apa kamu minta hal itu,Jangan Bilang kamu juga senang karena dengan demikian kamu akan senang bertemu dengan pacar kamu yang tidak jelas itu?" Tanya Lina heran membuat Arin hanya bisa tersenyum saja.
"Nah itu baru betul Mam,diakan hanya mau modus saja karena ada udang di balik bakwan!" Sahut Diana menimpali apa yang dikatakan oleh Lina barusan.
"Yah kamu kok gitu sih,harusnya kamu itu belain aku dong yang jelas jelas merupakan teman seperjuangan kamu!" Arin pura pura menahan amarahnya.
"Hehe aku mah biasa saja,siapa juga yang mau di perjuangkan oleh teman yang tidak berguna seperti kamu itu !" Jelas Diana.
"Kamu mau kan tetap di sini?" Tanya Lina yang memang tidak mau Diana pergi dari situ.
Diana menghela nafasnya kasar karena bingung dan juga tidak tega mendengar nada permohonan dari Lina barusan,hanya saja ia juga tidak mungkin merepotkan orang lain sedangkan orang tua nya saja tidak mau di repotkan oleh nya.
"Maaf Mah,tapi sepertinya aku pindah ke Apartemen saja soalnya biar sesuai dengan kemauan Mama dan Papa yang ingin melihat apa aku bisa mandiri atau tidak! Bukan tidak betah atau tidak menyukai tempat ini hanya saja aku memang harus mandiri,tetapi dengan bebas berekspresi untuk menyalurkan hobi ataupun bakat yang aku miliki!" Sahut Diana pasti tanpa ada unsur untuk menyakiti siapapun karena memang ia tidak punya niat sedikitpun untuk melakukan hal itu.
Lina mendesah kasar karena memang apa yang dikatakan oleh Diana itu tidak ada yang salah,mana mungkin dirinya tega mematikan semua cita cita dan angan dari gadis itu.
Kalau memang harus pergi dari situ ya mungkin itulah jalan terbaik,karena jika tidak sama saja bohong sekolah dan memiliki cita cita tapi tidak bisa di kembangkan atau di ekspresikan.
" Ya sudah itu kalau mau kamu,Mama bakal dukung 100%. Tapi ingat untuk jangan pernah merasa sungkan jika memang sedang memerlukan bantuan. Sebab pintu rumah ini bakal selalu terbuka untuk kamu,dan juga semua kesusahan kamu bakal kami bantu!" Jelas Lina yang memang sangat menyayangi Diana.
"Kalau begitu aku menyimpan barang barang kami dulu deh,biar lebih cepat lebih bagus agar tidak ada yang menggangu Diana ku!" Jelas Arin yang antusias membuat Lina menatap tajam kearah Putrinya itu.
"Kamu tidak sedang modus kan,supaya bisa bebas di luar sana?" Tanya Lina dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1